
Seusai nyekar dari makam ibunya, Nanda kemudian pulang ke apartemen. Tanpa dia duga, ternyata sudah ada kejutan yang menunggu. Di lorong apartemen dia melihat sosok yang tak asing, berdiri menyilangkan tangan didepan pintu apartemennya.
'Lily, Apa yang dia lakukan di sini?' Pikir Nanda.
Nanda bersembunyi dibalik dingding, mengawasi sahabatnya dari jauh. Lily sepertinya sedang sangat kesal dan marah. Lihat saja caranya menggedor gedor pintu apartemen dengan keras.
'Hem gila kesurupan tuh orang, Jailin ajalah!' Pikir Nanda.
Beberapa saat kemudian Lily nampak pergi dan masuk ke toilet umum. Nandapun tidak menyianyiakan kesempatan, dia mengendap ngendap di lorong dan masuk ke apartemen tanpa diketahui oleh Lily. Sengaja dia tak menutup pintu rapat rapat dan membukanya sebagian. Supaya Lily bisa masuk, lalu segera dia akan menyergapnya dari balik pintu.
Lily yang kembali dari toilet, terkejut melihat pintu yang dibuka sebagian. Lekas saja dia menerobos masuk kedalam dengan kesal. Karena dia sudah lelah menunggu semalaman.
"Ella..! Dimana kau?" Teriak Lily keras.
Lalu tiba tiba Lily merasakan tekanan dari arah belakang yang mendorongnya sehingga dirinya jatuh ke sofa. Tidak sampai itu sesuatu juga menyumpal mulutnya sehingga dia tidak bisa bicara bahkan hanya untuk sekedar merintih. Badannya terasa dicengkram begitu kuat dan ditimpa oleh sesuatu yang berat.
Seketika Lily sadar ada seseorang yang menyerang dan menindihnya dari belakang. Sontak jantungnya berdebar, Pikirannya mulai tidak karuan. Sebab dia sadar seseorang yang dapat mencengkram tubuhnya dengan begitu kuat pastilah laki laki. Lily mulai memberikan perlawanan, namun rasanya sia sia. kondisinya tidak berubah sedikitpun. Lalu saat mendengar suara laki laki yang menyerangnya Lily seakan telah mati dan tidak berdaya.
"Wah, Apakah kau merindukanku sobat? Aku ingin tahu kenapa kau berdiri di depan pintu apartemenku sambil merajuk. Tapi diluar itu semua lihatlah dirimu. Kamu menjadi sangat cantik dengan 4 mata mu itu. Lalu tubuhmu yang tinggi dan berisi semakin melengkapi kesempurnaanmu. Maksudku hey kau sangat sexy sekali." Ujar Nanda, sontak lily diam setelah tahu orang itu adalah sahabatnya.
Nanda kemudian melepaskan kedua tangannya dari mulut dan tubuh Lily. Dia kemudian berdiri dan menatap lurus kepada si penyihir yang masih berantakan seusai dia kerjai.
"Tapi ya sudahlah hal itu wajar saja bagi seorang perempuan. Lagi pula istriku lebih cantik daripada kau." Lanjut Nanda.
Lily juga kembali bangun dan duduk di sofa. Lalu dia menatap ke wajah yang sudah tak asing lagi dimatanya. Dia menatap lurus dengan wajah yang datar kepada Nanda.
"Surpries! Kau lihatkan aku sudah pulih. Aku sudah sembuh total, dan mendapatkan semua ingatanku. hey... Kenapa kau melihatku seperti itu? Oh jadi kau tidak senang melihatku sudah sembuh!" Ucap Nanda sembari menudingkan jarinya pada Lily yang masih bungkam.
"Brekk.."
Tiba tiba saja Lily mengayunkan tasnya dan menghajar wajah Nanda. Sontak Nanda tersengkur, Lily kembali menghajar Nanda dengan membabi buta menggunakan Tasnya.
"Rasakan ini dasar bodoh! Hyaw..." Ujar Lily keras dengan perasaan marah.
Merasa kewalahan dengan serangan Lily Nanda kemudian berdiri dan berlari ke arah dapur untuk menyelamatkan diri. Tapi Lily masih saja mengejarnya dengan perasaan marah.
"Hey kau gila ya? Bagaimana kalau aku geger otak lagi karena perbuatanmu." Ujar Nanda mengelus pipinya.
__ADS_1
"Terserah saja aku tidak peduli. Suruh siapa kau mengagetkanku seperti itu. Aku hampir mati karena jantungan, Lihat saja aku akan membunuhmu!" Ujar Lily. Dia kemudian mengambil sebilah pisau dari dapur dan menodongkannya pada Nanda.
