My Little Hubby

My Little Hubby
Bab 81


__ADS_3

"kamu bilang kita pikniknya berdua!" saut Nanda mengerucutkan bibirnya masam.


"Fannykan temenku mas. Dia bukan orang asing ko. '' balasku pelan sambil tertawa.


''Tetep aja La, dia ganggu. Aku kira kita bakal berduan terus kayak kemarin. '' sautnya hangat. Aku terkekeh melihat tingkahnya, dia merengek seperti selayaknya anak kecil didepanku.


Tapi memang itulah suamiku, aku mengerti keadaannya tapi tak pernah kuduga aku akan tersenyum gemash melihatnya seperti ini. Apalagi saat ditaman tadi. Tingkahnya sekaligus membungkam kecurigaan fanny yang menyangka bahwa dia telah sembuh.


Sebenarnya akupun sempat harap harap cemas, aku ingin Nanda kembali normal. Namun disisi lain aku takut jika Nanda kembali normal disaat seperti ini.


"Mau berduaan bareng aku, boleh. yuk beresin kamarmu!" ajakku sambil tertawa.


"Nggak mau, beresin aja sendiri." jawabnya lalu berguling ke sisi lain sofa dan mengambil remote tv. Tak heran sih jika dia menolak, m3mang dasarnya semua laki laki itu pemalas. Mereka lwbih suka nonton tv daripada bersih bersih.


Langsung saja aku masuk kekamar Nanda. Bau apek langsung menyengat dihidungku saat membuka pintu. Jorok adalah kata pertama yang terlintas di kepalaku. Ayoklah apa memang semua laki laki itu pemalas, dasar!


Aku membereskan kamarnya dengan teliti dan secepat mungkin. Aku lipat baju bajunya dengan rapih dan aku susun didalam lemari. Selimut dan spreinya aku ganti dengan yang baru, yang lama aku taruh di keranjang untul aku cuci nanti. Yah ini adalah kegiatan biasa bagiku. Sampai akue menemukan jackpot saat mengganti sarung bantalnya. Disinilah ternyata Nanda menyembunyikan surat dari ibunya, didalam sarung bantal.


Assalamuailkum wr. wb


Nanda jika kamu membaca surat dari ibu ini. Maka itu artinya kamu sudah besar dan sudah menikah. Sebelumnya Maafkan ibu, karena ibu tak bisa merawat kamu dari kecil. Tapi ibu yakin sekarang kamu sudah jadi pria dewasa dan tampan seperti ayahmu.


Dulu ketika ibu mengandungmu, ibu sangat terpukul dengan tingkah laku ayahmu. Dia berselingkuh dengan seorang wanita kaya demi memenuhi ambisinya. Sakit sekali hati ibu ketika mengetahauinya. Keadaan bertambah semakin buruk saat dokter menyatakan kanker otak yang ibu alami sudah semakin parah.


Setiap hari keadaan ibu semakin lemah lahir dan batin. Setiap malam ibu mengelusmu dari luar dan mendoakanmu. Ibu sadar, ibu tak akan punya kesempatan untuk merawatmu, untuk melihatmu tumbuh besar, bahkan hanya untuk melihat wajahmu saat lahir kedunia. Sebab itulah ibu tulis surat ini untukmu.


Setelah mengetahui hal ini, jangan pernah Nanda membenci ayah. Karena seburuk apapun dia, dia tetap ayahmu. Namun kamupun tak boleh melakukan kesalahan yang sama seperti ayahmu. Kamu harus menjaga istrimu dan memperlakukannya dengan baik.


Bagaimana istrimu? bukankah dia sangat cantik. Kamu pasti sangat mencintainya dan ingin melihatnya bahagia seumur hidupmu. Sayang, dengarkan ibu baik baik. Seorang wanita tak hanya membutuhkan materi untuk bahagia. Wanita juga bukan alat pelampiasan nafsu semata. Apalagi hanya sebatas mesin pencetak anak.

__ADS_1


Ibu menyayangimu melebihi apapun yang ada di dunia ini. Lalu bagaimana caramu menyayangi ibu, lihatlah istrimu. Jika kamu ingin memeluk ibu, maka peluklah istrimu. Jika kamu ingin menyayangi ibu, maka sayangilah ibu dari anak anakmu. Sebab dialah satu satunya orang yang tak akan pernah meninggalkanmu.


