
Ella POV
"Halo La, assalamuakaikum wr.wb" ujar fanny.
"Iya halo fanny, Wa'alaikumsalam wr.wb" balasku.
"Kamu dimana La?" Tanya fanny.
"Aku lagi di restoran."
"Pantesan kamu nggak ada di apartemen, aku kira kamu kenapa kenapa la?"
Terdengar jelas fanny begitu cemas kepadaku.
"Loh emangnya kenapa? aku baik baik aja kok." Ujar Ella heran.
"Kamu sama siapa sekarang?" Tanya Fanny lagi.
"Aku sama Mamasku." Ujarku sedikit tersenyum.
"Hah mamas, Siapa? pacar barumu ya." balas fanny.
"Bukan fanny."
"Terus siapa? masa Nanda." balas Fanny terkejut.
"Iyalah, emang siapa lagi. Suamiku cuman satu loh." Balasku sedikit cengengesan.
"Serius kamu La. Kamu nggak suka sama Nandakan." balas Fanny.
"Banyak Hal yang udah terjadi fanny. Akupun sulit mau ngejelasinnya gimana. Masalah aku suka sama Nanda, Akupun belum yakin sama hal itu." Ujarku dengan Nada bimbang.
"kalau Belum berarti mau La." Ujar Fanny tegas.
"Ya udahlah itu urusanku nanti. Kamu ada apa nelepon aku?" Tanyaku mulai serius padanya.
"Oh iya soal itu, Aku udah ketemu sama pak Waluyo!" Ujar Fanny.
"oh ya, syukurlah kalau gitu! Terus apa katanya?" Aku sunguh bersamangat ketika mendengar perkataan dari fanny.
"Hmm... gimana ya La. Aku juga bingung ngejelasinnya sama kamu." ujar Fanny.
"Bingung kenapa? Atau jangan jangan kamu nggak nanya masalah aku ke pak waluyo."
"Aku tanya La, tapi aku nggak sanggup untuk bilang semuanya sama kamu. Jadi aku minta pak waluyo untuk nyampein langsung ke kamu." Ujarnya sedikit merintih.
"Emang kenapa sih fanny?" Ucapku semakin penasaran.
__ADS_1
"La hari minggu nanti kamu ada waktu nggak. Nanti aku ajak pak waluyo untuk ketemu sama kamu." balas fanny.
"iya, aku bisa kok." balasku santai.
"Baguslah kalo gitu. Untuk sementara ini jangan tanya apapun dulu ya La. Pak Waluyo yang akan ngejelasin semuanya sama kamu hari minggu nanti." Ujar fanny.
Terdengar rintihan rintihan kecil disana. Seolah fanny tengah sedih saat berbicara denganku. Hatiku rasanya semakin khawatir pada Fanny
"Iyah, fanny kamu baik baik ajakan. Kamu dimana sekarang?" Tanyaku.
Aku ingin memastikan kondisi fanny, karena mau bagaimanapun aku sudah sangat merepotkan dia dengan menyurihnya menjadi informan.
"Iya aku baik La, aku sekarang ada di depan pintu apartemenmu. Tapi nggak papa ko, Aku juga mau pulang sekarang. Assalamualaikum wr.wb" ujar Fanny.
"Wa'alaikumsalam wr.wb" jawabku.
Sambungan telepon kemudian terputus. Aku terus saja melihat layar ponsel seusai berteleponan dengan fanny. Rasanya aku sangat khawatir kepada Fanny.
Selepas menerima telepon dari fanny di dekat toilet. Aku kemudian masuk ke toilet untuk buang air dan mencuci wajah. Setelahnya aku menatap bayangan wahahku yang berada pada cermin besar di toilet.
'La, sebentar lagi kamu akan tahu apa yang terjadi dimalam itu.' ucapku menguatkan diri.
Selanjutnya aku kembali menemui Nanda yang masih makan. Namun dia malah membuatku terenyuh saat melihat tingkahnya yang kegatelan. Aku meninggalkannya sebentar dan dia sudah tengok kanan kiri memperhatikan wanita wanita cantik. Bahkan sangking fokusnya Nanda, dia tidak menyadari kedatanganku.
"Matanya jelalatan!" Ucapku sambil memukul pungging tangan Nanda yang berada diatas meja.
