
"Alex kamu sudah pulang!" Ujar Marisaa pada Suaminya yang baru pulang.
"Iyah marissa, maaf aku terlambat." Ucap Alex lalu memeluk istrinya.
"Ah.. tidak papa, yang terpenting kamu sudah pulang sekarang." Balas Marissa ramah ditelinga suaminya.
Marissa kemudian melepaskan pelukannya dan menatap lurus pada Alex.
"Ayo kita makan malam bersama, Ayah dan ibu sudah menunggu kita." Ajak marissa tersenyum.
Alex menatap ke arah meja makan dan dia melihat ayah, ibu dan adiknya sedang makan malam. Tapi setelah mendengar cerita dari Fanny alex merasa enggan berkumpul bersama keluarga.
"Aku sangat lelah sekali marissa, aku akan beristirahat saja dikamar. Jika kamu sudah makan malam, yemani aku dikamar yah. Aku akan menunggumu!" Ujar Alex.
Alex kemudian pergi ke lantai atas dan kembali kekamarnya. Dia meletakan Jas dan membuka bajunya, lalu mengambil handuk dan mandi. 20 menit kemudian dia selesai dan berganti pakaian dengan piyama.
Setelah selesai Alex duduk bersandar diranjangnya, sambil memikirkan perkataan Fanny. Apa mungkin benar apa yang dikatakan fanny. Ella tidak bersalah, malam itu hanyalah kecelakaan. Batin Alex.
......***......
"Apakah kamu sudah tidak waras? Kamu bilang Ella tidak bersalah dan kamu menuduh keluargaku berusaha untuk mencelakainya." Ujar Alex jengkel dengan mata merahnya.
"Saya tidak berbohong pak. Memang itulah yang terjadi, pak waluyo sendiri yang mengatakannya kepada Saya." Ujar Fanny kekeh.
"Jadi menurutmu aku harus percaya, kalau Laki laki yang tidur bersama Ella hanya orang cacat yang kebetulan lewat dan menolong Ella. Tapi wanita bodoh mana yang mau menikah dengan pria cacat. Omonganmu tak masuk akal sama sekali." Ujar Alex semakin membentak sekertarisnya.
"Ella memang menikahinya, tapi hanya untuk membalas dendam saja. Dia sangat menderita setelah Pak Alex mencampakannya didepan banyak orang. Dan Pria itu aku melihat dan bertemu dengannya secara langsung. Tubuhnya memang pria dewasa tapi sikap dan kelakuannya seperti anak kecil." Ujar Fanny meyakinkan Alex.
"Tutup mulutmu sekarang, Kamu tahu aku bisa memecatmu sekarang juga!" Ujar Alex sambil menodongkan jarinya lurus ke wajah Fanny.
"Sebenarnya saya juga berfikir untuk resign. Saya juga khawatir hal yang sama akan terjadi pada saya. Saya mulai merasa takut bekerja disini." Ujar Fanny gemetar.
Fanny terlihat sangat ketakutan sekali saat berbicara dengan Alex dia juga meneteskan air mata dari sudut matanya. Alex yang menyadari hal itu terdiam. Kalau fanny berbohong, kenapa dia sampai menangis seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Batin Alex.
"Kalau pak Alex tidak percaya. Pak Alex bisa mencari tabunya sendiri. Pak Waluyo bilang kalau Cincin yang diberikan pak Alex pada Ella diambil oleh nona Rita. Pak Alex bisa mencarinya, Kalau cincin itu memanglah berada ditangan nona Rita berarti apa yang saya katakan adalah kebenaran. Sebaliknya jika cincin itu sudah tidak ada, berarti yang saya katakan adalah kebohongan." Ujar Fanny penuh keyakinan pada bosnya.
__ADS_1
......***......
Hanya cincin itu yang dapat membuktikan kebenarannya. Batin Alex. Saat Alex sedang merenung, Pintu terbuka. Marissa datang sambil membawakan makan malam untuk suaminya.
"Aku tahu kamu lelah, tapi kalau tidak makan malam kamu bisa sakit." Ujar Marissa tersenyum.
Marissa meletakan gelas berisi air putih dimeja nakas. Lalu dia duduk diranjang tepat disamping Alex dan menyuapi suaminya untuk makan malam.
"Terima kasih ya marissa!" Ujar Alex tersenyum melihat sikap istrinya. Cup, Alex mencium bibir istrinya kilat.
