
"Mas, tadi benerkan alex nggak liat kamu?" Tanya Ella sambil merebahkan badannya ke ranjang.
"He'em" Balas Nanda malas
"Mas lain kali kalo kamu ketemu sama alex, kamu lari aja yah!" Pinta Ella pada suaminya.
"Huftt..." Nanda menghela nafas panjang.
Dia kemudian berbalik dan tidur menyamping menghadap istrinya yang sedang berbaring.
"Abis pulang dari panti sampai sore, malem, terus mau tidur lagi. Alex terus yang kamu omongin, gak bisa apa bahas yang lain." Ujar Nanda ketus.
"Ya akukan khawatir mas!" Saut Ella.
"Khawatir sama Alex!" sambung Nanda spontan.
"Loh nggak! ya khawatir sama kamu Lah, masa sama Alex!" Tegas Ella.
"Alah bohong!" Ketus Nanda.
Dia kemudian tidur terlentang karena sudah muak mendengar perkataan istrinya.
"Mas dengerin aku!" Ujar Ella keras.
"Hm... "
"Yang namanya Alex itu kalo udah marah, cewe aja ditampar sama dia. Apalagi kalo cowo coba, apalagi kalau kamu yang ada didepan dia." ujar Ella.
"Kalau dia nampar aku, ya aku tampar dia baliklah. Pake kaki!" Lawan nanda.
"Alex itu kuat mas!"
"Aku juga kuat La!"
"Alex lebih kuat dari kamu!"
"Belain aja terus!" Ujar Nanda jengkel.
Dia kemudian berbalik dan tidur membelakangi istrinya. Ella yang melihat suaminya gusar dari tadi mencoba menarik bahu Nanda untuk tidak membelakangi dirinya lagi.
"Mas! dih gitu aja ngambek!" Gumam Ella keras.
"Biarin!" Ketus Nanda.
"Ngambeknya diem dieman lagi kayak cewe." Ujar Ella keras.
Setelah mendengar perkataan Ella. Nanda kemudian berbalik dengan cepat dan menghadap ke arah istrinya.
"Sadar diri dong!" Teriak Nanda di depan wajah Ella.
"Heh.. kok kamu bentak aku." Balas Ella kembali berteriak.
"Ya emang kamu nggak pernah ngambek kek tadi. Setiap kamu marah kamu juga kayak gitu, diam mulu dipojokan kayak gantungan mantel." Lanjut Nanda dengan Nanda jengkel.
"Hah.. Nanda, tega kamu yah marahin aku kayak gitu." Ujar Ella jengkel sekaligus terkejut.
"Apa? Emang gitu kok kenyataannya." Tegas Nanda.
"Ngga tau ah males!" Kini giliran Ella yang membelakangi suaminya.
"Tuhkan ngambeknya gitu!" Jelas Nanda.
"Ya biarin!" ketus Ella.
"Aku belum selesai ngomong ya La, sini kamu." Tegas Nanda.
"Nggak mau ah! bodo!" Ujar Ella.
Nanda berusaha membalikan badan Ella dengan tangannya tapi Ella keras. Dia sudah kadung jengkel pada lelaki yang telah menikahinya dulu.
"Pedahal niat aku baik, Aku cuman takut kalau kamu kenapa kenapa sama Alex. Kamu malah marah marah kek gitu." Jengkel Ella.
"Alex lagi." Gumam Nanda melandai.
"Tuhkan kamu nggak ngerti!" Bentak Ella keras.
Beberapa saat keadaan menjadi hening. Mereka tak mau berbicara bahkan hanya menatap satu sama lain saja mereka tidak mau.
__ADS_1
Ella masih membelakangi suaminya sambil sesekali mengusap tetes tetes kecil air dari sudut matanya. Sementara Nanda sedang mencari akal untuk memulai perbincangan lagi.
"Pasti nih, ujung ujungnya aku yang harus minta maaf!" Gumam Nanda.
