My Little Hubby

My Little Hubby
Bab 85


__ADS_3

"Mas, aku mau berangkat kerja!"


"Nggak boleh, kamukan sakit masa iya mau ngantor." ujar Nanda sambil menghalangi pintu keluar Ella.


"Aduh mas, kalau aku nggak ngantor. aku nggak enak dong sama lily."


"Yaudah sih tinggal ijin aja."


"Nggak!" tegas Ella.


Secepat kilat Nanda mengeluarkan ponselnya dan mendial nomer Lily disana.


"Heh kamu mau ngapain?" ujar Ella kaget melihat Nanda.


"Aku mau telpon Lily, biar aku aja yang ijin sama dia."


"Hah apa? sini kasih ke aku hpnya." Ella bergerak aktif sekarang. Dia berusaha untuk mengambil ponsel ditangan suaminya.


"Eh diam La, nanti ponselnya jatuh!"


"Ih.. pokoknya kasih ke aku." ujar Ella sambil berusaha keras meraih ponsel Nanda. Tapi Nanda tak mau kalah dia tak memberi celah sedikitpun bagi istrinya.


"Aw...!" ujar Ella berteriak sambil memegang perutnya.


"Hah ella..!" ujar Nanda spontan.


Saat Nanda lengah, Ella langsung memanfaatkan kesempatan yang ada. Dengan cepat Ella menyambar ponsel ditangan kanan suaminya. Alhasil ponsel akhirnya berhasil berpindah tangan.


Woyyyy!


Suara teriakan wanita terdengar keras disana. Sepertinya Lily sudah mengangkat telepon yang ditujukan padanya oleh Nanda.


"Kalian lagi berantem ya?" Tanya Lily keras.


"Lily.. nggak kok Kita cuman lagi bercanda aja sih." balas Ella.


"La loudspeaker!" bisik Nanda sambil mengerakan tangan memberi isyarat pada istrinya.


"Iyah bawel..!" balas Ella pelan. Lalu dia mengaktifkan speaker di ponsel Nanda.


Uhuk... uhuk...


Suara batuk terdengar jelas dari seberang sana.


"Lily kamu sehat?" Tanya Ella.


"Ehm.. aku agak nggak enak badan La. Jadi aku nggak ke kantor hari ini. Kamu masih di apartemen ya?" Lanjut Lily.


"Iya soalnya Nanda lagi ngeselin banget pagi ini, Nggak kaya biasanya." Ujar Ella sambil menatap sinis kearah suaminya.


Nanda hanya menjulurkan lidahnya dan membuat wajah malas untuk membalas perkataan Ella. Tapi didalam otak kecilnya dia sudah merencanakan sesuatu untuk istrinya.


"Hari ini ada meeting sama klien La, Jadi kamu harus berangkat." ujar Lily


"Serius?" ujar Ella kaget.

__ADS_1


"Iyah, nanti Arin bakal jelasin agendanya buat kamu sama sekalian nyiapin berkas berkasnya. Tadi aku udah chat sama dia." Ujar Lily menjelaskan.


"Aduh.. kok mendadak banget sih. Aku kan masih belum siap Ly." gumam Ella.


"Ya itu resikonya, sekarangkan kamu COO perusahaan." ujar Lily.


"Okeh deh, kamu jangan lupa istirahat. Aku mau langsung berangkat dulu kalo gitu."


"oke sip, bye!"


Kalimat Lily seraya memutus sambungan telepon mereka. Ella kemudian menatap lurus kearah suaminya sambil mengangkat satu alis. Sementara Nanda hanya membalas istrinya dengan tersemyum polos.


***


"La kamu dari mana aja? kok jam segini baru dateng!" ujar Arin gelisah.


"Iya sorry rin, soalnya tadi Nanda agak rewel. Mana berkas berkas buat meeting." lanjut Ella.


Arin menunjukan berkas berkasnya pada Ella dan menjelaskan tujuan meeting hari ini. Setelah dirasa cukup mengerti dengan keadaan yang terjadi. Ella memberanikan diri untuk memimpin meeting dengan klien.


"Inget ya La, dia ini klien penting buat perusahaan kita." bisik Arin pada Ella.


"Iya rin, aku ngerti." ujar Ella sambil tersenyum.


Tak lama kemudian klien datang dan menyapa mereka sesaat sebelum meeting dimulai. Lalu setelahnya Arin membuka pembicaraan dengan memperkenalkan COO baru perusahan mereka.


"Selamat pagi pak/bu! sebelum meeting dimulai saya ingin memperkenalkan COO baru perusahaan kami, Ibu Ella Gabriella." ujar Arin.


Ella kemudian berdiri dan memberikan hormat yang selayaknya bagi para klien. Namun rupanya klien justru memberikan tanggapan berbeda dari dugaan Ella.


