My Little Hubby

My Little Hubby
Kenangan Manis


__ADS_3

Aku hanya terdiam kemudian duduk sebentar di area para pelanggan. Aku mengistirahatkan sesuai permintaannya dan aku tertidur tanpa sadar.


*****


Tak ku sangka hari sudah mulai senja, dan diriku kaget menyadari bahwa ternyata saat ini aku masih di tempat kerja.


"Kau sudah bangun?"


Ucapnya membuatku kaget karena tengah mengumpulkan nyawa dan mencoba melihat dengan jelas.


"Aaah! I-iya, aku... "


Dia mengarahkan jari telunjuknya ke bibirku, yang berarti ia menyuruhku untuk diam.


"Hari ini kerjamu lumayan juga, dan sudah jadi anak baik yang penurut. Untuk kedepannya jangan mencoba untuk terlambat. Mengerti? "


Aku menganggukkan kepalaku dan menatapi dirinya dengan penuh tanda tanya.


'Kamu ini sebenarnya siapa? Kenapa bersikap seperti ini padaku?'


"Kamu pulanglah, hari ini Café akan tutup lebih awal dari biasanya"


"Baiklah. Terimakasih."


Seraya menganggukkan kepala dan sepintas aku teringat akan menjenguk Ayah ku.


Seperti yang pernah ku ceritakan, Ayahku ini hampir sering kali bersikap aneh. Mungkin mental psikologi nya sudah tak bisa dikendalikan lagi.


Hal yang ku tahu tentang Ayahku membuatku membuka mata seiring berjalannya waktu. Terkadang aku merasa takut dengan diriku sendiri dan bertanya-tanya.


Mungkinkah saat dewasa nanti seperti itu jika kehilangan hal yang berharga?


Hufh... Hah... (menghela nafas)


Tenangkan dirimu Ca, kamu pasti bisa merubah perlahan kehidupanmu.


POV Avan Nova


Saat ini aku menyelesaikan bersih-bersih untuk membereskan dan yang lain juga ikut membantu. Aku melihat Caca yang begitu cekatan melakukan pekerjaannya membuatku bersemangat.


Tiba-tiba...


Drrttt... Drrrttt... Drrrtt....


Dering ponselku yang menandakan aku menerima pesan.


Aku terkagetkan dengan dering ponselku sendiri.


'Pfffttt... '


Rasanya sungguh lucu, karena diriku terlalu mengamati Caca yang tengah tertidur pulas. Dan kaget seperti ketahuan sedang mencuri pandang ke siapa.


"Dasar deh!"

__ADS_1


Lalu aku mengecek ponselku beberapa saat, dan aku duduk di samping Caca yang tengah tertidur.


Ku scroll layar ponselku dan aku mendapati bahwa nanti malam akan ada pesta Perusahaan dari keluarga Duke.


Siapa lagi kalau bukan temanku sendiri?


"Hufh... (menghela nafas) Baru saja menikmati hari cerah..."


Sekilas aku amati kembali wajah Caca.


'Dia sungguh manis'


... 15 Menit Kemudian ...


Apa yang ku pikirkan sih?! Hampir saja aku menciumnya.


flashback ON


Selama 15 menit aku menatapi gadis yang ada di depanku membuatku ingin menciumnya. Tampak natural saat dirinya tertidur, ku koreksi wajahnya dengan dekat.


Sekitar 2 cm jarak antara bibirku dengannya dan ku tak tahan dengan tatapanku yang terlalu lama ini. Aku mengedipkan mataku dan aku tersadar membuat diriku sendiri memundurkan wajahku. Seketika membuatku menjadi canggung dan dag dig dug di jantungku.


flashback OFF


Ku lihat dia mulai mengerjapkan matanya berkali-kali seperti sedang mengumpulkan nyawanya. Aku mulai menanyakan dan tentunya memastikan.


Ku yakinkan diriku sendiri untuk tetap rileks.


Dan sepertinya memang dia tidak menyadari apapun.


"Kau sudah bangun?"


Dengan hatiku berdentum tidak tahu diri.


Aku mulai mencoba menyuruhnya untuk segera pulang. Karena memang hari ini tidak akan sampai malam.


Dan ku tinggalkan dirinya untuk membereskan dirinya sendiri. Kemudian aku mulai menuju ruang ganti untuk bersiap ke pesta Perusahaan Duke.


POV Caca Nandika


... 30 Menit Kemudian ...


Perjalanan menuju ke Rumah Sakit Sera telah berlalu. Tanpa sadar aku mulai memikirkan hal apa yang terlupa.


