
"Mungkin saja!" Balas Lily singkat.
Lily mengangguk sambil memejamkan matanya membuat Ella makin was was.
"Serius? Kamu yakin Nanda bisa selingkuh!" Ujar Ella keras sambil mengusap pelipis kanannya dwngan 1 jari.
"Ya bisa saja dia lebih menyukai game online atau mainan barunya daripada kamu!" Saut Lily tertawa.
"Ouh.." Spontan Ella. Dia tersentak kebelakang saat mendengar ucapan Lily.
"Aku serius Lily, menurutmu Apa Nanda bisa menjalin hubungan dengan gadis lain?" Tanya Ella serius.
"Hah... kamu serius La? Entahlah aku tidak yakin. Tapi aku rasa itu tidak mungkin." Ujar Lily tertawa kecil.
"Memangnya tadi pagi kalian kenapa? Bertengkar?" lanjut Lily heran.
Ella lebih memilih tersenyum saat menanggapi Lily. Dia tak mau Lily tahu apa yang terjadi tadi pagi. Dia lebih suka bungkam dan memikirkannya sendiri.
"Baikalah kalau kamu tak mau memberitahuku. Tapi saranku kalau kamu memikirkan Nanda telepon saja dia. Mungkin nanti pikiranmu akan lebih tenang." Saran Lily.
Setelahnya Lily kemudian pergi dari ruangan Ella. Ella rasa benar apa yang dikatakan Lily, kalau khawatir telepon saja. Tanpa berlama lama Ella mencari nomor Nanda dan meneleponnya.
Teet... Teet...
"Halo!" Angkat Nanda.
"Hy sayang, kamu lagi apa?" Tanya Ella.
"Em.. lagi makan siang! kenapa?" Jawab Nanda singkat.
"Syukurlah kalau kamu nggak papa, aku cemas banget dari tadi." Ujar ella sambil tertawa kecil.
"Kenapa?" Tanya Nanda.
"Ya aku cemas aja sama kamu." Lanjut Ella.
"Iya aku tahu, tadi kamu juga bilang gitu. Maksud aku kamu cemas kenapa?" Lanjut Nanda dengan Nada yang jatuh.
"Kok gitu sih mas, Ya perasaan aku nggak enak aja dari tadi. Makannya aku telepon kamu, gitu!" Jelas Ella.
"Ouh..!" Balas nanda.
"Ah oh ah oh.. Kamu makan sama apa Mas?" Tanya Ella lagi.
"Mie ayam!" Ucap Nanda.
"Hah.. kok mie ayam. Kamu masak sendiri?" Tanya ella bingung.
"Enggak atuh La, aku beli. Tadinya aku pengen nyeplok telor, tapi di kulkas telornya abis. Yang ada cuman bayem sama kangkung. Mana aku gak bisa masak lagi, yaudah aku beli mie ayam aja." Jelas Nanda.
"huft... pantes!" ujar Ella tertawa lalu menghembus nafas pelan.
__ADS_1
Sekarang dia mengerti kenapa perasaannya selalu cemas. Ternyata Nanda mengalami kesulitan di rumah.
"Kenapa ketawa?" Tanya Nanda bingung.
"Iya aku lupa bilang sama kamu. Stok bahan makanan dirumah udah habis nanti sore aku baru belanja." jelas Ella.
"Berarti Nanti sore kamu pulang telat dong La." Ujar Nanda girang dengan Nada bersemangat.
"Iya maaf ya. Tapi kok kayaknya kamu seneng banget denger aku pulang telat. " Ujar Ella.
"Hahaha... Nggak papa kok La, aku seneng kalo kamu pulang telat. Aku jadi bisa main lebih lama heheheh." Ujar Nanda tertawa.
"Dih... awas yah kalau kamu macem macem." Ujar Ella agak kesal sambil tertawa.
"Iya enggak!" Bals Nanda tersenyum tipis.
"Enggak.. enggak..! Kamu mau main keluar nggak?" Tanya Ella dengan Nada yang agak keras.
"Bentar lagi jam 2, captan blitz mau mulai. Kayaknya aku dirumah aja." Saut Nanda.
"Yaudah jangan nakal yah di rumah. Tunggu aku pulang!" Teriak ella pada suaminya.
"Iya dah.. sayang!" Ujar Nanda.
"Dah...!"
Sambungan telepon terputus, setelah berbincang dengan suaminya. Ella merasa lebih lega dan dia melanjutkan pekerjaannya.
