Pasak Bumi

Pasak Bumi
Kesetiaan Pelindung Bumi


__ADS_3

Langit memanggil paman Teeran ke kastilnya.


Langit meminta Suyira untuk kembali ke kastil Bumi.


Langit merasakan musuh sudah mencurigai kehadiran pasak bumi di kastilnya.


Paman Teeran akhirnya setuju membawa Suyira kembali ke kastilnya.


"Papa... bisakah Suyira lama di sini ?" tanya anak lelakinya dengan nada membujuk.


Langit melihat wajah anaknya dan berkata,"Kau bisa mengunjunginya ke sana."


Wajah Luxi kembali ceria.


Tidak pernah keluar dari kastil dan melihat hal baru tentu saja membuat hatinya senang.


Luxi memeluk Suyira saat pergi. Suyira menangis saat harus pergi dan meninggalkan keluarga yang baru dikenalnya sebentar. Bibi Sellen menghiburnya dan berkata bahwa mereka akan sering bermain ke sana.


Tentu saja hal ini membuat Suyira kembali ceria.


Suyira berangkatnya setelah tengah malam.


Mereka menggunakan kuda berwarna hitam. Suyira memegang surainya sementara paman Teeran yang berada di belakang Suyira memegang talinya.


Mereka berlari dengan kecepatan penuh menuju ke hutan pinus. Di sepanjang perjalanan di hutan tersebut, Suyira merasakan kehadiran orang yang bergerak di atas pepohonan.


Namun, sepertinya hal itu tidak digubris oleh paman. Mereka terus berlari dan tidak berhenti sama sekali.


Hutan pinus terdiri atas pohon-pohon yang tinggi dan tanahnya keras namun wangi. Cahaya matahari pagi bisa masuk dari sela-sela pohon.


Itu pertanda pagi sudah menjelang.


Mereka hampir sampai di pinggir hutan pinus menuju ke kastil lighting.


Kastil Lighting


Tempat tinggal pemilik kekuatan api.


Nama kotanya adalah kota Napoli.


Kastil ini terletak di bawah kaki gunung Vesuvius yang merupakan gunung berapi aktif.



Saat mereka sudah mencapai kastil tersebut, paman Firye memberikan kereta untuk perjalanan mereka. Kereta tersebut sangat mencolok karena berwarna keeemasan.


Sebenarnya paman Teeran kurang setuju tapi mengetahui keunggulan dari kereta tersebut.


Paman Teeran akhirnya menyetujuinya. Kereta itu memiliki kekuatan api dan angin untuk menjalankannya. Sangat cepat.


Tahan terhadap guncangan ataupun hempasan bahkan panah.


Pintu hanya bisa dibuka oleh paman Firye, paman Teeran dan adik paman Firye.


Paman Teeran tidak menunggu saat malam untuk melanjutkan perjalanan.


Pelindung Pertama Kastil Bumi


Mereka melanjutkan perjalanan siang itu.


Mereka sudah sampai ke pelindung kastil bumi yang bermasalah.


Namun, terlihat ada perkelahian di luar antara pria yang berkerudung hitam dan coklat. Paman memperhatikannya namun tetap melanjutkan perjalanan mereka.


Namun, saat panah es ditujukan pada kaca kereta mereka.


Paman memperhatikan orang tersebut.


Hanya orang tertentu yang memiliki dua kekuatan sekaligus yaitu air dan angin.


Dan ternyata benar itu adalah adiknya-paman Roth.


Paman berbicara menggunakan pikirannya ke bibi Ariel untuk meminta bantuan dan meningkatkan pertahanan di kastil utama.


Paman Teeran membuka pikirannya ke paman Firye yang berjanji akan membantu jika diperlukan.


Paman Teeran berkata,"Firye, kami dikepung di pelindung pertama. Yang diluar kewalahan. Termasuk adikmu. Adikku ada disini."


Ruang Baca Kastil Utama Lighting


Paman Firye lagi berada di ruang baca sambil menatap sebuah gambar perempuan yang dilukisnya.


Di sela-sela tugasnya mengamankan kastilnya dan memenuhi kebutuhan penghuni kastilnya, paman Firye selalu menghabiskan waktunya di ruang baca untuk menggambar.


Mendengar panggilan temannya, paman Firye langsung berangkat dan mengajak 3 penjaganya.


Paman Firye sudah mendengar soal pelindung pertama yang tidak memberikan kesetiaan pada paman Teeran.


Namun, tidak menyangka jika permasalahannya sangat fatal.


Pelindung Pertama Kastil Bumi

__ADS_1


Ada tiga orang yang berkerudung coklat menghalangi mereka dari depan dan berusaha menghentikan kereta mereka dengan membuat dinding dari bebatuan.


