
...----------------...
"Jangan Ly. Ella bener kok, Itu salahku. Harusnya aku gak usah berusaha buat meluk dia." Ujar Nanda meyakinkan Lily.
Lantas Lily kembali duduk, dia juga menggeserkan kursi Nanda sehingga posisi mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Itu Semua gak bener Nda. Kamu boleh kok meluk Ella, Bahkan lebih dari itu juga boleh. Kamu suaminya, kamu punya hak atas Ella." Jelas Lily kepada Nanda.
"Maksudnya gimana Ly. Aku gak ngerti Apa yang kamu omongin?" Ujar Nanda heran.
"Astaga Nanda, Ternyata memang tidak salah aku menyebutmu Bodoh selama ini." Lily menepuk jidat. Dia kesal karena banyak hal yang Nanda belum mengerti. Atau lebih tepatnya yang Nanda lupakan.
"Bukan salahku kalau aku bodoh. Soalnya paman tidak mau menyekolahkan aku. Dia malah bilang aku sudah lulus sejak lama." Balas Nanda berlagak sombong.
Lily lantas tertawa melihat sikap Nanda. Sahabatnya memang bodoh, syukur karena kebodohan Nanda, Lily masih bisa menjaganya.
"Apa kamu yakin Ella mencintaimu?" Tanya Lily mengangkat sebelah alisnya.
"Tentu saja, Buktinya dia mengajakku menikah. hey apa kamu iri padaku?" Balas Nanda dengan tatapan tajam dan bibir yang mencoreng keatas.
"oh ya, Lalu kenapa dia memukulmu. Apa kamu kira ketika aku memukul kecoa berarti aku mencintai kecoa? Tentu tidak kan!" Lily mencoba memberikan sebuah pemahaman pada Nanda. Dan hal itu bekerja seketika Nanda kehilangan percaya dirinya.
"Tapi ibu bilang, terkadang seorang wanita memukul suaminya untuk menunjukan bahwa dia peduli dan mencintainya." Balas Nanda melawan Lily. Entah darimana Nanda mendapatkan pemahan seperti itu. Tapi Nanda memang mengucapkannya.
"Darimana kau mengetahuinya?" Tanya Lily bingung.
"Kamu tidak usah darimana!" Balas Nanda mengelak.
"Memang betul apa yang dikatakan ibumu. Tapi jika dipukul dan dimarahi setiap hari. Apa itu wajar? Nanda, benci dan cinta itu beda beda tipis. Apa kamu yakin Ella tidak membencimu?." Tegas Lily pada Nanda.
Kali ini kalimat Lily sukses membuat Nanda kebingungan. Nanda menunduk dan menggigit bibir bawahnya. Sementara Lily menegakan kepala karena dia sadar dia telah menang.
"Lily, Apa aku ini hanya kecoak bagi Ella?" Tanya Nanda penasaran.
...----------------...
aku begitu terkejut ketika melihat dan mendengar percakapan Lily dan Nanda di laptopku. Sungguh aku tidak mengira Lily sanggup berkata seperti itu kepada Nanda. Entah apa tujuannya, tapi aku sadar ketika Lily berkata akan membawa Nanda jauh dariku itu bukan sekedar gurauan.
Aku mengelus elus dada dan memperbaiki pernafasanku. Tidak tahu apa lagi yang harus aku katakan setelah melihat rekaman ini. Tapi aku tahu satu hal Lily adalah ancaman yang nyata bagi rumah tanggaku dengan Nanda.
Kini aku terjebak dalam posisi yang rumit. Penasaran terus saja membayang bayangiku. Aku penasaran Bagaimana dengan adegan ciuman Nanda dan Lily yang pernah aku lihat. Daripada aku mati penasaran lebih baik aku melihat apa yang sebenarnya terjadi. Lekas aku kembali memutar rekamanku.
__ADS_1
...----------------...
"Kenapa kamu tidak mencari tahunya saja?" ujar Lily kepada Nanda.
"Tapi bagiamana?" Tanya Nanda spontan.
"Dengar yah, sebentar lagi Lily pasti akan masuk kedalam ruanganku untuk mengantarkan pekerjaannya. Saat Ella masuk nanti aku akan menciummu, Eh maksudku berpura pura menciumu." Ujar Lily menjelontorkan ide gilenya.
"Hah apa kamu gila? Bagaimana kalau Ella marah nanti?" Tanya Nanda terkejut.
"Justru itulah tujuannya, Tugasmu adalah yang paling penting. Kamu harus memperhatikan reaksi yang diberikan Ella. Setelahnya aku serahkan semua padamu! Kamu yang menentukan apakah Ella mencintaimu atau membencimu." Ujar Lily menjelaskan tugas Nanda.
Lily benar benar serius saat menyampaikan rencananya pada Nanda. Lily ingin supaya Nanda bisa mengambil keputusan sendiri. Sebab hal ini sangat berpengaruh untuk kehidupan Nanda di masa depan.
Tidak berselang lama Ella masuk ke dalam ruangan. Rencana mereka berduapun dimulai. Lily menggunakan sebuah buku untuk menghalangi pandangan Ella. Sementara disisi lainnya Lily mengecup jari yang menghalangi bibirnya dan juga bibir Nanda.
Dengan kemarahan dalam dirinya, Ella berjalan ke arah Nanda dan juga Lily. Dia menatap sarkas ke arah Mereka berdua.
"Kamu tahu, aku bebas melakukan apapun dengan pria yang aku cintai. Lagipula Nanda juga menyukai semuanya." Ucap Lily tegas.
