
Pukul 2 siang Nanda terbangun dari tidurnya di kantor Ella. Wajahnya lesu nampak sekali dia sangat keleleahan. Meski begitu dia tak boleh berhenti sekarang. Banyak hal yang harus segera dia lakukan.
Saat keluar dia keget melihat banyak orang berdiri dan menatap ke arahnya. Mereka adalah para pegawai PT. bumi Rahayu baik generasi baru sampai generasi lama seperti Pak Mochtar.
"Apa Tuan sudah sembuh sekarang? Tuan sudah kembali normal bukan." Ujar seorang wanita tua, dulu dia bekerja di kantin kantor meski sekarang dia sudah pensiun dan diganti anaknya.
"Ibu punya anak yang tak kalah hebatnya." Nanda tersenyum.
"Agh.. syukurlah" Nanda memeluk wanita tua yang nampak menangis tersebut.
"Ada satu hal yang mengganjal ditelingaku. Kenapa memanggilku Tuan, Aku masihlah remaja yang sama. Aku tak pernah melupakan kalian."
"Alhamdulillah! " Pack Mochtar tersenyum dan memberikan jempolnya.
Karyawan lama merasa senang atas kembalinya Nanda yang mereka kenal. Sementara pegawai baru masih tercengang dan penasaran sosok seperti apa Nanda ini. Dan gebrakan apa yang akan dia lakukan untuk menyelematkan perusahaan.
Pukul 16.00 wib. Ella tengah asyik bersantai menikmati indahnya mentari yang segera terbenam. Cahaya kuning keoranye'an menambah pesona langit sore. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa senang dan tersenyum dengan gembira.
"Ella! "
"Ibu!? " Ella tersenyum.
"Kamu nggak papa kan Kak! " Dia merangkul putrinya yang duduk di kursi Roda.
"Ella baik kok bu, Dr. Anne bilang Ella udah boleh pulang ke rumah. Cuman tinggal nunggu waktu supaya Ella bisa jalan lagi. "
"Pulangnya ke rumah ibu ya La. Supaya ibu bisa ngawasin Ella terus." Pintanya lembut.
"Nggak bisa bu! Ella udah punya suami. Nanda juga sekarang udah sembuh, Kayaknya mulai sekarang Ella harus nurut deh sama Nanda."
"Tapi ibu nggak percaya sama laki laki itu. Kalau ibu tahu kenyataan ini lebih cepat. Ibu nggak akan pernah merestui pernikahan kalian." Ujarnya Lagi.
"Bukannya ibu sudah ihklas." Saut Ella cemberut.
"Iyah tapi ibu tetep cemas sama kamu. ibu takut kali selanjutnya kamu yang akan pergi." Dia mengecup kening putrinya yang sedang merengut.
"Bu, Ella percaya sama Nanda. Dia pasti jagain Ella sama Anaknya." Ujar Ella yakin sambil tersenyum.
Wanita tua itu memeluk putrinya lebih erat. Dia sadar keputusan putrinya sudah final dan tidak bisa lagi di ubah. Kini dia hanya bisa berharap Nanda memenuhi kata katanya untuk menjaga Ella dengan sebaik mungkin.
***
Nanda POV
Kubuka pintu Kamar Ella dengan cepat. Sungguh aku tak sabar bertemu dengannya lagi. Aku ingin melihat bagaimana Reaksinya melihat makanan yang aku bawa.
"Asalamualaikum."
"Waalaikumsalam." ujar Ella dan ibunya bersamaan.
"Eh kayaknya aku ganggu kalian ya. "
__ADS_1
"Nggak, Ella dari tadi nungguin kamu pulang." Jawab ibunya dengan cepat. Entah apa yang terjadi tapi aku bisa melihat air mata kedua wanita tersebut berkaca kaca.
"Kalian baik! " Tanyaku memastikan keadaan mereka.
"Baik kok. Oh iya mas tadi dokter Anne bilang, besok aku udah boleh pulang. "
"Itu bagus dong! " Nanda tertawa senang mendengar kabar yang baik tersebut. "Pas banget, aku bawain soto daging buat kita makan malam plus ngerayain kabar baik ini. " ujarku dengan penuh bersemangat.
Ibu nampak mengelap mata lalu memeriksa makanan yang aku bawa. Dia nampak senang saat melihatnya. "Wah enak pasti! kamu suka bangetkan La sama soto daging."
"Ella bosen! Tiap hari Ella makan soto itu." Ujar Ella mengerucut.
