
Pukul 20.00wib
Ella masih mengurung dirinya didalam kamar seusai kejadian petang tadi. Sementara Nanda masih berusaha membujuk Ella untuk keluar kamar. Apalagi istrinya itu masi belum makan malam.
"La.. kamu yakin nggak mau keluar, kamu belum makan dari tadi. Nanti sakit loh!" Bujuk Nanda dari luar.
Beberapa saat menunggu jawaban, namun hasilnya sia sia. Ella tidak bergemih sedikitpun.
"Maafin aku La, aku nggak sengaja. Aku nggak tau kamu tadi masih belum pake baju." Ujar Nanda membela diri.
Karena masih belum mendapatkan respond yang baik dari Ella. Akhirnya Nanda berniat untuk mendobrak pintu kamar Ella. Dia sudah mengambil ancang ancang dan hendak menerjang pintu kamar.
Tapi sesaat sebelum Nanda melangkah maju. Pintu kemudian terbuka, dan Ella berdiri menyilangkan tangan disana.
"uffthhh.. Ella." Ujar Nanda kaget.
Ella yang memergoki Nanda sedang berada dalam ancang ancangnya, Marah. Dia langsung membebtak Nanda dengan Nanda keras.
"Kamu mautabrak aku lagi!" Teriak Ella keras.
"Ehm.. engga aku mau dobrak pintunya. Tapi kamu keburu kelyar duluan.heheh.." ujar Nanda cengengesan sambil mengusap belakang kepalanya.
Ella yang mendengar kalimat Nanda kemudian menekuk wajahnya. Lalu berjalan dan duduk di sofa depan tv.
Dia masih menyilangkan tangannya dengan kuat. Dan memasang raut jengkel di wajahnya. Dia juga langsung memalingkan muka ketika Nanda ikut duduk disampingnya.
Nanda sengaja mengambil jarak yang agak jauh dari Ella. Karena memang Ella masih marah kepadanya.
"Kamu masih marah la?" Tanya Nanda.
"Kamu tanya apa aku masih marah? Kamu gila ya!" Balas Ella ketus.
"Ya iyalah aku masih marah. Kamu tadi nindih aku sampai segitunya. Udah kamu itu berat. Di suruh awas nya susah banget pake tutup mata lagi." Bentak Ella sambil berkaca kaca.
"Aku kan lagi takut la, makanya aku merem terus. Jadi ya aku nggak ngeh kalau kamu nggak pake baju." Bantah Nanda dengan nada rendah.
"Itu bukan alasan, mau aku pake baju apa nggak. Harusnya kamu langsung awas dari aku. Dasar penakut!" Ujar Ella.
Melihat suasana yang mulai tidak kondusif. Nanda kemudian menjadikan sepiring nasi sebagai bahan pelarian.
"Aku ambilin kamu makan, dulu yah!" Ujar Nanda.
Nanda langsung saja ke dapur dan menyiapkan sepiring nasi untuk makan malam istrinya. Sengaja dia mengambil makan dalam porsi besar dan tidak menggunakan sendok. Dia sudah merancang sebuah aksi untuk mencairkan suasana hati istrinya yang sedang buruk.
Setelah mnya Ella kembali duduk di samping Ella. Namun dia langsung di semprot oleh Ella dengan makian yang belum berakhir.
"Kamu tau nggak, Rasa takutmu itu udah bikin banyak banget maslaah." Ucap Ella sarkas.
"Mulai dari saat kita pertama bertemu. Kamu tidur bareng aku dan nggak mau pulang karena kamu takut sama kegelapan. Terus tadi, kamu nggak mau pindah dari atas badanku cuman gara gara kamu takut sama hantu. Pedahal hantu itu nggak ada, aku cuman bo'ong!" lanjut Ella.
"Ya terus mau gimana, aku gak pernah minta kok jadi penakut. Aku juga gak mau jadi penakut. Tapi ya gimana lagi, aku udah ditakdirin kaya gini. Lagian kamu kenapa ngebohongin aku kayak gitu?" Balas Nanda sedikit keras dan menudukan kepala.
__ADS_1
"Takdir itu bisa diubah! pokoknya kalau abis ini kamu masih bikin gara gara karena rasa takut kamu yang berlebihan itu. Lihat aja, aku bakal ngehajar kamu sejadi jadinya." ancam Ella.
"Iyah" balas Nanda pasrah.
"Yaudah nih, makan dulu!" Nanda kemudian mengambil sesuap nasi dengan tangannya.
"Gak mau!" Balas Ella memalingkan wajahnya.
"Ayo dong, jangan gitu. Katanya mau ngehajar aku sejadi jadinya." Sindir Nanda.
Mendengar sindiran itu Ella langsung berbalik dengan raut jengkelnya yang khas dan memukul paha Nanda.
"haha.." Nanda tertawa kecil.
Lalu dia kembali mengarahkan sesuap nasi tadi sambil tersenyum. Ella yang memang sudah merasa lapar. Mau tidak mau dia menerima suapan dari suaminya.
"Nah gitu!" Ujar Nanda menyeringai.
"Apasih!" Ujar Ella.
