My Little Hubby

My Little Hubby
Bab 92


__ADS_3

"Kakoi..!" Saut Bella.


"Hem..!"


"Kayaknya gue kalah keren kalau sama Nanda." Ujar Faiz mengrenyit kesal.


"oh ya, bagiku Nanda tetap Nanda dia tidak ada bedanya." Ujar Lily.


"Gimana menurut teteh!" Saut Rima senyum.


"Hmm.. Aku tidak terlalu heran saat mendengarnya. Nanda selalu membuat hal hal aneh dan tidak terduga, kelakuannya tidak mudah ditebak." ujar Ella tertawa.


"Ngomong ngomong dimana Nanda!" Ujar Dr. Anne.


"Eh.. dia disana!" Rima menunjuk kearah Nanda.


Nanda berlari kecil kearah Ella lalu dia berbisik kepada istrinya didepan semua orang.


"La.. Aku pengin punya anak 100!"


"Heh..!"


Tapi karena jarak Ella dan yang lain sangat dekat, permintaan Nanda terdengar jelas oleh mereka semua. Sontak semua orang tertawa disana begitu juga Ella yang tersenyum malu. Sesekali Ella mencubit kecil suami nakalnya itu.


"Apasih ada ada aja kamu tuh?!" Ujar Ella tertawa.


"Kalo anak kita banyak, pasti seru La. Rumah nggak akan sepi!" Ujar Nanda cengengesan.


"waduh.. ada ada aja nih anak!" Ujar Rima.


"Haha yaidah kita makan tumpengnya ya, keburu dingin." Ujar bu joko.


"Eh bentar bentar, kayaknya bakal lebih bagus kalo Nanda yang motong tumpengnya duluan. Diakan Founder perusahaan." Ujar Arin.


"Iya juga! Bener kamu rin." Ujar Bella.


"Sini pindah Mas!"


Ella menarik tangan suaminya kedepan Nasi tumpeng. Lalu dia memberikan pisau dan daun pisang yang dibuat mengkerucut.


"Potong atasnya Nda, kayak daun pisangnya!" Ujar Lily.


"Okeh..!"


Slep... (hahahahahahah)


"Eh dipotong mas, bukan di tusuk!" ujar Ella geli.


Ella kemudian membantu Nanda mengarahkan tangannya untuk memotong bagian kerucut Nasi tumpeng.


"Nah gini!"


"Cie..!" Ujar warga serentak.


"Eh Rima juga mau!" Saut Rima.


"Anak kecil belakangan!" Saut Arin.


"Nanda potongin buat aku dong!" Pinta Bella.


Setelahnya semua orang juga ikut mengambil nasi tumpeng. Mereka berbagi makanan dan memuji masakan bu maya.


"Wah bu maya masakannya enak!" Ujar Dr. Anne.


"He'em ajarin saya bikinnya ya bu!" Ujar bu joko.


"Iya, iya pasti saya ajarin." saut Bu maya tertawa.


"Makannya pelan pelan Mas!" Ujar Ella sambil menyuapi suaminya.


"Ehm.. yang udah nikah!" Ujar Lily meledek.


"Biarin! kamu iri hahaha.. makanya buruan kawin." Balas Nanda meledek.


"Dih.." Saut Lily tertawa.


Mereka semua menikmati hidangan dengan senang hati dan tertawa bersama. Tapi tak lam kemudian Lily merasa heran dengan bu maya yang melirik lirik ke segala arah.


"Ibu nyari siapa?" Tanya Lily.


"Eh lily, tadi ada tamu yang datang. Terus ibu suruh kesini buat gabung sama kalian. Tapi kok mereka nggak ada yah?" Ujar Bu maya.


"Emang siapa?" Ujar Lily.


"Nggak tau! Ibu lupa nggak tanya Namanya dulu." saut bu maya.


"Udah pulang bu!" Saut Nanda dari belakang.


"Minum dulu mas!" Ujar Ella memberikan air putih.


"Kamu liat tamunya bu maya." Saut Ella.


"Iyah tadi mereka mau kesini. Eh pas mereka nyampe ujung sana malah bengong. Terus yang perempuannya tiba tiba lari keluar yang laki laki nyusul dech." Jelas Nanda.


