
Keesokan paginya Ella terbangun di ranjang rumah sakit. Dia melihat suaminya yang sudah bersiap untuk cek out.
"Kita pulang sekarang? " Tanya Ella.
"Iyalah, kamu mau di sini terus? " Nanda tersenyum meledek istrinya. Ella menggeleng kemudian membuka kedua tangannya.
"Apa? " Ujar Nanda melihat pose istrinya.
"Gendong! Aku mau cuci muka ke kamar mandi. " Ujar Ella tersenyum.
Nanda tersenyum tipis lalu menggendong istrinya dan mendudukan nya ke kursi roda. Untuk selanjutnya dia ajak ke kamar mandi.
15 menit kemudian Ibunya Ella datang dan menemui sepasang suami-istri itu tengah bersiap.
"Kalian udah siap? yuk kita keluar bareng. " Ujar ibunya.
"Kayaknya kita bakal bareng terus loh bu. Soalnya kita mau pulang ke rumah ibu. " Ujar Nanda ramah.
"Hah! kamu serius? " nampak raut wajah kaget dan gembira bercampur dari wanita tua tersebut.
"kapan kamu mutusin mau pulang ke rumah ibu? Kok nggak bilang ke aku. "
"Aku mau bilang tapi kamu udah tidur duluan semalem." ujar Nanda menjelaskan.
"Oh iya semalam aku ketiduran, abis ngobrol sama Rima. Rima ikhlas nggak ya maafin aku. Kemarin dia kayak kecewa banget." ujar Ella menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Dia maafin kamu kok, Rima juga titip salam buat kamu. Dia lagi ujian sekarang. " Ujar Nanda.
***
Di mobil
Setelah semuanya beres Nanda langsung melajukan mobilnya dengan cepat. Ella duduk di belakang bersama ibunya, sementara dirinya duduk sendiri di baris depan.
"Kenapa kita pakai mobilnya pak joko? mobilnya lily dimana? " Tanya Ella.
"Dipake sama Rima, Dia mau pamer sama temen kuliahnya. " Jawab Nanda singkat.
"Aku nggak ngeliat pak jokowi dari kemarin, Dia kemana? Bibi sama bu dokter juga nggak keliatan. "
__ADS_1
"Paman sama bibi pulang, Dr. Anne sibuk urus pasien lain. Ada lagi yang mau kamu tanyain? " Tanya Nanda mengangkat sebelah alisnya. Ella menggelengkan kepala lalu tersenyum.
Terlihat disampingnya bu hasimun membelalakan mata, satu hal yang tak diketahui Ella bahwa Nanda sempat terlibat adu argumen dengan pak joko semalam.
Sesaat setelah sampai dirumah, Nanda membantu istri dan mertuanya membereskan barang barang. Setelah Semua barang masuk ke almari, Ella juga terduduk rapih di kursi roda dan mertuanya juga sedang beristirahat di sofa. Nanda berpamitan untuk pergi ke kantor.
"Ibu, Nanda titip Ella ya! Nanda mau ke kantor sekarang. Kasian yang lain pasti udah nunggu. " Pamit Nanda sambil bersalaman.
"Kamu hati hati ya, setelah kejadian semalam ibu kira Alex nggak akan tinggal diam. Ibu cukup mengerti watak lelaki arogan itu. " ujarnya sambil berbisik.
"Ibu tenang saja, Nanda sudah pernah menghadapi orang yang lebih berbahaya dari Alex. " Nanda menjawab dengan lirih peringatan dari mertuanya.
"Benarkah?, Siapa? "
"Bapaknya! " Jawab Nanda tertawa jahil. Wanita tua itu membelalakan mata mendengar jawaban menantunya karena menganggap itu hanya sebuah guyonan.
"Hayo ngobrolin apa? kok bisik bisik gitu? " Tanya Ella menatap keduanya dengan aneh.
"Kenapa emang? Ini itu mertua kesayangan aku tau nggak?!" Balas Nanda dengan tegas lalu tersenyum.
"Mamah gue tuh!" ujar Ella cemberut. Nanda tertawa melihat raut istrinya lalu mendekat perlahan.
"Gak mau ih!" celetuk Ella pada suaminya. "Manggilnya sayang dong! " Bisik Ella.
"Oke, aku berangkat dulu ya sayang! Dah..!" Nanda kemudian pergi bernalik dari Ella seraya mengatakan satu kalimat kecil di ujung bibirnya.
"Reseh lu! " celetuknya singkat.
"Heh..!" Bentak Ella spontan.
Nanda hanya tersenyum nakal lalu dia berjalan keluar dan kembali berkendara untuk sampai ke kantor.
Di kantor
Nanda masuk ke kantor dengan tergesa gesa dia sadar dirinya sudah terlambat. Memang hanya 15 menit, tapi bagi Nanda waktu 15 menit itu sangat penting dalam menjalankan sebuah bisnis.