"Aku nggak jelalatan kok La. Aku cuman lagi liatin cewek diujung sana!" Ujarnya padaku.
"Ya itu namanya jelalatan." Balasku ketus padanya.
"Bukan La, itu namanya nonton!"
Jawabnnya malah semakin membuat kesal padanya. Apa dia tidak mengerti juga kalau aku sedang cemburu.
"Ya itu sama aja,Mas!" balasku sedikit keras padanya.
Rasanya hatiku sangat pegal menghadapi kepolosan suamiku. Mulutku juga terasa gatal ingin membentak Nanda. Tapi otak kecilku melarangnya, karena kalau aku melakukan itu. Nanda malah akan bersedih dan itu akan membuat dia menjauh dariku.
"Emang gak boleh!" Balasnya lagi.
"Ya nggak lah." Ujarku memasang wajah kesal.
Aku harap dengan begitu dia memahami kondisinya. Tapi tentu saja itu sia sia karena dia masih belum mengerti.
"Tapi-"
Sejenak dia berhenti berkata setelah melihatku memandanginya. Aku sengaja melihat matanya terus sambil tersenyum lebar. Barulah cara ini berhasil dia mulai mendengarkan dan memperhatikan aku lagi.
__ADS_1
"Kamu kenapa liatin aku kaya gitu." ujarnya.
"Kamu itu bandel yah, Mas!" Ujarku sambil tersenyum.
"Nggak ko, aku cuman-"
"Cuman nonton wanita dipojok sana." potongku
Nanda langsung terdiam saat mendengarnya. Lalu aku berikan penjelasan secara halus padanya bahwa aku tidak suka, aku cemburu dengan sikapnya barusan.
"Semua wanita itu dilahirkan untuk memiliki satu bakat yang sama. Mereka nggak suka kalo laki laki yang dicintainya memberikan perhatian pada wanita lain. Termasuk juga aku Mas, Kalau kamu mau terus liatin wanita lainnya disini. Itu artinya kamu udah nyakitin hati aku, tau nggak." ujarku sedikit puitis
"Ini namanya Sakit tapi Tak Berdarah." Lanjutku.
Nanda kemudian nampak menyadari perbuatannya dan dia menyesal akan hal itu. Selanjutnya aku berusaha kembali menghibur dia dengan mengambil sebuah pangsit rebus menggunakan sumpit. Lalu aku arahkan padanya.
"Kamu boleh kok jelalatan, tapi cuman sama satu wanita. Aku, istri kamu." Ujarku.
Aku tersenyum begitu lebar sambil terus menatap matanya dengan tajam. Nanda kemudian menerima suapan dariku lalu dia menunduk. Mungkin dia mulai merasa bersalah kepadaku.
Aku kemudian lanjut menyuapinya lagi. Dan pada suapan yang ketiga dia kembali menegakan kepalanya.
"aku punya satu pertanyaan La." Ujarnya menatapku.
"Apa?" balasku singkat.
"Kalau kamu marah, pas aku liatin wanita yang lain. Apa itu artinya kamu udah cinta sama aku?"
Sontak kalimat terkhirnya membuat aku terkejut. Aku tidak mengira sama sekali Nanda akan mengatakan hal seperti itu. Nanda membuatku hilang akal dengan menggunakan pernyataanku barusan kepadanya.
Jujur aku sangat bingung ingin menjawab apa. Rasanya aku menjadi malu ketika Nanda mempertanyakan perasaanku kepadanya. Alhasil aku hanya menggigit bibir bagian bawahku sambil melanjutkan menyuapinya.
Saat aku ingin menyuapkan pangsit yang kelima. Nanda menolak suapanku.
"La, kenapa kamu nggak ngejawab. Malah senyum gituh aja." Ujarnga agak merengek.
"Euhmm.. aku bingung mau jawab apa. Jadi aku cuman senyum sama kamu. Tapi emangnya kamu nggak suka kalau liat aku senyum kaya gini." Ujarku pelan.
Aku berusaha kabur dari pertanyaan Nanda yang diarahkan padaku. Tanpa aku sadari aku malah tersenyum kegirangan sendiri. Apalagi ketika melihat raut Nanda yang nampak agak jengkel dan sedikit senyum. Membuatku tidak dapat lagi menahan tawa. Akhirnya aku lepaskan saja semua dengan tertawa pelan didepan Suamiku, Nanda.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.Like comment vote