My Little Hubby

My Little Hubby
Bab 80


__ADS_3

Sabar La, aku tau rasanya berat pas tau semuanya." Fanny duduk disampingku dan mengusap punggungku. Dia berusaha menghiburku, dengan membelikan es Dawet ayu. Dulu aku sangat suka makan minuman ini bersamanya di sekolah.


"Ah.. seenggaknya aku udah Lega fanny. Tapi aku masih gak nyangka, keluarga hasanata begitu busuk." sautku pelan menatap ke arahnya. Fanny mengalihkan tatapan dan menekuk wajahnya.


"Itu dia La. Apa selama ini kita kerja sama orang jahat ya La." Gumam Fanny lesu. Nampak sekali dia kecewa mendengar kenyataan dari pak waluyo.


"Kalo aku sih iya, selama ini. Tapi kalo kamu selamanya." Ledekku sembari menyenggolnya.


"Ah. nggak nggak nggak nggak, aku gak mau La. Kalau kayak gini mending aku resign aja dari kantor." Ujarnya berteriak sebal. Heboh, fanny selalu begitu. Tingkah lucunya ini yang membuatku selalu betah bersamanya.


"Aku takut kalo nanti Pak Alex juga suka sama aku. Terus keluarganya nyuruh yang macam macam, ih serem banget La. Apalagi istrinya Marissa, ih amit amit deh." Fanny bergidik geli saat mengatakannya. Pede amat lu!


"Mana bisa Alex rahardian hasanata suka sama kamu. Ya nggak lah." Ujarku membalasnya sambil tertawa geli. Dia terkekeh menatapku yang tertawa keras didepannya.


"Lagipula ya, seserem apapun marissa. Aku yakin dia gak lebih serem daripada mantan bosku, Lily. Aku kalau ngobrol sama dia hampir gak bisa nafas tau nggak. Tegang banget!" Jelasku pada Fanny.


"Nggak mungkin."


"Iya fanny, beneran."


"Gak munggkin, aku nggak pecaya. Tapi udah lah gak penting juga. Gimana sama Suamimu." Tanya fanny.


"Hmm.. gimana yah, ya gitu dech." Balasku tersenyum tipis.


"Gimana apanya sih. Jangan jangan tadi kamu senyum senyum sendiri karena mikirin Nanda." Fanny memegang pipiku sambil menekuk wajahnya panik. "Kamu nggak suka sama Nanda kan?" lanjutnya tegas. Aku hanya tersenyum dan menunduk lalu memeluk dadanya.


"Aduh La, ini yang aku takutin dari awal. Niatnya balas dendam eh malah jatuh hati sama dia." Fanny menepuk jidatnya mendesah pelan. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya diatas kepalaku.


"Apa salahnya sih fanny. Nanda itu ganteng loh!" balasku tertawa malu. Aku tak mau fanny melihat wajahku yang memerah.


"Ganteng apanya?" Ujar Fanny ketus.


"Aku nggak mau tahu. Daripada kamu tinggal sama orang cacat kayak Nanda, lebih baik kamu cerai sama dia. Cari cowo lain yang lebih baik dari Alex dan pastinya normal, nggak kaya Nanda." ujar Fanny.


"Nggak aku nggak mau. Pokoknya aku bakal pertahanin rumah tanggaku bareng Nanda." Aku bangun dari pelukanku dan menatap serius kearah fanny.


"Kok kamu ngotot gitu sih La?" Tanya Fanny heran. Aku mengerti Fanny mencemaskanku. Tapi aku sudah kadung jatuh hati pada Nanda. Apapun akan kulakukan untuk mempertahankan rumah tangga kami. Meski itu berarti aku juga harus menjadi kepala keluarga.


"Gini..!" Aku menjelaskan semua yang terjadi padaku dan Nanda selama ini pada Fanny. Terutama setelah Nanda bangun dari komanya. Menurutku sejak saat itulah Aku baru bisa mengerti dan tahu sifat Nanda.


"Jangan jangan dia udah balik normal lagi La." Fanny menyeru semangat menanggapi ceritaku.


"Gak mungkin Fanny, Nanda masih sama kok!" Ujarku tersenyum.

__ADS_1


"Aduh La, Mana ada anak kecil yang bisa ngegombalin cewe. Bisa ajakan didepan kamu dia pura pura kek anak kecil, terus dibelakang dia cowo mesum." Aku merasa omongan fanny ada benarnya. Apa mungkin Nanda sudah Normal dan berpura pura bertingkah konyol didepanku.


