My Little Hubby

My Little Hubby
Bab 114


__ADS_3

"Mana Rita?" Tanya Alex pada orang tua dan istrinya dimeja makan. Pagi itu seperti biasanya mereka berkumpul untuk sarapan bersama sebelum memulai aktivitas hari ini.


"Adikmu diapartemennya dari kemarin belum pulang." Ujar ibunya menjelaskan.


"Hah.. anak itu kebiasaan, nggak suka kumpul sama keluarganya sendiri. Lebih betah diapartemen!" Ujar Alex agak kesal lalu duduk di kursinya.


"Yaudah gapapa sih Yang! Lagian Rita juga udah gede, bagus dia punya kemauan sendiri." Ujar Marissa menimpali suaminya.


"Kamu aja yang nggak tau, dari dulu dia tuh suka seenaknya sendiri, Kelakuannya nggak ke control. Lihat aja pakaiannya, serba kebuka kemana mana." Ujar Alex agak kesal.


"Itu namanya fashion Lex, Anak muda jaman sekarang udah gitu adabnya." Saut ayahnya santai.


"Umur Alex sama Rita nggak beda jauh, cuman beberapa tahun. Alex lebih paham daripada papah!" Ujarnya dengan tegas.


"Tapi menurutku bener apa kata papah!" Ujar marissa lanjut menimpali lalu duduk disamping suaminya. Sementara Alex sedang menatapnya tajam dengan perasaan kesal.


"Ko kamu malah belain mamah sama papah!" Ujarnya jengkel.


"Aku nggak bilang gitu, makaud aku..!"


"Ah... udahlah!" potong Alex. "Kamu jadi istri gak ada pro-nya banget sama suami." Lanjut Alex agak jengkel.


"Jangan marah gitu dong Yang!" Ujarnya mwndinginkan Alex. "Aku suapin yah!" Ujar Marissa lalu mengambil sedikit omelete dan menyuaokannya pada Alex.


"Aku yang masak loh!" ujarnya lagi, " Enak nggak?" Lanjutnya.


"Asin!" Ketus Alex. sontak marissa langsung cemberut dan memukul Alex ringan dibahunha.


"Hahaha.. Alex alex, Mamah kalau lihat kalian berdua persis banget kayak papah sama mamah dulu." Ujarnya sambil tertawa.


"Iya mah! kita dulu juga gitu, sering berantem tapi tetep saling sayang!" Ujar papahnya kembali menambahkan.


Beberapa saat kemudian mereka melanjutkan sarapan hingga tak berselang lama, ditengah waktu sarapan mereka. Seseorang datang dan melaporkan Hal yang tak mengenakan hati.


"Permisi Tuan, Nyonya!" Ujar seorang lelaki berjas hitam dihadapan keluarga itu.


"Pergilah! Kamu tidak lihat kami sedang sarapan." Ujar Darma cepat.


"Maaf tuan, tapi saya membawa sebuah kabar yang sangat penting. Ini mengenai nona Rita!" Ujarnya singkat.


"Adikku?" ujar Alex. "Benar tuan!" sautnya cepar.


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Alex sekali lagi.


"Semalam nona mengundang seorang Pria ke apartemennya. Kami rasa dia adalah kekasih dari nona Rita sendiri." ujarnya halus.

__ADS_1


"Kayaknya kita bakal punya menantu lagi nih pah!" ujar ibunya sambil tersenyum. Darma juga tersenyum membalas istrinya. "Cepat katakan siapa pria itu?" Ujarnya lantang.


"Maaf tuan kami tidak mengenali lelaki itu. Namun sepertinya dia tidak akan menjadi menantu Rumah ini." Ujarnya Yakin.


"Apa maksudmu?" Lanjut Alex.


"Semalam Nona Rita bertengkar dengan lelaki itu, Lalu dia memanggil bodyguard untuk menghajar lelaki tersebut. Tapi orang ini sangat kuat, 2 orang bodyguard kita sampai terluka cukup parah karena dihajar olehnya." Jelasnya singkat.


"Saya rasa lelaki itu telah mencampakkan nona Rita." Ujarnya dengan jelas. Mendengar perkataan kepala bodyguard Darma langsung naik pitam, dia berdiri, memukul meja, dan menyiramkan air pada kepala bodyguard itu.


"Apa? Dia mencampakkan putriku, kurang ajar!" Ujarnya keras dan jengkel. Sementara Alex terdiam begitu juga dengan marissa dan Ratna istrinya.


"Cepat cari pria itu dan bawa dia kedepanku hidup hiduo!"" Tegasnya. "Aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri!" Teriak Darma keras.


Setelah mendengar perkataan Ayahnya, Alex meminum secangkir teh kemudian dia berdiri dan merapihkan setelan jas yang dia pakai. "Kamu tahu ciri ciri orang itu!" Tanya Alex pada kepala bodyguard.


"Siap tuan, kami sudah memiliki foto dan video dari lelaki itu saat berada di apartemen melalu cctv. Semuanya ada di flash disk ini." Ujarnya singkat sambil menundukan kepala.


"Kemarilah! berikakan flashdisik itu padaku." Ujar Alex. Setelah menerima flashdisk itu dia kemudian berpamitan pada keluarganya.


"Papah sama mamah nggak usah khawatir, Alex sendiri yang bakal ngurus masalah ini." Ujarnya santai. "Sayang! Tolong kamu pergi temuin Rita yah!" Ujar Alex pada rita.


