My Little Hubby

My Little Hubby
Bab 65


__ADS_3

"Met pagi, Koh Lao!" Sapaku.


"Hayah lu orang lagi!" Ujar koh lao menekuk wajahnya.


"Emang Kenapa sih, kalau saya lagi!" Balasku cengengesan.


"Heh lu orang kalo cuman mau, tanya tanya. Cari kios lain ajalah." Ujarnya dengan logat khas mandarin.


"Hahah.. tenang aja koh, kali ini saya gak cuman yanya tanya. Tapi juga mau beli." Ujarku tersenyum.


"Yaudah lu mau beli. Cepetan!" Ujar Koh lao agak ketus.


"Ini" aku memberikan kunci apartemennya kepada koh Lao.


"Saya mau kunci itu di duplicate, Biar saya punya serepnya!"


"Ha.. Bagus bagus ternyata lu nggak bohong ha.. heheh" Balas koh Lao sambil tertawa senang.


"Kalau ini kunci, oe udah punya duplicatenya. Nih lu orang liat!" Ujar koh Lao.


Koh Lao kemudian menyuguhkan sejumlah kunci dengan berlainan warna. langsung saja aku memeriksa kunci kunci tersebut dan memilih salah satunya.


"Ini barangnya dijamin bagus ngga koh?" Tanyaku memastikan.


"Hayah, sudah pastilah ini barang bagus, pasti tok'cer punya loh." Balas Koh Lao sambil tertawa.


"Ya udah, saya ambil yang ini."


"Nggak mau ganti warna dulu?" Tanya koh lao.


"Nggak usah!" Balasku tersyum.


Lalu aku mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar kunci serep yang aku beli. Koh lao juga tengah membungkus barangnya.


"Lu punya duit banyak harum, hah hahaha. Sebentar oe ambilin kembaliannya." Lanjut koh lao.


Dia mengusap ngusap uang yang aku berikan padanya lalu mencium aroma dari uang itu. Mungkin dia menganggap itu sebagai sebuah cara jitu mengumpulakn uang. Selanjutnya dia mengambil pecahan uang yang lebih kecil untuk memberikan kembalian padaku.


"ok, thank you koh." Balasku.


Ketika Aku hendak beranjak pergi, Koh Lao tiba tiba memanggilku lagi.


"Eh tunggu dulu, lu orang pake baju serba item item, mau pergi mana? Hah!" Lanjut koh Lao.


"Lu punya Hoodie warna item, celana jeans warna item, masker buff warna item juga. Semua warna item, lu mau maling ya?" Ujar koh Lao.


"Hah... kok tau! Hahahaha" Balasku tertawa ngakak.

__ADS_1


"Sembarangan aja! Mana ada orang mau maling siang bolong kayak gini. Saya teh bukan mau maling. Tapi mau ngintio irang mandi." Ujarku lanjut tertawa.


"Oh hahaha.." Balas koh lao ikut tertawa.


"Oe bercanda sajalah, oe cuman mau bilang kalo lu orang temen atau keluarga lagi butuh kunci. Lu orang suruh datang aja sini oe punya kios. Ketok tular loh..!" Ujar Koh Lao.


"Oh iya, siap koh!"


Kemudian Nanda segera beranjak pergi dari kios. Untuk segera melanjutkan perjalanan ke tempat yang ingin dia tuju.


***


45 menit berlalu aku sudah sampai di tempat yang ingin aku tuju.


Dari jauh aku memandangi sebuah Gedung tinggi nan megah. Terlihat juga disana ada banyak orang didepan. Seolah mereka tengah bersiap menyambut Tuannya.


Ternyata Benar saja, tak berselang lama iringan mobil datang kesana. Semua orang yang tadi bersiap, kemudian berbaris menyambut kedatangan seseorang dari mobil. Lalu keluarlah dua orang dari dalam mobil.


Alex rahardian hasanata bersama istrinya Marissa rahardian hasanata. Mereka disambut begitu meriah bak seorang raja dan ratu. Semua orang kenudian menyambut mereka dengan gembira dan mengucapkan selamat.


"Selamat atas pernikahan kalian. selamat juga karena kalian telah selesai menjalankan bulan madu. Aku yakin saat ini kalian sedang menunggu kehadiran anak pertama!"