Ella menghela Nafas panjang lalu dia menarik tangan Nanda dengan keras. Akhirnya Wanita ini telah kehilangan kesabarannya. Kini dia dikendalikan kemarahan. Ella telah masuk kedalam perangkap Lily.
...----------------...
Aku melonjak tidak percaya saat melihatnya. Nanda tidak membohongiku, dia tidak berciuman dengan Lily. Ini hanya rencana Lily untuk mencuci otaknya.
Rasanya jantungku seperti mau copot melihat kenyataan yang sebenarnya. Bagaimana kalau Nanda sudah siuman nanti. Apa yang hendak dia katakan padaku. Sepertinya hubunganku memang sudah berakhir dengan Nanda.
Aku pasrah dan hanya bisa terdiam melawan keadaan. Kurapatkan kesepuluh jari tanganku lalu ku tutup wajah bias ku ini. Yang bisa aku lakukan saat ini hanya menahan tangis yang hendak menerobos keluar melalu sudut sudut mataku.
Keputusan terakhir sekarang berada di tangan Nanda. Apa mungkin Nanda akan mempertahankan aku. Tapi kemungkinan besar Nanda akan menceraikan aku. Ditamabah jika dia memang akan segera sembuh total dan kembali Normal. Jelaslah dia akan lebih memilih Lily daripada aku.
Seketika aku mengingat kejadian semalam lagi. Sungguh kini aku berharap kejadian semalam adalah kenyataan. Meskipun faktanya melawan perkiraan Dr.Anne.
"Ella...!" Kejut seorang wanita sambil menepuk bahuku sedikit keras. Sontak aku tekejut setelah mendengarnya.
"Hwa..." Teriakku. Aku pikir itu Lily yang baru datang tapi rupanya itu Arin
__ADS_1
"Hem.. kamu kenapa La? Seriusan kaget, aku cuman nepuk bahu kamu doang ko. Ada apa sih La?" Tanya Arin dengan mata membundar kearahku. Aku juga melihat sejumlah teman yang lain juga mentertawakanku.
"Nggak papa Rin. Aku cuman lagi banyak pikiran aja." Balasku gelagapan pada Arin.
"Oh gitu, Y udah sholat yuk! Abis itu kita makan di canteen." Ajak Arin.
Akupun menengok ke jam dinding yang sudah menunjukan pulul 12.00Wib. Sudah saatnya untuk beristirahat, Akupun mengiyakan ajakan Arin. Kami pergi ke mushola, selepas aku mematikan laptop.
Hanya butuh 10 menit, Aku selesai menjalankan kewajibanku. Lalu aku pergi makan siang bersama Arin, Bella, dan Faiz. Kami mengobrolkan banyak hal saat makan siang. Meski kebanyakan adalah masalah pekerjaan. Aku juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Lantas Aku bertanya mengenai Lily kepada mereka.
"Hey, Menurut kalian Lily itu bagaimana?" Tanyaku tersenyum pada mereka.
"Cerdas, disiplin, perfeksionis." Bella langsung menjelontorkan 3 kata itu untuk menggambatkan bosnya.
"Lily itu teliti, ulet, rajin pokonya top dech." Saut Arin.
"Satu hal yang pasti tentang Lily adalah Idaman semua pria." Faiz juga tidak luput dalam menjawab pertanyaanku. Meski aku cukuo tidak menyukai jawabannya.
"hmm kalau gitu pasti kamu juga suka sama Lily. Tapi masalahnya Lily suka nggak sama kamu." Balasku pada Faiz. Mereka bertiga kemudian tertawa bersama saat mendengar perkataanku.
"iya juga. Aku heran deh lily itu punya pacar nggak sih. Soalnya cowok yang aku tahu deket sama Lily ya cuman Nanda doang." Lanjut Bella.
"La kenapa kamu tanya soal Lily. Pasti tadi lamu ngelamun gara gara mikirin Lily." Ujar Arin kepadaku.
"Iya, Soalnya sikap lily ke Nanda itu misterius banget. Apalagi pola pikir Lily yang tidak bisa aku mengerti. Ditambah dia itu cepet banget dalam ngambil keputusan." Ujarku pada Arin. Lalu aku melihat faiz tersnyum dan arin mengangkat sebelah Alisnya.
"Lily menag gitu la, Selain dia bisa berpikir sangat cepat, keputusan yang dia ambil itu selalu akurat. Saat perusahaan ada problema, Lily pasti langsung nemu kunci untuk menyelesaikan semuanya. Dari hal terkecil sampai yang terbesar di kantor. Liky pasti tahu semua detailnya. Aku setuju sih sama faiz kalau Lily itu idaman semua pria. Gimana nggak coba dia rajin, disiplin, cerdas, teliti, perfeksionis dan serba bisa. Tapi kalau sikap lily ke Nanda, emang banyak karyawan nggak mengerti dan tak habis pikir sama hal itu. Pokonya misterius banget." Jelas Arin panjang lebar.
"Kalau kamu mau tahu soal Lily. Kenapa nggak tanya sama pak mochtar aja? Itulah satpam didepan. Katanya dia udah kerja disini sejak 7 tahun yang lalu saat Lily masih merintis perusahaan ini. Yang paling gokil lagi, pas waktu itu umur Lily baru 16 tahun." Ujar Faiz
Kalimat faiz seolah memberikan titik terang bagi maslahku. Pak mochtar, apa mungkin dia tahu sesuatu tentang Lily dan suamiku.
.
.
.
.
.Like comment vote.( Yang banyak )
__ADS_1