
"Kenapa tadi bersikap seperti itu padanya ?"tanya bibi Sellen
"Bersikap seperti apa ?"jawab paman Coeli
"Kau ayahnya,"kata bibi Sellen
"Ituuu.. supaya dia tidak melakukan kesalahan yang sama denganku,"jawab paman Coeli
"Kurasa menjadi lemah dengan orang yang kita sayangi bukan kesalahan,"kata bibi Sellen
"Tapi entah kenapa... rasanya seperti .. aku merasa dibodohi lagi,"jawab paman Coeli
****
"Kak.. apa yang kau lakukan ?"kata Celli bingung melihat Suyira terus meraba - raba dinding ruangan mereka
"Tombol untuk pintu keluar,"jawab Suyira terus mencari
Celli akhirnya mengerti dan membantunya
"Dapat,"jawab Suyira saat menyentuh tombol yang terletak di bagian bawah dinding
Dia menekan tombol tersebut dan tiba - tiba ada pintu yang bergeser.Ada lorong gelap dan pengap.
Saat mereka masuk, pintu tadi tertutup.
Celli menyalakan pemantik.
Mereka berjalan menggunakan cahaya dari pemantik.
Ternyata ada pintu lagi di lorong tersebut dan mereka melakukan hal yang sama mencari tombol.
Mereka menemukan tombolnya. Mereka menemukan lorong gelap lagi namun lorong ini terasa lembab.
"Pemantik ini tidak berfungsi,"kata Celli mencoba menghidupkannya
"Gunakan listrik dari tanganmu saja,"jawab Suyira
Mereka akhirnya bisa berjalan lagi
"Kita pasti sudah berada di dasar laut,"kata Suyira
"Kita.. apa kak...,"jawab Celli panik
Suyira sudah tau jika Celli memang tidak memiliki kepercayaan diri jika berada di dalam air.
__ADS_1
"Tenang .. kita akan sampai di tepi pantai sebentar lagi,"kata Suyira
****
"Kau mau kemana, sayang ?"tanya bibi Sellen
"Melihat mereka,"jawab paman Coeli langsung berlari ke ruang bawah tanah
Saat sampai di ruangan, paman Coeli tidak melihat Suyira dan Celli.
"Tidak.. ini tidak mungkin.. adikku memang ...apa yang diajarkan dengan anaknya ..,"batin paman Coeli gusar.
"Ada apa, sayang ?"kata bibi Sellen berhasil menyusul paman Coeli ke bawah.
"Lihat .. sudah kosong,"jawab paman Coeli
"Mereka berhasil,"kata bibi Sellen bangga
"Ini pasti ibunya yang memberitahukan. Hanya keturunan perempuan kastil ini yang bisa membukanya,"jawab paman Coeli
****
Paman Coeli memanggil paman Teeran menggunakan pikirannya.
"Teeran, Suyira dan Celli menuju ke pantaimu,"kata paman Coeli
"Entah adikku atau nenekku yang mengatakan padanya,"kata paman Coeli
"Baiklah,"jawab paman Teeran
****
"Kak, ini pintu terakhir sepertinya,"kata Celli
"Iya,"jawab Suyira
Suyira memandang pintu itu lama.
"Ada apa, kak ? Bukankah itu tombolnya ?"kata Celli
"Iya. Hanya saja kita harus berenang. Kalau aku membelah daratan yang berada di tepi pantai pasti yang di atas langsung tau,"jawab Suyira memandang Celli cemas.
"Lakukanlah. Kita akan berenang,"kata Celli sedikit cemas
Suyira menekan tombolnya. Mereka berada di daratan yang berada di dasar air laut dangkal.
__ADS_1
"Lihat itu...daratannya,"jawab Suyira menunjuk ke atas
"Ayoo kak,"kata Celli mencoba menyakinkan dirinya sendiri.
Mereka berenang menuju ke atas. Mereka bersembunyi di balik karang batu.
"Kak, sepertinya tidak ada orang ?"kata Celli mengintip dari balik karang
"Tunggu sebentar lagi.. dia pasti datang,"jawab Suyira yang sudah mengigil kedinginan
Tiba - tiba Aretra berlari menemui mereka di balik karang.
"Kalian tidak apa - apa ?"kata Aretra
"Iya,"jawab Celli kedinginan
"Maaf.. sulit sekali menghilang dari penjagaan penjaga itu,"kata Aretra
"Tidak apa - apa,"jawab Suyira
"Gunakan ini,"kata Aretra memberikan jubah kastil Bumi.
Mereka berjalan masuk ke dalam hutan
****
Paman Teeran berbicara menggunakan telepatinya sama paman Coeli.
"Mereka sudah tidak ada di sini,"kata paman Teeran
"Maksudmu ?"jawab paman Coeli
"Tadi aku lagi memberikan instruksi sama penjaga pertama. Kurasa mereka sudah masuk hutan,"kata paman Teeran
****
Paman Teeran mengajak penjaga kepercayaannya untuk mencari Suyira dan Celli.
"Para penjaga terakhir jangan ijinkan satu orang pun untuk keluar dari kastil kita,"kata paman Teeran
"Teeran... tadi kami barusan mengeluarkan dua penghuni kita,"jawab salah satu penjaga pertama.
"Dimana posisi mereka keluar ?"kata paman Teeran
__ADS_1
"Sebelah timur,"jawab penjaga tersebut.