My Little Hubby

My Little Hubby
Bab 119


__ADS_3

"La bangun yu, aku mau ajak kamu ke suatu tempat. " bisikku di telinganya. Ella menggeliat terbangun dari tidurnya. mengucek mata yang semu menahan kantuk di sana.


"ini jam berapa?" tanya Ella.


"Jam 12 malam! " ujarku pelan lalu mengambil sebuah slayer dan melipatnya ramping.


"Jam 12 kamu gila ya! " Nanda mengangkat sebelah alisnya.


" katanya kamu mau tahu tahu siapa akukan. Sekarang waktunya! " Nanda mengelap pipi Ella yang dipenuhi keringat.


"Tapi kita mau kemana?" Ella menelan ludah, cemas dan takut pada lelaki yang ada didepannya. Ella sadar benar yang ada didepannya bukan lagi anak kecil tapi lelaki yang segera akan ia ketahui masa lalunya.


Nanda menutup kedua mata Ella dengan mengingatkan slayer yang telah dia persiapkan. "kalo kakimu sakit lagi langsung bilang! "ujar Nanda lalu mengangkat istrinya dan membawanya pergi dari sana.


Deg... Deg... Deg...


Jantung Ella berdebar, Nafasnya menderu kasar dan fantasi fantasi liar mulai bermunculan dikepalanya. Kemana Lelaki ini akan membawaku dan apa yang hendak dia lakukan. Bagaimana kalau dia mau membuangku. Aku tak berdaya sekarang yang bisa aku lakukan hanya berdoa dan pasrah.


Sesaat kemudian dia mendudukan ku di sebuah kursi. Aroma yang khas tercium disana, Aku seperti tahu aroma ini tapi dimana?


"Bentar ya aku pakein sabuk pengaman mu. "


"Kita di mobilnya siapa? Bukannya mobil kita kemarin hancur parah."


"Kamu juga tahu ini mobil siapa? Tapi itu gak penting sekarang."


Nanda kemudian mengecup kening istrinya dengan lembut lalu tersenyum lebar. sementara Ella hanya bisa melipat bibirnya seolah tak akan ada hal buruk yang akan terjadi.


"Jangan buka dulu slayernya, Tunggu sampai kita datang di tempat tujuan." Ella menelan ludah. Nanda tertawa cekikikan melihat Ekspresi Ella yang tegang.


Segera dia melaju ke tempat yang dia rencanakan. 20 menit kemudian Mereka akhirnya sampai. Mobil diparkir di pinggir jalan Nanda keluar dari mobil dan menarik nafas dalam dalam.


suaranya cukup terdengar keras. Tanpa ia sadari perbuatannya telah menusuk jantung seseorang dari dalam mibil. Ella makin panik karna sedari tadi dia tidak mendengar suara dari kendaraan lain. Suasana nampak bising dan sepi hanya beberapa suara hewan malam yang mampu ia dengar.


Gleck...


Pintu sampingnya terbuka, udara dingin terasa jelas menusuk kulit. "Udah sampai mas! boleh aku buka slayernya sekarang." ujar Ella cepat.

__ADS_1


"Nggak! jangan sekarang, bentar lagi yah! " ujar Nanda meyakinkan. Lalu Nanda berusaha kembali mengangkat Ella kedalam pelukannya. Ella juga dengan sigap langsung mengalungkan tangannya ke leher Nanda.


Setalah pintu ditutup Nanda kemudian berjalan kaki sambil mengendong istrinya. lambat laun Ella semakin panik, perasaannya tak karuan jantungnya berdetak keras.


Sampailah mereka ditempat yang dituju. Nanda mendudukan istrinya di sebuah batu dengan kaki yang lurus kedepan menyentuh batu lainnya. dia berputar ke belakang istrinya.


Dia peluk istrinya dengan kuat dari belakang dan membisikan satu kalimat panjang. "sayang! Jangan teriak, Bahaya. Aku ada dibelakang kamu." ujarnya pelan. Ella merespond dengan memegang tangan Nanda yang sedari tadi melingkar di perutnya.


"Aku boleh buka penutupnya sekarang! " Ella gemetar. "Iyah! " bisik Nanda lemas.