"Hy kamu udah lama?" Ujar seorang wanita lalu duduk dikursi depan Nanda.
"Gantengnya!"Lanjut dia spontan sambil tertawa. Nanda ikut tertawa waktu itu, dia berusaha membuat suasana tidak terlalu tegang.
"Thats so funny, oh iya hari ini hari apa yah?" Lanjut Nanda.
"Hari senin!" balasnya spontan.
"Salah! Hari ini.. Hari ini kamu cantik!" Sambunf Nanda.
"Ouh.. hahahaha..!"
Mereka berdua saling tertawa bersama seusai memuji penampilan satu sama lain. Tak lama kemudian Rita memanggil seorang pelayan dan membuat pesanan.
"Saya minta mie ayam, pangsit rebus sama minumnya es jeruk." Ujar Rita pada pelayan.
"Oh iya kamu mau mesen kagi nggak? Aku traktir deh!" Ujar Rita menawarkan kebaikan hatinya.
"Nggak aku udah cukup semangkok mie ayam." Ujar Nanda lalu menyuap mie ayam yang ada didepannya.
"Okeh!" Rita kemudian memberikan kembali buku menu pada si pelayan.
"Baik tunggu sebentar ya mba!" Ujar Pelayan meninggalkan Nandan dan Rita.
__ADS_1
Kemudian Rita menatap Nanda yang sedang asyik menyantap mie ayamnya. Lalu melihat bibir Nanda yang sedikit belepotan, dia tak menyia nyoakan kesempatan. Dia mengambil tisue dan ingin mengelap bibir Nanda.
Tapi sayang Nanda bisa menyadari niatnya dengan cepat, dia langsung menghindar dan mengambil tisue di tangan Rita.
"Terima kasih!" Ujar Nanda.
"Iyah...!" Rita membalas pelan dan sedikit kesal Karena Nanda menolaknya barusan. Dasar es batu, Batin Nanda.
"Apa Kamu sangat menyukai makanan tiongkok?" Tanya Rita.
"Tidak, aku lebih suka masakan rumahan biasa. Hanya saja makanan seperti harganya murah, jadi aku sering menyantapnya." Jelas Nanda.
"Ngomong ngomong aku belum tahu siapa namamu?" Tanya Rita melanjutkannya.
"Namaku tak penting, tapi kamu bisa memanggilku es batu. " Ujar Nanda sambil tertawa.
"Tentu saja itu penting! Aku berhak mengetahui namamu karena semalam aku baru saja mengalahkanmu. Ingat!" Ujar Rita merasa bangga dengan dirinya.
"Mengalahkanku? Hal itu hanya akan terjadi jika kamu bermimpi. Kenyataannya kamu yang kalah, aku sengaja meningggalakan nomer teleponku supaya kita bisa bertemu lagi." Ujar Nanda sambil memgangkat sebelah alisnya.
"Oh yah, kalau begitu kenapa kamu ingin bertemu lagi denganku?" Tanya Rima sambil menatap mata Nanda.
Nanda melihat dengan seksama mata gadis didepannya. Penuh dengan arogansi dan ambisi yang kuat sama seperti ayahnya.
"Kamu harus bertanggung jawab padaku!" Nanda kemudian memperlihatkan bekas merah yang berada dipangkal bawah lehernya pada Rita. Rita tertawa melihat bekas merah itu.
"Kenapa? apa aku mebuatmu meleleh? Dengar yah bocah es batu Itu adalah hal yang biasa, saat kau bersama wanita 1 atau 2 tanda seperti itu akan kamu dapatkan sayang!" Ujar Rita tertawa.
"Jangan sembarang! Aku bukan tipe pria yang kamu pikirkan. Hal ini baru bagiku, karena itu kamu harus membayarnya." Ujar Nanda.
"Baiklah aku mengerti maksudmu. Bagaimana kalau supaya impas kamu juga memberikan tanda padaku. Disini atau dimanapun yang kamu inginkan." Ujar Rita sambil menujuk kebelahan dadanya yang sedikit terbuka dan dapat dilihat mata telanjang.
"Kamu masih dibawah umur bocah!" Ujar Nanda menantang.
"Kamu satu satunya orang yang berani memanggilku bocah. Aku bisa membuktikan kekuatanku padamu, Bagaimana kalau malam ini? aku yang akan membayar hotelnya." Balas rita serius.
"Hahahah.. tawaran yang menarik." Ujar Nanda tertawa.
.
.
.
.
.
.
Like comment vote
__ADS_1