"Nikmati, Nikmatilah kejayaan kalian sekarang. Dan bersiaplah untuk kehilangan segalanya sebentar lagi. Aku akan segera membuka kedok kedua ayah kalian. Dan juga campur tanganmu dalam pembantaian keluargaku. Marissa!" ujarku perlahan.


"Dan bersamaan dengan itu, kedua perusahaan kalian juga akan ikut hancur. Karena tidak mampu lagi menanggung aib yabg begitu besar dari para pendirinya. Darma dan Hastomo" ujarku dalam.


***


Dikantor Ella sedang makan siang bersama teman temannya. Mereka berempat saling mengobrol mengenai Nanda sang pendiri perusahaan.


"Gila! Aku bener bener nggak nyangka sama sekali. Ternyata Nanda pendiri perusahaan kita." Ujar Bella kagum.


"Iya sama Bel, aku juga kaget. Tapi seenggaknya kita tahu, kenapa Ella kelihatan seneng banget hari ini." saut Arin pada Bella.


"Eh, nggak gitu rin. Emang sih aku udah tahu masalah ini dari pak mochtar kemarin. Tapi akupun nggak nyangka bakal dimasukin Lily ke dalam Direksi." Ujar Ella membantah rekan rekannya.


"Jadi selama ini pak mochtar juga tahu. Tapi kenapa dia tutup mulut?" Ujar Faiz heran.


"Palingan disuruh diam sama bu Lily." Ujar Arin.


"ehmm.. Iya" Lanjut Bella membenarkan.


"Seandainya aku tahu sejak awal Kalau Nanda itu pendiri perusahaan. Pasti Aku udah nikahin Nanda duluan sebelum Ella." Lanjut Bella dengan Nada yang agak kecewa.


"Itu artinya kamu nggak tulus Bel, ada maunya. Tapi aku setuju sih sama kamu. Andai aja kita tahu lebih awal. Lagipula Nanda itu sebebarnya ganteng sih. Cuman gaya rambutnya aja yang Aneh." Balas Arin cengengesan.


"Eh udah udah, yang kalian omongin itu suami aku tau!" Balas Ella tertawa diikuti oleh Arin dan Bella.

__ADS_1


"ko kamu diem aja sih Faiz!" sambung Ella.


"Aku lagi fokus makan, biar pesen lagi yang banyak. Mumpung gratisan dari bu Lily." Ujar Faiz


"Eh dasar, tukang gratisan." Ucap Bella.


"Biarin aja mumpung ada!" tegas Faiz tertawa.


"Eh tapi La, aku setuju sama Arin. Gaya rambut Nanda itu harus diubah. Pas kemarin aku pulang dari kantor nih. Aku liat ada salon yang baru buka diujung jalan cempaka. Lagi ada diskon besar besaran loh disana. Coba aja kamu bawa Nanda kesana." Ujar Faiz.


"Menarik!" Ucap Ella menggigit bibir bawahnya.


Tidak lama kemudian Lily datang membawa makan siang. Dan duduk bersama Ella dan kawan kawannya.


"Kalian lagi ngomongin apa?" Tanya Lily.


"Ehm.. kita lagi ngomongin Nanda, bu" Balas Bella.


"Tumben Bu Lily makan di kantin, biasanyakan di kantor bu!" Ujar Faiz.


Sontak saja Ella dan Arin memelototi Faiz. Sementara Bella langsung menginjak kaki Faiz di bawah.


"Uffthh.." ujar Faiz.


"Saya lagi santai dulu sebentar. Kalau biasanya saya selalu sibuk. Makan siangpun paling cuman ditemenin workhseet." Balas Lily.


"iya bu, kami mengerti kok. Jasa ibu untuk perusahaan ini memang sudah tidak dapat dibantah lagi." Ujar Arin.


"Tapi kalau menurut saya, sebaiknya ibu melepaskan sedikit beban pekerjaan. Untuk bisa bersantai sedikit lebih lama." lanjut Arin.


"Iya bu bener kata Arin." Sambung Bella.


"Iyah, kalian benar. Lagipula sekarang saya tidak akan sendirian lagi memimpin perusahaan." Jelas Lily.


"Iyah, aku akan membantumu mulai sekarang." saut Ella.


"Terima kasih!" Ujar Lily singkat.


Mereka kemudian melanjutkan makan siang bersama hingga selesai.


.


.


.


.

__ADS_1


.Like comment vote


__ADS_2