Pelan pelan Ella membuka slayer nya. Seketika sebuah cahaya menyorot dari arah belakang pada batu itu. lalu perlahan ia buka kedua matanya. Ketika sebongkah batu dihadapannya dapat ia amati dengan jelas.


"Argh......! " Ella menjerit sekeras kerasnya setelah sadar apa yang ada didepannya saat ini. Nanda dengan cepat membungkam mulut sang istri yang shock dan menangis.


Secepat kilat ia matikan senter yang ia pegang lalu memeluk istrinya lebih keras lagi. Saat ini Ella Sedang mengamuk dan menangis pijar saat ia sadar dirinya berada di tengah tengah pemakaman.


"Ella Ella! Sayang! Tenang aku disini." Ujar Nanda menenangkan istrinya.


"Sialan! Ngapain kamu bawa aku kesini. Pulang! pokoknya aku mau pulang! Arghh...... " Ella semakin keras menangis.


Ella terus terusan meronta sedari tadi dan tangannya mulai mencakar tangan Nanda yang ada di perutnya. Butuh waktu sekitar 3 menit untuk Nanda menenangkan istrinya.


Pelan pelan Ella membuka kembali matanya dan melihat Nama di kedua batu nisan tersebut. Setelahnya Ella kembali menutup mata dan menahan rasa takutnya yang semakin membludak. Ella menanggukan kepala memberi isyarat pada suaminya.


Lekas Nanda membopong istrinya dan membawanya kembali kedalam mobil dan lanjut pergi dari sana. Didalam mobil Ella terdiam dan masih shock dengan apa yang baru ia saksikan.


"la la!" panggil Nanda berulang kali pada istrinya yang terdiam dari tadi.


Entah panggilan keberapa Ella baru menengok dan melihat pada suaminya. Sambil menyetir mobil Nanda memberikan sebotol air mineral untuk Ella.


"Ananda putra wiratmaja! " Ujar Ella datar. Nanda mengulum bibir lalu mengangguk.


"Ananda putra wiratmaja." ujar Ella lagi. Nanda hanya terdiam kali ini.


Saat sampai di rumah sakit, Nanda mendapati semua orang sedang ribut mencari Kemana hilangnya Ella. Saat Ia tiba semua mata mengarah padanya dan Ella di gendongannya.


Dr Anne. mertuanya. Pak jokowi dan juga Rima ada disana. "Nanda!" ujar Rima yang melihatnya pertama kali.

__ADS_1


Dr. Anne dan mertuanya juga memberi tanggapan dan sejumlah pertanyaan. Tapi Nanda tidak terlalu perduli ia langsung masuk kedalam dan meletakkan Ella kembali di ranjangnya.


Wajah Ella nampak pucat, raut wajahnya sangat kusut seperti jemuran yang tidak kering 2 hari. Dr. Anne sadar ada yang salah dengan Ella. dia Langsung memeriksa Ella dengan seksama.


"Ella shock berat. Nanda kenapa istrimu? " ujar Dr. anne dengan tatapan cemas.


"Kamu abis apain Ella? Kamu bawa kemana anak saya?" Teriak ibunya Ella dengan keras.


"Cukup bu, jangan terlalu keras pada Nanda. Nanda..! "


Jep...


sekejapan mata Nanda langsung mencengkram tangan pak joko yang ingin menyentuhnya. Lalu dia kibaskan tangan pria tua itu dengan keras.


"Jangan sentuh aku!" ujar Nanda dengan tatapan Tajam.


"Nanda!? kamu beneran udah sembuh." Tima mundur beberapa langkah saat melihat tatapan saudaranya. Nanda mengangguk memberikan isyarat pada Rima.


"Aku tahu ini mendadak, tapi ada yang ingin sekali aku sampaikan pada kalian semua!" Ujar Nanda dengan penuh percaya diri.


"Apa yang mau kamu sampaikan? cepat dong! " ujar ibu mertuanya keras.


"Ini tentang kebenaran yang seharusnya kalian ketahui sejak lama." ujar Nanda lalu ia menarik nafas panjang.


"Aku pernah membuat seseorang kehilangan nyawa dalam sebuah insiden kecelakaan. Aku menabrak mobilnya dan dia terguling ke jurang."


"Orang itu suami ibu, Ayahnya Ella."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


. Like comment vote


__ADS_2