
Suyira terbangun saat malam hari.
Berjalan keluar kamar menaiki selasar tangga menuju ke ruang pertemuan yang terbuka.
Ruang pertemuan itu tidak besar, kursi - kursi yang terbuat dari kayu mahoni disusun melingkar.
Tempat ini lebih tepatnya cocok ketika seseorang melakukan pertunjukkan.
Setiap tiang - tiang penyangganya dihiasi bunga - bunga mawar bewarna merah, kuning dan putih.
Cahaya malam menyinari tempat itu dan pantai terlihat jelas dari sini.
Suyira duduk di salah satu kursi.
Termenung sendirian
Paman penjaga melihat dia keluar dari ruangannya dan mengikutinya.
Paman penjaga duduk di sampingnya.
"Kenapa Suyira terbangun ?"kata paman penjaga
"Rindu ibu,"kata Suyira sedih
"Siapa yang tidak merindukannya. Paman juga,"kata paman penjaga
"Paman kenal dengan ibuku,"kata Suyira
"Iya. Dia seperti adik bagiku. Sangat ceria, keras kepala tapi hatinya baik,"kata paman penjaga
Suyira tidak dapat menahannya lagi dan menangis.
"Keluarkan semua rasa rindumu padanya... menangislah,"kata paman penjaga
Suyira memeluknya.
Paman penjaga hanya mengelus rambutnya.
"Paman aku berjanji tidak ada lagi orang yang kusayangi berkorban untukku,"kata Suyira sambil terisak - isak.
Akhirnya Suyira kelelahan menangis dan tertidur.
Paman penjaga menggendongnya dan membawanya ke kamar.
****
Suyira bangun pagi - pagi sekali. Suyira merasa kelaparan dan pergi ke ruang makan.
Suyira melihat bibi Ariel sedang menyiapkan makanan di meja.
"Selama pagi,"kata bibi Ariel sambil tersenyum
"Pagi bi,"kata Suyira juga tersenyum
Suyira langsung makan. Bibi Ariel memperhatikan gelangnya yang baru.
__ADS_1
"Indah sekali gelangmu. Dapat darimana ?"kata bibi Ariel
"Ahh ini dari Celli.Katanya hanya untukku,"kata Suyira bangga
"Iya. Hanya bisa diberikan satu untuk setiap orang yang memakainya,"kata bibi Ariel bergumam
****
"Malam ini kami akan pergi. Supaya pagi kami baru melewati kastil Ariel,"kata paman Coeli
"Berhati - hatilah,"kata paman Teeran
****
"Bibi, ayo main ke pantai,"kata Suyira
"Baiklah. Ajaklah Tatra. Mungkin dia sudah selesai latihannya,"kata bibi Ariel
"Oke,"kata Suyira senang
****
Suyira menuju ke pantai bersama bibi Ariel.
Tatra menyusul.
Tatra yang baru melihat Suyira langsung memeluknya.
"Bagaimana kabar adikku ?"kata Tatra tersenyum
"Baik kak,"kata Suyira
Mereka membuat gulungan air seperti angin topan dan memecahkannya.
Mereka melakukannya secara bersama - sama.
****
Saat sudah senja. Rombongan paman Coeli mempersiapkan perlengkapan untuk kembali ke kastil Langit.
"Paman,"kata Suyira
"Iya,"kata paman penjaga
"Ada yang ingin kuberikan kepada paman. Kata bibi aku bisa memberikannya.. hanya kepada satu orang,"kata Suyira melepaskan gelang berwarna emas dan membaginya menjadi dua.
Suyira melingkarkan bagian yang satunya ke lengannya dan yang lainnya ke lengan paman.
Gelang itu bertambah panjang dan melingkar di lengan mereka.
"Ternyata benar,"kata Suyira takjub
"Ini benar untuk paman ?"kata paman penjaga
"Iya supaya paman tidak pernah terluka dan selalu selamat,"kata Siyura
Tiba - tiba gelang paman memancarkan cahaya kemudian berubah menjadi warna putih seputih salju.
__ADS_1
Mereka berpamitan dan pergi.
****
Perjalanan keluar kastil Bumi berjalan lancar.
Saat memasuki kastil Ariel, paman Eldard menemani sampai batas perlindungan terakhir kastil Ariel.
Mereka sedang menunju ke perlindungan pertama kastil Langit.
Tiba - tiba di belakang mereka, ada sesuatu yang bergerak di atas tanah.
Mereka dapat merasakannya.
Semakin lama semakin cepat.
Tiba - tiba kaki mereka dijerat oleh sulur daun yang terasa sangat panas.
Mereka berusaha melepaskan diri dengan cara memotong sulur tersebut dengan pedang listrik.
Sulur tanaman itu menggelepar lepar dan mati.
"kita harus bergerak cepat,"kata penjaga paman Coeli
Tiba - tiba ada sosok yang bergerak lebih cepat dari mereka dan mendahului mereka.
Paman Coeli menyerang dengan memanggil petir.
Saat petir mau menyambar sosok yang berkerudung itu, sosok itu membangun payung dari tanah liat.
Sehingga petir tidak berpengaruh baginya.
Sosok itu balas menyerang dengan melemparkan batu dalan jumlah yang banyak yang ada di sekitar tempat itu.
Paman Coeli dan rombongan membelah batu tersebut dengan membuat cambuk dari petir.
Sosok tadi membutakan penglihatan mereka dengan kabut dan melemparkan batu - batu yang kecil.
Paman Coeli mendengarkan pergerakan batu namun salah satu penjaga bahunya terkena lemparan batu itu dan tersungkur.
Kemudian tiba - tiba mereka diserang dengan anak panah yang terbuat dari es dalam jumlah yang banyak.
Paman Coeli membuat petir dalam jumlah yang banyak di luar dari wilayah kabut dan berhasil mengenai satu orang.
Panah es itu hampir mengenai paman penjaga namun gagal karena ada dahan pohon yang menangkisnya.
Tiba - tiba semua pohon yang ada di sekitar pama penjaga melingkarinya dan melindunginya.
Hal ini membuat paman penjaga keheranan.
Namun saat dilihatnya gelang itu bercahayan akhirnya dia sadar.
Paman penjaga berbicara menggunakan pikiran dengan yang lainnya dan menyruh mereka berkumpul.
Mereka berjalan melewati kabut dan dengan perlindungan pohon tadi mereka terhindar dari hujanan panah dan batu.
Sosok tadi terkejut melihat mereka berhasil keluar.
__ADS_1
Dia memanggil tiga temannya untuk keluar dari persembunyian.