
Pada malam hari Ella terbangun dari tidur nyenyaknya. "Egj.. egh..!" Sambil merintih dan memegangi perut dia membangunkan suaminya. "Mas perutku sakit lagi!" Ujarnya lemas.
"HMM... apa?" Tanya Nanda bingung dengan wajah linglung dari bangunnya. "Perutku sakit!" Tegas Ella.
"Sakit kenapa lagi?"saut Nanda sedikit cemas. "Nggak tau rasanya mual." Ujar ella. "Oweg..!" Ella menutup mulutnya dengan tangan.
"Kamu mau muntah La! Bentar aku ambilin kresek." Nanda kemudian mengambil sebuah kresek hitam dari dalam beside table. "Muntah kesini aja La!" Ujar Nanda lembut.
"Owegh.. owegh.. owegh..!" Tanpa basa basi Ella mengisi penuh kantong kresek hitam tersebut dengan muntahannya.
"Minum dulu La!" Tawar Nanda setelah ella selesai muntah. Segelas air putih itu langsung diterima Ella dengan senang hati kemudian Ella kembali bersandar diranjangnya dan menarik nafas panjang yang terbata bata.
"ARGGHH... ARGHH.. ARGGHH... Aduh Mas!" Rintihnya.
"Perutku kok nggak enak banget ya mas?" Tanya Ella pelan menahan sakit dan mual diperutnya.
"Masih sakit? Mau muntah kagi nggak?" Tanya Nanda halus. Ella kemudian menggelekan kepala.
"Mau aku panggilim dokter?" Lanjut Nanda kembali bertanya. Ella juga menolak tawaran Nanda dan menggelengkan kepala untuk yang kedua kalinya.
"Mau minum lagi nggak La?" Tawar Nanda untuk sekian kali dan kesekian kalinya Ella menggelengkan kepala.
Susah banget sih, aduh malah jadi pusing sendirikan. Batin Nanda agak kesal.
"Bawa tidur aja ya La, lama lama juga sembuh." Jelas Nanda berusaha menenangkan istrinya. Dia kemudian menaikan selimut istrinya lagi dan mengusap ngusap bahu istrinya hingga Ella tertidur.
Namun tidur Ella kali ini sangat singkat, karena tak lama dia kembali terbangum dan muntah lagi. Untung ada Nanda yang berada disampingnya. Jadi dia tidak terlalu kesusahan. Hal ini terjadi berkali kali sampai hingga 2 jam lamanga. Puncaknya pada pukul 02.15 pagi Ella menangis dan mengadu pada suaminya bahwa perutnya masih terasa sakit.
"Egh.. egh...!" Tangis Ella. "Mas perutku sakit. Mual mual terus!" Adunya dengan suara yang serak dan mata sembab akibat keseringan menangis.
"Aku juga bingung La harus gimana? Tahan dulu ya La
sampai pagi. Bentar lagi kok." Ujar Nanda menguatkan istrinya. "Bentar lagi kapan mas? Masih lama! ARGH.. argh...!" Balas Ella spontan agak keras sambil menangis.
Saat ini pilihan Nanda tidak banyak dia hanya bisa menguagkam istrinya, memberikan air minum dan membersihkan sisa sisa muntahan yang terjatuh di baju Ella. "Sabar ya La!" Tegas Nanda. Disisi lain Nanda juga hampir mwncapai batasnya, tubuhnya juga lelah dan matanya sudah berkantung.
Beberapa menit kemudian, Ella kembali terbangun dan menanvis lagi. "Kenapa? Muntah lagi!" Tanya Nanda spontan. "Egh.. jangan gitu bilangnya..!" Rintih Ella sambil menangis dan meremas bahu suaminya cukup keras.
"ARGH.. ARGHH.." Tangis Ella. Apa apaan sih perkataanya itu, aku sedang sakit dan dia menggunakan nada tinggi untuk menjawab pertanyaanku. Wajarlah jika aku mengadu, merintih dan meminta bantuan dan perhatian lebih darinya, akukan istrinya. Gumam Ella dihatinya.
__ADS_1
Nanda kemudian memeluk istrinya yang terlarut dalam kesedihan. Disandarkannya kepala Ella dibahu kirinya dan tangan kanannya melingkar memeluk dan mengusap bahu kiri Istrinya. Dalam diam dan bingungnya Nanda mendapat satu bisikan yang terasa sangat menusuk kedalam hati dan jiwanya.
"Aku Istrimu! Aku istrimu!" Ujar Ella ditelinga suaminya seraya menangis dan meminta perhatian lebih.
Tanpa ia sadari air mata mengalir dari matanya dengan cepat. DIa kembali mengencangkan pelukannya pada istrinya itu. "Iyah maafkan aku. Aku janji semuanya akan segera berakhir." Ujar Nanda serak dengan perasaan mendalam.
"Tidur ya La. Semuanya pasti akan lehih baik besok." Ujar Nanda meyakinkan istrinya.
Cup....
Beberapa ciuman hangat lalu mendarat dipipi dan beberapa bagian wajah Ella. Ella kemudian terduduk dan terus bersandar pada suaminya sampai dia tertidur.
