
Setelah selesai make over pada suaminya. Ella kemudian mengajak orang yang tebgah dia gandrungi untuk makan di sebuah restoran. Tidak lengkap rasanya jika melewatkan hari ini tanpa makan bersama.
"Mau pesen apa bu?" Tanya pelayan.
"Kamu mau makan apa mas?" tanya Ella ramah.
"Terserah kamu aja La." Balas Nanda cuek.
"Saya pesen steak 2, sama minumnya jus jeruk 2." Sengaja dipesannya makanan premium tersebut. Ella sudah merencanakan pelajar baru bagi suaminya yang akan menambahkan keceriannya hari ini.
"Baik bu, ditunggu sebentar yah pesanannya." Ujar si Pelayan.
"Ehmm.. iya." Balas Ella tersenyum.
Setelahnya Ella kembali memandangi suaminya yang telah sangat jauh berubah. Dengan mata membundar dan senyum melintang dibibirnya. Ella memberikan tatapan hangat pada laki laki yang telah mengobrak abik perasaannya hari ini.
"Kenapa kamu La?" Tanya Nanda heran.
"Mas aku masih nggak nyangka, kamu berubah jadi kaya gini. Beda banget dari sebelum kita jalan." Ujar Ella tersenyum.
"Iyasih aku juga ngerasa banyak banget yang berubah. Biasanya tuh kalau abis cukur, aku udah langsung berasa di kutub es, dingin." Ujar Nanda tertawa.
"Ko bisa, berarti sebelumnya Mas nggak pernah cukur kayak gini." Lanjut Ella.
"Nggak pernah. Biasanya kalau cukur rambutku tinggal 1 cm doang."
"Hah! Kamu nggak malu." Ujar ella tertawa.
"Malu sih, tapi pamanku nggak ngijinin aku cukur kayak gini. Apalagi kalau aku pake jas. Aduh langsung dimarahin habis habisan aku La."
"Berarti kamu beruntung punya istri pengertian kayak aku.'' Lanjut Ella tertawa.
"Makanya sekarang aku ngerasa kek beda banget gituh dari biasanya. Tapi yang paling kerasa ituh.." lanjut nanda pelan.
"Itu apa?" Ella mengerutkan dahi menunggu jawaban dari suaminya.
"Ko orang orang pada ngeliatin aku gitu ya La." Bisik Nanda.
Ella kemudian memperhatikan kesekitarnya. Dan memang benar semua orang seperti teralihkan perhatiannya pada mereka berdua.
Sebenarnya Nanda tetap merasa pede saja. Karena baginya waktu seolah ditarik kebelakang. Sama seperti dulu, Nanda mengenakan Jas rapih dengan gaya khas seorang pengusaha. Saat dia melangkah seluruh mata akan tertuju padanya. Namun bedanya kini didepan Ella nanda bersikap seolah dirinya risih dan merasa tidak enak hati.
Setelah 5 menit makanan yang mereka pesan pun akhirnya datang.
"Ini apaan La?" Tanya Nanda bingung.
"Ini namanya steak." Ujar Ella menggerakan alis.
"Steak?" Lanjut Nanda mengerutkan dahi.
"Ini daging sapi." Ujar Ella.
"Owh.."
__ADS_1
"Eh mas tunggu dulu!" Ujar Ella menghentikan suaminya.
"Kenapa? Aku udah laper tahu." Ucap Nanda agak keras. Nanda rupanya lebih suka, mengikuti rasa laparnya daripada istrinya sendirin. Kesal Ella mendapatkan penolakan lagi dari suaminya. Tapi tak mengapa, karena dia sudah mengerti bagaimana cara untuk membujuk suaminya.
"Kamukan udah rapi, udah pake jas segala macam. Penampilan kamu udah oke banget. Tapi percuma kalau cara makan kamu masih sembarangan kayak gitu." bujuk Ella.
"Aku nggak peduli, yang penting kalo aku makan. Makanannya harus abis, biar nggak mubazir." Jawab Nanda lantang.
Nanda kemudian berusaha mencubit daging sapi yang sudah tak berdaya diatas piringnya.
"Tunggu Mas! Okeh, kamu nggak peduli. Tapi aku peduli sama suamiku. Jadi aku pengen kamu belajar cara makan yang bener." Lanjut Ella.
"Pegang pisau sama garpunya." Pinta Ella.
"Aku mau makan pake tangan." Saut Nanda agak keras.
Dengan gelagat konyolnya Nanda berusaha mencubit sedikit steak miliknya. jelaslah dia merasa agak kesulitan karena tekstur daging sapi yang masih agak kenyal. bukannya mendapat secuil daging. jari jarinua hanya menjadi lengket karena saus yang berada diatas dagingnya.
"Kok susah La." Ujar Nanda pasrah.