"Betul! saya juga berpikir demikian. Tapi tak ada salahnya juga jika mengangkat seseorang sebagai COO. Barangkali bu Lily sudah terlalu sibuk dan membutuhkan bantuan orang lain untuk membantunya menjalankan perusahaan." ujar klien lainnya.


Ella hanya tersenyum mendemgar perkataan para klien. Entah apa yang membuat mereka berkata seperti itu. Tapi jelaslah bagi Ella, itu adalah sebuah sindiran untuknya.


Namun bukan Ella namanya jika langsung pasrah begitu saja saat mendengar sindiran dari orang lain. Didalam meeting Ella menunjukan kualitasnya sebagai seorang pembisnis dan COO berkelas. Akhirnya meeting berjalan lancar dengan hasil yang cukup memuaskan.


Jam istirahat telah tiba, Ella menghabiskan waktunya dikantin bersama teman temannya. Dikantin sambil menikmati makan siang Ella masih memikirkan perkataan dari para klien.


"Aku masih nggak ngerti? kenapa respond klien kita malah aneh gitu pas tau aku COO disini. " ujar Ella.


"Ya wajar sih La. Soalnya selama ini perusahaan kita cuman dipimpin sama satu orang CEO aja. Mulai dari marketing, finance, sampai operating perusahaan dipimpin sama bu Lily" jelas Arin.


"Bu Lily itu keren, dia wanita super power. Semua hal penting diperusahaan bisa dia handle sendiri. Jadi ya gak masalah juga kalau nggak ada yang namanya COO." ujar Faiz.


"Klien pasti mikirnya perusaahaan nggak akan repot repot cari COO atau yang lainnya. Karena semuanya bisa di urus sama CEOnya sendiri." saut Arin.


"Iya juga sih. Tapi kalau gitu terus lama lama Lily pasti bakal capek sendiri gimana coba kalau dia sampai depresi." ujar Ella.


"Omongan kamu ada benernya juga La. Tapi selama ini bu Lily baik baik aja dia nggak ada masalah sedikitpun." Saut Faiz.


"Gila!" Saut Bella tiba tiba.


"Bu Lily gak gila!" Balas Faiz.


"Sumpah gila banget!" Ujar Bella semakin keras.

__ADS_1


"Bel kamu ngomongin apa sih?" ujar Arin sambil menepuk tangan bella yang berada diatas meja.


Bella tersenyum lalu mengarahkan jarinya ke samping mereka bertiga. Dari wajahnya terlihat jelas dia sedang meresapi sesuatu.


"Sumpah tuh cowo Hot banget! ehnm.. " Ujar Bella lebih keras dengan suara yang agak melambai.


Arin, Faiz dan Ellapun menghadap kearah yang Bella tunjuk dari tadi. Sekarang mereka bertiga mengerti apa yang dibicarakan Bella. Dari arah sana datang seirang laki laki gagah berpakaian rapih menuju ke arah mereka.


"Dia siapa? ganteng banget!" ujar Arin.


"Seingat gue dia bukan karyawan sini deh." lanjut Faiz.


Sementara Ella masih diam dan tak berkata apa apa melihat kedatangan suaminya. Dia tak mengira Nanda akan datang ke kantor.


"Sayang perutmu udah mendingan?" ujarnya tepat dihapaan Ella.


Hah.....


Sontak hal itu membuat kaget se-isi kantor. Semua orang menduga Ella memiliki laki laki simpanan.


"La dia pacarmu, Istigfar La kamu udah punya suami." saut bella kaget.


"Kamu selingkuh La!" ujar Arin tegas.


"Eh enggak gitu Rin, Bell, dia ini..." Belum selesai berbicara Nanda kembali berulah dengan ikut duduk dan merangkul istrinya dari belakang.


Seisi kantor semakin menjadi melihat kelakuan Pria tadi. Mereka semakin berpikir yang tidak tidak mengenai Ella dan pria itu.


"Cukup La, kamukan udah punya suami. Bagi bagilah sama aku, jangan kamu ambil semuanya." Teriak Bella keras.


"Bella...!" ujar Ella tegas.


"Kamu nggak punya malu La? Bisa bisanya kamu mau dirangkul sama cowo lain." ujar Arin sinis


"Heh... kenapa nggak boleh Rin? Ellakan istriku kenapa aku nggak boleh meluk istriku sendiri." ujar Nanda.


"Suara itu jangan jangan, Nanda!" ujar Faiz gemetar.


"Hi!" sapa Nanda pendek.


"What.. hah gak mungkin!" Ujar Bella panik.


"Serius?" lanjut Arin.


"Iyah dia Nanda." ujar Ella cemgengesan.


Semua orang dibuat pangling dengan perubahan yang Nanda tunjukan. Bagaimana tidak kaget? Nanda yang selalu datang dengan kaos biasa dan celana pendek. Tiba tiba dia datang dengan setelan kemeja lengkap berserta jas biru dongker yang pernah dibelikan Ella.


.


.


.


.

__ADS_1


.Like comment vote


__ADS_2