
2 Tahun Lalu
Pagi itu Nanda baru pulang, setelah semalaman Dia menikmati keheningan malam.
Saat dia pulang suasana rumah terasa berbeda. Rasanya lebih hening dari biasanya yang selalu ramai dari aktivitas pegawai. Didepan pintu gerbang terbuka tapi tidak ada satupun orang yang terlihat disana. Tanpa ada rasa curiga, Nanda langsung saja membawa mobilnya masuk dan parkir di carport.
Namun suasana semakin mencengkam ketika tidak ada satupun suara yang terdengar. Nanda keluar dari mobil, dan melihat kesekeliling rumah dan tidak ada siapapun. Akhirnya Nanda lantas mengecek ke pos satpam dan melihat satpam tengah tertidur pulas. Satpam duduk di kursi membelakangi Nanda sementara kepalanya bersandar keatas meja.
"Mang ujang, kok malah tidur. Gerbang belum ditutup tuh." Ujar Nanda dari belakang. Tapi satpam itu diam saja, dia tidak bergemih sedikitpun.
Karena merasa diacuhkan oleh satpam tadi. Nanda kemudian memanggilnya lagi tapi kali ini dengan menepuk bahu si mang ujang.
"Mank!" Ucapnya.
Lalu yang terjadi diluar dugaan Nanda. Mank ujang tiba tiba terjatuh saat ditepuk bahunya. Sontak Nanda kaget dan langsung menolong mank ujang. Dan saat itulah Nanda melihat darah sudah membahasahi seragam si satpam. Diperutnya terdapat semacam luka tembak. Yang juga menandai si satpam telah meninggal dunia.
Nanda kaget saat melihat mank ujang sudah meninggal dalam keadaan yang mengenaskan. Tanpa pikir panjang Nanda kemudian berlari dan masuk ke rumah lewat garasi. Benar saja apa yang dia pikirkan mayat tergeletak dimana mana di setiap bagian garasi. Nanda berlari melewati mayat mayat itu untuk menuju kamar masa kecilnya. Dia shock ketika melihat ibu asuhnya yang sangat dia cintai. Berbaring tak bernyawa diatas ranjang serta darah berceceran disekitarnya.
"Ibu!" Nanda kemudian mendekatinya dan memeluknya sambil menangis.
"Ibu apa yang terjadi?" Ujar Nanda serak.
"Dor.. Dor..." Suara tembakan terdengar di lantai atas.
Meski rasanya berat, Nanda memilih pergi meninggalkan bi inah yang telah merawatnya dan mengiklashkan kematiannya. Nanda yakin pembunuh itu masih berada di rumahnya.
Nanda menuju ke lantai atas melalui dapur dan pemandangan yang serupa dia jumpai disana. Dapur itu juga dipenuhi dengan beberapa mayat juru masak yang berada dilantai.
"Dor.." suara tembakan kembali terdengar. Kali ini suara itu juga diikuti oleh pekikan suara kesakitan dari seseorang.
Pemuda itu kemudian mengintip dari balik pintu dapur dan melihat 3 orang bersenjata. Yang menembaki semua pegawai dirumahnya. Sontak Nanda dibuat gemetar oleh pemandangan didepannya. Akibatnya dia malah tidak sengaja memecahkan gelas yang berada didapur.
"Siapa disana!" Teriak seorang dari mereka. Kemudian dia menyiapkan pistol yang dia bawa dan perlahan mendekti pintu dapur tempat Nanda mengintip.
__ADS_1
Menyadari ada yang mendekat Nanda kemudian mengatur Nafasnya dan menyiapkan mental. Lalu dia mengambil sebilah pisau untuk melumpuhkan pria bersenjata yang mendekatinya. Ketika pintu terbuka Nanda langsung menyergap orang tersebut.
Dia tusukan pisau yang dia pegang ke paha orang tadi. Lalu memukul belakang kepalanya hingga pingsan. Nanda juga merebut pistol yang pria tadi pegang. Lalu tanpa basa basi Nanda kemudian keluar dari persembungiannya dan menembak kedua orang sisanya.
Namun Nanda tidak membunuh mereka. Dia tidak menembak organ vital sehingga kedua orang tadi tidak mati. Namun hal itu membuat kedua orang tadi mengerang kesakitan dan menarik perhatian temannya yang lain.
Nanda kemudian juga bergegas ke lantai berikutnya dan bertemu dengan beberapa orang bersenjata lainnya. Rupanya mereka tidak hanya ada 2 atau 3 tapi jumlah mereka cukup banyak.
Untunglah dengan keterampilan menembak dan bertarung Nanda yang dia pelajari selama di australia. Nanda mampu melumpuhkan mereka semua tanpa kendala yang cukup berarti. 18 orang dia lumpuhkan sendirian. Kini Nanda tengah dalam pencarian mencari orang lain di rumahnya. Barang kali masih ada yang selamat pikirnya.
