My Little Hubby

My Little Hubby
Bab 41


__ADS_3

Dr.Anne membuka Nasi kotaknya sementara Ella masih menatap lurus kearah Dr.Anne dengan raut wajah penasaran.Wanita tua itu tersenyum begitu lembut lalu dia mengambil sesuap nasi dan mengarahkanya pada ella.


"Ayo La,makan dulu!" Ucapnya halus.


"Hmm.. iya." Ella kemudian membuka mulutnya dan melahap suapan Dr.Anne.


"Cerita saya bersama Nanda dimulai dari 24 tahun lalu saat kami pertama kalinya bertemu." Ucap Dr.Anne.


Kini Ella juga mulai membuka Nasi kotaknya sambil bersiap mendengarkan cerita dari Dr.Anne.Ella sangat tidak sabar ingin mengetahui kehidupan suaminya.


Kala itu Saya berusia 22 tahun,baru saja lulus fakultas kedokteran dan langsung bekerja disini.Pagi cerah saat itu adalah hari pertama saya bekerja.Saya bertugas membantu seorang bidan untuk mengimunisasi beberapa bayi.


Awalnya semua berjalan lancar si Bidan menyuntikan vaksin ke semua bayi yang datang dan saya menyiapkan suntikannya.Hingga hari menjelang siang dan antrean mulai ramai.Saya disuruh untuk memberikan vaksin kepada seorang bayi.


Tentu saja Saya merasa grogi dan takut.Karena bayi ini adalah pasien pertama saya.Tapi saya menguatkan diri untuk melakukan yang terbaik kepada bayi ini.


Lalu datanglah seorang wanita yang sebaya dengan saya.Dia menggendong bayi yang begitu mungil,putih dan sangat lucu.hal itu justru semakin membuat saya gemetar,rasanya saya tidak tega untuk menyuntiknya.


"wah.. bayinya lucu sekali." Ucap Anne.


"Iya terima kasih.Dia emang lucu,pipinya tembem pula makin gemesh kalau dilihatin lama lama." Saut ibu tadi.


"Namanya siapa?" Lanjuts saya.


"Nanda!" balas si ibu.


"hm.. Nama kamu bagus banget sayang.Ueh.. lagi bobo nyenyak ya." lanjut saya sembari mengusap kepala Nanda.


"Mau disuntik apa bayinya bu?''


"Suntik BCG Dok,umur bayinya baru 1 bulan." balsnya ramah.


"Iya baik bu."


...****************...


"hah.. jadi Nanda udah ketemu sama dokter sejak dari bayi.Bahkan Nanda jadi pasien pertamanya Dokter." Saut Ella terkejut dengan mulut sedikit ternganga.


"Hmm iya..." Bu dokter tersenyum.Lalu dia kembali menyuapkan Nasi ke mulut Ella.


"Eh.. dok Ella juga lagi makan loh ini.Kan nasi kotaknya ada 2." ucap ella malu.


"Nggak papa La,saya juga nggak akan habis kalau makan 1 kotak sendirian.Saya lanjutin ceritanya yah!" Ucap Dr.Anne.

__ADS_1


"iya dok,Ella juga penasaran banget." saut ella


...****************...


Lekas saya menyiapkan suntikan dan mengarahkannya pada Nanda.Ketika saya menyuntikan vaksin kedalam tubuh Nanda.Dia langsung bangun,mukanya jadi merah,Nangisnya keras sekali.


"Uhmm.. hahah...hahh...uwahh.. ueha..!" Tangis Nanda.


"Husshmmm... cep cep Nanda. hey.. hey.." ucap Dr.Anne kepada Nanda untuk menghentikan tangisannya.


Tapi itu tidaklah cukup,baru setelah diberikan susu Nanda mau berhenti menangis meski dengan sedikit rengekan yang masih terdengar.Bu dokter rasanya lega ketika melihat Nanda berhenti menangis.Dan tugasnyapun selesai.Tapi Dr.Anne heran kenapa Nanda hanya diberi susu formula bukannya ASI.


"Bu,kenapa Nanda nggak dikasih ASI saja.Kasian loh.. Diakan masih kecil.Dia sangat membutuhkan ASI." Ujar Dr.Anne


"Bu Dokter,saya bukan ibu dari anak ini.ibunya sudah meninggal dunia saat melahirkan Nanda.Saya Inah,saya ART yang bekerja dirumahnya.Dan saya juga yang merawat Nanda sejak dia lahir." balas bi inah.


Saya hanya bisa terkekeh tidak percaya saat mendengar bi Inah berbicara.Bagiamana mungkin bayi semenggemaskan seperti Nanda ditinggal begitu saja oleh ibunya.


"Malangnya Nasibmu nak.Kamu tidak bisa melihat wajah ibu kandungmu lagi." Ucap Saya.


"Begitulah takdir,tidak bisa diduga dan tidak bisa diubah." ucap Bi inah.


"Lalu bagaimana dengan ayahnya Nanda? Kenapa dia juga tidak kemari?"


Benar apa kata Bi Inah takdir tidak bisa diduga dan tidak bisa diubah.Sejak hari itu setiap Nanda akan imunisasi lagi.Saya selalu bertemu dengan Bi inah dan juga Nanda.Entah saya yang menyuntiknya atau hanya sekedar berpapasan.


Nanda tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang sehat.Kulitnya putih mulus,mata hitamnya yang pekat semakin menambah kelucuannya.Apalagi kedua bongkah pipinya yang mengembang sempurna kala dia tertawa.