Paman Teeran terlambat menghentikan laju kereta sehingga tidak bisa menghentikan tabrakan. Paman Teeran memeluk Suyira untuk menghindari dampak dari tabrakan.


Kereta mereka terpental ke belakang namun tetap utuh.


Paman Teeran akhirnya memilih untuk keluar menghadapi musuh. Paman Teeran menyuruh Suyira tetap di dalam kereta.


Walaupun paman Teeran tau jika pintu tidak bisa dibuka dari dalam dan dari luar jika bukan dia atau adiknya paman Firye yang membukanya.


Paman menghadapi musuh yang berusaha untuk menghentikan langkah mereka.


Suyira melihat pamannya berkelahi dengan tiga orang sekaligus. Suyira melihat paman terdesak. Suyira memilih keluar dan membantu pamannya.


Pintu kereta terbuka untuknya.


Saat Suyira berusaha mendekati paman Teeran, paman Roth menangkapnya. Suyira meronta-ronta dan menggigit tangan paman Roth dan melarikan diri.


Suyira berteriak memanggil paman Teeran.


Paman Roth mengejarnya dari belakang. Paman Teeran mendengar teriakan tersebut.


Namun, langkahnya di halangi musuh.


Saat Suyira berlari tiba-tiba tubuhnya terjatuh karena ada gundukan di tanah yang menghalanginya.


Saat Suyira melihatnya ternyata itu tubuh seseorang yang berlumuran darah. Suyira berteriak sejadi-jadinya dan berlari kembali.


Saat paman Roth hampir mencapainya, tiba-tiba tangan paman Roth terasa seperti tersengat listrik dan langsung berwarna kehitaman.


Paman Roth menoleh dan melihat paman Coeli datang.


Akhirnya, langsung pergi dan melarikan diri. Suyira kembali ke dalam kereta.


Paman Firye membantu adiknya melawan musuh yang memiliki kekuatan air. Musuh akhirnya terdesak dan kalah.


Melihat sudah banyak bala bantuan, musuh akhirnya satu persatu mundur dan melarikan diri.


Paman Teeran menyuruh anggotanya yang selamat untuk membantu temannya yang terluka.


Paman Teeran berusaha untuk menemui Suyira namun pintu kereta tidak terbuka untuknya.


Suyira menekuk kedua kakinya di dalam kereta, duduk di sudut sambil memandang lurus ke depan. Sekujur tubuhnya gemetaran.


Paman Teeran memanggil paman Firye untuk membukakan pintu untuknya.


Saat paman Teeran berusaha membujuknya keluar, Suyira tidak bergeming sama sekali.


Mereka semuanya selamat.


Hal itu akhirnya menggerakan Suyira. Bibi Ariel memeluknya dan membawanya keluar.


Bibi Ariel menggunakan kekuatan air dan angin untuk membuat jalan di depannya sehingga mereka bisa sampai dengan cepat di kastil utama.


Kastil Utama Bumi


Sepanjang perjalanan bibi Ariel hanya diam dan tidak mengatakan apapun kepada paman Teeran.


Sesampainya di kastil bumi, bibi Ariel mengajak Suyira ke kamarnya. Bibi Ariel mengobatinya, berusaha menenangkannya dan membuatnya tertidur.


Sementara itu, paman Teeran, paman Firye dan paman Coeli berkumpul di ruangan yang lebih kecil.


Bibi Ariel masuk ke dalam ruangan dan terlihat marah.


"Apa yang kalian lakukan. Kalian menimbulkan kenangan yang sama. Saat ibunya meninggal,"kata bibi Ariel lalu meninggalkan mereka.


Mereka terkejut namun satu orang yang terlihat bingung.


Paman Firye akhirnya bertanya,"Apa maksudnya ?"


Paman Coeli akhirnya menjelaskan,"Ibunya meninggal di batas pelindung tersebut dan Roth adalah salah satu orang yang terlibat dalam pembunuhan itu."


Paman Firye terlihat sangat marah dan geram mendengar hal tersebut kemudian tiba-tiba mukanya sedih dan terlihat menyesal.


Paman Teeran akhirnya bertanya,"Kenapa pintu kereta itu bisa terbuka olehnya ?"


Paman Firye menegaskan,"Apakah itu perlu ditanyakan."


Paman Coeli terkejut,"Sampai sekarang Firye. Untuk adikku."


Paman Firye mengatakan,"Sampai mati."


Paman Firye akhirnya pulang namun perkataannya tegas jika dalam waktu seminggu paman Teeran tidak bisa mendapatkan kesetiaan pelindung pertama maka dia akan membawa Suyira ke kastilnya.