"Weh.. eh.. eh. Lily, tunggu! Aku tidak bermaksud untuk itu. Aku hanya bercanda saja." Ujar Nanda menenangkan Lily.
"Diam kau!" Ujar Lily keras.
Setelah beberapa waktu yang panjang, Lily dan Nanda memilih untuk berdamai. Kini mereka sedang duduk berdua dan mengobrol dengan cara yang lebih baik. Lily duduk di sofa dan Nanda tetap menjaga jarak dan dengan duduk di lantai.
"Jadi begitulah kira kira yang terjadi. Aku sembuh karena ditabrak mobil. Dan Ella sudah tahu setengah masa laluku dari Dr.Anne." Ujar Nanda seusai menceritakan yang terjadi pada Lily.
"Pantas saja, dia bersikap sangat aneh kemarin! Rupanya itu ulah dari Dr.Anne." Ujar Lily perlahan.
"Hey hentikan itu, jangan mengusap pipimu terus." Lanjut lily menudingkan jarinya.
"Sebenarnya apa isi tasmu? Batu!" Ujar Nanda sinis.
"Diam kau! Itukan salahmu karena menjahiliku. Bodoh!" Balas Lily dengan suara keras yang menggema.
Nanda memalingkan muka sambil terus mengusap pipinya. Sementara Lily masih terus menatap Nanda dengan pandangan Sarkas. Lily sangat kesal pada sahabatnya yang sering usil.
"Huft.. hahahah.." Nanda tiba tiba tertawa yang sontak membuat Lily semakin jengkel.
"Tentu saja kau Lily, memangnya siapa lagi. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihat pipimu menjadi merah. Apa kau masih merindukanku penyihir?" Ujar Nanda tersenyum.
"Ihhfft.. diam kau...!" Ujar Lily sambil menahan malu. Tapi lama kelamaan Lily kemudian tersenyum mengikuti Nanda.
Memang sudah lama sekali 2 sahabat ini tidak pernah tertawa bersama, dan saling mengejek satu sama lain. Moment seperti inilah yang sangat Lily rindukan. Dibalik sikap tegas yang selama ini dia tunjukan. Sebenarnya Lily adalah orang yang hangat dan ceria.
"Ehnm.. kurang ajar! Dari dulu kau selalu saja menggangguku. Ehhm.. Selamat datang Nanda. Kau telah kembali." Ujar Lily sembari mengelap air mata haru yang tidak bisa dia bendung.
"Iyaaa.. " Balas Nanda singkat.
Selepas asik bercanda dan melepaskan kerinduan. Kini Lily melanjutkan obrolan mereka ke arah yang lebih panas.
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Tanya Lily serius.
"Aku butuh amunisi!" Ujar Nanda tegas.
__ADS_1
Dia menyilangkan tangannya di depan Dada. Menunjukan keseriusan dan keyakinan yang kuat.
"Jangan Gila Nanda!" Balas Lily tegas.
"Aku bisa menghabisi mereka semua sendirian." Lanjut Nanda tegas.
"Ini bukan tentang balas dendam Nanda." Lanjut Lily meyakinkan Nanda.
"Jangan merehkan kemampuanku Lily. Apa kamu pikir aku tidak bisa mengakahkan mereka?" Ujar Nanda kekeuh.
"Tapi kenyataanya bukan mereka yang terjun ke jurang." Sindir Lily.
"Aku jatuh ke jurang, karena ada mobil sialan, yang menghalangi jalanku. Kalau tidak aku pasti bisa lolos dari mereka dan ceritanya akan berbeda." Ujar Nanda jengkel.
"Tapi itu bukan alasan untuk menabraknya dan membawanya terjun bersamamu. Apa kau tahu siapa yang kamu tabrak?" Balas Lily kepada Nanda.
"Aku sedang dalam kecepatan penuh saat itu. Jadi saat aku menabraknya dia juga terdorong ke jurang bersamaku. Aku tidak pernah mengajaknya bersamaku. Lagipula kenapa kamu sangat perduli kepadanya? Orang itu sudah mati, Aku sempat melihatnya sebelum aku pingsan." Ujar Nanda frustasi.
"Kelihatannya kau yang sangat peduli kepadanya. Karena dia adalah ayah mertuamu. Dia adalah ayahnya Ella!" Ujar Lily melotot.
"Apa? Kau gila? Jangan bercanda Lily, itu tidak lucu!" Balas Nanda terkejut.
"Aku tidak bercanda! Itulah kebenarannya. Sekarang kau tahukan betapa gilanya aku, saat kau menikah dengan Ella." Ujar Lily meracau.
"Apa yang sebenarnya terjadi Lily?" Tanya Nanda jengkel.
"Itulah yang ingin aku tanyakan padamu. Bagaimana semua ini bisa terjadi?" Balas Lily lebih jengkel.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Like comment Vote