Pernah di suatu hari Bi inah tiba tiba menelepon saya,dia mengatakan Nanda sedang sakit.Dia ingin membawa Nanda ke rumah sakit.Tapi Badan Nanda sangat panas dan lemah,Ditambah hujan lebat menghadangnya di luar rumah.Jadi mau tidak mau saya yang datang ke rumahnya.


Saya pergi ke rumah Nanda mengikuti Alamat yang diberikan Bi Inah.Ketika saya sampai,saya melihat rumah yang begitu besar dengan gaya Neo classic.Sangking besarnya Garasi rumah tersebut bisa menampung 10 mobil.belum lagi bagian carportnya yang luas.


Setelah memarkirkan mobil saya langsung bergegas masuk ke rumah lewat pintu utama.Saya tekan bel dirumah itu lalu munculah seorang pelayan yang membukakan pintu.


"Ada yang bisa saya bantu dok?" ucapnya sopan.


"Saya datang ke sini karena ada yang menelepon dan mengatakan bahwa ada anak yang sakit!" Ucap saya.


"Sakit..? pasti anda salah alamat.Kedua tuan muda baik baik saja.Mereka sangat sehat." ucapnya membalas.


"Ehmm... tidak mungkin saya salah alamat.Bi inah yang memberikan alamat rumah ini!" Tegas saya


Tidak berselang lama kemudian seorang Wanita datang menghampiri kami.Pakaiannya sangat bagus dan barang barang yang dia kenakan sangat mewah.Jelas harganya sangat mahal.Jadi sudah pasti dia adalah pemilik rumah.

__ADS_1


"Ada apa dokter datang ke rumah saya?" Ucapnya keras.


"Maaf bu,bi inah menelepon saya dia mengatakan Nanda sedang sakit.Jadi saya diminta untuk datang kemari." ucap saya.


"Oh.. baguslah kalau dokter datang.Anak sialan itu terus menangis sepanjang malam.kepala saya sampai pusing denger tangisannya.Tuh kamarnya ada di basement,dibelakang garasi." ucapnya pedas lalu pergi meninggalkan kami.Sementara si pelayan yang tadi hanya tertunduk dan diam saja.


"Dr.Anne. bu.. bu dokter!" Tiba tiba ada yang memanggil saya.


Rupanya bi Inah yang memanggil saya dari depan pintu garasi.Langsung saja saya menemuinya dan mengikutinya kedalam.Saya melihat garasi itu penuh dengan mobil mobil mewah.


Singkatnya saya sampai di kamar Nanda.itu adalah kamar yang kecil mungkin berukuan 2×2 meter.Disana Nanda sedang terbaring karena demam yang sangat tinggi.


Lekas saya langsung memeriksa keaadaannya dan memberikan obat kepada Nanda.Selama saya mengobatinya Nanda tidak berhenti menyebut dan memanggil ibunya.


"Ibu.. ibu... ibu.." Ucap Nanda yang kala itu berusia 2 tahun.


"Bi inah kenapa Nanda tidur disini?" Tanya saya.


"Bu dokter dulu disaat Umur Nanda belum genap 40 hari.Ayahnya sudah meikah lagi dengan seorang wanita kaya.Dan ini adalah rumah ibu tirinya Nanda.Akan tetapi Bu Wina tidak mau mengakui Keberadaan Nanda.Baginya Nanda adalah kesalahan yang seharusnya tidak ada.Bahkan menurutnya Nanda sudah beruntung karena masih dibiarkan tinggal disini." Ucap bu inah pasrah.


"Astagfirullahaladzim.. Lalu bagaimana dengan ayahnya apa dia hanya diam saja." Ucap saya sedikit emosi.


"Tuan tidak terlalu memperdulikan Nanda dia hanya memberikan sejumlah uang untuk biaya hidup Nanda.Akan tetapi tidak dengan perhatian dan kasih sayangnya.Bahkan sejak awal,Tuan menikahi bu Wina supaya dirinya bisa mengambil alih perusahaan bu Wina.Baginya yang paling utama adalah kekayaan dan kekuasaan.Dia tidak peduli dengan Nanda.Bahkan ketika Nanda sakit seperti ini." balas bi inah.


"Laki laki macam apa dia? Tidak mau bertanggung jawab kepada Anaknya sendiri.Dan sepertinya Bu Wina sangat tidak menyukai Nanda.Saya sempat mendengar Dia berkata kasar mengenai Nanda barusan!" Tegas saya.


"Iya Dr.Anne benar.Dia sama sekali tidak menyayangi Nanda.Bahkan sering kali Nanda dimarahi hanya karena menyentuh Mainan Anaknya.Ya.. dari pernikahannya bersama Tuan mereka dikaruniai 2 anak laki laki." ucap bi inah.


"Jadi ibu yang dimaksud Nanda dari tadi adalah ibu tirinya." Ucap saya.


"Iyah benar,mau bagaimanapun saat ini satu satunya wanita yang dapat dipanggil ibu oleh Nanda hanya dia saja." ucap bi inah.


"Tapi apa itu baik bagi Nanda?" Tanya saya khawatir.


"Saya harap hati bu Wina bisa luluh dan dia bisa menerima Nanda.Tapi saya rasa itu sulit jika Nanda tetap dibiarkan tinggal bersama saya di kamar yang kecil ini." ucap bi inah.


Sejak hari itu saya meminta bu inah untuk mengabari saya jika terjadi sesuatu dengan Nanda.Dan juga sering kali saya meminta bi Inah untuk menceritakan perkembangan Nanda.Perlahan saya juga mulai dekat dengan bi inah dan kami menjadi sahabat.


.


.


.

__ADS_1


.Like comment vote.


__ADS_2