
"Akhirnya sampai juga,"kata Suyira
"Tunggu. Ada pergerakan di depan kita,"jawab Eldast
"Berapa orang ?"tanya Tatra
"Yang terbaca baru lima orang,"jawab Eldast
Mereka berjalan mengendap - endap menggunakan jubahnya.
"Mereka sepertinya sudah menunggu kita,"jelas Eldast menggunakan pikirannya
Suyira memegang tangan Eldast dan Tatra memegang lengan penjaga.
Mereka berlari sangat cepat.
Orang - orang yang di hutan itu mengejar mereka.
Mereka berusaha menghambat langkah kaki mereka dengan membuat akar - akar pohon menjerat kaki mereka.
Namun, Suyira dan Tatra jauh lebih cepat.
Beberapa musuh bingung apa yang harus dilakukan.
"Ada yang memiliki kekuatan pikiran di antara mereka,"kata salah satu musuh yang berdiri di atas ranting pohon.
Tubuhnya yang tegap, tinggi dan kulitnya bewarna putih pucat.
Dia menutup matanya dan membuat pengikutnya yang tadi kebingungan akhirnya mengejar mereka lagi.
"Mereka mengejar kita lagi,"kata Tatra
"Ada yang memiliki kekuatan yang sama denganku,"jawab Eldast
Eldast memejamkan matanya.
"Dia ada di atas salah satu pohon,"jelas Eldast
****
"Halo adikku,"kata laki - laki yang di atas pohon tadi menggunakan kekuatan pikirannya
"Kakak,"jawab Eldast
"Apa kabarmu ?"tanya laki - laki itu
"Baik, kak. Kenapa kakak seperti ini ?"tanya Eldast
"Inilah jalanku dan sepertinya kau pun sudah menentukan pilihanmu,"jawab laki - laki itu yang sudah menjadi Sang Tangan Kiri.
****
"Ada apa Eldast ?"tanya Tatra melihat wajah temannya sedih
"Kakakku yang memimpin pengejaran ini,"kata Eldast
"Kakakmu yang mana ?"tanya Tatra sambil membuat batu - batu bertebangan ke arah musuh
"Yang tertua,"jawab Eldast
"Yang umurnya lebih tua dari umur ayahmu,"terang Tatra
Eldast berdasarkan garis keturunannya memiliki lima saudara yang tidak sedarah langsung dengan ayahnya.
Salah satunya adalah Eltader.
"Iya,"jawab Eldast
"Sial,"kutuk Tatra
****
Mereka berlari menuju ke kastil Langit melalui jalur pinggir pantai.
Salah satu musuh mengirim kabut beracun ke arah mereka.
Suyira merasakannya.
Suyira berhenti berlari dan membuat dinding air yang cukup tinggi sehingga kabut itu menghilang.
Eldast membuat musuh berpikir mata mereka buta supaya langkah mereka tetap di depan musuh.
Penjaga yang dipegang Tatra menghunuskan pedang ke arah Tatra.
Ujung pedangnya dilumuri dengan racun.
__ADS_1
Tatra merasakan seperti terbakar di pundaknya.
Dia menyerang Tatra menggunakan kekuatan air dan pedang.
Suyira yang melihat hal itu langsung menyerangnya menggunakan kekuatan listrik tepat di dadanya.
Penjaga tadi langsung jatuh ke tanah.
Kakak Eldast yang melihat hal itu dari kejauhan terkejut dengan kekuatan Suyira.
Suyira langsung menghampiri Tatra dan mengobati pundaknya dengan air penyembuh.
Mereka akhirnya berhasil disusul oleh musuh.
Suyira yang geram dengan pengkhianatan penjaga itu, menghujani musuh dengan petirnya.
Musuh itu sudah mengantisipasinya dengan membuat perisai dari tanah liat di atas kepalanya.
"Kak, maafkan aku,"bisik Suyira
"Tidak apa - apa,"jawab Tatra yang masih merasakan nyeri di bahunya
Eldast tau jika Tatra sudah tidak bisa bertarung lagi.
****
"Eltader datanglah ke sini,"kata Tatra
"Ada apa ?"tanya Eltader
"Kami diserang kakak tertuamu,"jelas Tatra
"Kalian dimana,"kata Eltader
Tiba - tiba koneksi mereka terputus.
****
"Kakak menghubunginya,"kata Eldast dengan nada tidak senang
"KAU yang memutuskan koneksi kami,"jawab Tatra
"Tidak,"kata Eldast
"Maaf. Sekuat apapun Suyira jika dia melihat keluarganya disakiti maka pikirannya mudah untuk dipengaruhi,"jelas Tatra
"Kakak benar. Kita butuh bantuan,"kata Eldast
****
Musuh menghentakkan angin ke arah mereka. Suyira membuat dinding batu di depannya dan melewatkan angin tersebut.
