
"Bagaimana kabar non Ella? Apakah nona baik baik saja?" Tanyanya perlahan.
"Saya menderita sejak terakhir kita bertemu." Sautku membalas perkataannya. Rasanya sangat aneh berbicara seperti ini. Dia duduk tepat berbelakangan denganku, yang berpapasan adalah punggung kami serta besi sandaran membatasi kami berdua.
"Saya sudah berusaha yang terbaik non. Hanya itu yang bisa saya lakukan." Ujarnya membalasku.
"Apa yang bapak lakukan pada saya?" Tanyaku mulai sinis padanya.
"Pada malam itu saat makan malam, sebenarnya minuman yang non Ella minum sudah ditambahkan obat tidur. Lalu tuan Darma memerintahkan pada saya untuk.." Waluyo terdiam. Suaranya terdengar serak saat menjawab pertanyaanku. Aku semakin merasa takut muntuk
"Diperintahkan untuk apa?" Tanya Ella penasaran.
"Saya diperintahkan untuk mengambil cincin yang diberikan Den Alex, dan juga memperkosa non Ella. Setelahnya saya disuruh untuk membuang non Ella."
Deg...
Jantungku rasanya seperti diremas. Sesak sekali rasanya dadaku ini, tak mampu lagi aku berkata apapun. Pedahal sudah sejak lama aku mengidamkan kebenaran yang dia bawa ke singapura.
"Namun saya tak sanggup untuk melakukannya."
"Saya juga punya seorang putri yang masih kecil. Tak terbayang rasanya jika hal yang sama terjadi pada putri saya. Akhirnya setelah non Ella tertidur di mobil, saya hanya mengambil cincin di jari manis non saja. Lalu saya berinisiatif untuk menurunkan non dijalan dekat apartemen." Ujarnya terbata bata, nampaknya dia juga menyesali apa yang terjadi padaku.
"hufftt.." Aku menghela nafas, mengusap dadaku yang masih terasa pengap.
"Kenapa pak, kenapa Pak Darma memerintahkan hal sekeji itu." Balasku terisak menahan sesak.
"Sebab dari awal Den Alex sudah dijodohkan dengan non Marissa. Saat Den Alex dan Non Ella sampai di rumah. Sebebarnya Nona marissa sedang memasak didapur. Begitu tau ternyata Den Alex pulang bersama wanita lain, Nona marissa marah marah lalu pergi dari rumah melalui pintu belakang. Jengkel, Tuan Darma menganggap Non Ella perlu diberi pelajaran. Karena itulah saya diperintahkan untuk melakukan perbuatan keji itu. Maafkan saya Non, Maafkan saya."
"Tak apalah pak, Bukan salah bapak. Mungkin ini takdir yang harus saya terima. Justru saya harus berterima kasih karena bapak tidak melakukan perbuatan keji itu pada saya." Ujarku menangis. Sakit, sakit sekali tak pernah aku mengira keluarga Alex sangat kejam dan tidak bermoral.
"Non apakah non Ella baik baik saja. Bagaimana dengnan suami non?" Nada suaranya berubah gemetaran saat menanyakan hal itu padaku.
"Taukah bapak apa yang terjadi pada saya dimalam itu?" Tanyaku pelan.
"Iya non Fanny sudah menceritakannya. Malam itu seseorang memergoki aksi saya. Jadi saya langsung kabur dan meninggalkan non Ella tergeletak di trotoar begitu saja." ucapnya merintih.
Aku mengelap air mata yang sudah berkumpul di pelupuk mata. Sejenak aku mengambil nafas untuk menenangkan diri.
"Sebenarnya saya kembali lagi kesana non, saya memperhatikan pria itu duduk disamping non Ella yang masih berbaring. Lalu ketika dia berusaha menggendong non Ella saya beranikan diri untuk mendekat. Tapi keberanian saya langsung hilang, ketika melihat wajah pria itu.. Dia."
Nafasnya memburu diikuti kalimatnya yang terbata bata. Dia seolah takut untuk mengatakan sesuatu padaku.
__ADS_1
"Ella!"
Aku melihat kesamping, Nanda memanggilku. Dia menatap heran kearahku lalu berlalu sekencang kencangnya.
Brekk...
Pak waluyo tiba tiba beranjak dari bangku dibelakangku. Lalu dia pergi kearah lain sambil merapatkan pakaiannya. Dia juga berjalan dengan cepat dan menjauh dari keberadaanku.
***
Nanda POV
Sebentar katanya, 30 menit berlalu tapi dia belum kembali. Lama lama aku semakin bosan menunggunya, Apalagi sehabis kejadian tadi. Apa dia tidak mengerti kalau membuat moment seperti tadi sangat susah. Seenaknya saja dia menutup bibirku dengan tangannya. hah.. lain kali aku pastikan kamu tidak akan lolos La.
Aku kira dia sudah terlalu lama pergi, makanya aku pergi mencarinya. Selain itu dia juga pergi memnemui Fanny, seingatku Fanny sangat tidak menyukai pernikahan kami. Pikiranku semakin tidak karuan, jangan jangan dia membawa pria lain untuk dijodohkan dengan Istriku. Kalau sampai Iya, awas saja tak akan aku ampuni.
Dari kejauhan aku melihat Ella sedang duduk di bangku taman, berbelakangan dengan seorang pria. Jelaslah Aku jengkel, benarkan perkiraanku.
"Ella!" Teriakku keras padanya.
Saat Ella menengok kearahku, aku bisa melihat air mata berlinang di pipinya. Segera aku berlari ke arahnya, Namun pria tadi juga pergi menjauh.
"Ella kamu nggak papa!" Tanyaku cemas, aku sedikit berlutut didepan istriku. Lalu mengelap air matanya yang masih menetes.
