
"Marissa!" Teriak Alex.
Ngeng.. .....!
Marissa pergi meninggalkan Alex menggubakan mobil.
'Ah sial, kenapa aku meninggalkan kuncinya didalam mobil!' Gumam Alex melihat kepergian marissa.
Tak lama verselang Alex berlari ke jalan raya dan menghentikan seorang ojek online yang tak sengaja melintas.
"Cepet anterin saya!" Ujar Alex tergesa gesa lalu naik ke jok belakang.
"Pesen dulu pak lewat aplikasi!" Ujar Kang ojol pada Alex.
"Lama.. kejar mobil itu sekarang!" Perintah Alex tegas.
"Eh tapi.. " Ojol masih ragu gara gara Alex gak pesen via online dulu.
"Buruan saya bayar kok!" Ujar Alex.
"Yaudah dech... Iya!"
Ojol baru menjalankan motornya setelah sedikit ribut bersama Alex. Alex terus membuntuti marissa dari belakang tapi mereka kehilangan jejak.
"Bisa lebih cepet lagi nggak!" Ujar Alex.
"Nggak bisa pak?! udah mentok ini." balas Ojol.
Alex menggaruk belakang kepala, dia berpikir kemana marissa akan oergi dalam keadaan marah. Alex kira marissa akan pulang ke rumah. Dia meminta ojol melalui rute memuju rumahnya.
Tak lama kemudian Alex melihat mobilnya berasap. Mobilnya menabrak gerobak sate di pinggir jalan. Alex turun hendak memeriksa keadaan marissa.
"Eh ongkosnya pak!" Ujar ojol.
"Nih..!" Alex memberikan sejumlah uang lembaran 100 ribu.
"Eh lumayan juga nih, ngojek bentar udah dapet 200. Makasih pak!" Ujar ojol tertawa.
Tapi Alex tak terlalu peduli, dia lebih mementingkan keadaan istrinya yang baru kecelakaan. Dia berlari menuju mobilnya dan melihat ke arah kursi pengemudi. Marissa sudah tidak ada disana.
"Pak dimana wanita yang nyetir mobil ini?" Tanya Alex panik.
"Waduh pak, kalo yang nyetir tadi langsung kabur pas nabrak gerobak sate saya." Ujar Tukang sate pusing.
"Astaga marissa!" Keluh Alex jengkel.
"Bapak kenal?" Lanjutnya.
"Saya suaminya, kemana istri saya pergi tadi?" Tanya Alex tak mau membuang waktu.
"Tadisih larinya kesana, tapi ini ganti dulu dong dagangan saya." Ujarnya agak jengkel.
Alex menelan ludah mendengar perkataan si bapak. Mau tidak mau dia harus menanggung akibat dari perbuatan istrinya. Dia mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang.
"Berapa yang bapak mau?" Tanya Alex.
"1 juta deh sama perbaikan gerobaknya."
"Nih ada 2 juta, maafin istri saya ya pak!" Ujar Alex menyerahkan uangnya.
"eh iya deh, nggak papa. Namanya juga celaka!" Ujar si bapak.
"Yaudah terima kasih, saya mau cari istri saya dulu."
Setelah meminta maaf dan berpamitam pada si baoak penjual sate. Alex berlari mencari marissa ke arah yang ditunjuk si bapak.
"Marissa marissa!" Teriak Alex mencari istrinya.
Tak jauh dari sana Alex sampai di sebuah taman kecil. Marissa ada disana, dia sedang duduk disebuah ayunan sambil menangis. Alex mendekati marissa dan memastikan keadaan istrinya.
"Sudah main kucing kucingannya." Ujar Alex agak kesal.
"Kenapa Alex?" Saut Amarissa lirih.
__ADS_1
"hem.. "
"Kenapa kamu membawaku bertemu dengan gadis itu?" Ujar Marissa menatap Alex.
"Aku tidak tahu Ella ada disana." balas Alex keras.
"Bahkan kamu masih mengingat namanya. Kamu tidak pernah bisa melupakan Ellakan Alex!" Ujar Marissa tegas.
