
''3 juta?" Ujarku kaget saat melihat tagihan pembayaran di meja reseptionis.
Darimana aku akan mendapatkan uang 3 juta. Bahkan panti saat ini sedang membutuhkan banyak uang untuk perbaikan gedung. Bagaimana ini?
"Boleh saya minta nomor rekening bank. Saya akan mentransfer uang pembayarannya." Ujar Nanda dari belakangku.
Aku menatap kearahnya kaget. Apa dia serius akan membayar semuanya?
"Jangan menatapku seperti itu anggap saja ini adalah permintaan maaf dariku karena menabrakmu tadi. Pergilah temui ibumu!" Ujarnya menatapku.
Tanpa berkata apapun aku langsung pergi meninggalkan Nanda disana. Lalu aku menengok bu maya yang berbaring di ranjang rumah sakit. Tangisku pecah lagi saat melihatnya. Entah mengapa aku begitu lemah, aku takut akan kehilangan bu maya. Satu satunya wanita yang bisa aku panggil ibu.
Aku menemaninya 1 jam disana, Lalu tak lama aku keluar dari kamar karena ingin buang air. Saat aku keluar laki laki itu masih ada disana. Dia duduk dikursi dan tersenyum kearahku saat aku keluar.
"Ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" Tanyanya padaku.
Aku mengacuhkannya lalu melewati dia begitu saja dan masuk kekamar mandi. sehabis buang air aku baru keluar dan menemuinya.
"Ibumu belum sadar?" Tanyanya saat melihatku.
"Belum!" Aku duduk disampingnya lalu aku mulai berbincang dengan Nanda.
"Terima kasih, kamu mau menolong kami!" Ujarku padanya.
"Wah.. Aku merasa lengkap sekarang!" Ujar Nanda tertawa.
"Minumlah! kamu pasti hauskan."
Nanda memberikan aku sebotol air mineral dan aku menerimanya. Semua ketegangan yang terjadi berhasil membuat tenggorokan ku kering. Dan sebotol air minum darinya menyelamatkan aku.
"Aku juga membelikanmu nasi bungkus, kalau kamu lapar kamu bisa memakannya." lanjut Nanda sambil memberikan kantong kresek berisi Nasi bungkus.
"Kenapa kamu repot repot melakukan semua ini? Pedahal kita tidak memiliki hubungan apapun." Ujarku membalasnya.
"Saat aku lahir ke dunia, seseorang yang tidak aku kenal dan tidak memiliki hubungan apapun denganku. Dia merawatku hingga aku sebesar sekarang. Dia adalah inspirasi terbesar dalam hidupku." lanjut Nanda.
"Siapapun dia, pasti dia adalah orang yang sangat hebat." sautku kagum.
"Tidak juga, dia hanya seorang pembantu!" Ujar Nanda spontan.
Aku menghadap kearahnya dengan tatapan tajam. Dan dia juga menatap kearahku.
"Kau menjengkelkan!" Ujarku kesal.
Saat aku merasa kesal Nanda malah tertawa didepan wajahku. Jadi aku tak bisa menahan tawa, kami tertawa bersama saat itu dan saat itu juga aku sadar. Aku dan Nanda memiliki satu frekuensi yang sama.
__ADS_1
"Jadi kita berteman!" Lanjut Nanda.
"Aku rasa tidak ada salahnya." sautku tersenyum.
"Yes..!" Ujar Nanda tertawa.
"Ngomong ngomong dari mana kamu bisa memiliki uang sebesar 3 juta?" Tanyaku.
"Rahasia!"
"Apa kamu mencuri?" Ujarku keras.
Dia menatap terkejut kearahku dan mengerucutkan bibirnya.
"Sejak awal aku sudah merasa ada yang aneh dengan ucapan terima kasihmu." Ujar Nanda.
"Aku hanya memastikan uang itu berasal dari hal yang benar!" Ujarku tegas.
"Aku juga berjualan sama sepertimu, menawarkan dagangan dari pintu ke pintu. Pintu rumah, pintu toko, pintu mobil, pintu asuhan haha..!" Ujar Nanda tertawa.
"Itu tidak lucu." Balasku keras.
"iya aku tahu, dasar wanita!" Gumam Nanda pelan.
Aku mentertawakan guyonannya yang tidak lucu itu. Meski aku tahu sebenarnya dia berusaha menghiburku dengan candaan.
"Benarkah?" Balasku.