"Kamu kenapa nangis, pasti gara gara orang itukan." Aku menunjuk kearah orang itu pergi. Saat aku beranjak ingin mengejarnya Ella malah memeluk erat perutku.
"Jangan Mas! Jangan! Ini bukan salah dia. Aku aja yang gak tahan." Lalu kenapa kau menangis, Aku mencemaskanmu La. Kuusap pelan kepalanya yang masih menempel diperutku.
"Terus kamu kenapa?" Aku kemudian duduk disampingnya. Terus saja kuhujani dia dengan berbagai pertanyaan dengan cepat.
"Aku gak papa, hmm.. Kamu mau apa kesini?" Bisa bisanya kamu tersenyum didepanku dan menyembunyikan kesedihanmu. Tapi aku tahu kamu tidak baik baik saja La. Baik jika kamu tidak mau memberitahuku, pria tadi yang akan mengatakannya padaku.
"Hmm.. anu La. Aku cuman mau bilang aku pengin ke toilet. Bolehkan La." Tanyaku sedikit datar menyembunyiakan jengkelku didepannya.
"Iya, hati hati ya." Setelah mendapat ijin. Aku berlari sekencang kencangnya mencari keberadaan orang tadi. Kalau melihat arahnya pergi dia berlari kearah parkiran umum.
Ah.. kurang ajar, karena sekarang tubuhku sudah agak gempal. Aku tidak bisa berlari sekencang dulu, ditambah daya tahanku menjadi rendah. Aku sempat berhenti untuk mengambil nafas dan melirik ke segala arah. Untunglah aku masih sanggup menemukannya. Dia sedang memarkirkan mobil dan hendak pergi.
Kugunakan sisa sisa tenagaku mengejarnya, dan aku menemukan momentum yang tepat. Aku langsung sambar pria itu melalui jendela mobilnya yang tak tertutup. Aku cekik lehernya dengan kencang memaksanya berhenti bergerak.
"Matiin mobilnya, atau lo yang gua bikin mati!" Ujarku keras dari arah luar mengancamnya. Dia menurut dan mematikan mobilnya. Segera aku naik ke mobil dibaris kedua. Lalu aku piting lehernya dengan lenganku dari jok di belakang Driver.
__ADS_1
"hah.. hah... hah.." Aku menghembuskan nafasku yang masih tersenggal untuk memperbaiki pernafasanku.
"Siapa lo? dan apa yang lo lakuin sama istri gue?" Tanyaku sarkas padanya.
"Ampun Den, Ampun saya hanya menceritakan yang sebenarnya pada non Ella." Dia kemudian menceritakan semua yang terjadi padaku. Kebanyakan hanya perkataan yang tidak terlalu penting mengenai Alex, marissa, Ella dan cinta diantara mereka.
Tapi aku tak menyangka dia mengenali aku yang sebenarnya. Dia tahu seharusnya aku sudah mati dan dia menceritakan hal yang sangat penting. Pada hari dimana Banjur getih terjadi dia yang menyopir mibik untuk Darma.
"Sungguh saya tidak tahu tuan Darma ingin melakukan pembantaian itu den. Saya hanya sopir biasa saja, Waktu itu saya mengantar tuan Darma ke rumah raden. Setelahnya saya dan beberapa orang disuruh menunggu disebuah tempat yang agak lapang. Sekitar 2 blok dari rumah Raden." Ujarnya gelagapan.
"Tak usah basa basi, cepat ceritakan lebih jelas." Teriakku lebih keras.
"Saya melihat raden menaiki mobil dan pulang ke rumah dipagi hari. Lalu beberapa lama kemudian kami menerima telepon. Perintahnya beberapa orang disuruh mengejar Raden dan saya kembali menjemput Tuan Darma di rumah Raden. Sampai detik itu saya belum ngeh dengan yang terjadi."
"Lalu saat saya kembali ke rumah, saya melihat Raden masuk kembali ke mobil dengan badan yang terluka. Lalu saat Raden pergi, teman teman saya mengejar raden. Sementara saya disuruh masuk dan menjemput tuan Darma didalam. Saat melihat kondisi tempat itu, saya baru ngeh apa yang terjadi." Jelasnya lagi.
"Jadi kamu yang membawa Darma dan Hastomo pergi dan menyelamatkan mereka." Ujarku keras.
"Betul Den, saya yang membopong tuan Hastomo saat pingsan sementara tuan Darma masih mampu bergerak." Jelasnya
"Kenapa kau menyelamatkan meraka?" Tanyaku jengkel.
"Saya juga ditoding tuan, saya juga diancam jika tidak mau membantu saya juga akan dihabisi seperti orang yang sekarat dan terluka. Ampun Den ampun saya cuman sopir gak lebih. Jangan bunuh saya, kasihan anak saya Den." Ujarnya memelas kasih dariku. Kalau aku liat sepertinya dia orang yang baik.
"Baiklah kalau begitu, kamu aku lepaskan. Tapi simpanlah nomor teleponku, tatkala aku membutukanmu kamu harus membantuku. Paham!" Ujarku.
"Iya Den siap!" Balasnya antusias.
"Oh iya, jangan sampai ada yang tahu kalau aku masih hidup dan baik baik saja. Bahkan jika itu istriku sendiri, yang dia tahu aku orang yang cacat otak." Dia kemudian mengangguk dan menyodorkan ponselnya.
Setelah bertukar nomer telepon, aku turun dari mobil dan melepaskannya untuk pergi. Aku harap ini menjadi hal yang baik bagiku. Setelahnya aku juga oergi dan kembali menemuiku istriku.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Like Comment vote