My Little Hubby

My Little Hubby
Bab 74


__ADS_3

Cekrek.. cekrek..


Selama menunggu suaminya kembali Ella diam diam memainkan ponsel Nanda yang tertinggal. Dia mengambil beberapa foto selfi dan menjadikan salah satunya sebagai wallpaper.


"Ehm.." Suara batuk terdengar dari arah belakang yang seketika membuat fokusnya terbelah begitu saja. Rupanya Nanda telah kembali tanpa Ella sadari.


"Mas! Kamu ngangetin aku aja. Aku kira siapa?" Ucap Ella.


"Kamu mainin hapeku La?" Tanya Nanda halus.


"Iya, nih aku udah ganti wallpapernya pake fotoku." Ella menunjukan layar ponsel Suaminya. Sambil berpose seperti gambar yang dia jadikan Wallpaper.


Nanda kemudian mengambil ponselnya dari tangan ella. Lalu menyimpannya di saku dalam jas. Selanjutnya Nanda kembali memakan steak yang belum selesai dia santap.


"Mas, kamu nggak mau bilang sesuatu gitu ke aku." ucap Ella.


"Bilang apa? Nggak ada deh!" Saut Nanda datar tanpa mengerti keinginan istrinya.


"Soal penampilan aku atau perasaan kamu gituh misalnya."


Ella kembali melemparkan kailnya untuk mendapatkan sebuah ikan dari pria dihadapannya. Meski dia tahu itu sulit namun Ella tetap berusaha keras untuk memberikan kode kepada suaminya.


"Aku mikir dulu sebentar. Ehmm.. oh iya, steaknya enak La. Tapi kurang banyak, boleh pesen lagi nggak." Ujar Nanda dengan polosnya.


"Nggak!" Balas Ella ketus.


Pedahal tadi dia sempat merasa senang saat mengira Nanda mengerti apa maksudnya. Namun ketika Nanda mengeluarkan suaranya yang berisi Steak. Harapannya langsung kandas, karena Nanda tetap tidak mengerti.


Dengan perasaan yang agak jengkel. Ella berusaha menghabiskan makanannya. Sayangnya keinginan Ella untuk menghabiskan makanannya tidak bisa tercapai karena kedatangan seseorang yang tidak dia sangka sangka.


"Hah.. Alex!" Gumam Ella kecil.


"Hah, kamu ngomong apa?" Balas Nanda kaget.


'Apa Ella tidak salah menyebut namaku' pikir Nanda mengrenyitkan wajahnya.


Dia sebenarnya agak sebal jika mendengar nama alex terucap lagi dari bibir istrinya. Apalagi kala dia mengingat pukulan keras yang pernah melayang ke wajahnya dari tangan Alex.


"Ssst...!" Ella memberikan isyarat untuk diam kepada Nanda. Lalu menunjuk jauh kebelakang suaminya.


Melihat petunjuk dari Ella, Nanda kemudian berbalik ke arah belakang dan melihat Alex baru datang ke restoran. Awalnya Nanda tidak terlalu peduli pada Alex. Namun sosok kedua yang datang bersama Alex langsung membuatnya kalang kabut.


'Marissa, bahaya kalau dia tahu aku masih hidup. Sebaiknya aku segera pergi dari sini.' Lamun Nanda dihatinya.


"Mas, kita pergi sekarang yu!" Ajak Ella.


Kalimat dari Ella seolah menjadi pintu darurat yang terbaik baginya. Namun tetap saja dia harus menggunakan wajah anak kecilnya untuk menyambangi ajakan Ella.


"Nanti La, ini aja masih belum abis. Kan sayang kalau kita tinggal gitu aja!" Saut Nanda dengan kalimat lugu.


"Kita bisa beli lagi kapan kapan. Tapi yang penting sekarang kita pergi dari sini, oke." Ujar Ella membentuk lambang ok ditangannya.


"Yaudah deh iya." Jawab Nanda dengan raut malas.


Setelahnya Ella mampir ke kasir untuk membayar bill pesanan mereka. Lalu Dia segera bergegas pergi dari sana.


"Tunggu La, gak usah buru buru. Sesungguhnya buru buru itu datang dari setan. Kamu mau jadi pengikutnya setan." Ujar Nanda ketus, karena hendak ditinggal oleh istrinya.