"Apasih kamu tuh? Nggak enak banget didengernya ketus mulu." Saut Ella keras.
"Apapun masalahnya, gimanapun awalannya pasti akhirnya aku yang disalahin. Aku tuh capek!" Teriak Nanda.
"Ya emang kamu yang salah kok!"
"Enggak!"
"Kamu yang mulai bentak bentak aku dari awal." Tegas Ella.
"Oh gitu ya udah iya aku yang salah! Semuanya Nanda yang salah. Ellamah selalu bener!" Tegas Nanda.
"Kok kamu sekarang jadi gini sih!" Gumam Ella lirih.
"Aneh! kenapa sih dulu aku bisa suka sama kamu." Gumam Nanda pelan.
"Ya emang kenapa? Kamu nyesel cinta sama aku. Yaudah sana keluar!" Teriak Ella jengkel.
"Nggak nyesel sih, cuman heran aja." lanjut Nanda santai sambil tertawa kecil.
"Kenapa ketawa?" Tanya Ella heran mendengar suara tawa dari suaminya.
Nanda kemudian tidur menyamping menghadap punggung istrinya yang masih marah.
"Sejak pertama kali aku liat kamu tidur di trotoar, aku langsung jatuh cinta sama kamu." Ujar Nanda pada Ella.
"Bohong!" Balas Ella.
"Terus Waktu aku gendong kamu sampai ke apartemen, rasanya tuh dunia milik kita berdua." Lanjut Nanda.
"Diem!" Gumam Ella.
"Pas aku tidur semalam sama kamu. Aku berharap malam itu nggak akan pernah berakhir."
"Kamu mau apasih yank?"
"Eh besoknya pas kamu minta supaya aku nikahin kamu. Rasanya aku jadi pria paling beruntung karena minpi dan harapan aku bisa tercapai." Ujar Nanda halus.
"Ah kamumah mau gombal doang!" Ujar Ella mulai gusar. Melihat tingkah suaminya yang makin meresahkan.
"Aku nggak bohong yank!" Ujar Nanda sambil menyentuh bibir kecil Ella.
Ella kemudian memegang tangan Nanda yang berusaha meraih bibirnya. Dia menetap lurus kearah suaminya, dan memunculkan satu pertanyaan yang sudah lama tersimpan dikepalanya.
"Terus gimana waktu awal awal kita nikah?" Tanya Ella.
"Hum.. kesel, capek, mangkel, itu yang aku rasain. Setiap hari kamu marah marah bahkan kadang kadang mukul aku. Sampai sampai nggak ada yang tahu aku mau meninggal karena ketabrak mobil." Ujar Nanda.
"Tapikan abis itu aku temenin kamu terus di rumah sakit." Gumam Ella merasa bersalah.
"Kapan? Pas aku bangun kamu nggak ada dirumah sakit." Ujar Nanda mengerutkan dahi.
"Kamu lagi koma, jadi ya kamu nggak inget. Tapi emang aku yang salah. " Saut Ella.
cup......
Mata Ella membundar saat tiba tiba Nanda mencium bibirnya. Nafasnya berhenti sesaat, perasaannya semakin gusar tidak karuan.
"Aku nggak peduli siapa yang salah. Karena setelah itu Ella jadi baik sama aku. Kamu ajak aku ke salon, ke mall, makan direstoran. Aku seneng bangret La setiap kali kita ngabisin waktu berdua." lanjut Nanda tepat didepan wajah Ella.
Jarak wajah mereka bahkan sangat dekat mungkin sekitar 3 cm lagi sebelum mereka berciuman.
"Makasih ya La, kamu ngasih mimpi, harapan, kenyataan, siksaan, makian, kasih sayang sama cinta kamu ke aku. sekarang Aku ngerasa jadi pria paling beruntung di dunia." Lanjut Nanda.
Ella kemudian mengambil jarak dan mengatur nafasnya lagi seusai adegan panas tadi.