"Hufft... bandel sih." Gumam Ella jengkel. Terkadang rasa kesal selalu menyelimuti perasaannua ketika Nanda sangat susah untuk diajari.
"Biarin wlee." Balas Nanda sambil menjulurkan lidah. Meski tahu istrinya sudah jengkel Nanda lebih suka mempermainkan istrinya dengan gelagat anak kecil yang terus dia pertahankan.
"Argghm.. jangan ngelap ke jasnya dong, Nanti kotor." Ujar Ella jengkel sembari menahan tangan Nanda yang berusaha mengelap saus diujung ujung jarinya.
"Cuci tanganmu di air kobokan, terus keringin pake tisu. Cepet!" Lanjut Ella jengkel.
Dengan raut wajah kesal Nanda kemudian menuruti perkataan dari istrinya. Setelah sedikit pertengkaran akibat ulah Nanda. Kini Ella mengajari adab makan dan minum yang benar.
Nanda yang sejatinya adalah pengusaha kelas kakap. Jelaslah dia mengerti adab makan dan minum yang selayaknya. Dia hanya sengaja bersikap bodoh untuk menjaga rahasianya daripada Ella. Nanda sadar dia akan terus trusan diuji untuk menahan keinginan yang ada didalam hatinya untuk mengatakan siapa dia yang sesungguhnya.
"Nah kan enak kalau gini. Coba aja kamu nggak ngelawan aku, pasti nggak ada kata ribut. Dari ngedate kita hari ini." Ujar Ella.
"Ngedate apa lagi La?" Tanya Nanda.
Ella kemudian menahan tawanya didepan Nanda dan berkata.
"Kapan kapan aku jelasin ya? Sekarang abisin dulu aja steaknya." Balas Ella.
Saat Nanda melanjutkan makannya. Ella diam diam menyiapkan kamera ponselnya. Saat sudah siap Ella memanggil suaminya.
"Nanda!" Ujar Ella halus.
Saat Nanda menengok kearah istrinya. Kamera ponsel Ella langsung menangkap gambar suaminya.
"Kamu foto aku La?" Tanya Nanda terkejut.
"Iyah, baguskan." Balas Ella sambil menunjukan hasil jepretan kameranya.
"Kamu salah La, itu bukan bagus. Tapi bagus banget!" Ujar Nanda tertawa.
"Hih.. sama aja kali." Balas Ella tersenyum.
__ADS_1
"Oh iyamas aku mau kasih kamu sesuatu." Ujar Ella mulai serius. Ella kemudian merogok tasnya dan mengambil sebuah arloji tua berwarna silver.
"Mas, jam tangan ini dulu hadiah karena aku udah lulus SMA. Ini satu satunya peninggalan ayahku yang masih aku punya. Ayah pernah bilang ke aku buat kasih jam tangan ini ke suami aku nantinya. Makannya aku mau kasih jam tangan ini buat kamu. Tolong kamu jaga baik baik ya mas!" Ujar Ella dalam.
Nanda kemudian memberikan tangan kirinya pada Ella. Lalu dengan swnang hati Ella memakaikan jam tangan itu ketangan suaminya.
"Ini bagus banget La. Pas ditangan aku." Ujar Nanda.
"Iya, kamu simpan ya mas." Balas Ella.
Nanda kemudian mengangguk membalas pernyataan Ella. Beberapa saat kemudian Nanda pergi kekamar mandi.
"Sebentar La, aku mau ke kamar mandi dulu ya." Pinta Nanda.
"Jangan Lama lama ya Mas." Ujar Ella.
****
Flashback
"Ella sini dulu sebentar." Panggil seorang pria paruh baya.
"Ada apa yah." Balas Ella.
"Nih jam tangan ayah." Ujarnya sambil memberikan jam tangan.
"Ini buat Ella." Lanjutnya sambil tertawa.
"Iyah, ini bukan sembarangan jam tangan. Dulu ibu kamu kasih ayah jam tangan ini karena ibumu udah cinta banget sama ayah waktu itu." Jelas ayahnya.
"Terus?" Lanjut Ella.
"Sekarang jamnya ayah kasih ke Ella. Suatu saat Nanti pas Kamu udah ketemu sama orang yang paling Ella cintai. Kasih jam tangan ini sama dia."
"Iya ayah, Ella bakal kasih jam tangan ini buat laki laki yang paling Ella cinta." Sambungnya sambil tertawa.
****
Ella tertawa sendiri ketika mengingat masa ketika ayahnya memberikan jam tangan itu, padanya. Pedahal baru lulus SMA tapi sudah diamanatkan barang sepeeti itu. Rasanya hangat memang jika mengenang waktu kebersamaan dengan ayahnya.
'Aku cinta sama kamu Mas!' Pikir Ella dihatinya. Masih enggan menyatakan perasaan secara langsung. ia masih berpikir bahwa laki lakilah yang harus menyatakannya duluan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.Like comment vote