Mata marissa merah, air keluar dari sudut sudut matanya. Alex memegang pipi marissa mengusap air mata yang mengalir. Marissa memberontak, sia tak mau disentuh.
"Pergi dariku!" Tegas Marissa.
Marissa berdiri dia hendak berlari meninggalkan suaminya. Alex tak tinggal diam dia mendekap marissa kencang.
"Lepaskan aku!" Teriak marissa.
"Cukup marissa, hentikan!" Ujar Alex.
"Tidak Alex, jangan halangi aku. Pergi saja kejar Wanita yang kamu cintai itu." ujar Marissa tegas sambil mendorong Alex.
"Untuk apa? Aku sudah melupakan wanita murahan itu!" Ujar Alex tegas.
"Pembohong!" Lanjut marissa spontan.
"Tidak!"
"Kamu bohong Alex, Aku tak mau lagi mendengar penjelasanmu." Ujar Marissa mulai lemas karena sedih berlebihan.
"Marissa!"
Alex menangkap istrinya yang hampir terjatuh lemas. Dia mendudukan marissa kembali di ayunan, sedangkan dia masih berdiri dan menjaga istrinya.
"Dasar gadis pembangkang, kamu tidak pernah mau mendengarkan perkataan orang lain." Ujar Alex jengkel.
Marissa terdiam, tubuhnya lemas hingga tak mampu berkata kata. Hanya air mata dan suara lirih kecil dari tangisannya yang Alex dapatkan.
15 menit kemudian Marissa baru berhenti menangis dan mulai tenang. Selama itu juga Alex tetap berdiri dan memeluk istrinya yang duduk di ayunan.
"Alex..!" Ujar marissa kecil.
"Apakah kamu ingat? Dulu kita sering bermain bersama di sebuah taman." Ujar Marissa.
"Yah aku ingat, kamu sering jatuh di ayunan dulu. Mungkin 30 kali setiap harinya." balas Alex.
"Aku sengaja melakukannya! Karena setiap aku jatuh, seorang anak lelaki selalu datang menolongku." Ujar Marissa tersenyum kecil.
"Kadang aku berpikir apakah aku bisa bahagia bersama anak itu untuk selamanya." Gumam Marissa.
"lihatkan kamu memulainya lagi." Ujar Alex.
"Alex! Kita sekarang bisa bersama, tapi apakah kita masih bisa bahagia?" Ujar Marissa serius.
Alex berlutut dan menghadap lurus ke wajah marissa. Secepat kilat Alex mencubit hidung marissa yang masih berair.
"Aku heran, kenapa Kamu selalu memikirkan dirimu sendiri? Bisakah kamu bertanya dulu padaku atau mendengarkan aku sedikit saja. Dasar keras kepala!" Ujar Alex mengerucutkan bibirnya.
Selepas memarahi marissa Alex tertawa keras didepan istrinya. Sementara marissa hanya diam melihat Alex yang sedang tertawa tepat di hadapannya.
"Alex?"
"Ternyata anak kecil ini tidak pernah berubah sama sekali." Ucap Alex.
"Apa yang kamu tertawakan?" Ujar Marissa mulai jengkel.
"Hah.. Tentu saja dirimu marissa! hahahah. " Ujar Alex.
"Kamu ini payah, bodoh, cengeng, keras kepala, dan selalu bertindak semaunya sendiri." lanjutnya.
"Alex hentikan!" pinta marissa.
Alex berhenti tertawa lalu dia duduk di ayunan lain disamping ayunan istrinya. Alex menggengam tangan marissa dan mengusapnya perlahan.
"Dulu kamu selalu datang ke rumahku setiap pagi. Mengajakku bermain dan jalan jalan ke taman. Setiap hari juga aku harus membangunkamu karena jatuh dari ayunan. Setiap jam aku selalu memintamu pulang dan tidak mengikuti aku bermain dengan teman laki lakiku. Tapi dasar kamu itu bandel, kamu selalu mengikuti aku trrus kemanapun aku pergi." ujar Alex mengenang masa kecilnya bersama marissa.
__ADS_1
"Memang kenapa? teman temanmu kadang melukai dirimu. Karena itu aku selalu mengikutimu! " Jelas Marissa.