"Iya, hey bagaimana kalau kita bermitra saja." usulnya mendadak.
"Bermitra?"
"Jadi kita membuka usaha untuk kita kelola bersama, dan keuntungannya bisa kita bagi. Dengan begitu aku rasa kamu bisa mendapatkan uang untuk membiyai kebutuhan panti." Jelasnya singkat padaku.
Meski aku tak langsung mengatakannya, Aku sangat setuju dengan ide yang dia berikan. Tapi aku bingung apa untung yang akan dia dapatkan. Kenapa dia mengajakku untuk membuka usaha?
"Lalu apa untungnya untukmu?" Tanyaku mengerutkan dahi.
"Apa kamu pernah mendengar sebuah istilah dalam membuka usaha. Modal sangatlah penting tapi mendapatkan mitra yang terbaik adalah segalanya.Sekarang aku mendapatkan kesempatan itu, mendapatkan mitra sehebat dirimu aku rasa itu sepadan." Jawab Nanda.
Aku seperti terhipnotis saat mendengar kalimatnya. Tanpa basa basi lagi aku menerima tawaran dari Nanda. Meski aku belum tahu terlalu jauh tentang dirinya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menerima tawaranmu." balasku tersenyum.
"Baguslah!" Jawabnya tersenyum.
__ADS_1
"Tapi nda, aku hanya lulusan SD. Aku tidak terlalu berpengetahuan, jika kau bermitra denganku. Aku rasa kamu akan sangat kerepotan. " Sautku pada Nanda.
"Memang kenapa? aku berjanji aku akan mengajarimu semuanya tentang bisnis." Ujar Nanda bersemangat.
"Sepertinya aku hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih untukmu." Lanjutku.
"Santai saja itu bukan masalah besar, kalau begitu aku akan pergi sekarang. Dan ngomong ngomong bantuan untukmu sudah datang."
Nanda berdiri dan menunjuk kearah pak mochtar yang datang menjenguk bu maya dan aku. Pak mochtar adalah tetangga kami di panti.
4 hari kemudian Nanda datang ke panti asuhan. Dia mengajakku ke sebuah toko tua dipinggir jalan. Dengan semangat dan wajahnya yang berseri dia mengatakan bahwa toko itu miliknya.
"Aku baru membeli ini 3 hari yang lalu, bagaimana menurutmu?" Tanyanya padaku.
"Ini toko yang cukup besar, tapi tempat ini terlihat sangat tua dan angker." Sautku pada Nanda.
"Tempat ini bukan tua tapi antik dan satu lagi daripada menyebutnya angker aku lebih suka mengatakan bahwa tempat ini bersejarah." ujar Nanda.
"Kamu membohongi dirimu sendiri!" sautku tegas.
"Ok baiklah, tempat ini memang sudah lama tidak dipakai dan terlihat buruk tapi di tangan yang benar toko ini akan kembali berubah seperti baru dibangun kembali." saut Nanda bersemangat.
Aku tahu betul maksud perkataannya. Jadi tanpa berpikir panjang lagi kami membersihkan tempat buruk itu. Membersihkan lantai dan ramat yang ada dilangit langit. Tempat itu sangat kotor bahkan ada banyak kecoa dan tikus disana. Perlu waktu 6 jam bagi kami membersihkannya.
Setelah bersih bersih kami melanjutkannya dengan mengecat dingding, menambal bagian lantai yang kotor, dan memperbaiki perabotan yang rusak. Itu semua memakan waktu seharian tapi untunglah akhirnya selesai juga. Tempat yang buruk itu berhasil diubah menjadi lebih baik.
Sejenak kami beristirahat sambil sesekali bercanda dan mengejek satu sama lain. Hingga akhirnya Nanda mulai mengajakku berbicara serius maslah bisnis. Tapi aku menolaknya dengan mentah mentah. Menurutku ada yang ganjil dengan hubungan kami.
"Kamu sudah tahu siapa aku, dan bagaimana keadaanku. Tapi aku belum tahu banyak soal dirimu." Ujarku pada Nanda.
"Jadi..?" saut Nanda.
"Aku ingin tahu lebih banyak soal dirimu, kamu mengertikan?" Ujarku padanya.
"Karena kita akan bermitra aku rasa memang sebaiknya tidak ada lagi rahasia diantara kita. kalau begitu ayo ikut bersamaku." ujarnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.Like comment vote