
Nanda pov
''Ehhmmm... ah.. selamat pagi." Ucapku membuka mata. Selepasnya aku bangun seraya meregangkan otot ototku yang terasa kaku.
Saat aku terbangun ruangan sudah kosong. Ella sudah berangkat bekerja, Dan bu dokter sedang ada urusan mendadak. Tadi aku sempat mendengar samar samar suara gaduh di luar. Mungkin ada masalah darurat, tapi sudahlah itu adalah hal biasa inikan rumah sakit.
Aku langsung turun dari ranjang rumah sakit, lalu berjalan Ke kamar mandi. Aku membilas wajahku beberapa kali disana. 2 tahun sudah berlalu tapi bagiku rasanya seperti baru bangun tidur. Lebih parahnya lagi aku sudah menikah selama aku tertidur. Sejenak aku terdiam, dan memperhatikan bayanganku yang ada di kaca.
"Ahmm.. gaya rambut macam apa ini, jelek sekali. wajah tampanku jadi tidak kelihatan." Ujarku, lalu memilin helaian rambut yang sudah mulai panjang. Tidak rapih sama sekali sangat jauh berbeda daripada saat aku di australia.
Tidak berselang lama aku mendengar suara teriakan dari luar kamar mandi. Sepertinya bu dokter sudah kembali ke kamar. Lekas aku keluar kamar mandi dan melihat wanita tua itu mengusap ngusap ranjang tempat tidurku.
Dia nampak begitu shock mendapati aku sudah hilang dari pengawasannya. Wajah tuanya terlihat berkeringat tanganya yang sudah renta terlihat gemetaran. Melihat pemandangan seperti itu membuatku tidak tega. Lekas aku memanggil bu dokter dengan .
"Ibu, aku tidak hilang. Aku ada disini, lihatlah kebelakang." Ujarku padanya.
Sontak bu dokter malah berdiri mematung didepanku. Sekitar 1 menit terdiam, dia baru berbalik ke belakang. Saat dia mulai melihatku, aku menyapanya dengan senyum lebar dibibirku.
"Selamat pagi, ibu!" Sapaku padanya.
Bukannya membalas sapaanku, bu dokter justru makin shock. Dia malah hampir pingsan dan hendak terjatuh. Sontak aku berlari dan menangkap tubuhnya yang lemah. Saat aku bisa meraih tubuhnya ku rangkul dengan erat supaya dia tidak terjatuh. lalu kubawa dia ke kursi kecil di pojok ruangan supaya dia bisa bersandar dan beristirahat.
"Seharusnya ibu lebih berhati hati. Kalau ada apa apa dengan ibu. Nanti Satria bisa marah padaku. Masa ibu melihatku malah mau pingsan, seperti lihat setan saja." Gumamku sambil mengusap ngusap bahunya.
Bu dokter masih shock, dia terlihat berusaha keras memperbaiki aluna nafasnya. Meski begitu tatapan tajamnya yang menusuk tidak lepas dariku. Selang beberapa saat dia menari telingaku dengan keras.
"Ehm... memang pantas kalau satria marah padamu. Bisa bisanya kamu mengagetkan ibu, seperti itu." Ucapnya tegas.
"Ehm... ah. aduh, sakit bu! Kalau telingaku copot bagaimana?" Balasku spontan.
"Biarin aja, biar kamu kapok!" Ujarnya ketus.
__ADS_1
Dia kemudian melepaskan capit tangannya di telingaku. Capitannya sangat keras sampai sampai telingaku menjadi merah dibuatnya. Aku terus saja mengusap ngusap telingaku yang terasa panas.
"Ibu tega sekali, aku kan baru bangun. Tapi ibu malah menjewerku seperti itu!" gumamku padanya.
Barulah setelah aku merajuk, ibu membagi pelukan hangatnya padaku. Ya meskipun aku disambut dengan sedikit kekerasan di awal. Tapi aku sungguh merindukan pelukan hangatnya yang khas.
"Maaf ya sayang, ibu menjewer telingamu. Habisnya kamu masih saja usil seperti dulu. Tapi sungguh ibu sangat senang melihatmu sudah kembali normal. Nanda, apa kamu tahu setelah kamu terjun kejurang dulu. Tidak pernah satu haripun ibu berhenti memikirkanmu. Maaf, ibu harus menjauh darimu selama 2 tahun. Tapi percayalah ibu selalu menyayangimu." Ujarnya panjang lebar.
