
"Kenapa belum datang - datang juga ?" batin bibi Robben berulang - ulang kali mondar mandir di depan halamannya.
Suara tangisan bayi dari dalam rumah membuatnya segera masuk ke dalam.
"Bagaimana ?"kata perempuan yang menggendong bayi tersebut
"Belum sampai,"kata bibi Robben cemas.
Bibi Ruuyist menghubungi menggunakan pikirannya.
"Robben, pergilah ke belakang rumahmu.. cepat..,"kata bibi Ruuyist
"Baiklah,"kata bibi Robben langsung berlari ke belakang rumahnya.
Bibi Robben terkejut melihat Suyira terlengkup di halaman belakang rumahnya.
"Astaga.. Suyira,"kata bibi Robben langsung menggendongnya dan membawa ke dalam rumah.
****
"Bagaimana... apakah dia ada ?"kata bibi Ruuyist terlihat cemas.
"Iya. Ada. Hanya saja keadaannya sangat parah,"kata bibi Robben
"Syukurlah. Aku akan segera menyusul ke sana,"kata bibi Ruuyist
****
"Robben ... tidurkan dia disana,"kata perempuan yang menggendong anak tadi menunjuk sofa panjang.
"Tubuhnya sangat dingin dan banyak sekali luka,"kata bibi Robben
"Bawa selimut untuk mempertahankan suhu tubuhnya. Jangan sampai dia syok. Kau tau apa yang terjadi ?"kata perempuan itu terlihat cemas..
"Aku akan mengambil selimut dan air pengobatan milik kastil Ariel dia atas,"kata bibi Robben langsung naik ke tingkat dua rumahnya
Bibi Robben segera turun menyelimuti tubuhnya dan memberikan air pengobatan di sekitar luka tubuhnya sekaligus membasuh tubuhnya yang penuh debu dan kotoran tanah.
****
"Bagaimana keadaannya ?"kata Eldast
"Dia masih hidup dan dirumah bibi Robben sekarang,"kata bibi Ruuyist
"Ibu mau kesana. Aku mau ikut,"kata Eldast
"Tidak boleh. Kau harus menyakinkan ayahmu kalau ibu ada di sekitar kastil,"kata bibi Ruuyist
"Ibu..,"jawab Eldast sambil merengek
Bibi Ruuyist menunduk dan memegang wajah anaknya.
"Ini untuknya. Tidak bisakah kau bersabar untuknya ?"kata bibi Ruuyist
"Baiklah," jawab Eldast dengan muka mencebik
"Baguslah,"jawab bibi Ruuyist sambil tersenyum
****
"Ariel. Dia selamat,"kata bibi Ruuyist menggunakan pikiran kepada bibi Ariel
"Syukurlah,"kata bibi Ariel sambil berlinang air mata
"Dia bersama Robben sekarang. Aku akan melihatnya,"kata bibi Ruuyist
"Lalu yang jatuh ke bawah tebing itu siapa ?" kata bibi Ariel bingung
"Akupun tidak tau. Tapi coba kau tanya perdana mentri. Dia yang cukup lama bersamanya,"kata bibi Ruuyist.
"Baiklah,"kata bibi Ariel
****
Bibi Ariel langsung bergerak ke balai pengobatan sebelum suaminya datang.
"Perdana mentri, bagaimana kondisimu ?"kata bibi Ariel
__ADS_1
"Kondisiku baik - baik saja,"kata perdana mentri merasa jijik dengan dirinya yang selamat.
"Ada yang ingin kutanyakan. Apakah ada anak perempuan lain bersamamu selain Suyira?"kata bibi Ariel tidak sabaran
"Iya. Temannya Suyira ikut juga. Kalau tidak salah namanya ... Aarrr..,"kata perdana mentri berusaha keras mengingatnya
"Arey,"kata bibi Ariel
"Iya benar,"kata perdana mentri
Bibi Ariel seperti tersambar petir dan tidak sanggup berkata apapun. Pergi dari situ tanpa mengatakan apapun.
Bibi Ariel berjalan ke arah Bukit hijau dibelakangnya ada padang yang luas. Padang itu ditumbuhi bunga - bunga kecil berwarna putih merupakan tempat peristrahatan terakhir suku Bumi.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga peninggalanmu,"kata bibi Ariel menangis histeris.
****
Beberapa jam yang lalu,
Paman Teeran melihat Sang Tangan Kiri dari kejauhan kewalahan denga listrik yang dibuat Suyira. Namun, listrik itu kemudian hilang dengan sendirinya.
Paman Teeran akhirnya berhasil menyusulnya.
"Dimana Suyira ?"kata paman Teeran
"Kau lihat di tepi jurang,"kata Sang Tangan Kiri tersenyum
Paman Teeran awalnya tidak percaya akhirnya melihat ke tepi jurang. Ada anak perempuan yang terlungkup di tepi jurang.
"Brengssekkkk Kaauu,"kata paman Teeran
Tiba - tiba bumi bergetar getaran sampai terasa ke kastil Bumi.
****
Paman Roth bersembunyi di hutan yang gelap di balik pohon besar.
Luka bakarnya sudah menjalar ke organ dalam tubuhnya.
Paman Roth merasakan gempa ditempatnya berdiri.
