
Hari itu makan malam di keluarga wiratmaja, Beberapa orang disana sedang merasa senang. Sementara yang lainnya merasa marah dan kecewa. Seorang yang lainnya sedang menjalankan tugas. Sedang putra bungsu tetap merasa tidak ada yang berubah. Dan disisi lain seseorang dalam perjalanan untuk mendapat pengakuannya.
"Bagaimana makanannya marissa? Kamu suka?" Tanya Wina.
"Makanannya Enak tante, Marissa suka sekali." Balas Marissa tersenyum menyembunyikan wajah aslinya sebagai seorang penguntit.
"Pah! kok makanannya gak dimakan." Wina berbalik menghadap suaminya yang sedari terdiam. Makanan dimejapun tak digubrisnya. Dia hanya sibuk menahan suara kekecawaan. dan sibuk memikirkan nasib perusahaan dikepalanya.
"Om, kalau gak dimakan salmonnya nanti dingin loh." ujar Marissa menambahkan.
Namun hal tersebut tetap tak membuat pria tua itu tak tertarik. Dia hanya membalas sinis kearah marissa yang membuat gadis itu insecure.
"Steak salmon creamy! Ini pilihan menu dari calon mantu kita, Marissa. Masa papah gak cobain." Lanjut Wina menggoda suaminya.
Akan tetapi setiap kalimat yang dikeluarkan istrinya tidak mampu membuat wiratama atmaja bergemih. Dia tetap diam dan mengetuk ngetuk meja dengan pangkal garpu dan pisau kecil ditangannya.
Melihat sikap ayahnya yang diam mematung. Remi si anak bungsu lebih memilih acuh tak memperdulikannya. Paling ayah sedang berpikir mengenai beberapa hal. Remi tahu kemarin james dimarahi oleh ayahnya karena kehilangan 2 klien penting perusahaan.
"Apa om sedang ada masalah?" Tanya marissa ragu.
"Aku hanya menunggu anakku kembali. Pasti dia sedang dalam perjalanan." Ujar Wira tersenyum sinis.
"Tapi kedua anak om sudah ada disini." Ujar Marissa bingung.
"Putraku yang pertama, Kakak mereka berdua." Ujar Wira mengarahkan dagunya kepada james dan remi.
James dan Remi langsung terenyuh mendengar kalimat ayahnya, begitu juga dengan ibu mereka Wina. Wina dan james nampak kesal pada wira. Sementara remi justru memberikan respond yang baik dengan tersenyum.
"Ayah tak bisa, mengatakan dia adalah kakakku begitu saja." ujar James tegas.
"Berani kau membentakku, Hah!" Bentak Wira lebih keras.
"Mas! kita sudah sepakat tentang hal ini sebelumnya." Ujar Wina.
"Yah benar, sebelumnya aku mengira kedua anakmu ini mampu untuk memimpin perusahaan yang aku bangun selama ini. Tapi mereka berdua tidak berguna. Terutama putra kesayanganmu james!" Ujar wira tegas.
Melihat pertengkaran keluarga wiratmaja didepannya. Marissa malah tersenyum karena dia sudah merasa akan mendapatkan informasi yang sangat penting.
"Bukankah itu adalah hal baik!" Sambung Remi, James langsung berbalik menghadap adiknya yang dia anggap sebagai beban keluarga saja.
"Kau tidak membantu tol*l." ujar james sarkas. Remi seketika bungkam tak melanjutkan perkataannya.
"Apa yang kau lakukan?" Ujar Wina keras pada suaminya.
"Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukakan. Berbeda dengan putramu james, yang selama ini aku sayangi dengan sepenuh hati. Tapi dia malah membuatku sangat kecewa, karena telah kehilangan klien penting perusahaan." ujar Wira.
"Tapi Nanda, Selama bertahun tahun aku membuangnya. Aku tidak pernah menganggapnya ada, dan membiarkan dia tinggal di basement rumah ini. Namun dia membuktikan dirinya layak dan membuatku sangat bangga. Dia adalah darah dagingku yang sejati. Ananda putra wiratmaja!" lanjut Wira tegas.
Waktu telah berubah, Nanda sudah menjadi bagian penting dalam hidup wira. Dan dia telah bersumpah akan menjadikan Nanda sebagai penerusnya kelak.
__ADS_1
Marissa terkekeh mendengar nama yang disebutkan pak tua didepannya. Saat ini siapa yang tak mengenal nama itu. Dia adalah orang yang memimpin WI di Australia, dan menjadi salah satu pengusaha muda yang paling disegani.
"Tuan, Nanda sudah sampai!" Ujar seorang pelayan kepada wira.
"Kau harus memanggilnya Tuan muda sekarang." Balas Wira agak tegas.
"Baik tuan." Jawab si pelayan.
"Suruh dia masuk!" lanjut Wira.
Tak lama berselang, Seorang pemuda yang mengenakan setelan Jas rapi. Masuk kedalam ruangan sambil tersenyum saat melihat semua orang.
Marissa juga sempat merasa kagum saat melihat kedatangannya yang dramatis. Dilihat dari arah manapun Nanda memang jauh lebih baik dari Kekasihnya james.