"Kami sedang bermain waktu itu kecelakaan kecil sering terjadi, tapi itu bukan masalah besar. Yang jadi masalahnya adalah kamu selalu menghajar temanku saat mereka tak sengaja melukaiku." Jelas Alex tertawa.
"Aku jenuh dengan sikapmu yang seperti itu, makannya saat Smp aku memutuskan untuk pindah ke luar kota." Jelas Alex.
"Apa hanya karena itu kamu meninggalkan aku?" Tanya Marissa.
"Dikejar kejar cinta gadis gila itu adalah kutukan. Tentu saja aku pergi." balas alex tertawa.
"Kami juga tidak berubah, selalu saja mengejekku." Ujar Marissa mengerecutkan bibir.
"Kamu tahu marissa belakangan saat aku mulai menjalankan perusahaan ayahku. Aku bertemu dengan seseorang wanita yang sangat cantik, dia baik dan pengertian sekali." ujar Alex.
"Kamu membicarakan gadis itu?" Saut marissa.
"Setiap kali aku membutuhkan bantuannya dia selalu datang dan ada disisiku. Sering mengeluh tapi dia tak pernah lelah. Sayang hubungan kami hanya sebatas rekan kerja, itu yang kupikirkan. Diam diam aku mencintai sekertarisku. Aku mencintai Ella!" Ujar Alex.
"Apakah sudah cukup bicaramu?" Ujar Marissa dengan suara tertekan.
"Lalu aku berpikir untuk melamarnya dan aku lakukan hal gila itu. Tapi ternyata kegilaan itu menghancurkan perasaanku dalam sekejap. Awalnya dia mengatakan iya, tapi tindakan dia selanjutnya menunjukan jawaban yang berbeda. Aku sangat sakit hati padanya. Sekejap saja aku langsung membencinya." Jelas Alex.
Marissa diam, kemudian dia melihat ke arah suaminya. Alex tertawa saat itu, bukan bahagia tapi tawa sakit. Alex mentertawakan kebodohan yang pernah dia lakukan.
"Dan entah bagaimana? Tiba tiba gadis gila dari masa laluku datang lagi. Aku dihadapkan pada 2 pilihan. Sekertaris cantik yang menghianati aku atau gadis gila yang terobsesi padaku." Lanjut Alex.
Alex kemudian mengajak marissa berdiri tanpa melepaskan genggaman tangannya. Mereka berdua berhadapan satu sama lain lalu berpelukan dengan erat.
"Kamupun pasti tahu, aku lebih memilih gadis gila ini untuk menemaniku." Bisik Alex di telinga istrinya
"Alex..!" Gumam marissa pelan.
"Aku sudah melupakan Ella, Marissa. Aku sudah melupakannya." Lanjut Alex.
"Maafkan aku Alex! Maafkan aku, maafkan aku. " Ujar Marissa pelan. Kemudian Alex melepaskan pelukannya.
"Percayalah marissa aku tidak tahu dia ada di panti asuhan. Ini hanya kebetulan!" Ujar Alex.
"Iya aku percaya." Ujar Marisa.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang." Ajak Alex sambil tertawa.
Marissa mengangguk lalu berjalan sambil menggandeng dan bergelayut manja pada suaminya. Beberapa langkah kemudian Mereka berhenti.
"Kenapa berhenti?" Ujar marissa bingung.
"Kita mau pulang pake apa? Mobilnya kan lo tabrakin ke tukang sate." Ujar Alex masam.
"Heh.. itu akukan tidak sengaja." ujar Marissa bersalah.
"Makannya kalao nyetir jangan baper!" lanjut Alex mengejek.
"Hih.. berisik terserah aku saja." Saut marissa.
Alex mengeluarkan telepon lalu mendial nomer disana.
"Telpon siapa?" Tanya Marissa.
"Orang rumah! aku akan menyuruh mereka untuk mengantarkan mobil yang baru." Ujar Alex.
"oh... " Gumam marissa panjang.
"Ah oh ah oh.." saut Alex.
"Alex.. hentikan!" bentak marissa.
.
.
.
.
__ADS_1
.Like comment vote