
"Berapa isi saldo Atm Gue yang dipegang Ella?" Tanya Nanda.
"Sekitar 100 miliaran lah!" Ujar Lily santai.
"Dikit banget!" Saut Nanda.
"Itu bisa buat beli 1000 mobil kayak punya Ella atau 100 mobil kayak punya gue." Ujar Lily sedikit kesal.
"Buat beli mobil yang biasa gue pake cuman dapet 10." Saut Nanda malas.
"Ada info penting!" Ujar Lily tegas.
"Apa?" Saut Nanda santai.
"Fanny udah kasih tahu semua yang terjadi sama Ella, ke Alex." Ujar Lily serius.
"Lo introgasi dia kemarin?" Tanya Nanda mengangkat sebelah alis.
"Iyah, soalnya gue rasa fanny bisa jadi ancaman buat kita." Ujar Lily lagi.
"Ouh..!" Sautnya pelan.
"Sekarang Alex udah tahu semua informasi soal Ella. Kecuali fakta kalo lo udah balik normal." Ujar Lily
"Jadi..?" Ujar Nanda singkat.
"Itu artinya cepat atau lambat Alex bisa turun langsung buat ketemu sama Ella. Inget Nda, Alex sama Ella gak boleh ketemu atau semuanya akan kacau." Ujar Lily menimpali.
"Gue gak khawatir, lagian ada sahabat gue yang nemenin. So gue gak perlu mikir apa apa dulu soal Alex. Yang terpenting sekarang bagi gue cuman Ella." Timpalnya.
"Gak bisa!" lanjut Lily. "Apa yang gak bisa?" balas Lily. "Aku bukan cuman datang buat kasih info ini." Ujarnya lagi.
"Gue juga mau pamit ke singapura!" Ujarnya.
"Ngapain lo ke singapura?" Tanya Nanda lagi.
"Bisnis! Ada tender besar yang harus kita menangin. Kalo sampai perusahaan kita dapet tender ini. Kita punya peluang buat jadiin PT makim besar, Go internasional!" Jelas Lily.
"Lo serius! Ada urusan bisnis, atau emang lo mau ketemu sama Remi." Ujar Nanda kembali bertanya.
__ADS_1
"Perjalanan ini buat nentuin masa depan gue. Jujur emang gue gak bisa ngelupain Remi, tapi disisi lain mimipi gue buat nemuin keluarga gue masih ada disini!" ujarnya menunjuk kearah kepalanya.
"Gue ngerti, kalo gitu sekarang udah saatnya. Nanti setelah Ella sembuh, gue bakal jujur dan cerita semua sama Dia." Ujar Nanda. "Segera juga gua bakal masuk dan bantu perusahaan kita lagi." Ujar Nanda.
"Please Nda, gak ada main main lagi!" Ujar Lily dengan tulus.
"Iyah gue janji!" Ujar Nanda. "Yu sekarang kita pamit sama Ella, abis itu gua anter lo ke bandara." Ujarnya menjelaskan.
Setelah berpamitan kepada Ella, Nanda dan Lily langsung berkendara menuju bandara. Sepenjang perjalanan mereka selalu bercanda dan mengingatkan satu sama lain tentang mimpi dan keinginan mereka yang belum tersampaikan.
"Kayaknya cuman sampai sini aja!" ujar Nanda.
"Iyah!" Balas Lily. " Gue titip perusahaan disini,gue kurang yakin sama kinerja karyawan yang lain. Awasin mereka dari jauh aja." pinta Lily sebelum pergi.
"Mobil lo gue yang pegang dulu. Nanti pas lo balik ke indonesia baru gue balikin." ujar Nanda santai.
"Jagain mobil gue yang bener, jangan lupa dimandiin."ujar Lily melawan.
"Udahkan, nunggu apa lagi? Mau peluk?" Tanya Nanda geli dengan wajah konyolnya. Tak lama Lily langsung memeluk sahabatnya itu dan berpamitan dengan hangat.
"Sebenernya gue Naj*s peluka sama lo. Tapi sayang sahabat gue cuman irang gila kayak lo!" Ujarnya sambil mengusap punggung Nanda.
"Gue gak ngerti, pedahal banyak cewe yang suka sama gue. Tapi cuma lo yang bisa berani ngomong kayak gitu sama gue. Kayaknya kita emang gak cocok!" Ujarnya Lagi.