"Makanya cepetan sayank!" Ujar Ella.

__ADS_1


Kemudian dia menggandengan tangan suaminya lalu beranjak pergi dari restoran. Ella terus tersenyum ketika menggandeng suaminya pulang. Ulah Nanda selalu aneh dan tidak dapat ditebak. Tapi mungkin itu akan menjadi keasikan tersendiri baginya dalam menjalankan rumah tangga.


****


Ketika sampai di Apartemen Ella langsung duduk untuk merebahkan badannya. Lain halnya dengan Nanda yang raut wajahnya masih suram. Dia berbaring di sofa sambil mengerucutkan bibirnya. Dia nampak memendam sesuatu didalam hatinya.


"Kamu kenapa Mas? Kok lemes gituh abis jalan sama aku." Ujar Ella pada Nanda.


"Aku lemes karena masih laper La. Tadikan kita belum selesai makannya." Ujar Nanda lemas.


Ella tertawa saat melihat exspresi suaminya. Nanda terlihat begitu lemah, seperti tidak makan selama 1 minggu. Tidak mau melihat suaminya terus bersedih karena kelaparan. Ella ingin membuatkan masakam sederhana untuk Nanda.


"Mau nggak aku masakin mie." Tawar Ella.


"Pake telornya 2, sosis, sawi, pedes dan yang paling penting Gak pake Lama." Ujar Nanda bersemangat.


Ella menggeleng gelengkan kepala saat mendengar permintaan suaminya. Baru juga ditawarin mie udah ngelunjak apa lagi yang lain. Meski dengan stamina yang lemah dan mood yang kurang baik. Ella tetap mengabulkan permintaan suaminya.


Nanda yang sudah melihat benih sudah mulai tumbuh pada istrinya. Dia juga tidak mau melewatkan kesempatan ini dan mengikuti ella kedapur untuk membantunya menyiapkan mie. Daripada membantu, menyantap hidangan pembuka mungkin lebih tepat untuk menggambarkan perbuatan Nanda.


Karena yang dilakukannya hanyalah berdiri di belakang istrinya sambil melihat proses pembuatan mie. Dia juga akan menhikuti kemanapun istrinya bergerak, sesekali dia juga mengomentari kegiatan yang dilakukan Ella. Bahkan secara berani Nanda mulai memegang hingga memeluk pinggang istrinya.


Ella yang sudah merasakan sesuatu dihatinya. Tentu saja dia tidak berusaha menolak, bahkan sebaliknya dia ingin Nanda memeluknya lebih erat. Sayang, ella tidak berani mengatakan itu pada suaminya.


Ketika mie yang mereka masak selesai dibuat. Mereka kemudian menyantapnya berdua dengan perasaan yang sedang memuncak.


"Ehmm.. La, mie yang kita bikin ini. Rasanya lebih enak daripada steak yang tadi kita beli." Ujar Nanda.


"Iya mas! Ella juga ngerasa gitu." Saut Ella ramah.


"Oh iya, besok pagi kita piknik ya ke taman yang biasanya kamu main." Lanjut Ella.


"Iyah, kamu mau kan?" Tanya Ella tersenyum.


"Pastilah aku mau, besok aku kenalin kamu ke temen aku. Aldo sama Dio, kalo minggu pagi kita biasanya suka main ke taman. Main bola, balap lari, main game, pokoknya yang seru seru deh La." Ujar Nanda kegirangan.


Miris, adalah hal pertama yang dirasakan oleh Ella. Bagaimana bisa Nanda masih berpikiran bahwa dia adalah anak kecil. Ella ingin merubah semuanya dengan memberikan pengertian pada Suaminya. Entah berapa sulit, tapi Ella harus menyadarkan Nanda demi rumah tangga mereka.


"Mas, berapa umur kamu?" Tanya ella.


"10 tahun." jawab Nanda sembrono.


"24, umur kamu 24 tahun." Balas ella.


"Nggak nggak, kamu salah La. Umurku baru 10 tahun itu yang bener. Aku nggak salah ngitung kok, abis 8 itu 9 terus 10." Tegas Nanda pada istrinya.