Kamu harus menjaga istrimu dan memuliakan dia. Terkadang seorang istri sering marah marah pada suaminya. Percayalah, dia tak membencimu. Dia hanya ingin kamu berubah demi rumah tangga kalian. Jika kamu membuat istrimu marah, maka sama saja kamu membuat ibumu marah. Jika kamu membuatnya menderita, maka sama saja kamu membuat ibu menderita.


Ibu tak akan pernah memaafkanmu jika membuatnya sakit hati, tidak akan pernah. Nanda katakan pada istrimu ibu sangat menyayanginya. Satu hal lagi yang harus kamu ingat. Kita memang tak pernah bertemu, tapi percayalah ibu selalu membelaimu dan istrimu dari surga.


Waalaikumsalam wr. wb.


Jadi karena ini Nanda tak pernah melawan saat aku memarahi dan memukulnya. Jantungku berpacu begitu kencangnya. Air mata dipelupuk mata sudah memaksa ingin keluar. Sesaat aku menghela nafas, memejamkan mata, melompat ke alam bawah sadarku.


"Kamu udah baca suratnya La. " Kalimat singkat itu seketika memecah keheningan yang aku rasakan. Saat melihat Nanda berdiri tersenyum kearahku. Tanganku bergerak spontan menyembunyikan secarik kertas dibalik punggungku.


"Mas, kamu mau bantuin aku beresin kamar." ujarku gemetaran sambil tersenyum. Nanda tak menggubris pertanyaanku. Dia hanya berjalan duduk mendekat, lalu duduk disampingku.


"Nggak papa ko La. Emang udah seharusnya kamu tau isi surat itu. Maaf yah sebelumnya aku sembunyiin dari kamu." Ujarnya pelan. Entah kenapa saat ini aku tak berani menatap wajahnya. Apa yang terjadi padaku?


"La hmm.. Aku cinta sama Kamu."


Deg...


Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Nanda. Dia menyatakan perasaannya padaku. Aku mengangkat kepala dan hendak menghadap kearahnya. Namun Nanda kembali mengejutkanku, dia sudah berada disana. Aku tak dapat mengucap satu hurufpun dari mulutku.


Mataku membundar melihat kekurang ajarannya menikmati bibirku. Nanda sudah mencurinya, dia mencuri ciuman pertamaku. Sepanjang perjalanan hidupku, Nanda adalah satu satunya pria yang berani dan tanpa ragu mengambil semua momen yang paling sakral bagiku.


Dia adalah pria pertama yang berani tidur seranjang denganku. Dia adalah pria pertama yang dengan tanpa rasa bersalahnya mengukur setiap inci tubuhku. Dia adalah pria pertama yang berani menikahiku. Dan sungguh aku berharap dia adalah satu satunya orang yang menjadi suamiku.


Baik sekarang ataupun esok, aku tak mau kehilangannya. Aku tidak mau adalagi dendam, benci, serta kemarahan luar biasa yaang menyelimuti kami. Sebab Aku tak mau kehilangan seorang pria yang begitu tulus mencintaiku.


Aku bisa meraskan ketulusan kasih sayangnya padaku. Ciuman ini menjadi perantara cintanya padaku. Hangat, hangat sekali, aku bisa merasakan kehangatan kasih sayangnya yang begitu tulus. Aku lalu membalas ciuman hangat itu dengan lembut. Aku menyambut perasaan hangat yang dia berikan padaku.

__ADS_1


''La, kamu nggak papa? mukamu merah, kenapa kamu menangis?" Tanyanya polos seusai melihat air mataku mengalir. Bahkan aku tak sadar sejak kapan wajahku menjadi merah.


Aku tertawa kecil mendengar pertanyaannya. sambil mengusap air mata aku memandangi wajahnya yang nampak kebingungan sekali. Lalu aku tarik tengkuk lehernya lalu aku kembali menciumnya dengan agak liar kali ini.


Tangankupun tak mau ketinggalan merangkul bahu bahunya dan mendekapnya erat. Setelah beberapa ciuman yang cukup banyak dan berlangsung alot. Aku memeluknya begitu erat diatas ranjang. Lalu aku bisikan satu kalimat singkat tepat didepan telinganya.


"Aku juga mencintaimu." Entah bagaimana kalimat itu juga keluar dari mulutku.


''Iyah, tapi aku yang paling mencintaimu." Sautnya keras dan bersemangat.


"iya sayang iya." balasku singkat.


Beberapa saat kemudian seusai beberapa ciuman panjang dan pelukan erat. Aku meminta Nanda membereskan barang barangnya dan memindahkannya kekamarku. Upss.. kamar kami, itu yang benar.


.


.


.


.


.


.


.


.Like comment vote

__ADS_1


__ADS_2