***
Setelah perpisahan dengan sahabathya Nanda kemudian pulang kembali ke rumah sakit. Namun saat dia masuk ke kamar Ella,Dia mendapati 1 kejutan disana. Ella sedang menangis sangat kencang sambil sesenggukan.
Sementara ibunya sedang memeluk Ella dari samping dengan mata merah dan ekspresi yang sangat garang.
"Ehmm. eh... ehm...!" Tangis Ella.
"La... kamu kenapa?" Ujar Nanda panik.
"Berhenti..! jangan dekati anak saya lagi!" Ujar ibu ella samnil menunjuk lurus ke wajahnya. "Loh bu kenapa..?" Ujar Nanda bingung.
"Kamu nggak usah pura pura lagi, semuanya sudah terbongkar!" Timpal seorang wanita dari arah jam 4. Nanda berbalik dan melihat Fanny dengan sorot mata tajam mengarah padanya.
Fanny dengan gamblamg memamaprkan sebuah foto yang menunjukan kedekatan Nanda dan Rita tadi malam. Seketika Nanda mengerti fanny telah membongkar semuanya. Rahasia dan rencananya untuk mencari informasi.
__ADS_1
Sial...! Bisik Nanda dalam hatinya. "La, aku bisa jelasin semaunya!" Nanda berjalan mendekati istrinya, dia berusaha meraih tangan Ella yang terus demgan erat memeluk ibunya.
Ceplak...
Tangannya langsung ditampar keras oleh bu mertua. Sorot matanya sangat tajam dan merah.
"Cukup..! Kamu gak punya hak lagi menyentuh anak saya. Saya juga tidak sudi, punya menantu seperti kamu. Pergi...!" Bentaknya sarkas.
"Nggak, Nanda nggak akan pergi sebelum semuanya jelas!" ujarnya tegas.
Nanda sangat mengerti, mertuanya sangat kecewa. Dimatanya Nanda telah menyakiti hati putri semata wayangnya. Namun Nanda ingin istri dan mertuanya mengerti bahwa yang dia lakukam hanya sekedar untuk mencari informasi musuh musuhnya.
"Pergi..! keluar sekarang!" lanjutnya menunjuk ke arah pintu.
"Nggak! La dengerin aku dulu..." pinta Nanda.
"Cukup Nda! Pergi sekarang!" Kali ini Mertuanya terlihat mengeluarkan air mata. Sekarang ibu dan anak itu saling berpelukan dan menangis satu sama lain. Kondisi ini semakin membuat Nanda bingung. Ingin bilang apa lagi.. sepatah katapun mereka tak mendengarkanku.
"Apalagi yang kamu tunggu? Cepat pergi dari sini!" Fanny mengucap kalimat itu dengan sangat keras dan menarik lengan Nanda untuk menyeretnya keluar.
Jelas saja itu membuat Nanda naik pitam, setelah membingkar rahasianya. Fanny juga ikut memprovokasi mertua dan istrinya untuk mengusir Nanda. Dia segera berbalik dan mengcengkram wajah fanny dan menjepit kedua pipinya dengan tangan kiri.
"Ini semua salahmu jal*ng!" Ujar Nanada kesal.
"Nanda!" Teriak Ibunya ella kencang.
"Nanda Stop!" timpal Dokter Anne yang terlihat terengah engah setelah berlari ke ruangan Ella saat dia mendengar ada keributan.
"Cukup mas! ehmm. Aku udah nggak tau kamu siapa, kamu bukan Nanda yang aku kenal lagi... Aku mau kita cerai!" Ujar Ella dengan wajah merah dan air mata yang terus mengalir sembari sesenggukan.
Nanda seketika melepaskam cengkramannya, saat melihat wajah Ella. Tangannya bergetar saat mendengar kalimat pedih yang Ella katakan. Sejenak dia melihat telapak tangannya yang bergetar, Lalu mengalihkan pandangangannya pada Fanny. Kemudian hatinya semakin hancur saat melihat ibu angkatnya menggelengkan kepala menyaksikan ulahnya.
Menyadari suasana yang semakin tidak kondusif, Nanda memutuskan untuk pergi dari sana. Dia bèrjalan melewati ibu angkatnya sambil menundukan kepala. sebelum pergi Nanda sempat berbalik melihat istrinya yang menatap dia penuh dengan kebecian.
.
.
.
__ADS_1
.
.Like comment vote