"Pak syahroni sudah menunggu dari tadi, cepat dia ada diruang meeting." ujar Bella pada Nanda yang sedang menunggu kehadirannya.
Tanpa menjawab, Nanda langsung masuk kedalam untuk bertemu dengan partner bisnisnya. " Selamat siang! Tuan tuan, Maaf hari ini saya terlambat karena istri saya baru saja keluar dari rumah sakit. Tapi saya harap kesalahan saya ini tidak akan mengganggu kerja sama kita di masa yang akan datang." Nanda mengucapnya dengan tegas.
__ADS_1
"Justru kehadiran anda yang membuat saya terganggu. Katakan padaku apalah arti dari kematian? jika yang sudah mati bisa hidup kembali." Tanyanya dengan tegas. Pria paruh baya itu lantas melepaskan kacamata yang ia kenakan dan mengusapnya dengan tisu.
"Atau mungkin kacamata tua ini yang telah menipu mata yang sudah tua pula? " Sambungnya. Nanda tertawa lalu menundukkan kepalanya sejenak, hingga sesaat kemudian dia kembali mengangkat kepalanya dengan penuh rasa percaya diri.
"Mati atau hidup tidak ada bedanyakan. Aku pernah merasakan keduanya, bahkan yang lebih buruk sekalipun. Tapi untuk kesekian kali aku kembali lagi ke tempat ini." Nanda berjalan mendekati pak syahroni lalu duduk di sebuah kursi tepat disampingnya.
"cihahah hahah.. !" Pak syahroni tertawa, dia ingin merasa heran dengan keajaiban di depan matanya. Tapi dalam hatinya terus berkata. kenapa tidak mungkin? ini Nandakan.
"Apa yang ingin kamu lakukan sekarang ini? Saya tahu perusahaan ini sangat rapuh dan sedang di ujung tanduk."
"Aku ingin perusahaan ini tetap hidup. Apapun akan aku lakukan untuk melihatnya bertahan. Perusahaan ini adalah mimpinya Lily dan hasil kerja kerasku dulu. Jauh sebelum aku bergabung di Wiratmaja instituate, Tempat ini menjadi bukti keberhasilanku dulu."
"Benar! Ananda Putra Wiratmaja. Nama yang seolah menjadi jegal di dunia bisnis waktu itu. Mengingat reputasi ayahmu yang memang tidak ada tandingan. Eh malah putranya jauh melebihi ayahnya. " Pak syahroni terlihat beberapa kali tersenyum saat mengatakan satu kalimat tersebut.
Lain halnya dengan beberapa orang yang nampak tercengang mendengar nama tersebut. "Lihatlah! mereka bahkan terkejut saat mendengar namamu. " Lanjutnya.
"Aku memang belum memberitahukan namaku pada mereka. Tapi yang jelas, aku sangat membutuhkan bantuanmu saat ini." ujar Nanda mengajukan niatnya.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu? Jika kamu memintaku untuk kembali menyuplai pada kalian, aku tidak bisa melakukan itu lagi. Aku sungguh tidak berdaya, mereka menodongkan senjata api ke kepala cucuku yang masih balita."
"Darma! seandainya aku bisa, aku ingin menghabisi pecundang itu. Sayang aku tidak punya cukup keberanian untuk melakukannya." Ujar pak syahroni sambil mengelus dada.
"Hm..." Nanda mendengus. "Jika kau yang melakukan itu, lalu apa yang harus aku lakukan." suasana seketika mencengkam. Semua mata tertuju pada Nanda dengan penuh tanda tanya.
"Aku ingin dia membayar, untuk semua yang dia lakukan kepada keluargaku. Seberapa banyak orang yang telah dia habisi. Dan seberapa besar penderitaan yang dia berikan padaku dan adiku. Aku akan membuatnya membayar dengan sangat mahal. "
"Apa dia ada hubungannya dengan kepergianmu 2 tahun lalu." Nanda mengangguk.
"Ini akan jadi kesepakatan yang menarik. Katakan apa yang bisa aku lakukan? " Ujarnya lagi.
"Aku ingin kamu menghubungi semua rekan kerja dan investor Wiratama instituate. Katakan kabar ini pada mereka, katakan kalau aku masih hidup dan membutuhkan bantuannya. Aku ingin bertaruh pada mereka."
"Kamu yakin mereka akan membantumu? "
"Perusahaan ini sangat membutuhkan dana yang begitu besar. Suplai dan keuangan jelas sangat dibutuhkan untuk mengalahkan Hasanata Group. Namun aku tidak begitu yakin mereka akan percaya dengan mudah."
" Pak syahroni, aku juga ingin kamu berhati hati. Jangan sampai Remi mengetahui kabar ini. " ujar Nanda lagi.
"Baik aku mengerti, aku akan sangat senang jika bisa membantu kalian. Nanda bisakah kamu menghancurkannya untukku. "
__ADS_1
"Saat ini, itu adalah alasanku untuk hidup."