My Little Hubby

My Little Hubby
Bab 84


__ADS_3

Keesokan harinya aku mulai merasakan dampak dari kegiatanku semalam. Badanku terasa remuk dan nyeri terutama diarea perut dan kewanitaanku. Gila, aku tak menyangka Nanda memiliki tenaga super badak dibalik wajah polosnya. Benar apa kata orang! Jangan menilai sesuatu hanya dari luarnya saja. Aku bahkan masih mengingat jelas saat Nanda merengek meminta lebih dariku.


"La, jangan dipakai dulu, aku masih belum puas mainnya!" ujarnya semalam.


"Hah serius? Udah 2 kali loh mas."


"Iyalah serius!" Nanda segera melucuti aku dengan liarnya. hufttt....


"Sebentar aja ya Mas!"


"Oke La, beres."


Sesaat setelah bangun tidur aku sadar Nanda sudah tidak ada dikamar. Langsung sajalah aku mencarinya keluar kamar, tapi dia juga tidak ada dimana mana. Aku pikir dia sedang pergi keluar, tapi untuk apa? Tidak biasanya dia pergi sepagi ini. Aku harap dia tidak berbuat yang aneh aneh.


Sejenak aku melupakan kepergian Nanda, Untuk berseka dan membersihkan diriku. Oh tidak, aku lupa ini hari senin, aku harus bekerja sekarang lekas aku pergi kekamar mandi.


Setelah mandi dan berganti pakaian aku menuju dapur dan hendak memasak. Mana mungkin aku meninggalkan Nanda tanpa sarapan di meja. Tapi saat aku baru mau mulai memasak Nanda tiba tiba datang dari luar dan membawa sesuatu diplastik.


"Eh.. Kamu udah bangun La." ujarnya menyeringai.


"Iya aku udah bangun." balasku tersenyum.


Nanda berjalan mendekatiku lalu tiba tiba dia mencium keningku. Sumpah aku sangat terkejut dengan sikapnya pagi ini. Tidak biasanya dia bersikap semanis ini padaku.


"Apasih mas? " balasku spontan.


"Aku cuman mau cium istriku aja kok." balasnya tersenyum. Nanda juga mulai meraih pinggangku dengan tangannya. Sekarang aku mulai bertanya tanya sendiri, jangan jangan aku masih bermimpi.


"Kamu darimana Mas? kok pagi pagi udah ngilang gitu aja. Mana nggak pamit pula sama aku. " Tanyaku sambil tertawa.


"Nih, aku beliin kamu bubur ayam." Saut Nanda sembari menunjukan belanjaannya.


"Ya ampun mas, Akukan bisa masakin buat kamu."


"Aku nggak tega La! Dari tadi pagi kamu megangin perut terus, pasti sakitkan. Makanya aku beliin kamu bubur ayam, aku kan sayang sama istriku." ujar Nanda menjelaskan.


Aku hanya bisa terperangah dan tertawa saat mendengar penjelasamnya. Nanda membuatku tak bisa berkata apapun lagi sekarang.


"Kamu ngelamun La!" Ujar Nanda sambil melambaikan tangannya didepan wajahku.


"Nggak kok, sini aku siapin buburnya dulu."


Aku mengambil bungkusan berisi bubur itu dari tangan Nanda dan mempersiapkannya di meja makan untuk kami santap bersama. Setelah selesai, Aku mempersilahkan suamiku duduk untuk sarapan.


"Gimana La enakkan?" Tanya Nanda tersenyum padaku. Aku hanya mengangguk untuk membalas pertanyanannya.


"oh iya mas aku mau ngomong soal yang tadi malem." Ujarku mulai serius


"Mau ngomong apa La?" sautnya ramah.

__ADS_1


"Kamu jangan bilang sama siapa siapa ya mas. Cukup kita berdua aja yang tau!" Ujarku tegas.


"Hah.! Pedahal baru aja aku pengin ceritain ke Rima." balasnya spontan.


"Tuhkan bener dugaan aku."


"Terus aku juga pengen nyoba main sama lily."


Plek..


Kupukul saja kepalanya dengan sendok, habisnya aku kesal. Nanda selalu bertingkah diluar akal manusia. Untung saja aku cepat menyadarinya kalo tidak pasti aku akan jadi bahan tertawaan orang orang.


"Aw.. Sakit La."


"Sukurin abisnya kamu ngeselin, Ngapain coba kamu ngomong kaya gitu depan aku. " Ujarku jengkel.


"ya emang apa salahnya, Aku kan udah dewasa. Kalo masih anak kecil baru nggak boleh, kamu sendirikan yang bilang." Bantah Nanda.


"Nggak sejauh itu mas! Kamu cuman boleh main kaya gitu sama aku aja. Ngerti!"


"Kalo gitu namanya curang La, masa sama kamu boleh sama yang lain nggak boleh." Bantahnya lebih kuat. Nanda semakin ngotot mempertahankan kringinannya.