"Ehm... Alex ada apa?" Kaget marissa melihat tingkah Alex. Biasanya Alex hanya akan berkata kata tanpa melakukan apapun karena lelah bekerja. Tapi hari ini perlakuannya begitu manis.
"Tidak ada apa apa! Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu. Selama dikantor, aku selalu memikirkanmu marissa." Ujar Alex lalu mencium bibirnya lagi.
"Ahm... Alex habiskan makananmu." Ujar Marissa tertawa sambil menahan malu.
"Tentu saja!" Saut Alex tersenyum.
......***......
Ella mulai cemas dan panik karena waktu sudah semakin malam. Dia berusaha menelepon suaminya tapi tak ada jawaban sama sekali. Dia mondar mandir didepan pintu menunggu suaminya. Tak lama kemudian pintu terbuka dan Nanda masuk dengan wajah senang dan berseri seri.
"Eh kamu udah pulang La?" Tanya Nanda tersenyum.
"Kelewatan banget kamu Mas, jam segini baru pulang. " Bentak Ella pada suaminya. Tadi Ella sempat panik saat Nanda belum pulang, tapi ketika melihat suaminya datang dengan senyum tanpa rasa bersalah membuat Ella geram dan jengkel.
"Aku cuman main kok La, Nggak kemana mana." Ujar Nanda sambil tersenyum.
"Oh bagus keenakan kamu ya aku pulang telat, main terus sampai lupa waktu. Jam berapa sekarang?" Tanya Ella jengkel. Nanda tersentak kaget melihat istrinya yang melingkarkan tangan kepinggang.
"Jam 7!" Ujar Nanda pelan. Karena melihat wajah Ella yang sangat masam. Nanda kemudian mendekat dan hendak memeluk istrinya. Tapi sebelum hal itu terjadi Ella mendorong jauh tubuhnya kebelakang.
"Gak usah peluk peluk!" Bentak ella. "Kalau besok besok aku pulang, kamu nggak ada dirumah. Awas aja kamu!" Ujar Ella sambil menarik telinga suaminya.
"Eh iya iya!" Pekik Nanda sambil memegang telinganya yang ditarik oleh istrinya.
__ADS_1
"Mandi!!!" Bentak Ella keras sambil menunjuk jarinya kearah kamar mandi.
"Iya iya La!" Ujar Nanda. Kemudian Nanda mengambil handuk dan masuk kekamar mandi. Dia melepaskan semua bajunya tanpa terkecuali dan mengguyur tubuhnya dibawah shower.
Pedahal tidak dimarahi seberapa, tapi kenapa rasanya sangat sakit. Ella juga menolak saat aku mau memeluknya, sial. Umpat Nanda sambil menggosok tubuhnya.
Beberapa saat kemudian Nanda tiba tiba merasakan sensasi berbeda di punggungnya. Dia sadar Ella ada dibelakang saat itu dan sedang menggosokan sabun disana. Nanda berbalik dan menemui istrinya tanpa sehelai benangpun menutupi keindahan tubuhnya.
"Ella..! kamu ngapain?" Tanya Nanda sok polos pedahal otaknya sudah menjalar kemana mana.
"Hmm... abis pulang tadi aku langsung masak. Jadi nggak sempet mandi. Nggak papakan kalau kita mandi bareng." ucap Ella dengan wajah manis didepan suaminya.
"Aku malu La!" ujar Nanda menekuk wajah dan menahan keinginan besarnya.
Ella kemudian tertawa lalu dia mendekap tubuh suaminya dengan kencang. Dibawah guyuran air itu mereka saling berpelukan dan bertatapan sangat dalam.
"Kapan kamu mau jujur sama aku?" Tanya Ella.
Nanda memperhatikan wajah istrinya yang sangat bersinar waktu itu. Sorot matanya tajam dan syarat akan sesuatu yang Nanda sendiri tak tahu apa artinya. Tatapan itu benar benar menghancurkan batin Nanda. Pria itu akhirnya beku dan tak mampu lagi berkata apa apa.
"Sayang...! kok diem?" Gerutu Ella begitu manjanya.
Nanda tak berkata apapun dia langsung mencium bibir istrinya dengan penuh hasrat. Ditengah guyuran air itu, Nanda memeluk istrinya sangat kencang begitu juga dengan Ella yang memeluk Nanda erat.
Aku bersumpah akan selalu menjagamu, apapun keadaanya aku tidak akan pernah meninggalkan kamu La. Karena kamu adalah hal yang paling berharga bagiku. Batin Nanda.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Like comment vote