Pasak Bumi

Pasak Bumi
Perjalanan Pulang Ke Kastil Langit


__ADS_3

Di batas pelindung pertama kastil Langit


"Kenapa mereka lama sekali ?"tanya penjaga pelindung terakhir kastil Langit


Kepergian mereka melewati pelindung pertama tentu saja dapat dirasakan oleh penjaga pelindung kastil Langit.


Itulah kelebihan yang dimilliki oleh penjaga pelindung kastil bahwa mereka tau siapa saja yang masuk dan keluar.



"Kita coba temui mereka,"jawab penjaga yang lainnya


Forla dapat merasakan pergerakan kaki seseorang melalui tanah yang dipijaknya.


Dua penjaga pelindung terakhir bergerak ke arahnya.


Forla terlihat cemas karena Luxi dan Celli belum menghampirinya sama sekali.


Forla menaiki ranting pepohonan hanya dengan cara menjulurkan tangannya ke atas.


Ranting itu langsung menangkap tangannya dan mengetahui keinginan Forla untuk melihat dari atas pepohonan.


Forla melihat dari atas keberadaan mereka.


Forla melihat Luxi sedang berlari ke arahnya.


Jantung Forla selalu berdegup kencang hanya dengan melihat wajahnya saja.


"Forla.. kau dimana ?"tanya Luxi saat sudah sampai di pohon yang merupakan tempat mereka berjanji untuk saling bertemu.


"Di atasmu,"bisik Forla sambil melihat ke bawahnya


"Kenapa tidak turun ?"tanya Luxi sambil menatap ke atas pohon.


"Mencari Celli. Soalnya dua penjaga sudah mulai curiga dan bergerak ke sini,"jawab Forla sambil mencari keberadaan Celli dengan merasakan jejak kaki di sekitarnya.


"Bagaimana ?"tanya Luxi mulai cemas


"Dia ada di sebelah timur kita dan penjaga sebelah barat kita. Kalau melihat posisinya, penjaga itu bisa sampai ke sini lebih cepat,"kata Forla


"Kita harus melakukan sesuatu,"jawab Luxi


"Aku bisa. Tolong katakan pada Celli untuk berdiri di atas pohon yang ada di depannya sekarang,"perintah Forla


"Baiklah,"jawab Luxi


****


"Celli.. ini kakak. Berdirilah di bawah pohon yang berada di depanmu sekarang,"kata Luxi menggunakan telepati pikirannya


"Iya kak,"jawab Celli langsung mengambil posisinya.


Forla membuat ranting pohon menariknya ke atas dan membuat titian dari setiap ranting pepohonan.


Forla melihat bahwa Celli sangat berhati-hati berjalan padahal para penjaga sudah hampir mendekati mereka.

__ADS_1


"Katakan padanya bawah aku akan menganyunnya dari satu ranting pohon ke ranting pohon selanjutnya,"kata Forla


****


Luxi memyampaikan hal itu kepada Celli


"Ahh... seperti tarzan ya kak,"jawab Celli


"Apa ?"tanya Luxi


"Film manusia yang dilahirkan di hutan,"jawab Cell


"Iya,"balas Luxi


****


Celli sampai beberapa menit lebih cepat dari dua penjaga tersebut. Namun muka Celli terlihat sangat pias.


"Ada apa dengamu ?"tanya Luxi


"Aku mau muntah.. ternyata jadi tarzan itu juga tidak enak,"jawab Celli


"Jangan dulu. Nanti mereka tambah curiga,"kata Luxi


Forla memberikan buah ceri manis pada Celli supaya tidak muntah.


"Maaf,"kata Forla


"Tidak kak. Hanya belum terbiasa,"jawab Celli sambil memakan ceri manis itu.


****


"Ahh.. kalian ada di sini,"kata penjaga pertama


"Iya. Ada apa, paman ?"tanya Luxi


"Kami merasakan ada satu orang yang masuk tetapi kami tidak merasakan Celli masuk tadi,"selidik penjaga pertama


"Iya, paman. Soalnya gelang saya tadi jatuh jadi saya mencoba mencarinya bersama kakak. Saya sempat melewati garis pelindung sedangkan kakak mencarinya jauh di luar pelindung,"sahut Celli


"Baiklah kalau begitu. Lain kali berhati-hatilah,"jawab penjaga kedua


"Silahkan kembali ke kastil. Nanti, Langit tertinggi mencari kalian,"jawab penjaga pertama


"Baik paman,"sahut Celli


****


"Hampir saja,"batin Luxi


Mereka berjalan lurus menuju ke arah pelindung kedua. Mereka berhasil memasukinya tanpa dicurigai oleh penjaga kedua karena biasanya melakukannya yaitu melintasi pelindung kedua hanya untuk bersantai di pelindung pertama.


"Aku harus kembali ke rumahku,"kata Forla


"Terima kasih atas bantuannya tadi,"jawab Luxi

__ADS_1


"Dia juga keluargaku,"sahut Forla


Celli langsung memeluknya dan berkata,"Sampai jumpa besok, kak."


"Iya,"bisik Forla tersenyum


****


Forla tiba-tiba langsung memegang pundak Luxi dari belakang. Luxi menatapnya dan melihat arah pandangan Forla.


Di depan mereka, ada seorang pria yang kedua tangannya diikat pada ranting yang berbeda pohon. Pria itu mengambil sikap bertapa. Pria itu adalah paman Tribbon.


Di samping paman Tribbon itu, berdiri di atas tanah paman Drew.


"Kalian rupanya yang berhasil melewati kami,"kata paman Drew


"Hai paman,"jawab Forla tersenyum


Paman Tribbon membuka matanya dan melepaskan sulur-sulur ranting dan mendekati mereka.


"Hai anakku. Apakah ada yang kau sembunyikan dari paman ?"tanya paman Tribbon


"Mengenai hal itu paman, biar saya saja yang menjawabnya. Apakah boleh paman?"tanya Luxi


"Silahkan, anak terang,"jawab paman Tribbon


"Kami mengeluarkan teman kami dari kastil Biara menuju keluar kastil. Tentu saja atas persetujuan dari pemilik kastil Biara,"kata Luxi


"Benarkah ?"tanya paman Drew


"Iya,"jawab Luxi


"Saya minta maaf, paman,"lanjut Celli


"Baiklah. Tapi tidak ada lagi yang boleh melewati pelindung ketiga tanpa sepengetahuan kami,"kata paman Drew


"Angin perubahan akan segera datang,"kata paman Tribbon sambil menatap ke arah Luxi, Forla dan Celli.


"Haruskah kita mensyukurinya ?"tanya paman Drew


"Tentu saja. Tapi tentu saja.. harus tetap diusahakan,"jawab paman Tribbon


Forla, Luxi dan Celli menatap satu sama lain dan bingung dengan perkataan kedua paman.


"Apakah kami bisa lewat?"tanya Luxi


"Silahkan, anak terang,"jawab paman Drew


****


Selamat membaca bagi para pembaca yang budiman. 😇😇😇


Terima kasih karena selama ini selalu setia membaca karyaku


Jangan lupa untuk terus membaca yaa

__ADS_1


Terima kasih sekali lagi


🥰🥰🥰


__ADS_2