
"Menarik. Bagaimana caranya kalian bisa menghindar ?"kata Lufyi
"Mustahil. Mereka menggunakan pohon untuk menghindar. Mereka tidak punya kekuatan sepertiku,"kata Joqi
"Siapa yang bilang kami tidak memiliki kekuatan bumi. Kami memilikinya,"kata paman Stew sambil memandang gelangnya yang berpendar.
"Tidak mungkin. Hampir rata - rata keturunan kalian adalah murni. Yaa ... walaupun justru anak dari para petinggilah yang membangkang,"kata Lufyi sinis
Paman Joqi melempar batu - batu yang besar dengan menjejakkan kakinya ke tanah.
Sekali lagi mereka bisa menghindar karena pohon - pohon itu melempar balik ke arah mereka.
"Kuberitahu hal yang paling menyakitkan dari kematian. Tidak punya rumah dan tidak diakui,"kata paman Cillie sengaja menyindir
"Brengsekk .. Kau lihat nanti. Saat Tuanku berkuasa. Bahkan seluruh kastil bisa kami masuki dan kalian akan tunduk dibawa kaki kami,"kata Joqi marah
Joqi lepas kendali dan mengeluarkan api yang sangat besar dan panas ke arah mereka.
"Kau akan merasakan akibat kemarahanku,"kata Joqi
Joqi melemparkan panah api yang sangat cepat dan panas dibelakang mereka.
Paman Cilie terkena di punggungnya.
Saat paman Coeli hampir terkena namun dihalangi oleh tubuh paman Stew.
Sementara itu, dahan - dahan pohon menutupi paman Stew.
Langit bergemuruh dan petir menyambar - nyambar ke bawa Joqi dan Lufyi.
Mereka berhasil menghindar dengan kecepatan mereka.
Paman Stew mengeluarkan panah dari listrik dan ditujukan kepada Joqi dan Lufyi.
Tiba - tiba muncul dibalik pepohonan sosok yang misterius.
"Halo, Coeli lama tidak bertemu,"kata sosok berperawakan tinggi, kurus dan putih.
"Apa kabar, Cillieing ?"kata paman Coeli
Pengikut paman Coeli semuanya terkejut mendengar namanya.
"Tidak kusangka jika kita harus bertemu dalam kondisi seperti ini,"kata paman Coeli
"Apa yang membuatmu jadi seperti ini ?"paman Cillie
"Setidaknya dia menawariku rumah. Dari awal memang kastil itu bukan tempatku,"kata Cillieng sinis
Paman Coeli teringat masa lalu dan merasa bersalah.
****
__ADS_1
"Kalian main apa ? Boleh aku ikut ?"kata Cillieng
"Kami lagi bermain menembak batu,"kata Coeli kecil
"Bagaimana caranya ?"kata Cillieng
"Kau cukup berdiri di sini dan menembak batu yang diujung itu dengan ini,"kata Stew kecil langsung mendemonstrasikan
Tiba - tiba diujung tangan Stew muncul listrik yang ditembakkan ke batu dan membuatnya pecah.
"Woww menarik. Aku juga ingin main,"kata Cillieng girang.
"Ayoo ikut saja,"kata Cillie
Kemudian datang rombongan anak - anak yang sedikit lebih dewasa dari mereka.
"Hei... jangan dekati dia,"kata salah satu anak dari rombongan tersebut.
"Kenapa kita tidak boleh mendekatinya ?"kata Coeli kecil
"Dia itu berasal dari darah pengkhianat,"kata anak itu
Stew yang lebih kecil umurnya dibandingkan anak - anak disitu tidak memahaminya.
"Pengkhianat ?"kata Stew
"Ayahnya menikah bukan dengan orang di kastil ini,"kata anak itu
"Bukan hanya salah tapi kejahatan. Sebaiknya kau pergi dari sini. Jangan berpikir bisa main dengan mereka,"kata anak itu.
Cillieng sudah mau beranjak.
"Tapi dia hanya ingin main,"kata Coeli sambil memegang tangan Cillieng
"Pergi dari sini,"kata anak itu sambil memaksa melepaskan tangan Coeli dan mendorong anak itu sampai terjatuh
Anak itu menangis sambil berlari
*****
Tiba - tiba bergerak dari bawah tali bewarna perak berusaha menjerat kelompok paman Coeli.
Sangat cepat dan ringan.
"Hati - hati sulur listrik,"kata paman Stew berteriak
Sekali lagi pohon - pohon itu memberikan perlindungan dengan cara mengeluarkan sulur - sulur akar pohon yang membelit sulur - sulur listrik tersebut.
"Sangat aneh. Setauku sangat mustahil bagi keturunan kastil Langit untuk memiliki kekuatan bumi. Yaa .. kecuali ada satu orang anak yang memilikinya sekarang,"kata Cillieng.
Paman Stew membalas dengan mengeluarkan listrik dari tangannya dan ditembakkan langsung ke arah mereka dan paman Coeli mengeluarkan petir dari langit.
__ADS_1
Mereka berusaha menghindar namun bahu Joqi tersambar listrik yang ditembakkan oleh paman Stew.
Lufyi marah dan berusaha mendekati mereka dengan kecepatannya. Lufyi membuat pedang dari es dan menyerang mereka. Paman Coeli mengeluarkan pedang dari listrik untuk mencegah saat Lufyi berusaha memyerang paman Cillie yang sedang terluka.
"Eh.. kakek tua menyingkirlah. Sudah bukan masamu lagi,"kata Lufyi.
Lufyi menyentuh badan salah satu penjaga dan membekukannya. Penjaga itu sampai tersungkur karena hampir setengah badannya membeku.
Paman Stew menghampiri penjaga itu.
"Sobat, bertahanlah,"kata paman Stew
"Tubuhku sangat kedinginan. Bukankah kau pernah bertanya kapan keberuntungan kita habis," kata paman Stirwe sambil terbata - bata
"Bertahanlah,"kata paman Stew
"Maaf .. sobat. Titipkan salamku buat bintang kecilku... katakan Aku selalu menyanyanginya dan menjaganya dari atas,"kata paman Stirwe sambil memandang ke atas langit dan teringat kenangan itu.
****
Pulang dari kastil Fogyer
"Lihatlah langit di malam hari.. Indah bukan ? Apalagi bintang itu,"kata paman Stirwe sambil menunjuk ke atas
"Rasanya masih lama kembali ke rumah,"kata paman Stew terlihay sedih
"Setidaknya setelah perjalanan ini selesai kita masih bisa pulang ke rumah. Bukankah kita beruntung ?,"kata paman Stirwe
"Menurutmu sampai kapan kita selalu seberuntung ini, sobat?"kata paman Stew
"Tidak tau sobat. Kita hanya menjalani bagian hidup kita saja,"paman Stirwe
****
Paman Stew marah besar.
"Jika ini benar. Aku membutuhkan kekuatanmu,"kata paman Stew
Semua pohon yang ada di hutan itu mengeluarkan ulur - sulur akarnya bergerak berusaha menjerat kaki musuh.
Ranting - ranting pohon bergerak melawan mereka. Joqi yang memang sudah terluka akibat pertarungan tadi benar - benar kewalahan.
"Maafkan aku,"kata Joqi langsung melarikan diri
"Dasar kau pengecut,"kata Lufyi
"Kau akan mendapatkan balasan atas apa yang kau lakukan tadi,"kata paman Stew kepada Lufyi
Tiba - tiba petir turun dari langit tepat di atas kepala Lufyi.
Cillieng melihat hal itu dan langsung pergi.
__ADS_1