
Waktu itu aku sedang membuka bazar dan berjualan beberapa jenis minuman dan juga aneka kue. Saat itulah kami bertemu, aku berteriak memanggil pelanggan dan menawarkan dagangan kami.
Tapi tiba tiba ada seseorang yang bodoh menabrakku begitu saja.
Byar...
Es yang kupegang juga ikut jatuh dan tunpah berserakan. Aku berdiri dan menatap kearah Anak lelaki itu.
"Hey apa kau buta? tidakah matamu melihat ada seseorang yang sedang berjualan." ujarku tegas.
"Hah apa otakmu sedeng? Kau berjualan ditengah jalan." Balasnya keras.
Dia malah menyalahkanku dengan tanpa rasa bersalahnya. Tentu saja aku marah, dia yang salah kenapa aku yang disalahkan.
"Dasar mata jelalatan! Lihatlah kami sedang membuka bazar!" Aku menunjuk kearah stan tempat kami membuka bazar.
"Berarti otak kalian semua sudah rusak. Lihatlah bazar itu terlalu dekat dengan jalan. Bagaimana kalau ada mobil yang menabrak kalian!"
"Aku rasa itu tidak mungkin karena mobil itu tidak buta seperti dirimu." Bentakku keras lalu meninggalkannya.
Aku berjalan menghampiri stan dan tak memperdulikan sibodoh itu lagi. Bu maya yang memang dari tadi mengamati pertengkaran kami langsung memastikan keadaanku.
"Lily kamu baik baik saja?" Tanya ibu panti lembut.
"Aku tidak papa bu." jawabku pelan.
"Bagaimana dengan anak laki laki itu?" Tanya bu maya lagi.
"Siapa peduli? Biarkan saja anak itu pergi." Ujarku ketus.
"Tapi ibu rasa dia mendekat kemari." Lanjutnya lagi
Saat aku berbalik kebelakang dia sudah tepat berada didepanku.
"Mau apa lagi?" Tanyaku ketus.
"Apa lagi? Tentu saja aku mau membeli!" Ujarnya.
"Kami tidak butuh uangmu, pergilah!"
Aku sudah sangat muak melihat wajahnya, jadi aku mengusirnya saja. Tapi bukan Nanda namanya jika tidak bersikap menyebalkan.
"Mengusir pelanggan adalah kesalahan yang fatal. Bagaimana dagangan kalian akan lalu kalau penyihir ini terus saja mengusir para pembeli."
"Hey aku bukan penyihir!" Lanjut jengkel
Seandaikan waktu itu tidak ramai aku pasti sudah menghajarnya habis habisan. Anak lelaki itu sangat menyebalkan. Ingin sekali aku menyiram wajahnya dengan es cincau buatanku.
"Lily apa yang dikatakan anak itu benar. Kamu tidak boleh mengusir pembeli!" Saut bu maya.
"Apa ibu tidak mendengarnya? Dia baru saja mengejekku!" Sautku jengkel.
"Pembeli itu adalah raja!" Sautnya dengan Nada meledek.
"Kau..!"
__ADS_1
Aku lelah menanggapinya terus terusan. Toh tidak ada gunanya juga. Aku lebih memilih berpindah ke sisi kain dan membantu orang lain. Meski begitu dia masih saja membicarakan aku.
"Dia kenapa bu? Sedang datang bulan?" Ujarnya pada bu maya.
"Mungkin saja, ibu juga tidak tahu. Tapi tolong maafkan Lily yah, sejak semalam dia sudah berusaha keras untuk menyiapkan semua ini." ujar bu maya.
"Ibu aku tidak salah!" Ujarku keras pada bu maya.
"Hey penyihir namamu bagus. Kenalkan namaku Nanda!" ujarnya keras padaku.
"Aku membencimu!" balasku.
Detik itu juga aku tahu namanya adalah Nanda. Sayangnya waktu itu aku masih membenci dia tapi beberapa jam kemudian semuanya akan berubah.
"Oh iya, kamu mau membeli sesuatu?" Lanjut bu maya.
"Aku mau membeli es cincau, ini uangnya" Saut Nanda.
"Iya terima kasih." Bu maya menerima uang dari Nanda.
"Ngomong ngomong kenapa kalian membuka bazar disini. Berbahaya jika kalian berjualan terlalu dekat dengan jalan."
"Mau bagaimana lagi? Kalau kami memakai tempat lain kami harus membayar sewa. Sementara kami sedang sangat membutuhkan uang untuk membiayai perbaikan panti." Ujarnya pada Nanda.
"Kalian semua dari panti asuhan?" Tanya! Nanda.
"Benar, sejak suami ibu meninggal ibu sangat kerepotan karena harus mengurusi panti sendirian. Uang dari donaturpun tak lagi cukup untuk membiayai kebutuhan panti yang semakin membengkak. Kebanyakan untuk membiayai sekolah anak anak. Ditambah saat ini bangunan panti sudah harus diperbaiki."