Eldast bersembunyi di balik pohon bersama Tatra.
Suyira melemparkan panah api ke arah mereka dalam jumlah yang banyak.
Musuh langsung membuat dinding air.
Pergerakan Suyira seperti dibaca oleh musuh.
Eldast menyadarinya.
"Kakakku memberitahukan pergerakanmu,"kata Eldast
"Baiklah. Aku akan mengatakan dengan jelas pikiranku,"jawab Suyira
****
"Aku akan menyerang menggunakan kekuatan petir,"teriak Suyira
Musuh awalnya kebingungan dengan perkataan lantangnya
Suyira mengirim petir dari langit dan musuh membuat perisai di atas kepalanya.
Suyira menembakkan petir lurus langsung ke tubuh musuh.
Satu musuh terkena.
"Aku akan membuat kabut,"teriak Suyira
Musuh berusaha membuat dinding air di sekeliling mereka.
Yang tidak mereka duga adalah Suyira berlari ke arah mereka dengan cepat.
Musuh belum sempat membuat dinding air saat Suyira menghentakkan angin ke tubuh mereka sehingga kabut hitam gelap menyelimuti mereka.
****
__ADS_1
Sang Tangan Kiri akhirnya turun tangan dan menghapus kabut itu.
"Menarik kekasihmu ini Eldast. Tidak salah kau memilihnya,"kata Sang Tangan Kiri
"Jangan berpikir kau bisa mengambil kekuatannya,"jawab Eldast keluar dari balik pohon.
Musuh menyerang Suyira dengan kekuatan air dan bumi. Batu dan panah es dalam jumlah yang besar berterbangan ke arah mereka.
Sang Tangan Kiri menyerang Suyira langsung dengan kekuatan api.
Suyira tidak bisa menghindari api tersebut.
Tiba - tiba api tersebut menghilang.
****
"Kau tidak apa - apa, anakku,"kata paman Firye menoleh ke arah Suyira.
Suyira mengganggukkan kepala
"Maaf,"kata Rerast menggunakan pikirannya ke Suyira
"Tidak apa - apa. Kami memang butuh bantuan,"jawab Suyira
****
"Tatra.. kau tidak apa - apa temanku,"tanya Eltader menghampiri Tatra yang sedang duduk di balik pohon
"Di belakangmu,"jawab Tatra melihat musuh berusaha menyerang mereka
Eltader membuat musuh menyerang tubuhnya sendiri.
"Aku terlihat payah khan,"kata Tatra meringis menahan sakit
"Kita pergi dari sini,"jawab Eltader
"Tunggu sebentar,"kata Tatra berusaha untuk berdiri
"Kak, pergilah,"kata Suyira
Eltader memapah tubuh Tatra.
****
"Berani sekali kau menggunakan kekuatanku untuk menyerang anakku,"kata paman Firye
Rerast mengeluarkan api biru yang meloncat - loncat ke arah musuh.
Musuh sibuk menghindari api yang bergerak cepat itu.
"Larilah Suyira. Luxi sudah bersiap di batas pelindung Langit,"bisik Rerast
Suyira dan Eldast melanjutkan perjalanan mereka.
"Kemana mereka pergi. Mereka tidak kawin lari khan,"tanya paman Firye
Rerast kadang - kadang tidak habis pikir dengan pikiran pamannya.
****
Sang Tangan Kiri berusaha untuk mengejar namun dihalangi paman Firye.
"Sudah kubilang padamu bukan,"kata paman Firye membuat cambuk api dan mengikatnya sangat kencang.
Sang Tangan Kiri membuat pedang dari air dan memutuskan ikatan itu.
"Benamkan dirimu ke air laut,"bisik Sang Tangan Kiri ke pikiran paman Firye
"Jangan coba - coba masuk ke pikiranku,"teriak paman Firye marah.
Paman Firye membuat lingkaran api biru di sekeliling Sang Tangan Kiri.
Sang Tangan Kiri membuat air untuk memadamkannya namun tidak bisa.
Paman Firye menghampirinya dan melewati api biru yang dibuatnya.
Sang Tangan Kiri menyerang dengan menyemburkan api dari tangannya.
"Kau tidak berhak menggunakan kekuatanku,"teriak paman Firye
Dia memegang tangan Sang Tangan Kiri menariknya jatuh ke tanah dan menahannya.
"Wahai penguasa seluruh kekuatan yang ada di muka bumi. Aku meminta ijinmu untuk mengambil kekuatan apinya dan dikembalikan ke alam bebas,"teriak paman Firye
Sang Tangan Kiri berteriak kesakitan dan paman Firye merasakan sensasi yang hangat.
Tiba - tiba api biru yang melingkari mereka menghilang.
__ADS_1
Sang Tangan Kiri menghempaskan paman Firye dan pergi melarikan diri.