***
Dipagi hari setelah melalui malam yang sangat panjang Ella terbangun karena mendengar suara ibunya. "Ella Ella!" Panggil ibunya sedih. "Kamu kenapa.sayang, kenaoa matamu sembab gitu?" Tanya ibunya sembari mengelus kepala Ella.
"Ella cuman kebanyakan nangis bu!" Ujar Ella dengan suara serak dan lemas.
"Kamu masih Nagisin suamimmu itu, ibu bilang juga apa La? Gak usah kamu pikirin dia lagi!" Ujarnya keras. Ella menunduk dan merenungkan kejadian semalam. Apa semalam itu cuman mimpi.
Ia kemudian melihat kesekitar dan menyadari ada bekas bekas kecil muntahan di baju dan selimutnya. Lalu diatas beside table dia juga menemukan kantong muntah yang terbungkus rapih, pedahal sebelumnya tidak ada disana.
"Iyah, ibu cemas sama kamu makanya ibu tidur dilorong. Semalem kamu nggak papakan La?" Tanhlya ibunya menatap hangat.
Ella kemudian menggelengkan kepala menjawab pertanyaan dari ibunya. Kayaknya ibu emang kacepekan,maklum sih diakan udah berumur. Tapi ini berarti semalam bukan mimpi, Nanda memang datang kesini dan menemaniku semalaman.
"La sayang, ko malah melamun." Ujar ibunya.
"Eh enggak bu, Ella cuman owegh..!" Perutnya terasa mual lagi. Lalu dia menunjuk ke arah kantong muntah yang berada di beside table. Dengan cepat kemudian ibunya membuka segel dengan merobaknya lalu mengambil satu kantong dan memberikannya pada Ella. "OWEGGH.. OWEGH... OWEGHM..!" Ella muntah lagi disana.
Pagi ini Ella juga merasa mual dan muntah beberapa kali. Untunglah keadaannya tidak separah tadi malam. "Sarapan dulu ya La." ujar ibunya halus. Ella juga mengagguk untuk menjawab pertanyaan ibunya.
Namun sebelum menghuap untuk yang pertama kali. Dia sempat melirik ke arah pintu beeharap seseorang datang dari balik sana. "La.. mikirin apa?" tanya ibunya lagi.
"Nggak ada bu!" Ujar Ella tersenyum lalu menghuap suapan pertama dari ibunya. Rasanya berbeda, kalau dulu aku sangat ingin sekali makan dari suapan tangan ibuku. Selalu aku menginginkan dan merindukan suapan darinya. Tapi kali ini entah mengapa dan bagaimana. Aku sangat menginginkan suapan dari tangan orang lain. Batin Ella.
Hingga sarapannya habis Ella masih mengharapkan orang itu datang, namun tak ada sedikitpun tanda tanda darinya. Pukul 08.15 Dr. Anne datang ke kamarnya untuk melakukan pemeriksaan rutin. "Pagi La! Pagi bu!" Sapanya ramah.
Ella tersenyum kecil, sementara ibunya tersenyum karena terpaksa. Mungkin dia masih berasa jengkel pada Dokter yang merawat putrinya itu.
__ADS_1
"Gimana kakimu La, udah mendingan?" Tanya dia ramah.
"Udah agak mendingan bu, nggak terlalu sakit lagi." jelas Ella santai.
Dr.Anne kemudian mengganti perban dikaki Ella dan memeriksa setiap bagian dari kaki Ella. Dia sudah menyimpulakn bahwa retakan pada tulang kakinya sudah mulai menyembuhkan diri. Hanya butuh beberapa wakyu lagi sampai kondisinya benar benar pulih.
"Semalem kamu mual mual sama muntah muntah." Bisik Dr.Anne pelan.
"Ibu tau dari Nanda yah?" Tanya Ella balik. Dr.Anne kemudian tersenyum lalu mengangguk ramah pada wanita yang menjadi pasiennya. "Ibu periksa sebentar ya La." lanjutnya lagi. "Iyah!" Ella mengangguk.
Dengan tangan tuanya yang sudah keriput, Dr.Anne kemudian meraba dan sedikit mengetuk ngetuk perut Ella. Ketika dia sudah hampir mencapai suatu keputusan Air mata mengalir secara tiba tiba dari matanya.
Setetes air mata itu lalu jatuh tepat ke perut Ella. "Bu Dokter?" Tanya Ella bingung. "Bentar yah, ibu ambilin sesuatu buat kamu!" Dalam sekejap Dr. Anne kemudian berlari keluar dari kamar Ella.
"Dia kenapa?" Tanya Ibunya ella.
"Ella gak tau bu, tadi dia tiba tiba nangis terus lalu keluar bilangnya mau ngambilin sesuatu buat Ella." Terangnya.
Beberapa menit kemudian Dia kembali dengan senyum lebar dari balik pintu. Dia mengeluarkan sebuah alat dari sakunya. Yang mana Ella dan juga ibunya tau alat apa yang dibawa Dr. Anne.
"Itu Testpack?" Ujar ibunya Ella ragu. Dokter Anne tersenyum lalu mengangguk.
"Mari kita coba!" Ujar Dr.Anne.
.
.
.
.
.
.
.
.Like comment Vote.
__ADS_1