Lalu kemudian sampailah dia dilantai 5 di ruangan Ayahnya. Dia langsung mendobrak masuk dan melihat ayahnya sedang terkapar dilantai.
"Ayah!" Panggil Nanda mendekati ayahnya. Tapi tiba tiba seseorang menodingkan pistol kekepala Nanda dari belakang.
"Hentikan langkahmu Nak!" ujarnya menodongkan pistol.
Nanda kemudian berhenti bergerak dan mematung di tempatnya berdiri. Dia juga mengangkat kedua tangannya keatas.
"Jatuhkan pistol itu,Nanda!" Ancamnya. Nanda yang terpojok tidak punya pilihan, selain mengikuti ancamannya. Dia lepaskan pistol itu digenggamannya tanpa menurunkan tangan. Lalu dia juga bisa melihat pistol itu ditendang menjauhi jangkauannya.
"Hastomo..!" ujar Nanda Geram saat melihat orang yang menodongkan pistol ke arahnya.
"Beraninya kau melakukan hal ini pada keluargaku. Apa kau mau mati hah!" Ujar Nanda balik mengancam.
"Apa? mati.. kau ingin membunuhku begitu. Hahaha..." balasnya tertawa.
"Kau yang telah melakukan semua ini." lanjutnya membentak keras. "Apa kau pikir aku akan diam saja, Saat melihat perusahaan yang aku bangun selama ini hancur begitu saja. Karena ulahmu dan ayahmu yang sial*n itu." Teriaknya lebih keras.
"Arggghh.. pergi Nanda, pergilah selamatkan dirimu. Jangan kau pedulikan aku!" Ujar Ayahnya Nanda sambil merintih kesakitan. Pria paruh baya itu terus menekan perutnya yang tertembak.
"Apa kau dengar, apa yang dikatakan ayahmu? pergilah, psrgi selamagkan dirimu. Hahaha.. tapi kau melakukan satu kesalahan dengan masuk ke ruangan ini. Karena kau tidak akan bisa pergi hidup hidup dari sini." lanjutnya kepada Nanda tanoa berhenti menodongkan pistol sedari tadi.
"Dengarlah perkataanku baik baik. Kau juga melakukan satu kesalahan kau tahu apa itu orang tua?" Ejek Nanda.
__ADS_1
"Yaitu Kau tidak lari keluar saat aku masuk ke dalam." Tegas Nanda.
Secepat kilat Nanda menggenggam pistol yang sedari tadi menyapanya. Lalu dia arahkan moncong senjata itu ke udara. Disaat yang bersamaan Tangan Nanda yang lain mulai aktif dan menghajar orang tua yang telah membunuh bi inah. Dengan mudah dia bisa merebut senjata api tadi dan menyerang musuhnya.
Nanda yang marah dan kalap langsung menghajar Hastomo priyambodo tanpa ampun. Puluhan kepala tangan mendarat tepat di wajah orang tua tadi. Sampai sampai dia kehilangan kesadaran dan lemas tidak berdaya.
"Ini adalah akibat karena kau membantai semua orang yang aku sayangi! Terutama Bibi dan mang Asep."
"Brek.."
Pukulan terakhir Nanda sukses membuat Hastomo terkapar lemas dilantai. Setelah meluapkan Amarahnya yang begitu besar. Nanda kemudian menghampiri ayahnya yang sekarat.
"Ayah, tenanglah aku akan membawamu ke rumah sakit!" Ujar Nanda berusaha membangunkan ayahnya.
"Nanda, Aku mengingat wajah ibumu. Dia adalah wanita yang sangat cantik. Dia satu satunya wanita yang tidak pernah meninggalakan aku dalam keadaan apapun. Meski begitu Aku terus saja mengabaikannya. Bahkan disaat hari terakhirnya aku tidak datang untuk menemuinya. Tapi dia tetap memberiku Anugerah yang selalu bersamaku, meski aku juga membuangnya. Kamu!. Aku melihat wajahnya lagi dimatamu. Kamu sama seperti ibumu, Hanya saja kamu lebih kuat darinya. Pergi Nanda selamatkan dirimu. Teruslah hidup untuk menjaga orang orang yang kamu sayangi. Jangan pernah sia siakan mereka. Seperti apa yang pernah pria tua ini lakukan!" Ujar Pria tua itu dipelukan anaknya.
"Hentikan basa basimu, Kamu akan selamat. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Ujar Nanda kekeuh.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan seseorang yang lain masuk kedalam.
"James, cepat bantu aku! Ayah sedang terluka parah." Ujar Nanda cemas.
"dor.. dor.."
Dua peluru kembali bersarang pada si Ayah. Nanda yang menyaksikan itu rasanya sangat murka dan tidak percaya. James menembak ayahnya sendiri di pangkuan kakanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.Like comment vote