"Apa Lily juga salah satu...?"
"Hmm.. ya dia pintar juga."
Meski jarak antara aku dan juga bu maya berjauhan tapi Aku masih bisa mendengar obrolan mereka. Jujur saja aku sedikit miris jika harus mengingat nasibku dan keadaan panti sekarang.
"Hey Lily.. " Panggil Nanda. Entah kapan dia berjalan kearahku, tiba tiba saja dia sudah ada didekatku.
"Apa?"
"Jadi kau tidak tahu siapa ayah dan ibu kandungmu?"
"Memang kenapa mau mengejekku lagi?" Ujarku ketus.
"Tidak papa, terkadang tidak mempunyai orang tua adalah hal yang cukup baik." lanjutnya sambil menikmati es cincau.
Aku sudah sangat muak dengan sikapnya. Tapi kalau aku ladeni terus yang ada dia malah tidak mau pergi. Jadi aku bersikap acuh dan tidak menggubrisnya. Dalam hati aku berharap dia akan segera pergi, tapi ternyata itu hanya sekedar harapan.
"Es.. cincau es kopyor.. cuman 5 ribu aja. ayok beli keburu kehabisan." Teriakku lagi.
"Bahkan lebih baik tidak memiliki orang tua. Daripada punya orang tua yang tidak menginginkanmu sama sekali." Lanjutnya lagi.
"Huft... kamu anak yang sangat menyebalkan. Dengarlah habiskan minumanmu lalu segera pergi dari sini!" Ujarku dengan nada dingin.
Aku hendak meninggalkan Nanda dan berpindah ke sisi lain untuk mrnghampiri bu maya. Namun sebelum aku berjalan terlalu jauh, ada sebuah mibil hitan yang tiba tiba kehilangan kendali lalu menabrak stan kami beserta bu maya.
Brek...
__ADS_1
Aku bisa selamat karena Nanda menarikku kearah belakang. Semua orang langsung panik, begitu juga denganku. Aku sempat tersungkur ditanah karrna tarikan nanda yang begitu kencang. Aku lalu berdiri dan berlari kesana, mencari bu maya yang hilang dari pandanganku.
"Ibu..! ibu..! bu maya!" Seruku
"Aku sudah bilangkan, kalian terlalu dekat dengan jalan." Ujar Nanda
Sekitar 30 menit kemudian ambulance datang dan membawa bu maya yang terluka. Dia sudah tak sadarkan diri cukup lama. Aku dan beberapa anak panti khawatir dan takut bu maya akan pergi selamanya meninggalkan kami.
Aku ikut bersama ambulance dan tinggal di samping bu maya selama dia tak sadarkan diri. Hingga akhirnya kami sampai di rumah sakit. Dan langkahku berhenti disana didepan ruang IGD.
Diluar aku menangis sambil menunggu seseorang keluar dari dalam dan mengatakan bahwa bu maya baik baik saja. Sepanjang waktu dadaku berdetak kencang memikirkan bu maya yang terluka disana.
Sejenak pikiranku melayang, apa jadiinya jika beliau meninggal. Apa yang akan terjadi dengan panti? Bagaimana dengan adik adiku yang masih kecil? Ditengah kebingungan itu oramg gila itu muncul lagi didepanku.
"Apa ibu pantimu baik baik saja?" Tanyanya padaku.
Aku hanya terdiam sambil menangis, mulutku rasanya kaku bahkan hanya untuk menjawab satu pertanyaanpun aku tak mampu. Tak lama dokter keluar dari dalam sana.
"Siapa keluarga pasien?" Tanya dokter
"Anak perempuan ini!" Ujar Nanda menunjuk kearahku.
"Apa tidak ada keluarga yang lain?" Tanya dokter lagi.
"Pasien adalah pengurus panti dan gadis ini adalah salah satu anak pantinya. Sementara saya hanya orang lewat." Ujar Nanda.
"Oh begitu, Ehm.. Alhamdulilah nyawa pasien dapat diselamatkan, Akan tetapi saat ini dia butuh perawatan intensif. Jadi beliau harus menginap sekitar 2 sampai 3 hari." ucap si dokter.
Aku lega mendengar bu maya baik baik saja. Untunglah dia selamat dari kecelakaan.
"Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap dan selama itu tolong untuk administrasi pasien segera dilengkapi dimeja resepsionis." lanjut dokter.
"Baiklah dok, kami mengerti."
"Dokter apa saya bisa melihat keadaan bu maya?" Tanyaku serak.
"Tentu saja, tapi silahkan lengkapi administrasinya. " Saut dokter.
"Baik dokter." Aku mengangguk mengiyakan perkataan dokter.
.
.
.
.
.
.
.
.Like, comment, vote.
__ADS_1