
"Munafik,"kata El.
El adalah seorang kakek tua terkesan rapuh. Rambutnya putih panjang menjuntai sampai ke pinggang dan warna kulitnya putih pucat semakin menambah kesan tersebut.
"Kau kira kau tidak tau maksudku?"kata Eldester
"Kau sebenarnya bertanya atau sekedar menjerumuskanku,"kata El
"Kau pikirkan sendiri kakek tua,"kata Eldester
"Aku tidak menyangka .. aku sedang berurusan dengan ular,"kata El
"Jangan coba - coba mendekatiku,"kata Eldester tertawa
"Kau ingat ituu.. camkan baik-baik.. jika kau mengganggu hidupku lagi akan kuhancurkan hidupmu,"kata El
"Bagiku... melihatmu seperti sekarang sudah lebih dari cukup,"kata Eldester
"Brengsekkk ...,"kata El
Edsel masuk ke dalam ruangan itu dan melihat kakeknya sudah terbaring dekat perapian.
"Kakek... Apa yang terjadi padanya ?"kata Edsel
"Tiba - tiba dia tidak sadarkan diri,"kata Eldester
"Kakek ... bangun kakek,"kata Edsel
"Sial ... mereka datang,"kata Eldester
"Paman, apa yang terjadi ?"kata Edsel
"Aku harus melakukannya,"kata Eldester
"Tidakkkk...,"kata Edsel
Paman Edsel terbangun dalam mimpinya dan memilih berjalan - jalan di sekitar taman kastilnya.
****
Suyira dan anggotanya melanjutkan perjalanan ke kastil Langit.
Namun langkah mereka dihentikan oleh penjaga pelindung keempat kastil Langit
"Kedatangan kami ke sini adalah ingin membawa Celli ke kastil kami,"kata Suyira
"Silahkan ikuti kami,"kata penjaga pelindung keempat
Mereka memutari jalan yang panjang, berkelok dan kembali ke titik semula. Suyira yang pernah tinggal di kastil Langit tau tentang hal itu.
"Kalian ingin membawa kami kemana ? Ini bukan jalannya"kata Suyira
"Rupanya kalian tahu. Ini adalah permintaannya. Dia bersedia ikut jika kalian bisa menemukannya,"kata penjaga pelindung keempat kastil Langit
__ADS_1
"Selamat mencari,"kata penjaga yang satunya lagi sambil tersenyum.
"Mereka meninggalkan kita begitu saja,"kata Aretra tidak percaya
"Jika memang benar mengenai perjanjian waktu itu, aku mohon padamu tunjukkanlah jalannya,"kata suara berbisik sambil menyentuh tanah dibawah kakinya.
Tiba - tiba di dalam tanah ada sesuatu yang menonjol dan bergerak. Ternyata itulah adalah akar pohon Fog - Fog yang sedang menunjukkan jalan.
"Oke. Ayo bergerak,"kata Suyira
Mereka masuk ke dalam hutan yang bersalju. Di kejauhan terlihat seorang anak perempuan yang tidur bersandar pada sebuah pohon.
"Akhirnya kalian sampai juga. Apa kabarnya kak ?"kata Celli
Suyira langsung tersenyum dan membuka tudungnya.
"Hanya kakak yang bisa berbicara dengannya. Tentunya selain aku,"kata Celli tersenyum
"Sudah lama menunggu ?"kata Suyira langsung memeluknya
"Tidak. Kakak menemukanku dengan cepat. Paman sedang menunggu kakak di kastil utama,"kata Celli
"Jangan katakan kalau kakak masih hidup,"kata Suyira
"Baiklah,"kata Celli
Sementara itu, di balik tudungnya Flay memperhatikan Celli.
Kakinya tiba - tiba bergerak ke arah mereka.
"Kenapa tidak ke sana ?"kata Rerast
"Tidak. Lebih baik dia tidak tau. Nanti ada saatnya,"kata Flay langsung beringsut.
Mereka berjalan menuju ke kastil utama. Di sana sudah menunggu paman Coeli, bibi Sellen dan Luxi.
Melihat Suyira, bibi Sellen hampir beranjak dari posisinya dan mau memeluknya. Melihat Luxi, Suyira ingin sekali memeluk kakaknya.
"Sepertinya ditemukan,"kata paman Coeli lesu
"Sudah saatnya kami membawanya,"kata Flay
"Baiklah,"kata paman Coeli pasrah
"Tolong jaga dia,"kata Luxi
"Pasti kami akan menjaganya,"kata Flay
Perjalanan pulang ke kastil Biara terasa mudah.
"Akhirnya kalian datang tepat waktu,"kata penjaga pintu gerbang kastil biara.
__ADS_1
Saat mereka mau masuk ke dalam.
"Sebelum kalian masuk, kalian akan diperiksa dulu,"kata penjaga itu
"Silahkan,"kata Flay
Penjaga itu terkejut melihat yang dibawa oleh Rory.
"Bukankah sudah kubilang jangan membawa apapun. Apakah kau tidak menyampaikannya ?"kata penjaga
"Saya sudah menyampaikannya,"kata Suyira
"Ayolahhh ... tante penjaga. Bolehkan saya membawa ini ? Saya sudah meninggalkan boneka saya di rumah, lipgloss, gelang dan banyak yang lain. Masak yang ini juga ditinggal,"kata Rory memelas
Rerast, Suyira dan Flay hampir tidak bisa menahan tawa karena Rory memanggilnya dengan nama tante penjaga.
"Tidak boleh,"kata penjaga itu tegas
"Bagaimana jikà kuberikan ini sama tante ?"kata Rory menunjukkan uang berwarna merah dengan jumlah 10 lembar.
Penjaga itu seperti sedang menimbang - nimbang.
"Nanti kuberikan yang lebih banyak lagi. Lagipula kami khan tidak berbuat jahat. Hanya sedikit penghiburan di ruangan yang gelap,"kata Rory membujuk lagi
"Oke. Baiklah. Tapi ingat jangan sampai ketahuan. Satu lagi jangan panggil tante lagi,"kata penjaga
Mereka semuanya terkejut.
"Jadi manggil apa dong ?"kata Rory yang akhirnya berteriak kesakitan karena pinggangnya dicubit oleh Flay.
Penjaga itu terkejut dan terdiam.
Rory menatap ke arah Flay dan cemberut. Flay rasanya geram dan menunggu kapan saatnya penjaga itu marah.
"Panggil saja dengan bibi,"kata penjaga
"Baiklah Bi,"kata Rory tersenyum.
Mereka semua hanya terdiam sambil masuk ke dalam kastil.
"Kak, dimana ruangan kami ?"kata Rory
"Di bawah. Kakak akan mengantar ke sana,"kata Suyira
"Woww kau memang benar - benar hebat,"kata Flay
"Hemm tadi siapa yang mencubit pinggangku,"kata Rory sebal
"Buka begitu. Kami saja tidak tahan dengan sikap galaknya selama ini. Bagaimana kalau dia kumat nanti kita juga dihukum,"kata Flay
"Kalau tau harus seperti itu sudah kuminta uang yang banyak ke papa,"kata Rerast tidak habis pikir
"Yang penting barang - barang kalian harus pintar - pintar kalian menyembunyikan,"kata Suyira
__ADS_1
"Baik kak,"jawab mereka bertiga
****