Paman Roth berpegangan pada pohon yang besar dan terus melanjutkan perjalanan.
Paman Roth tau bahwa ini adalah kekuatan kakaknya.
Kakaknya memiliki hati yang lembut karena itu dia tidak pernah punya keinginan menjadi penguasa kastil Bumi walaupun dia memiliki kemampuan itu.
Hanya satu kali saat ibu mereka meninggal dunia. Dia membuat gempa yang sangat dahsyat.
Paman Roth berdiri di depan pusarà ibunya.
Dia menangis di situ.
Dia merasa dadanya sudah terbakar dan nyawanya tidak lama lagi.
Di akhir hidupnya, dia berkata,"Ibu, maafkanlah aku."
****
Sang Tangan Kiri terkejut. Namun dia memiliki ilmu meringankan tubuh.
Paman Coeli yang juga menuju ke tempat mereka langsung berlari.
"Ahh datang lagi... Sekalian saja kuberitahukan padamu. Keponakan tersayangmu sudah meninggal,"kata Sang Tangan Kiri
Paman Coeli syok dan tidak percaya. Tapi melihat kemarahan paman Teeran. Membuatnya menjadi percaya.
Paman Coeli merasa kebas di sekujur tubuhnya. Tiba - tiba petir menyambar - menyambar di tempat itu sampai ke kastilnya.
"Matilah kalian semua,"kata paman Coeli
Tiba - tiba semua sekutu musuh tersambar petir dan masuk ke dalam tanah yang sudah terbelah dua.
Saat paman Coeli ingin menyambarnya, Sang Tangan Kiri bisa menghindar.
__ADS_1
Paman Teeran menangkapnya dengan kecepatan yang sama dan memukul perutnya.
Saat Sang Tangan Kiri berusaha ingin menghempaskannya namun tidak bisa.
Paman Teeran menggunakan kekuatan Bumi untuk bertahan.
Dia mengambil batu kecil dari bawah kakinya dan melemparkan ke keningnya.
Konsentrasi Sang Tangan Kiri hilang dan terjatuh ke jurang.
Namun, Sang Tangan Kiri masih bangkit.
Paman Teeran menyadari hal itu dan menancapkan batu ke pergelangan tangan dan kakinya.
Sang Tangan Kiri terperangkap.
Kemudian petir menyambar dari langit ke tubuhnya.
Paman Teeran dan Coeli terdiam terpaku memandang sosok anak perempuan dari atas. Mereka terduduk lemas.
Perdana mentri datang dipapah oleh Altretes.
Perdana mentri melihat hal itu dan terduduk lemas.
"Bagaimana dengan anak yang satunya lagi?"kata perdana mentri berbicara lebih kepada dirinya sendiri.
"Apa maksudmu ?"kata paman Teeran yang mendengar hal tersebut
"Suyira pergi bersama temannya. Dia masuk ke dalam bagasiku. Ingin pergi bersama Suyira,"kata perdana mentri
"Iya. Karena keadaannya genting, aku melihatnya kalian pergi bertiga,"jawab Altretes merasa bersalah
"Coeli.. sadarlah .. lakukan itu,"kata paman Teeran menampar wajahnya
Paman Coeli menembak listrik ke langit sehingga muncullah bunga - bunga listrik yang turun ke tubuh anak perempuan itu.
Anak perempuan itu tidak menghasilkan pendar warna biru. Namun, paman Teeran melihat jari tangannya bergerak.
Paman Flyied melihat paman Teeran berlari menuju ke bawah.
Paman Flyied langsung menarik paman Teeran sehingga membuatnya melayang.
Saat mendekati tubuh anak perempuan itu, tiba - tiba ada yang datang dan menghampiri anak itu.
Pria berjubah lusuh.
Dia langsung menggendongnya.
"Siapa kau ? Lepaskan anak itu,"kata paman Teeran
Laki - laki itu mendekat dan berkata," Kuberi kau kepercayaan menjaga satu - satunya peninggalan anakku. Apa yang telah kau perbuat ?"
Saat melihat wajah Arey, paman Teeran terkejut.
"Dia akan kubawa. Katakan hal ini pada ibunya,"kata kakek itu
****
Paman Firye langsung menghampiri paman Teeran dan Flyied saat sudah ke atas.
"Bagaimana Suyira ?"kata paman Firye cemas
"Dia hidup. Tetapi tidak tau dimana,"kata paman Flyied
"Bagaimana bisa tidak tau... Teeran,"kata paman Firye
Paman Teeran tidak mengacuhkannya
"Teeran .. Kau tidak bisa pergi begitu saja,"kata paman Firye berusaha untuk menghalanginya paman Teeran pergi.
"Firye ... Tidak ada gunanya. Dia juga baru datang," kata paman Flyied memegang tangan Firye untuk menghalanginya.
Paman Edsel baru datang dan hanya bisa terdiam. Paman Edsel membaca pikiran mereka semua sehingga memahami situasinya. Paman Edsel mendekat ke arah paman Coeli yang hanya duduk terpaku. Paman Edsel memeluknya.
"Maafkan aku, sobat,"kata paman Edsel
"Kau telat,"kata paman Coeli
__ADS_1
Tiba - tiba hujan turun dan mereka pulang ke kastilnya satu persatu tanpa mengatakan apapun.