Pasak Bumi

Pasak Bumi
Penjemputan Aretra


__ADS_3

Lima tahun kemudian


Hari ini di kastil Arial Nuch


Semua orang berkumpul di sebuah ruangan.


Berdiri di tengah mereka seorang anak perempuan yang disulap menjadi lebih cantik dari biasanya.


Anak perempuan itu berdiri di atas lantai marmer bulat berwarna putih yang lebih tinggi dibadingkan lantai lainnya.


Di atas kepala anak itu terlihat atap yang transparan berbentuk kubah terlihat keindahan bawah laut.


Anak perempuan itu menghadap ke arah laki - laki paruh baya.


Bukan hanya anak perempuan itu saja, semua orang yang ada di ruangan itu menghadap ke arah laki - laki paruh baya tersebut.


Ada tiga langkah perempuan yang menggunakan tudung dari atas kepala sampai mata kaki menuju ke arah anak perempuan tersebut.


Perempuan yang di tengah membawa baki yang berisi sebuah kotak perhiasan kecil.


Bersamaan dengan kedatangan mereka, ada sebuah langkah kaki yang setengah berlari berusaha mendahului mereka dan berhasil menuju ke arah anak perempuan itu.


"Ingat kakakku yang cantik kendalikan dirimu. Paman Flyied sedang berdiri di sebelah kiri. Kita akan melewatinya,"kata salah satu perempuan yang berjubah menggunakan pikirannya.


"Princesss .. Tuan Arell tidak akan datang,"kata laki - laki itu


Anak perempuan itu menoleh dan terkejut. Semua yang ada di ruangan itu terkejut dan terdiam.


Perempuan yang membawa baki itu terkejut dan menjatuhkan kotak perhiasan. Membuat isi kotak perhiasan bergulir lebih jauh ke kaki paman Arol. Paman Arol memungut cincin tersebut.


"Apa maksudmu tidak datang ?"kata paman Teeran geram


"Dia lagi .... mengejar Swarla karena Swarla melarikan diri mendengar berita pertunangan ini,"kata laki - laki itu sambil tertunduk ketakutan.


Anak perempuan itu menuruni tangga altar tersebut berjalan menuju ke arah perempuan yang berjubah.


"Berikan jubahku,"kata anak perempuan.


Perempuan itu mengambil jubah yang ada di atas baki itu dan menyerahkan padanya.


"Jangan pergi, anakku,"kata paman Teeran


"Tidak ayah. Aku sudah berjanji jika dalam waktu sepuluh menit dia tidak datang aku akan pergi dengan mereka. Keluarga kita selalu menepati janjinya. Iya bukan ?"kata Aretra


Paman Teeran tidak bisa mengatakan apapun dan hanya diam tidak bergeming. Namun, suara - suara batu dari atas bukit jatuh ke bawah air laut mulai terdengar. Bibi Ariel berusaha menenangkan paman Teeran.


"Ingat. Akupun dari sana. Aku bisa keluar dari tempat itu. Lagipula untuk kondisi sekarang bukankah tempat itu yang paling aman. Dan anak kita terhindar dari perjodohan yang terjadi bukan atas dasar cinta,"kata bibi Ariel membisikkan ke telinga paman Teeran

__ADS_1


Paman Teeran memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya. Tidak terdengar lagi ada batu- batu yang berjatuhan dari atas bukit.


"Kalau begitu biarkan aku mengantar kalian ke atas,"kata paman Teeran


Ketiga wanita yang berjubah itu menjawab dengan memberikan anggukan.


"Sebaiknya kau jauhkan dia dariku. Kau tau apa yang bisa kulakukan sekarang,"kata paman Teeran terhadap paman Arol.


"Kalian begitu diam,"kata bibi Ariel


"Ada aturan bagi kami yang jadi penghuni ruangan gelap,"kata Flay


"Mengenai hal itu saya dapat memahaminya. Tapi bukankah ini kesempatan berharga bagi kalian untuk bisa menikmati matahari,"kata bibi Ariel tersenyum


Mereka bertiga menganggukkan kepala


"Inilah saatnya,"kata Flay saat sudah di tepi pantai.