"Remi, angkat piringmu dan bergeserlah. Begitu juga kau james." Ujar Ayahnya agak sinis.
"Nanda kemari dan duduklah disampingku." Panggil wira pada putra sulungnya.
Nanda hanya tersenyum kemudian duduk dikursi bekas james tadi. Seorang pelayan lalu mengantarkan hidangan makan malam. Menu yang sama dengan keluarganya, Steak salmon. Nanda dengan sigap lanhsung menyantapnya. Kalau soal makanan Nanda adalah orang yang paling bersemangat.
Karena melihat suasana yang sangat panas dan tidak kondusif. Nanda menciba mencairkan suasana dengan sebuah lawakan.
"Hey james, bekas bokongmu ini terasa panas. Berapa minggu kau tidak buang air?" ujarnya lanjut tertawa. Wira juga nampak tertawa mendengarnya.
"Bhnm..." Ujar remi menahan tawa. Begitu juga marissa dan sejumlah pelayan.
"Apa tidak peenah ada yang mengajarimu sopan santun. Hah!" Bentak james. Tatap James sarkas ke arah kakaknya.
"Ehm.. aku mengerti. Kau merasa muak karena ada kekasihmu disini kan." Lanjut Nanda menatap kearah marissa.
"Hy Kak!" Sapa marissa sambil tersenyum.
"Marissa, jangan memanggilnya seperti itu." Saut james.
"Dan kau, jangan pernah bertingkah seolah olah kau adalah kakakku." Lanjut james pada Nanda.
"Ah... begitu ya. Tidak perlu sungkan james. Walaupun kita berasal dari rahim yang berbeda. Aku selalu memganggapmu adiku, jangan khawatir." Balas Nanda.
"Justru itulah yang aku khawatirkan. Aku tidak pernah sudi mengakuimu sebagai kakakku." Lanjut james semakin memanas.
"Jaga ucapanmu james! Beginikah sopan santun yang kau punya." Bentak Wira.
"Ayah!"
"Kenapa kau malah membela Nanda." Ujar Wina keras.
"Kenapa tidak!" Bentak Wira.
"Nanda hanya lukusan SMK, tapi hanya dalam 3 tahun dia mampu memimpin perusahaan dan mengatasi semua masalah yang ada. Aku memindahkannya dari singapura, filipina, thailand, china, hingga ke australia. Nanda selalu berhasil membekuk setiap musuh musuhku. Berbeda sekali dengan anakmu yang lulusan universitas." ujar Wira membandingkan kualitas Kedua putranya.
__ADS_1
"Cukup, aku sudah muak mendengarnya." Balas Wina.
"Kalau begitu tutup mulutmu." Lanjut Wira.
Makan malam yang awalnya menyenangkan berubah menjadi sangat mencekam. Terutama ketika Remi mulai memancing pembicaraan kearah Nanda. Mungkim Rem hanya ingin membuat kondisi lebih baik. Tapi topik pembicaraannya malah semakin membuat james dan ibunya meradang.
"Bagaimana dengan perjalan pulangmu? kau menikmatinya?" Tanya Remi.
"Yah perjalanannya cukup menyenagkan. Untunglah aku tidak terlambat untuk makan malam." Ujar Nanda sambil melirik jam tangannya.
"Jam tangamu sepertinya masih baru." saut Wira.
"Oh ya ini jam tangan keluaran terbaru."
"Yang dia dapat dari Agnes!" Saut Remi cepat. Nanda langsung melirik ke arah Remi.
"Apa kau tidak mengerti, kau sedang diacuhkan tuan Remi." ujar Nanda keras.
"Kau sendiri yang bilang!" Balas Remi.
"Siapa itu Agnes?" Tanya Wira.
"Agnes cecilia. Dia adalah putri dari pemilik perusahaan Cecilia indutri. Perusahaan kita telah bekerja sama dengan mereka selama 17 tahun lamanya dibidang manufacturing. Plus dia adalah pacarnya Nanda." Ujar Remi menjelaskan.
"Aku rasa sudah cukup dengan penjelasanmu itu, tuan sok pintar." ujar Nanda ketus.
"Nak, jika kau ingin segera menikah. Katakan saja pada ayahmu ini." Ujar Wira.
"Hmm..." Nanda menghembuskan nafas dan menatap ke arah ayahnya. Kali ini tatapan Nanda aangat tajam berbeda dari sebelumnya.
"Bukankah aku sudah mengatakannya, Kau boleh memanggil aku anakmu. Hanya jika kau sudah mengingat wajah ibuku." Balas Nanda tajam dihadapan ayahnya.
"hah.. lahipula aku tidak mau cepart cepat menikah saat ini." Lanjut Nanda, kemudian dia pergi dari meja makan.
Tak lama berselang, Wira yang baru saja mendapatkan tamparan keras di hatinya juga pergi meninggalkan meja makan. Begitu juga dengan Wina dan james yang sejak awal sudah meradang. Remi juga ikut pergi setelah makanan dipiringnya habis.
Sementara marissa dia tertawa saat semua keluarga wiratmaja sudah pergi. Dia sudah menemukan celah yang menarik dari keluarga wiratmaja. Dia sudah bisa membayangkan betapa senang ayahnya saat mendengar kabar ini.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Like cimment vote