Ella mengerutkan dahi, dia berusaha memutar otak untuk melawan keras kepala suaminya. Bagaimanapun caranya dia harus berhasil untuk membuat Nanda mengerti.


" 2 tahun lalu kamu kecelakaan, terus pas sadar pikiran kamu balik jadi ana-"


"Anak kecil 8 tahun, kamu mau bilang gitukan. Udah bosen aku dengernya, pamanku juga suka bilang gitu. Terus dia bakalan bilang, harusnya kamu itu bersikap lebih dewasa.'' ujar Nanda tegas pada istrinya.


"Terus? kenapa kamu nggak percaya?" Balas Ella.


"Ya karena itu gak masuk akal La?" Ucap Nanda tertawa.


"Kenapa nggak masuk akal?" Tanya Ella heran.


"Ya coba aja kamu bayangin. Seandaikan aja aku orang dewasa, Kenapa aku nggak suka kerja, aku nggak suka baca buku, aku nggak suka semua masalah orang dewasa. Jadi dewasa itu konyol, gak pernah ada senengnya. Justru yang aku suka itu main, main ini main itu, mainan ini, mainan itu. Jadi udah pastilah aku ini anak kecil, bukan orang dewasa." Jelas Nanda.

__ADS_1


Nanda menjelontorkan setiap kalimatnya dengan raut senang tanpa rasa berdosa sama sekali. Sebaliknya Ella mengusap dada ketika mendengar penjelasan suaminya. Dia sadar Nanda sudah terjerumus jauh pada pikirannya sebagai anak kecil.


"Aldo sama dio umurnya berapa?" Tanya Ella agak keras.


"13 tahun." Balas Nanda.


"Nah, Kalau umur kamu 10 tahun kok badanmu bisa jauh lebih tinggi daripada mereka." Ujar Ella.


"Aku lebih tinggi daripada mereka, karena aku suka minum susu La." ujar Nanda.


"Bukan mas, itu karena kamu udah lebih tua dari mereka. Umur kamu udah 24 tahun, Itu bukti kamu udah dewasa" Jelas Ella keras.


"Nggak La kamu salah!" bantah Nanda mulai kesal.


"Siapa yang lebih tinggi daripada kita berdua?" Tanya Ella lagi.


"Lebih tinggi aku!" Balas Nanda lemah.


"Umurku baru 23 tahun berapa angka habis 23?" Tanya Ella.


"24" Balas Nanda mulai masam.


"Nah itu umurmu 24 tahun. Kan kamu lebih tinggi daripada aku." Jelas Ella dengan Nanda keras.


"Umur itu nggak nentuin seseorang udah dewasa apa nggak. buktinya paman udah dewasa, tapi dia lebih pendek daripada aku. Sama aja kayak kamu La." lanjut Nanda.


"Kamu inget waktu kamu berantem sama 2 orang itu di ahong food kemarin." lanjut Ella.


"Iya aku inget!" balas Nanda.


"Kalau kamu anak kecil, kenapa kamu bisa menang lawan mereka? itu karena kamu udah dewasa Mas!" lanjut Ella menjelaskan.


"Em. itu nggak senga-"


"kalau kamu anak kecil yang cuman suka main, Gimana sama pernikahan kita? kamu pikir pernikahan kita ini cuman mainan. Kamu pikir aku ini cuman mainan kamu gitu." Ujar Ella kesal pada suaminya.


"Kenapa kamu ngomong gitu La?" Tanya Nanda keras lagi.


"Pokoknya kamu udah dewasa dan kamu harus bersikap selayaknya orang dewasa. Nggak ada debat lagi!" Tegas Ella.


Ella malakukan sebuah kesalahan besar dengan membentak suaminya. Karena emosi dia lupa kalau Nanda tidak bisa diajari dengan cara yang keras. Namun Ella pun tidak salah, dia hanya menginginkan kepastian supaya rumah tanggahnya berjalan lancar dan baik baik saja.


"Aku kira kamu udah mulai cinta sama aku La, tapi aku salah." Ujar Nanda menekuk Wajahnya.


"Mas! aku nggak maksud untuk-"


"Dan kamu tahu apalagi yang salah La. Mienya salah, Mienya Gak Enak." Balas Nanda ketus, lalu pergi ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.Like comment vote.


__ADS_2