
Saat Ella dan Nanda sampai di kantor, seluruh mata tertuju pada mereka. Para pegawai kantor yang melihat Nanda langsung menyapa dan tersenyum manis. Faiz justru langsung mengajak Nanda bermain bola.
"Nanda kita main bola bareng yuk!" Ajak Daiz bersemangat sambil tersenyum bebas.
"Hayuk kita main dimana nih?" Timpal Nanda ceria seperti biasanya.
"Eh.. nggak usah! Hari ini kerjaan aku banyak, kamu main di ruangan aku aja sendirian. Faiz juga mau gelanjutin kerjanya." Ujar Ella tegas menengahi mereka berdua.
"Ah nggak papa La. Cuman sebentar aja, nggak akan terlalu nyita waktu." Ujar Faiz santai.
"Harusnya kamu lebih mentingin kerjaan kamu, jangan ngajak Nanda main dulu. Lagian kalau aku bilang nggak ya berarti nggak!" Tegas Ella dengan tatapan sinisnya.
"Iya tapi.. " Faiz langsung berhenti berkata kata saat melihat tatapan Ella yang sangat menusuk. Persis seperti ibu ibu yang ngelarang anaknya main pas bada maghrib.
"Ayuk kamu ke ruangan aku sekarang!" Ajak Ella pada suaminya. Ella tidak mau Nanda lepas dari pengawasannya meski hanya beberapa detik saja. Ella ingin melihat aktivitas Nanda didepan matanya sendiri dan Dia tidak mau kecolongan.
Nanda yang mendapat tekanan dari istrinya yang tiba tiba menjadi possessive itu hanya bisa pasrah. Dia melambaikan tangan tanda menyerah kepada Faiz. Lalu dia berjalan dibelakang istrinya menuju ruangan COO.
Setelah masuk ruangan Ella langsung bekerja dibalik Laptop. Sementara Nanda kembali pada aktivitas bermainnya seperti biasa.Dia menjugling bola yang sudah dia bawa disana. Tentunya selepas dia membereskan perabotan dan memperluas ruang kosong.
Ruangan Ella saat ini sebenarnya cukup luas meski tidak selebar ruangam Lily. Tapi tempat itu cukuo bagi Nanda bermain bola sendiri. Hampir 1 jam vermain bola, Nanda merasa Lelah dia kemudian memvereskan lagi sofa dan meja kecil disana. Lalu dia berbaring diatas sofa untuk melunakan ototnya.
Ella juga beberapa kali mengalihkan pandangannya pada Nanda. Dia ingin memastikan apa saja yang dilakukan suaminya. Nanda tak lama membuka ponselnya, disana sudah banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari nomor yang sama, yaitu MISI.
MISI : Kenapa kamu tidak datang?
MISI : Jangan bilang kamu lupa! Aku tidak akan pernah memaafkanmu.
MISI : Kanapa pesanku tidak dibalas, teleponku juga tidak kamu angkat.
MISI : Kamu dimana sekarang? Sungguh aku sangat merindukanmu. Ayok kita bertemu, sebentar saja.
MISI : Aku mohon!
Nanda menggelengkan kepala saat membaca 5 pesan terakhir yang dikirim Rita olehnya. Kadang aku bertanya tanya, kenapa aku membuat teror untuk diriku sendiri?. Batin Nanda.
Semalam Nanda memang terbangun dan dia sempat berpikir untuk menemui Rita. Tapi setelah beranjak dari kasur dan hendak pergi, Wajah Ella membayang dipikirannya. Dia takut dan merasa sangat cemas jika harus memikirkan hubungannya yang dipenuhi kepalsuan dan kebohongan.
Nanda sangat berharap Ella tahu bahwa dia sudah sembuh. Tapi apa daya Nanda terlalu lemah untuk berkata jujur. Dia merasa takut, apabila nantinya Ella tahu dia berpura pura selama ini. Ella akan pergi meninggalkannya, apalagi jika fakta kematian ayahnya sampai di telinga Ella.
Nanda terlalu takut, kalau Ella nantinya akan pergi meninggalkan dia sendiri. Dia juga sangat ingin melepaskan diri dari Rita, tapi ia merasa Rita masih bisa dia manfaatkan sedikit lagi.
__ADS_1
"Mas lagi apa mainan hp mulu." Ucap Ella singkat pada suaminya dengan tatapan dingin.
"Buka game online La!" Balas nanda ringan.
"Oh gitu, jangan kelamaan mainnya nanti kamu malah kecanduan." ujar Ella Memperingati suaminya dengan halus, Lalu kembali bekerja menatap layar monitornya.
Sampai jam Istirahat tiba, Ella tidak memberikan celah sedikitpun bagi Nanda untuk bergerak bebas. Bahkan hanya untuk makan siang Ella tidak mengijinkan Nanda keluar dari ruangannya.
Menurutnya jika Nanda keluar dari ruang kerja miliknya. Nanda bisa saja mencuri kesempatan saat dia sedang lengah.
"La makan siang dikantin yuk." Ajak Nanda bersemangat.