"Kamu kenal?" Tanya Lily mendekat pada Nanda.


"Kalau yang perempuan nggak tau. Tapi kalo yang laki laki temennya Ella!" Saut Nanda.


"Apa?" Ujar Ella kaget.


"Hah.. jangan jangan pacarnya teh Ella!" Ujar Rima sembarangan.

__ADS_1


"Hush sembarangan kamu!" Ujar Dr. Anne.


"Nggak mungkin, kayaknya tadi mereka suami istri deh, pasangan muda gituh." Saut Bu Maya.


"Kamu yang bener ih! Temenku siapa ah?" Ujar Ella rada jengkel.


"Itu yang katanya kamu marah marah sama aku. Gara gara pernikahan dia ada di tv tapi pernikahan kita nggak ada di tv." saut Nanda.


Ella kemudian mengerutkan dahi, memutar ingatannya kembali. Lalu dia mendapat sebuah nama dikepalanya.


"Alex maksudnya!" Ujar Ella keget.


"Nah iya itu, Alex..!" Ujar Nanda.


"Tunggu berarti yang perempuannya marissa!" Lanjut Lily panik.


"Oh iya tadi Alex manggil gitu sama yang cewe." Ujar Nanda cengengesan.


"Kok kamu tahu?" Ujar Rima.


"Orang aku ngintip mereka tadi." Saut Nanda.


"Mereka liat kamu nggak?" Ujar Ella dan Lily panik bersamaan.


"Eh.. sabar dong satu satu."


"Jawab aja!" Bentak Ella dan Lily.


"Eh.. anu."


...***...


Alex!" Panggil marissa.


"Ada apa marissa?" Balas Alex.


"Apakah kamu bisa mengantarku ke suatu tempat sekarang?"


"Kemana kamu ingin pergi?"


"Akan aku tunjukan nanti, aku mohon sebentar saja alex." Pinta marissa


Alex mengambil kunci mobil dan bersiap siap untuk mengantar istrinya. Disepanjang perjalanan Alex tak banyak bergumam dia hanya mengikuti arah yang ditunjukan istrinya. 30 menit kemudian mereka telah sampai di tempat yang ingin marissa tuju.


"Marissa ini.. "


"Maksuklah alex kita akan diperiksa bersama!" Ujar


Marissa.


"Aku rasa ini tidak akan baik marissa, lupakanlah sebaiknya kita pulang saja!" Ujar Alex tegas.


"Tidak Alex aku mohon, Turutilah permintaanku sekali ini saja." Bujuk marissa.


"Bagaimana dengan hasilnya dokter?" Tanya Marissa antusias.


"Dari hasil Lab tidak ada masalah dengan Pak Alex bahkan sebenarnya pak Alex sangatlah subur dan sangat berpotensi untuk memiliki keturunan. Tapi.."


"Tapi apa dokter?" Saut Alex keras.


"Sayangnya bu Marissa belum siap untuk menjadi seorang ibu!" Uiar Dokter perlahan.


"Tidak mungkin, kau pasti berbohongkan dokter." Marissa mulai terlihat bimbang dan kesal dengan perkataan dokter.


"Rahim bu Marissa kurang subur dan sepertinya ibu akan kesulitan untuk memilki keturunan." Lanjut dokter.


Marissa menggelengkan kepala tidak percaya dengan perkataan si dokter. Sementara Alex yang melihat istrinya bersedih berusaha menghiburnya dengan memastikan apakah marissa bisa hamil atau tidak.


"Tapi istri saya masih bisa hamil kan dokter!" Ujar Alex keras.


"Tentu saja pak alex, Tapi kemungkinannya sangat kecil sekitar 20%." Saut Dokter.


"Kamu dengarkan marissa, kamu masih bisa hamil. Jadi tenanglah jika waktunya tiba kita pasti akan di karuniai seorang anak. Percayalah!" Ucap Alex meyakinkan Marissa.