"Iyah,aku akan langsung mencarinya setelah ini."Ujar marissa kemudian berdiri dan memeluk suaminya yang akan pergi.


"Alex! Cari dan balas pria itu seberat mungkin! Mamah nggak terima adekmu digituin!" Perintahnya pada Alex.


Setelahnya Alex kemudian berangkat kekantor dan memanggil seseorang kepercayaannya. "Fanny!" Panggil Alex.


"Iya pak? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Fanny.


"Tolong kamu cari tahu, siapa orang yang ada didalam foto dan video ini. Saya mau secepatnya!" Ujar Alex lalu duduk di meja kerjanya.


Fanny tanpa ragu langsung mengambil flashdisknya dan membuka file yang dimaksud Alex melalui Laptop. Pertama kali melihatnya Fanny langsung tercwngang dengan isi video tersebut. Nanda... Gumamnya dalam hati.


"Apa bapak sudah melihat video ini?" Tanya Fanny gemetaran.


"Saya belum melihatnya tapi saya juga tidak terlalu peduli dengan video itu. Yang pasti kamu harus cari dia, dan beri dia pelajaran yang setimpal." Ujar Alex tegas.


"Baik pak saya akan melakukan yang terbaik!" Ujar Fanny meyakinkan bosnya.


***


Ella masih menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Diiringi suara tangis yang mengikuti sesak di dada yang tak tertahankan. ibunya juga masih disana mengusap bahunya dan memeluk tubuh putrinya erat.


Bingung, merasa dibodohi seperti keledai dung* oleh seorang pria yang dia anggap seperti penyelamat. Sejenak ia merasa Nanda akan menggantikan posisi kosong yang telah lama hilang.

__ADS_1


Ketika melihat putrinya masih bisa tersenyum ketika menghadapi masa sulit seperti sekarang. Dia merasa Keluarga kecilnya akan segera utuh lagi. Tapi rupanya semua hanya angan, karena sang penyelamat kini menjadi penjahat.


"Kamu sih nggak mau dengerin aku dari awal!" Ujar Fanny sembari meneteskan air matanya. "Dari awal aku udah yakin Nanda itu pura pura, tapi kamu nggak mau percaya La. Jadi ginikan sekarang!" ujarnya mengelap air mata yang mengalir.


Ella terus diam dan menangis sambil sesenggukan. "Saya tidak mengerti!" ujar Dr. Anne tegas. Perhatian Fannypun teralih pada ibu tua yang menatap tajam padanya. "Kenapa kamu juga menangis? Pedahal kamu sendiri yang membuat semuanya jadi seperti ini." Tegas beliau.


"Apa yang aku lakukan hanya membuktikan kebenaran!" Tegas Fanny jengkel tak mau kalah. "Dan kebenarannya Nanda adalah penipu, dan orang yang tidak bermoral." jelas Fanny lagi.


"Jaga mulut busukmu itu!" Tegas Dokter anne mengangkat telunjuknya. "Kebenaran hanya bisa terungkap, apabila semua Fakta telah diketahui dan kamu!" Tegasnya menunjuk wajah Fanny. "Kamu bukan tuhan yang bisa menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar!" Tegasnya dengan tajam.


Plak...


Tangannya ditampar begitu keras oleh ibunya Ella. Dia juga merasa tersakiti karena putri semata wayangnya telah mendapat luka yang sangat dalam. "Lalu bagaimana dengan Ibu!" Balasnya tegas. "Ibu juga tidak berhak berkata kalau Nanda tidak bersalah, Bukti buktinya sudah jelas didepan mata kita semua." ujarnya tegas.


"Saya tidak pernah berkata bahwa Nanda tidak bersalah." ujarnya Santai. "Tapi saya tahu satu hal dan saya yakin, Nanda tidak akan melakukan hal seperti itu." Lanjutnya lagi.


"Bagaimana ibu yakin, dia bukan anak kecil dia bukan lagi anak angkat yang sangat ibu sayangi." Lanjutnya tak mau kalah. "Dia sekarang Serigala yang menyamar seperti domba kecil." Ujarnya lagi.


"Ya mungkin saat ini dia serigala, Tapi Anda jaga harus ingat. Serigala tidak pernah menyerang kawanannya sendiri." Balas dokter Anne. "Nanda tidak akan pernah menyakiti orang yang dia cintai!" Tegas Dokter Anne dengan penuh keyakinan.


"Keluar!!" Teriak sebuah suara memecah ketegangan diantaranya.


"Ella!" Ujar mereka bersamaan.


"Keluar dari sini! Kalian semua tidak tahu apa yang aku rasakan." bentak Ella kasar.


"La..!" ujar Fanny. "Keluar..!" Balas Ella spontan.


"La jangan begitu sayang!" ujar ibunya menenangkan putrinya.


Ber....


Bantal dan selimut melayang ke arahnya, Ella benar benar kalap. Jika kakinya tidak cidera mungkin dirinya yang akan loncat dari ranjang dan meninggalkan semuanya.


Dokter Anne berjalam duluan menuju pintu dan hendak pergi. "La tenangin diri kamu!" perintahnya lalu keluar. Setelahnya Fanny mengajak ibunya Ella untuk keluar. Sesaat setelah mereka pergi dari sana. Ella berteriak dari dalam kamar dengan sangat keras.


"Arghhhhh.........!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


.Like commeent vote


__ADS_2