"Nggak usah! makan siang disini aja. Aku pesenin lewat telepon nanti, kamu mau makan apa?" Tanya ella lembut tapi tegas.
"Terserah kamu aja deh La." Ujar Nanda pasrah.
"Okey!" Balas Ella singkat.
Ella lalu memesan soto daging 2 porsi dan 2 es teh manis. Selanjutnya Ella berhenti sebentar dan duduk disamping suaminya yang masih berbaring di sofa.
"Kamu kenapa? aku liatin dari tadi, kayaknya lemes banget." Ujar Ella sambil mengusap badan suaminya.
"Nggak papa La, aku baik baik aja kok." Ujar Nanda menimpali.
"Hm.. sini bangun." Ujar Ella menarik tangan suaminya. Nanda kemudian bangkit dan duduk didekat Ella.
"Mana senyumnya!" Pinta Ella mengerucut bibir.
Nanda kemudian senyum selebar mungkin didepan wajah ella. Tapi Ella tidak senang dia merasa senyum Nanda hanya keplasuan saja. Mungkin karena rasa percayanya sudah agak pudar.
"Senyumnya gak tulus." Ujar Ella sambil membuang mukanya.
Nanda kemudian memegang pipi cabi istrinya dengan posisi mencengkram dengan satu tangan. Ella tidak melawan dia hanya memandang sinis ke arah Nanda. Tapi Nanda tidak peduli dia terus memutar jempol dan jari tengahnya dikedua pipi Ella dan memainkannya seperti squisy.
"Lepas Mas!" Ujar Ella lemas.
"Nggak mau!" Nanda menolak permintaan Ella secsra spontan, lalu dia mendekat dan menciumi pipi Ella beberapa kali. Kiri, kanan, kiri, kanan, bergantian dan terus menerus.
"Mas udah ah, aku malu!" Ujar Ella tersenyum lepas. Pipinya perlahan Memerah karena perlakuan dari suaminya. Belakangan Nanda sangat cuek padanya, jadi diperlakukan semanis ini Ella merasa sangat senang dan moodnya perlahan membaik.
"Sama suami kok malu." Ujar Nanda hangat didepan pipi Ella. Dia kemudian meminta lebih dari istrinya. Nanda lalu mencium bibir merah istrinya cukup lama mungkin sekitar 30 detik.
__ADS_1
Ella tersenyum lalu dia mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya. "Mas tau nggak? Belakangan aku tuh kek sayang banget gitu loh, sama kamu." Ucap Ella sambil tersenyum lepas.
"Emang sebelum sebelumnya lagi, Enggak sayang!" Timpal Nanda dengan wajah agak masam.
"Sebelum sebelumnya juga sayang, tapi kalo belakangan lebih lebih lagi sayangnya. Enggak tau deh kenapa?" Ucap Ella malu.
Nanda sebenarnya tidak terlalu fokus dengan perkataan Ella. Matanya terus tertuju pada bibir merah favoritnya itu, Saat hendak mencium bibir Ella lagi. Ibu kantin tiba tiba langsung nyelonong masuk gitu ajah, dan memergoki aksi mereka berdua.
"Eh... maaf yah, ibu nggak tau kalian lagi pacaran." Ujar Ibu kantin cengengesan. Lalu dia menaruh pesanan diatas meja.
"Kalo mau masuk ketuk pintu dulu dong." Ujar Nanda jengkel.
"Iyah maaf yah!" Ujar Bu kantin sekali lagi.
"Nggak papa kok bu, Ella jadi selamat gara gara ibu." Ujar Ella tersenyum manis.
"Maksudnya apa ngomong gitu!" Ujar Nanda kaget dengan wajah bingung.
"Ssttt..!" Ella menutup mulut Nanda dengan satu jari.
Setelah mengantarkan pesanan, ibu kantin langsung mendapatkan pembayaran dari sotonya. Lalu dia keluar dan meninggalkan ruangan Ella sambil tersenyum jahil.
Karena ngerasa aneh dengan gelagatnya si ibu kantin, Bella langsung nyamperin si ibu dan nanya ada apa? Langsunglah ibu kantin cerita apa yang dia lihat didalam ruangan Ella. Dengan mulut klimisnya Bella langsung nyebarin kabar itu dan ngegosip bareng Arin dan temen temen kantor yang lain. Gak butuh waktu lama seisi kantor udah tau kejadiannya.
Sementara didalam Ella dan Nanda makan siang bersama. Nanda gak mau nyia nyain kesempatannya, dia terus ngehajar Ella dengan suapan romantisnya. Abis makan siang selesai, Nanda langsung ngelancarin aksinya yang sempet ketunda dan minta Ella buat bercampur disana.
Tapi Ella langsung nolak karena emang itu lagi di kantor dan kerjaannya masih banyak. Akhirnya Ella balik kerja, dan Nanda malah tidur di sofa karena capek dan kecewa.
Dari jauh Ella terus ngelihatin suaminya yang lagi tidur pulas. Dasar bocah mesum! Batin Ella. Sambil tersenyum manis melihat Nanda.
.
.
.
.
.
.Like comment vote.
__ADS_1