Marissa sempat menatap wajah Alex sejenak, tapi kemudian dia berdiri lalu pergi meninggalkan Alex. 15 menit berlalu Alex dan Marissa belum berbicara lagi, hanya dengung suara mobil yang menghiasi perjalanan pulang mereka.


"Kau tidak apa apa marissa?" Tanya Alex membuka obrolan.


"Pantas saja..!"


"Marissa.. "


"Pantas saja aku tidak kunjung hamil, Kenapa seperti ini? Pedahal aku sangat menginginkan seorang bayi." Ujar Marissa sambil menunduk.


Tes.. Tes.. Tes..


ALex melihat air mata jatuh kepangkuan istrinya. Mengingat betapa senangnya marissa saat menanti kehadiran anak mereka. Alex mengerti jelas bagaimana perasaan marissa setelah mendengar hasil pemeriksaan si dokter. Alex kemudian menggenggam salah satu tangan istrinya supaya dia bisa lebih tenang.


"Tenanglah Marissa!" Ujar Alex


"Maafkan aku Alex!" Balas Marissa lirih.


"Aku pikir aku akan segera hamil, aku kira aku akan segera memberikanmu seorang bayi lucu. Tapi aku payah!" Lanjut marissa.


"Kau tahu marissa aku juga sedih dengan hasil pemeriksaan tadi. Tapi aku jau lebih sedih jika harus melihatmu seperti ini. Aku benci melihatmu menangis!" Ujar Alex.


"Dimana marissa yang biasa sangat galak dan selalu memarihku?" Ujar Alex dengan Nanda meledek.


"Alex..!" Saut marissa.


"Apa? Siapa kau? Aku tidak mengnalmu!" Ujar Alex.

__ADS_1


"Cukup Alex itu tidak lucu dan aku tidak menyukainya." Jelas Marisa sambil tersenyum kecil.


"Nah.. Seperti itu, tersenyumlah meski hanya sedikit aku lebih menyukainya." Ujar Alex tersenyum kepada Marissa.


Tanpa berkata apapun Marissa kemudian mencium pipi Alex berkali Kali. Biasanya Alex menghabiskan waktu seharian di kantor dan pulang larut malam. Melihat Alez tertawa dan bersenda gurau bersamanya sangatlah langka dimata marissa.


"Hey.. hentikan marissa, aku sedang menyetir!" Tegas Alex.


"Memangnya kenapa kamu selalu menghabiskan waktu untuk pekerjaan dan sering melupakan aku Alex. Jangan melarangku untuk menghabiskan waktu bersamamu seperti sekarang!" Balas Marissa didepan telinga Alex.


Mereka tertawa dan menikmati waktu kebersamaan mereka. Hingga tanpa disadari kesedihan yang marissa rasakan semakin berkurang.


"Sudah nagisnya!" ujar Alex pada marissa.


Marissa termengun dengan perkataan Alex. Sementara Alex malah cengengesan melihat wajah marissa yang tiba tiba memerah.


"oh iya marissa, aku ingat ada sebuah panti asuhan tidak jauh dari sini. Apa kamu mau mampir ke sana?" Tanya Alex.


"Panti asuhan?" Alex mengangguk.


"Baiklah mungkin bertemu beberapa anak manis disana akan membiatku sedikit tenang." Ujar Marissa kepada Alex.


"Yah kalau begitu ayo kita berangkat, tapi sebelumnya kita harus mampir untuk membeli mainan dan sejumlah makanan untuk mereka. Kue atau semascamnya?" Ujar Alex.


"Tentu saja, bagaimana kalau Rooti bakar?" saut marissa.


"Terserah padamu nyonya!" sambung Alex.


Akhirnya mereka yang awalnya ingin pulang berbelok arah menuju ke panti asuhan. Namun sebelumnya mereka akan mampir untuk membeli hadiah bagi anak panti.


25 menit kemudian mereka akhirnya sampai di panti asuhan yang Alex maksud. Dari depan Panti nampak sepi, karena memang ada acara yang berlangsung dan semua anak panti berada di halaman belakang.


"Heh.. Kenapa sepi sekali disini? Sayang apa kamu tidak salah tepat?" Tanya Marissa mengerutkan dahi.


"Aku tidak mungkin salah, lihat saja plangnya!"