"Tunggu, aku ini sebenarnya mau kemana? Hari ini hari apa?"


Tanyaku pada diri sendiri membuat salah satu penumpang menjawabnya


"Hari Sabtu"


"Hah?! Sabtu?!"


Penumpang lainnya menanggapi dengan kebingungan karena tidak mengerti apa maksudnya.

__ADS_1


'Astaga... Harusnya aku besok menemui ayahku! Kenapa malah jadi hari ini?! Mana sudah sampai sejauh ini. Kalau kembali pun rasanya akan aneh. Sudahlah, jenguk saja sekalian.'


... 15 Menit Kemudian...


Sampai di tempat tujuan, aku langsung memberikan akses masuk kepada penjaga Rumah Sakit agar bisa menjenguk. Dengan kata lain tidak sembarangan orang bisa menjenguk orang yang ada di Rumah Sakit ini. Untungnya Ayah memiliki biaya asuransi yang berkualitas. Namun, tetap saja sebagian menggunakan uang paruh waktuku.


"Silahkan kesini."


"Baik,suster."


"Kondisinya lumayan stabil akhir-akhir ini. Mungkin sudah terbiasa tinggal disini. Namun, saat ini sedang istirahat. Jika ada apa-apa jangan sungkan untuk memanggil kami.", jelas suster padaku yang tengah menatapi ruang Ayah.


Aku mendekati Ayah yang sedang tertidur dengan nyenyak. Tapi tetap yang terlihat bagiku disana masih ada rasa yang kacau walaupun yang lain mengatakan bahwa baik-baik saja. Kalian pasti tahu bukan, jika keluarga itu saling mengenal lebih antara satu sama lain. Begitu juga denganku, aku anak Ayah dan Ibuku, aku mengenal mereka lebih dari siapapun.


"Papa, lekas sembuh. Aku kangen dimana kita saling bergurau penuh canda dan tawa. Aku kesepian di rumah sendiri. Aku... masih banyak hal yang memerlukan bantuan Papa. Papa jangan khawatir, aku sudah tumbuh dengan baik. Namun, tetap saja aku ingin Papa tinggal bersamaku.",ucapku lirih agar tidak membangunkannya.


Hanya itu yang bisa terucap dari hatiku yang terdalam. Sesekali tak ku sadari air mataku telah menetes dan sambil ku genggam salah satu tangan Ayahku dengan lembut. Tak banyak kata permohonan yang bisa ku ucapkan. Demi keluargaku aku harus melakukan yang terbaik.


Kemudian aku berencana untuk pergi dengan langkah letih. Mungkin aku sedang banyak pikiran tapi aku harus tetap terlihat baik-baik saja. Ku langkahkan kakiku keluar ruangan tanpa ku sadari aku melihat teman masa kecilku.


"Rendy?"


"Caca?"


"Wah-wah-kebetulan banget nih kamu ada disini... "


"???"


Aku masih bingung dengan apa yang ku lihat yaitu keluarga Rendy ada di rumah sakit yang sama denganku.


Dan seketika aku menanyakan apa yang terjadi sampai mereka ke tempat Ayahku. Tentu saja mereka tahu dimana Ayahku berada. Karena sebelumnya mereka adalah sabahat. Tak heran Ayahku mudah ditemukan.


Dengan gugup dan penuh penasaran aku mulai menanyakan apa sebenarnya yang mereka inginkan. Padahal sudah jelas bukan sebelumnya mereka bersikap acuh tak acuh padaku. Seakan-akan aku layak dibenci seumur hidup oleh keluarga mereka.


"Jadi kedatangan kami kesini adalah untuk menjelaskan tentang ...", kata-kata dari Ayah Rendy terpotong oleh Ibu Rendy.


"Nggak malu bahas begini di rumah sakit? Mending pindah saja ke restoran."


Seperti biasa, Ibu Rendy selalu bertingkah angkuh padaku.


Dan aku mengikuti mereka ke mobil keluarga Rendy. Rendy hanya diam saja tanpa mengatakan apapun. Namun, anehnya dia malah berkirim pesan padaku.


Padahal, jelas-jelas aku berada di sampingnya. Kenapa tidak langsung saja bicara coba.


Pesan Rendy


"Kamu baik-baik saja?"


"Ya. Aku baik. Ada apa?"


"Maaf sikap orang tuaku yang seperti itu padamu."


....

__ADS_1


Aku mengakhiri pesanku dengan tidak membalas isinya. Dan langsung saja ku pegang perlahan tangannya. Lalu tersenyum padanya. Seperti orang yang sedang diam-diam mencari kesempatan.


__ADS_2