"Bu dokter, aku tidak marah karena ibu menjauh dariku. Tapi aku marah kepada diriku sendiri, Aku tidak bisa menyelamatkan Bi inah,mang Asep,Ayah dan mereka semua. Aku lengah satu kali dan kehilangan segalanya. Kenapa disaat aku merasa kehidupanku mulai membaik dan sudah menang justru semuanya malah semakin buruk dan menjadi kekalahan terbesarku." Ujarku mengingat masa lalu.
"Tidak Nanda, Itu semua bukan salahmu. Ini semua sudah menjadi bagian dari takdir. Tidak ada yang mengira pembantaian itu akan terjadi." Ujarnya berusaha menenangkanku. Tapi aku tahu dengan jelas ini terjadi karena kebodohanku.
"Ibu salah, ini kesalahanku karena aku meremehkan musuhku. Mereka mengirimkan mata mata kekeluargaku tapi aku mengabaikannya. Aku tidak mengira mereka akan memanfaatkan celah dikeluargaku untuk kepentingan pribadi mereka." jelasku padanya.
"Hentikan Nanda, Ibu tahu kamu pasti sudah berusaha sebaik mungkin. Tugasmu sekarang adalah menjaga Ella dengan baik. Dia yang sangat membutuhkan kamu saat ini." Ujar Bu dokter meyakinkan Nanda.
"Pasti, Aku akan menjaganya dengan sekuat mungkin. Tidak akan aku lakukan kesalahan yang sama seperti dulu." Tegasku pada bu dokter.
"Menurut bu dokter, Ella itu orangnya bagaimana?" Tanyaku pada bu dokter.
"Hemm.. sebenarnya Ella itu anak yang baik. Hanya saja dia sangat labil ditambah dia itu juga sangat keras kepala. Kalau sampai dia salah jalan, dia akan terus tersesat jika tidak ada yang mengarahkannya ke jalan yang benar." Jelas Bu dokter.
"Begituh ya?" Ucapku.
"Kalau menurutmu sendiri, Bagaimana istrimu itu?" Ucap bu dokter bertanya kepadaku.
"Bagaimana menurutku? Menurutku dia sangat cantik, Centil, Lucu. Pikiranku tidak bisa lepas dari senyum manisnya. Ditambah mata lentiknya yang indah dan bodynya yang tegap berisi semakin melengkapi kesempurnaanya. Apalagi saat dia marah dia akan terlihat sangat imut sekali." Jelasku sambil membayangkan Istriku yang begitu cantik. Sayangnya seketika khayalanku buyar saat tiba tiba bu dokter menepuk jidatku.
"Dasar laki laki itu sama saja." Gumam bu dokter.
"Bukankah ibu bilang senang. kalau aku kembali Normal." Ujarku sambil tertawa.
__ADS_1
Lalu bu dokter kembali menjewer telingaku dan ikut tertawa bersama. Moment seperti inilah yang aku rindukan saat bersama bu dokter. Laly selepas basa basi aku berpamitan dengannya. Karena memang ada tempat yang harus aku kunjungi.
"Ibu dokter, sepertinya sudah saatnya Nanda harus pergi."
"Baiklah ibu mengerti, kamu pasti akan pergi kesanakan. Jangan khawatirkan masalah pembayaran ibu akan mengatakannya pada Lily. Apa setelah itu kamu akan kembali kemari?" Tanya bu dokter
"Tidak! aku akan langsung pulang." Ujarku sambil menunjukan kunci apartemen yang aku ambil dari ella semalam.
"hey, kapan kamu mengambilnya dari Ella?" Tanya bu dokter lagi.
"Aku mengambilnya tadi malam saat kami mengobrol. Oh iya jangan katakan pada siapapun kalau aku sudah sembuh dan kembali normal. Aku akan membuat sedikit kejutan." Ujarku.
"Oh.. jadi rupanya Ella tidak bermimpi semalam. Kalau begitu ini, kemarin Ella sempat memvawakan baju ganti untukmu." Tegas bu dokter memberikan baju ganti kepadaku.
Setelah aku berganti kostum dan memberikan baju pasien pada bu dokter aku langsung berpamitan dengannya dan pergi keluar.
"Ibu, Aku akan pergi sekarang!" Pamitku.
"Nanda, ingatlah! jangan pernah terlalu terpaku pada masa lalu. Karena ada masa depan yang harus kamu jaga!" Setelah bu dokter menasehatiku. Aku langsung memeluknya lagi, lalu pergi dari rumah sakit.
.
.
.
.
.
.Like comment vote
__ADS_1