Segera Nanda memalangkan jarinya diantara kedua bibir Ella.
"Kalau lagi makan, kamu jangan ngomong. Ntar keselek loh." ujar Nanda memperingati Ella.
Lalu setelahnya Ella tidak berbicara apapun lagi. kecuali dia terus menerima suapan dari suaminya hingga beberapa kali. Lama lama Ella mulai luluh dan moodnya kembali membaik.
Diam diam Ella juga memperhatikan Nanda. Dia sadar Nanda benar benar tulus kepadanya. Walaupun Ella habis memarahinya lagi barusan.
"Nih makan lagi!" Ujar Nanda.
Aehhmm.. Ella kembali menerima suapan Nanda untuk kesekian kalinya.
"Kamu udah makan?" Tanya Ella.
Nanda kemudian menggelengkan kepala untuk membalas istrinya.
"Kok gituh. Yaudah sini aku suapin." lanjutnya.
Ella kemudian mengambil secomot Nasi dan menyuapi suaminya. Jelaslah Nanda menerimanya, karena memang inilah yang Nanda inginkan sedari awal.
"kok Asin La." ujar Nanda mengerutkan dahi.
"oh iya aku belum cuci tangan." ucap Ella cengengesan.
Ellapun kemudian, beranjak dari sofa dan mencuci tangannya di dapur. Sementara Nanda yang sudah kadung menelan nasi tersebut. Langsung saja menelannya tanpa ragu.
'Gak masalah sih La, mau asin apa nggak. Yang pentingmah di suapin!"' pikir Nanda.
Selang beberapa saat Ella kemudian kembali duduk dan makan bersama Nanda. Lantas mereka makan bersama di satu piring sambil bergantian menyuapi satu sama lain.
***
__ADS_1
Seusai makan malam bersama. Ella kemudian berpamitan pada Nanda untuk tidur. Karena memang waktu sudah menunjukan pukul 20.50wib
"Mas aku tidur duluan yah, udah malem. Besok aku harus berangkat kerja soalnya." Ujar Ella pada Nanda.
"Ouh iya, jangan Nangis lagi ya La." ucap Nanda pada Ella.
Ella kemudian masuk kekamar dan menutup pintu. Langsung saja dia merebahkan badannya di kasur untuk beristirahat. Tapi Ella masih merasa ada yang mengganjal dipikirannya. Dia berguling kekanan dan kekiri, sambil memikirkan suaminya.
"Aku gak pernah kepikiran, bakal diperlakuin semanis itu sama Nanda. Kok Nanda bisa sih kepikiran buat nyuapin aku. Hah... seandainya Nanda itu sama seperti pria normal lainnya. Pasti dia udah jadi suami yang sempurna." Ujar Ella tertawa sendiri dikamarnya.
10 menit berlalu Ella masih belum bisa tidur karena memikirkan suaminya. Karena merasa ingin buang air kecil Dia kemudian beranjak dan keluar dari kamar tidur. Namun saat hendak pergi ke kamar mandi. Ella justru melihat Nanda sedang berdiri di balkon.
"Nda, kamu lagi apa malam malam sendirian disini?" Tanya Ella.
"Ehhmm.. kamu belum tidur La. Ituh aku lagi milih bintang di langit." ujar Nanda menunjuk ke arah langit.
Ella yang kini berdiri di samping Nanda, melihat ke arah langit.
"Tapi nggak ada bintang Nda, lihat langitnya gelap." Ujar Ella.
"Nggak kelihatan, bukan berarti nggak Ada. Bintang bintang itu masih ada di tempatnya cuman nggak terlihat karena kehalangan sama awan." Ujar Nanda tersenyum.
"Ya terus? Gimana kamu mau pilih bintangnya. Kalau kamu nggak bisa lihat bintang mana yang bagus dan yang kamu suka." Ucap Ella cengengesan.
"Dulu waktu dirumah paman. Aku selalu menatap langit dan melihat bintang di angkasa. Aku pengin banget La punya satu dari ribuan bintang itu. Barangkali dengan begitu hidupku bisa lebih bahagia." Jelas Nanda.
"Berarti sekarang kamu nggak bahagia! Karena kamu nggak punya satu bintang itu." Balas Ella tertawa.
"Nggak juga.." ucap Nanda.
Seketika Ella terdiam dan Ekspresinya menjadi datar. Saat dia merasakan telak tangannya yang mulai berpapasan dengan tangan Nanda. Perasaannya jadi merinding saat jari jari Nanda mesusupi sela sela jarinya.
"Karena ternyata ada satu bintang dibumi. Yang berhasil membuat aku bahagia." ucapnya.
"Kamu!" lanjut Nanda sambil menatap Ella.
Mata Ella nampak berbinar ketika mendengar kalimat Nanda. Nanda memberikan tatapan yang sangat dalam pada istrinya hingga menembus jauh kedalam lubuk hati Ella yang paling dalam.
Malam itu menjadi sebuah moment yang sangatlah berkesan. Karena mulai malam hati itu Nanda berhasil membuka pintu hati Ella yang selama ini tertutup.
.
.
.
.
.
.Like comment vote.
__ADS_1
semangat bacanya