Ella jelas tidak senang dengan yang aku bawa. Jadi aku mendekat dan bertanya padanya. "Mau aku beliin yang lain?" Dua tersenyum. "Nasi goreng atau kwetiaw? "
"Topokki! " Ujarnya tersenyum gemash. aku sungguh tak tahan melihat pipinya yang menggemaskan. kalau Kondisinya sudah lebih baik dari sekarang. Dan ibunya tidak ada disini. Pasti dia akan aku gulung diantara kasur dan selimut.
"Boleh! " ujarku singkat. Dia lekas tertawa dan langsung kembali ceria seperti biasanya.
"Yes, pokoknya aku mau yang banyak! "
"Iyah, tapi topokki itu makanan apa sih? " Ella kaget.
"Sumpah kamu nggak tahu?! "
"Heheheheh...! " Aku tertawa.
Pukul 19.15 aku sedang mengantri Tokpokki yang diinginkan oleh Ella. Aku melihat di bannernya buka jam 19.00 wib - 22.00 Wib. Tapi yang membuatku heran adalah antreannya yang begitu panjang.
Aku berada di barisan ke 15 dan mungkin ada 20 orang lagi dibelakangku. Sementara Ella duduk di meja no. 3 disudut ruangan. Sesekali aku menoleh ke arahnya sambil menggoyangkan kaki dan tersenyum..
20 menit kemudian aku berhasil memesan, dan setelahnya aku duduk kembali disamping istriku.
"Mana pesenannya?" Ella mengerutkan dahi.
"Bentar lagi juga dianterin." Balas ku malas. "Aku capek banget ngantri dari tadi, pijitin dong."
"Cuman ngantri gitu doang? Capek!? " Tegur Ella keras.
"Biasanya respond kamu nggak gitu."
"Biasanya kamu elusin rambut aku gini! " Nanda memegang satu tangan Ella dan mengusapkan tangan lembut tersebut dikepalanya.
"Trus kamu bilang gini Jangan loyo gitu, Semangat dong sayang! " Ella terkekeh lalu menarik rambut Suaminya dengan keras.
"ugh...! " Nanda mengusap rambutnya dengan cepat sambil tertawa.
"Jangan godain aku ah males. Aku lagi laper! " Ujar Ella kesal dan kembali meledek nya suaminya.
Selang beberapa saat Makanan yang mereka tunggu akhirnya datang. "Huft.. Enak nih! " Ujar Ella.
"Eh.. berdoa dulu! " Ujar Nanda mengingatkan.
__ADS_1
"iya!" Nanda tersenyum saat melihat Ella memejamkan mata dan mengangkat kedua telapak tangannya.
"Amin! " Ella mengusap wajahnya dengan 2 tangan. Tanpa ragu dia kemudian mengambil sepasang sumpit dan bersiap memakan pesanannya.
"Pelan pelan ya! " Ujar Nanda. "Iya! " Ella kemudian memakannya dengan senang hati dan penuh kegembiraan. Lihat saja, wajahnya yang tersenyum tulus nan menawan itu.
"Sumpah Mas! Enak banget. Rima rugi nggak cobain ini. " Ujar Ella bersemangat.
"Eu hmm. eumm.. Kenapa Rima tadi nggak mau ikut ya Mas? " Tanya Ella.
"Rima lagi gak mood kali. " Seharusnya kamu juga nggak ikut La. Aku masih was was sama kondisi kaki kamu.
"Mas Mas! "
"Apa? "
"Tadi kan aku ngobrol sama Rima, Nah terus dia bilang dia suka sama cowo. Namanya Rio, kamu tahu nggak?" Tumben sekali, Biasanya Rima selalu menyembunyikan privacy semacam ini. Tapi kenapa dia kasih tahu ke Ella.
Tanpa berpikir lama sebuah jawaban singkat terlintas dikepalanya. Rima pasti nggak bisa ngelawan Bumil.
"Tau! Rio itu anak kandungnya dokter Anne, Dia seusia kamu sama Lily." Jelas Nanda.
"Oh bu dokter punya Anak, kok dia nggak pernah bilang. Yang dia ceritain kamu terus, aku kira dia singgle loh." Ujar Ella.
"Nggak kok, dia punya keluarga. Suaminya emang udah meningal ya kira kira 6 tahun lalu. Kalau Rio aku nggak tau dia dimana sekarang. Terakhir sih aku denger di ambil kuliah di luar negeri." Jelas Nanda.
"ouh gitu, ganteng nggak mas! "
"Gantengan aku! " Spontan Nanda.
"Kepedean Lo! " ujar Ella mengerucutkan bibir.
"By the way, kamu tahu darimana Rima suka sama Rio."
"Rima bilang sendiri. Tapi dia bilang aku nggak boleh cerita sama siapapun." balas Ella.
"ehmm.. gitu toh! " Ujar Nanda.
"Astaga...! " Ella. terkejut saat menyadari kesalahannya
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
. Like comment vote