Sejenak aku menarik nafas dalam dan mengusap wajahku. Sebenarnya aku sangat kesal pada Nanda, tapi mau bagaimana lagi ini adalah salah satu resiko yang harus aku hadapi.


"Gini mas, Yang boleh main kaya semalam itu cuman orang dewasa yang udah nikah. Nah jadi laki laki boleh ngajak main cewek yang udah jadi istrinya aja gak boleh sama orang lain. Nah gitu juga sebaliknya, perempuan cuman boleh ngajak main laki laki yang udah jadi suaminya dia, kalo sama yang lain nggak boleh." jelasku padanya.


"Jadi kenapa aku ngajakin kamu main begituan, karena emang kamu suami aku dan aku nggak boleh ngajakin orang lain. Nah kamu juga kayak gitu bolehnya sama istri kamu aja nggak boleh sama yang lain." Lanjutku.


"Hm.. Iya iya, aku ngerti La. Berarti kalau aku mau main sama Lily aku harus nikahin Lily dulu?" ujar Nanda.


"Apa ih..! " kucubit tangannya dengan keras. Sudah aku jelaskan padanya dengan susah payah. Dia malah ingin menikahi gadis lain.


Ngeselin banget sih, Untung sayang kalo nggak udah gue buang ke laut.


"Aduh aduh.. Galak banget sih La." ujarnya menekuk wajah.


"Ya kamunya!"


"Apa?"


"Ngapain kamu mau nikahin Lily, emang aku kurang apa buat kamu hah!" bentakku keras.


"eh.. anu itu aku."


"Ah. udahdeh kesel tau nggak. Kamu nggak pernah ngehargain aku, Aku mau pergi aja!"


Nanda berdiri dan menahan tubuhku yang hendak beranjak dari meja makan.


"Tunggu dulu La, kamukan masih sakit. Buburnya aja belum kamu abisin loh." Ujarnya sambil memegang tanganku erat.

__ADS_1


"Kamu aja tahu aku lagi sakit, tapi kamu malah ngomong kayak gitu. Kamu sengaja mau nyakitin hati aku jugakan."


"Nggak gitu La."


"Alah alesan!"


"Ehh.. eh... eh.. tunggu La. Jangan marah marah dulu, kita duduk dulu terus abisin buburnya. Kalo teriak teriak terus perutmu malah makin sakit loh. " Ujar Nanda perlahan.


Setelah emosiku sedikit mereda, aku kembali duduk dikursi. Lalu Nanda juga menggeser kursi lebih dekat dan duduk disampingku. Dia mengambil sendok dan hendak mensuapiku. Tapi satu hal yang pasti dia terus menggandeng tanganku.


Sampai bubur itu habis Nanda masih bungkam tak mengeluarkan sepatah katapun. Akhirnya aku memulai percakapakn lebih dulu setelah meminum segelas air putih.


"Ehm. denger ya pokoknya kamu nggak boleh cerita sama siapapun, nggak boleh ngelakuin itu sama siapapun dan kamu enggak boleh nikah lagi!" ujarku keras didepan wajahnya.


"Iya La aku ngerti kok. Tadikan aku cuman tanya aja, aku juga nggak bilang mau nikah lagi." ujar Nanda jutek.


"Egh.."


Sejenak aku mengingat perkataan Nanda sebelumnya. 'Hm.. Iya iya, aku ngerti La. Berarti kalau aku mau main sama Lily aku harus nikahin Lily dulu?' Eh berarti tadi Nanda cuman nanya.


Aku memandang lurus kearah Nanda. Wajahnya nampak muram, jangan jangan Nanda ngambek lagi.


"Lagian punya 1 istri aja repot apalagi 2 istri." lanjut Nanda.


"Apa? maksud kamu aku ngerepotin kamu gituh." ujarku terbata.


"Iya." Balas Nanda spontan.


Aku langsung terdiam seketika saat mendapat respond spontan dari suamiku. Apa Nanda marah lagi padaku?


"Pedahal semalam kita masih baik baik aja. Tapi paginya kita udah berantem lagi. Aku bingung sama kamu La? " Ujar Nanda males sambil memegang pipinya.


"Kok ayang ngomong gituh..?" ujarku pelan. Sekarang aku merasa bersalah, karena memarahinya barusan.


"huft... " Nanda melepaskan nafas kasar didepanku.


"Gak papa La. Lagian udah biasanya juga kamu marahin aku kayak tadi." ujar Nanda cengengesan.


"Sorry ya, aku kelepasan tadi. Sebenarnya aku juga nggak ada niat buat marahin kamu. maaf ya sayank!" ujarku sambil mengusap pipinya pelan.


"yah... okey!" ujar Nanda mengangguk sambil tersenyum.


"Yeah... thats my boy!" ujarku tersenyum membalasnya.


.


.


.

__ADS_1


.


.Like comment vote


__ADS_2