Alex menunjuk ke bagian depan gedung panti yang bertuliskan nama panti asuhan. 'Panti Asuhan Kasih Bunda.'


"Tapi aku tidak melihat satupun anak kecil disini, yang ada hanya motor dan mobil yang terpakir dihalaman." Ujar Marissa mengerutkan dahi.


"Sudahlah ayo kita masuk dan bawa semua hadiah ini pada mereka. Mereka pasti akan senang!" Ujar Alex bersemangat.


Tanpa membuamg waktu lagi Alex dan Marissa mangetuk pintu panti. Lama mereka mengetuk, tapi belum ada juga orang yang membukakan pintu untuk mereka.


Tok.. Tok.. Tok..


"Permisi!" Ujar Marissa.


"Tidak ada yang menjawab." Gumam Alex.


Ceklek..


"Eh.. Ada tamu." Saut Bu maya setelah membuka pintu.


"Eh iya bu, kami sengaja mampir untuk bertemu dengan anak panti!" Ujar Marissa.


"Kami juga bawa sedikit makanan dan mainan untuk mereka." Saut Alex.


"Iya silahkan masuk dulu!" Ajak bu maya.


Mereka kemudian masuk ke ruang tamu oanti asuhan yang cukup lega. Tapi Alex dan Marissa masih bingung kenapa tidak ada satupun anak panti yang menyambut mereka.


"Kok sepi ya bu!" Saut Marissa.


"Iya soalnya anak anak panti dan yang lainnya ada dihalaman belakang. Sedang ada acara syukuran, ibu juga lagi nyiapin nasi yumpeng didapur jadi buka pintunya lama. Maaf yah! " Ujar bu maya menjelaskan.


"Syukuran?" ujar Alex.


"Iyah, perusahaannya Lily habis untung besar. Semua produk mereka laku keras dipasaran. Jadi untuk merayakannya Lily mengadakan acara syukuran di panti." Jelas bu maya.


"Kenapa dirayakan di panti asuhan? Aneh betul orang ini!" Ujar Alex.


"Hush.. Gak aneh atuh. Soalnya Lily juga salah satu anak yang tumbuh di panti, jadi dia ngerayain disini bareng sama adik adiknya yang lain."


"Lily? Aku seperti pernah mendengar nama itu tapi dimana yah..?" Gumam marissa.


"PT Bumi Rahayu, Lily CEO disana. Tapi meski sudah sukses Lily masih ingin tinggal disini bersama adiknya. Panti ini juga awalnya kecil, karena Lily panti ini sekarang jadi besar." Ujar bu maya.


"PT Bumi Rahayu? aku tahu kalau perusahaan itu, mereka sedang naik daun sekarang." ujar Alex.


"Nah kalah begitu hayu atuh, gabung saja di halaman belakang. Ibu juga mau Bawain nasi tumpengnya kesana. Ayok kita makan sama sama!" Ajak bu maya.


"Kayaknya seru deh yang! yuk kita gabubg aja sama mereka." ujar Marissa.


"Sok atuh duluan, ibu mau kedapur dulu." Ujar bu maya.


Setelah itu bu maya kemudian pergi kedapur dan hendak membawa tumpeng buatannya. Sementara itu Alex dan Marissa berjalan duluan ke halaman belakang. Saat hampir sampai kesana, Alex terdiam mematung saat melihat seseorang yang dia kenal berdiri bersama para anak panti dan undangan lainnya.


Marissa yang belum sadar awalnya heran dengan sikap Alex yang seketika berubah. Tapi saat dia mendapati pemandangan yang sama seperti Alex.


Marissa bergidik, bagai disambar petir disiang bolong Marissa terdiam. Pikrannya melayang entah kemana, dia kecewa dan bertanya tanya di hatinya.


'Untuk apa Alex membawaku untuk menemui wanita itu?' Gumam marissa dihatinya.


Kemudian Marissa pergi berlari meninggalkan Alex sendirian. Mrnyadari istrinya pergi dari sana, Alex pergi mengejar Marissa.


.


.


.

__ADS_1


.Like comment vote


__ADS_2