"Tapi sekarang aku ngerasa jadi wanita paling bodoh di dunia." Ujar Ella.
"Hah? kok gitu!" Ujar Nanda bingung.
"Ya aku udah kasih semuanya ke kamu. Mimpi, harapan, kenyataan, siksaan, makian, kasih sayang, sama cinta aku. Tapi kamu ngasih apa buat aku? yang aku dapetin cuman rasa jengkel sama gedeg liat kelakuan kamu tau nggak!" Balas Ella ketus.
Nanda mengerutkan dahi terus dia tersenyum geli mendengar perkataan istrinya. Dia sadar sebenarnya Ella menuntu sesuatu yang sepadan bagi dirinya.
__ADS_1
"Ehm... kalo aku kasih benih bayi mau?" Tanya Nanda.
"Mesum ih..!" Lanjut Ella kaget sambil menghindar dari suaminya.
"Nggak papa La, kalo nanti kita panen. Aku deh yang gendong dia terus." Lanjut Nanda.
"Kalau Nanti kita panen yang jadi ibunyakan aku bukan kamu!" Ujar Ella geli menatap Nanda.
"Iya tapikan tanemnya harus pake tenaga. Kamu sih enak tinggal pasrah aja."
"Aku nggak pernah pasrah aja pas kita cocok tanem!"
"Hem.. " Nanda menghembus Nafas panjang.
"Aku cinta sama kamu La!" Ujar Nanda halus.
"Udah? cuman cinta aja?" Ujar Ella.
"Ehm.. Anu eh itu hem.."
Nanda kemudian menarik tengkuk istrinya dan mencium Bibir Ella lagi kali ini dengan durasi yang lebih lama dan beberapa kali pertemuan.
"Mas.. !"
Much.. much.. much.
"Mas, kamu belum jawab pertanyaan aku." Ujar Ella agak kesal sambil mengelap tipis bibirnya.
"Kalau masalah kata kata aku kalah. Tapi kalo masalah tindakan nggak ada yang bisa ngalahin aku." Ujar Nanda.
"Aku pengin punya anak cewe La, biar bisa aku manjain setiap hari." Saut Nanda.
"Kamu yakin mau punya anak sekarang?" Ujar Ella tertawa.
"Iyah! Harus sekarang, Biar nanti aku bisa pamer sama Lily." Ujar Nanda.
"Kita nggak bisa selamanya bersama, tapi kita bisa selamanya bersatu. Kalo kita punya anak, kita nggak akan berpisah lagi." lanjut Nanda.
"Yaudah deh, aku mau satu yang lucu. Tapi harus laki laki biar matanya mirip sama kamu." Pinta Ella tertawa.
"Cewe aja!"
"Harus cowo!" tegas Ella.
"Ehmm.... ada lagi?" saut Nanda gembira.
"Nanti dech.. aku pikirin lagi." Ujar Ella.
"Ehm.. okeh kalau gitu."
Tanpa membuang lebih banyak waktu lagi Nanda langsung memanjai istrinya. Dia menciumi seluruh wajah Ella dengan brutal termasuk dibagian lehernya.
"Ayang..! kamu mulai berani yah sama aku." Ujar Ella tertawa.
"Biarin La, yang pentingkan bukan istri orang." lanjutnya tertawa.
"Aku hajar kepala kamu kalau sama istri orang!" Tegas Ella.
"Galak banget sih yang!"
Kemudian Nanda berpindah ke posisi yang lebih intim diatas Istrinya. Ella juga menyambut Nanda dengan baik, dia langsung memeluk Nanda erat dan mendekapnya.
Nanda tak mau membuang waktu dia mencium bibir Ella dengan waktu yang cukup panjang dan bertukar kehangatan. Sementara tangan tangannya sudah tak bisa lagi menahan gatal untuk menyusuri gunung kembar milik istrinya.
"Agrghh...!" Satu desahan lolos dari Ella.
.
.
.
.
.
.Like comment vote
__ADS_1