Paman Teeran, Tatra dan bibi Ariel memeluknya satu persatu. Melihat hal itu membuat Suyira merasa sedih. Tatra mendekati mereka, saat Aretra masih berbicara dengan kedua orangtuanya.


"Melihat jejak langkah kalian sepertinya kalian masih muda. Tolong titip adikku. Anggap seperti adik kalian sendiri,"kata Tatra bersungguh - sungguh. Suyira menganggukan kepala. Tatra terlihat lega.


"Kita kemana kak ?"kata Aretra ketika mereka sudah keluar dari kastil Bumi


"Menjemput dua orang lagi,"kata Suyira.


Sejam yang lalu


Tamu tak diundang


"Kami ingin bertemu dengan Aretra secara pribadi,"kata salah satu perempuan yang menggunakan jubah.


"Kalian bukan tamu disini. Jadi kami tidak mengijinkan,"kata salah satu penjaga pintu gerbang kastil Arial Nuch


"Kami adalah tamunya. Kami sudah memiliki janji saat dia dilahirkan,"kata salah satu perempuan itu


"Biarkan mereka masuk,"kata salah satu penjaga yang baru datang dari dalam kastil dan menghampiri mereka


"Tapi... ,"kata salah satu penjaga


"Tidak ada tapi. Lakukan saja. Saya yang akan mengantarkan kalian ke dalam,"kata penjaga tersebut.


Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup besar.


Mereka bisa melihat akurium raksasa berisi berbagai jenis hewan laut.


Pintu ruangan mereka terbuka dan berdiri seorang anak perempuan yang cantik, warna matanya sangat biru, kulitnya putih tetapi rambutnya berwarna coklat tembaga.

__ADS_1


"Kalian sudah datang. Akan tetapi, hari ini saya akan bertunangan,"kata Aretra sedikit cemas


"Kami hanya menjalankan amanat untuk berjaga - jaga saja,"kata salah satu perempuan itu


"Anehh... bukannya aku sudah bilang sama nenek kalau bukan dia yang merupakan kerabat .. tidak boleh yang lain menjemputku. Dia tidak menepati janjinya,"kata Aretra sedikit tidak percaya.


Salah satu perempuan itu terkejut dan akhirnya memahami maksud nenek menyuruhnya datang.


Dia melepaskan penutup kepalanya


"Aku bukan orang lain. Aku adalah kakakmu. kakak sepupumu. Namaku Suyira,"kata Suyira.


Anak perempuan itu terkejut mendengar kabar kalau kakaknya masih hidup.


"Apa buktinya ?"kata Aretra


Suyira menceritakan penculikan Tatra oleh paman Arol di danau Leakef dan perjalanannya menyelamatkan Tatra sampai harus ke kastil Arial Nuch.


Anak perempuan itu langsung menghampirinya dan memeluknya.


"Ayah mana.. ayah pasti senang mendengar kabar ini,"kata anak perempuan itu kesenangan sambil menuju ke pintu namun dihalangi Suyira.


"Kenapa ?"kata Aretra bingung


"Ini untuk keamanan semua orang. Semakin sedikit yang tau semakin baik,"kata Suyira


"Apakah di sana begitu menakutkan ?"kata Aretra


"Bukan menakutkan. Hanya kebebasan kita terenggut dan hidup penuh aturan. Sehingga pergi keluar .... seperti ini... rasanya sangat menyenangkan,"kata Suyira tersenyum


"Ohhh ... kupikir aku akan disiksa,"kata Aretra


"Bukan penyiksaan tapi kerja rodi,"kata Rerast tidak sabar dan membuka tudung jubahnya.


Suyira memperkenalkan kedua temannya.


"Yang tadi berbicara itu namanya Rerast. Dia anak perdana mentri dari kota Bath,"kata Suyira


"Akhirnya kita harus membuka penyamaran kita,"kata Flay


"Dia adalah Flay. Anak dari paman Flyied,"kata Suyira


"Kak, paman Flyied juga hadir disini,"kata Aretra


Mendengar informasi tersebut membuat Flay terkejut.


"Aku bisa mengendalikan diri,"kata Flay berusaha tenang

__ADS_1


"Kurasa itu artinya dia tidak bisa mengendalikan diri,"kata Rerast


__ADS_2