Pasak Bumi

Pasak Bumi
Keputusan Suyira dan Rory


__ADS_3

Waktu menunjukkan jam 4 pagi terdengar bunyi deburan ombak bersahut - sahutan. Namun, Suyira tampak gelisah dalam tidurnya.


"Suyira.. Suyira.. bangunlah,"kata suara yang berbisik di pikirannnya


Suyira langsung bangun dan mengikuti sumber suara . Suyira harus pelan - pelan keluar dari kamar tidurnya karena Eldard tidur di samping tempat tidurnya. Namun, akhirnya dia berhasil keluar. Tubuhnya seperti dihantam truk, berat, lesu dan lemah.


Semakin lama Suyira berjalan semakin jauh dari rumahnya dan masuk ke dalam hutan. Suyira hampir tersandung akar pohon karena memang hutannya gelap. Suyira melihat ada tempat duduk dari kayu.


"Duduklah disitu dan tunggulah aku. Aku akan segera datang,"kata suara itu


"Tempat apa ini ? Kenapa rasanya tidak asing ?"benak Suyira



Kemudian tiba - tiba muncul di depan seseorang bertubuh mungil dan menggunakan jubah dari atas kepala sampai ke ujung jari kakinya. Dia melepas tudung, rambutnya berwarna putih menunjukkan usianya yang sudah menua.


"Nenek,"kata Suyira kaget


"Lama tidak bertemu, cucuku,"kata nenek


Suyira hanya menganggukkan kepala.


"Apa kabarmu ? Sepertinya ingatanmu sudah pulih,"kata nenek


"Nenek tau ?"kata Suyira terkejut


"Tentu saja nenek tau apapun tentangmu. Bagaimana kapan kau ingin mengikuti nenek ke kastil Biara ?"kata nenek


Suyira bingung dan meremas - remas tangannya.


"Nenek tidak menyuruhmu untuk menjadi seperti nenek,"kata nenek


"Memang bisa nek ?"kata Suyira


"Tentu saja. Tapi keputusanmu untuk tinggal di kastil tetapi tidak menjadi seperti nenek punya konsekuensinya sendiri. Apakah kau siap ?"kata nenek

__ADS_1


Suyira terlihat lega mendengar penjelasan neneknya.


"Oke. Aku bersedia. Tapi nenek menjemputku pada saat aku tamat sekolah dan harus nenek,"kata Suyira mendesak


"Baiklah. Apa yang tidak kulakukan buatmu, anak manis. Dan Suyira kau tidak akan sendirian,"kata nenek


Suyira bingung namun tidak menanyakan lebih lanjut.


"Sudah waktunya nenek pulang. Jika mau pulang ikutin jalan yang tadi,"kata nenek sambil menunjuk tapak kaki Suyira di atas tanah.


Suyira langsung memeluk neneknya sebelum pulang. Nenek awalnya terkejut akhirnya hanya tersenyum. Suyira sampai ke rumah dan masuk kembali ke kamarnya dengan cara mengendap - endap. Dia akhirnya bisa tertidur pulas.


****


Suyira duduk di tepi pantai saat teringat kenangan bertemu dengan nenek. Sementara, Rory bermain dengan ombak.


"Rory, kalau kakak pergi baik-baiklah dengan bibi ?"kata Suyira


"Kakak pergi kemana ? Rory ikut,"kata Rory mulai merengek


"Ikuttt ...,"kata Rory membantah


"Kakak tidak tau kapan bisa pulang,"kata Suyira


"Ikut kak,"kata Rory


"Umurmu belum cukup. Kalau kamu sudah tamat SMP baru bisa ikut,"kata Suyira


"Jadi, aku harus seperti kakak baru bisa ikut,"kata Rory


"Iya,"kata Suyira


Rory tambah sedih dan murung. Hari - hari berlalu dan Rory jadi pendiam dan tidak ceria seperti biasanya.


"Ada apa ?"kata Bibi Robben

__ADS_1


"Bi, aku sudah ngomong soal rencana kepergianku dengannya,"kata Suyira


"Dia tidak terima,"kata Bibi Robben


Suyira hanya menganggukkan kepala


"Nanti bibi yang ngomong dengannya,"kata bibi Robben agak berbisik karena Rory barusan lewat. Rory menuju ke pantai seorang diri. Dia mulai menghempaskan ombak lagi.



"Apa kabar dengan putriku yang cantik ? Akhir - akhir ini dia selalu diam,"kata bibi Robben


"Ibu tau khan penyebab,"kata Rory kesal


"Kakakmu harus pergi. Ini untuk keselamatannya,"kata bibi Robben


"Kakak baik - baik saja,"kata Rory berkeras


"Benarkah ? Bagaimana dengan perjalanan kamping kalian ?"kata Bibi Robben


"Ituu kakak sendiri yang tiba - tiba pingsan,"kata Rory bingung


"Tapi yang membuat kalian ke situ khan ada yang merencanakan. Apa Rory tau jika kakak ga pingsan kalian akan terus berjalan dan nyasar ? Ibu akan kehilangan kalian,"kata bibi Robben


"Ahh iyaaa. Kami dicari karena kami nyasar gara - gara kakak itu,"kata Rory akhirnya bisa diyakinkan


"Iya. Tapi kakak itu juga dipengaruhi orang lain yang berniat buruk dengan kakakmu. Jadi, kakakmu mau jadi kuat supaya tidak ada lagi yang mengganggunya,"kata Bibi Robben


"Jadi, kakak harus pergi ke sana supaya kuat,"kata Rory


"Iya. Untuk bisa kuat harus punya umur tertentu dulu,"kata bibi Robben


Rory berpikir keras kemudian berkata,"Baiklah. Aku akan menyusul kakak nanti."


"Iya. nanti kau bisa menyusulnya. Sekarang, Rory harus kembali ceria kalau ga kakakmu pasti sedih,"kata bibi Robben cemas dengan rencana masa depan putrinya.

__ADS_1


Rory menganggukkan kepala dan kembali ke rumah.


__ADS_2