"Mungkin kamu bener!"


***


Sudah cukup aksi heroikku hari ini. Pokoknya sekarang aku hanya ingin berduaan bersama Ella. Aku sudah tak sabar melihat senyumnya lagi. Tapi apa Ella sudah membaik, tadi dia masih menangis.


Saat aku kembali ketempat Ella. Eh.. malah Fanny yang sedang menangis dipangkuan Istriku. Aku mendekati mereka berdua dan menatap kearah mereka.


"Mas, kamu udah balik." Ella mendongak keatas melihat wajahku.


"Fanny kenapa La." Tanyaku kesal tentu dengan Gaya anak kecilku lagi hehehe.


"Fanny lagi sedih, dia lagi punya masalah Mas. Kasian yah!" Lanjut Rlla sambil mengelus temannya didepanku.


"Fanny!"


"Uwehhh...!" Orang gila juga tahu lo nagis boongan, Nangis suaranya lantang gitu. But, kenapa dia pura pura nangis.


"Kok ngelamun sih Mas! Kenapa?" Kamu nggak jago acting La. Harusnya kamu lebih peduli ke Fanny daripada ke aku. Jadi kamu mulai curiga aku udah sembuh apa belum. Paling akal akalan si Fanny, Huft.. gua kerjain lo.


"La la disana ada tukang Es krim." ujarku antusias menarik tangan Ella untuk bangun dari tempat duduknya.


"Ah udahlah La. Diakan bisa nangis sendiri, tapi es krim coklatnya gak bisa dibiarin gitu aja." Sautku kesal sambil terus menarik tangannya mulai agak keras.


"Jangan gitu mas, kasian fanny! Nih kamu beli sendiri." Ella hendak mengeluarkan lebaran uang didompetnya. Tapi aku langsung membalasnya sambil merengek keras.


"Enggak mau La. Aku mau beli sama kamu." ujarku lebih keras.


"Apasih Nda.. Sana pergi sendiri." Saut Fanny dengan Nada sesenggukan. Kepancing juga lu akhirnya.


"Nggak mau! Awas fanny." Aku dorong kepalanya dengan keras suapaya bergeser dari pangkuan istriku.


"Hah astagfirullah!" ujar Ella kaget.


"Uwahm... kurang ajar lu ya!" Fanny terbangun berteriak ke arahku dan jarinya mengujam lurus kewajahku.


"Sakit tau!" bentaknya lagu.


"Fanny ngga nangis tu La, Dia cuman boongan." Rengekku kesal pada Ella.


"Hah Nanda!" Balas Fanny mengerutkan dahinya melihatku.

__ADS_1


"Apa!" Teriakku membalasnya.


***


Euhm.. Euhmm. Euhm.


Mereka bertiga sedang menikmati eskrim yang baru saja mereka beli karena rengekan Nanda. Nanda dengan asiknya menjilati setiap sisi eskrim coklat ditangannya. Sementara Fanny masih menatap tak percaya kearah Nanda yang sudah berubah drastis.


"Dia beneran Nanda La!" Bisik Fanny ke arah sahabatnya.


"Kan aku udah bilang, Nanda itu Ganteng." Balas Ella kembali berbisik.


"Iyasih tapi blo'on." balas Fanny ketus.


"Apa liat liat?" Ujar Nanda jengkel. Meski sudah berhasil membuka kedok fanny yang berpura pura menangis. Nanda tetap merasa tak enak hati, karena Fanny menghalangi keinginannya untuk berduaan bersama Ella.


"Terserah gw lah. Mata mata gw juga." Balas Fanny ketus kepada Nanda.


"Mas kamu nggak boleh gitu." Saut Ella pelan. Dia mengusap bahu Nanda untuk menenangkannya.


Plek...


"Udahlah jangan kelamaan, dia itu masih tersangka jangan gampang percaya gitu aja." Saut Fanny sembari menepis tangan ella dari bahu Nanda.


"Tap-"


"Orang yang keliatan baik aja, bisa jadi ular tau nggak. Apalagi dia yang wajahnya sok polos kayak gitu." Ujar Fanny sinis menatap Nanda. Wanita ini masih tak percaya begitu saja kalau Nanda belum berubah.


'Reseh bet ni cewe.' Gumam Nanda mengeluh.


.


.


.


.


.


.


.Like comment vote

__ADS_1


__ADS_2