Sementara itu, paman Coeli masih berada di situ.


Paman Teeran menatapnya dan berkata,"Jika kau juga ingin mengatakan hal yang sama, katakan saja."


Paman Coeli menjawab,"Akulah yang menyuruhmu untuk membawa Suyira."


Paman Teeran bertanya,"Ada apa denganmu ? Dulu kau sangat percaya diri dengan kastilmu."

__ADS_1


Paman Coeli berkata sambil tersenyum masam,"Awalnya kupikir aku bisa melindungi semuanya."


Paman Teeran menyetujui hal tersebut. Setelah menyadari begitu banyak kehilangan kerabatnya.


Paman Coeli bingung mengatakannya, setelah bibi Ariel bersikap seperti tadi namun akhirnya bertanya,"Bisakah aku melihatnya sebelum pulang ?"


Paman Teeran terkejut dengan pertanyaan paman Coeli dan berkata,"Tentu saja."


Paman Coeli menuju ke ruangannya dan dilihatnya bibi Ariel tidak meninggalkan Suyira sama sekali.


Bibi Ariel langsung mengerti dan meninggalkan ruangan.


Bibi Ariel duduk di anak tangga yang terbuat dari kayu sambil menghadap ke langit.



Kastil mereka terbuat dari rumah pohon juga, ada sepuluh pohon yang menyangga kastil mereka sehingga ada dua puluh ruangan .


Kastil mereka yang paling tinggi, luas dan banyak terdapat ruangan yang dihubungkan dengan titian tangga.



Saat paman Coeli keluar, bibi Ariel berkata,"Gelang yang digunakan Suyira, yang tak kasat mata itu. Gelang itu yang membuatmu tau dia dalam bahaya."


Paman Coeli mengganggukkan kepala.


Saat paman Coeli berbalik dan mau pergi.


Bibi Ariel berkata," Percayalah pada dirimu. Di saat terdesak, hanya namamu yang disebut."


Paman Coeli terkejut dan mengganggukkan kepalanya.


Suyira dalam tidurnya teringat dengan wajah yang terbaring di atas tanah. Wajahnya tampak mengerikan dan menghitam.


Hal itulah yang membuatnya berteriak di malam hari.


Sementara bibi Ariel selalu menemaninya.


*****


Dua hari berlalu setelah kejadian tersebut. Suyira akhirnya mau untuk keluar dari ruangannya.


Bibi Ariel mengajaknya ke tepi pantai. Bibi Ariel berkata jika ada masalah mengganggumu sama seperti ombak yang menghampiri kakimu yang harus kau lakukan adalah melawannya dengan cara menghempaskan ombak itu kembali ke lautan.


Suyira melakukannya berulang kali dan cara seperti itu ternyata mampu membuat Suyira melupakan hal tersebut secara perlahan-lahan.


Seminggu kemudian, Suyira dan Tatra masuk ke dalam kastil untuk menemui bibi Ariel namun mereka mendengar suara paman Teeran dari ruangan lain.


Paman Teeran sepertinya kesal mengenai pelindung yang pertama.


Mereka mendengarnya dan tau hal tersebut salah. Akhirnya mereka menuju ke dapur untuk menemui bibi Ariel.


Pelindung Pertama Kastil Bumi


Keesokan paginya, Suyira mengajak Tatra pergi jalan-jalan ke hutan mencari bunga dandelion untuk diletakkan di kamarnya masing-masing.


Soalnya bunga tersebut adalah salah satu bunga yang bisa menyampaikan pesan.


Lambat laun mereka sampai ke pelindung terakhir.


Tatra terlihat panik melihat Suyira naik ke atas pohon. Semakin lama semakin tinggi untuk mencari bunga tersebut.


Saat Suyira mengatakan bahwa telah melihat bunga tersebut dan menyuruh Tatra untuk mengambilnya.


Tatra baru sadar mereka sudah sampai ke pelindung pertama.


Perhatian Suyira teralihkan saat melihat langit dan ingin menyentuhnya.


Namun, Suyira akhirnya sadar bahwa pohon tersebut memiliki batas ketinggian tertentu.


Suyira melihat ada yang berbeda dari langitnya.


Warna langitnya berbeda dari yang lainnya.


Suyira menyentuh langit tersebut dan tiba-tiba warnanya langitnya menjadi sama semua.


Tatra memanggil Suyira namun karena kejauhan jadi tidak terdengar.


Tatra membisikkan sesuatu ke bunga dandelion dan meniupnya. Bunga tersebut terbang dan sampai ke ruangan kecil.


Paman Teeran berada di ruangan tersebut langsung menuju ke pelindung pertama.


Paman Teeran langsung naik ke atas dan mengambil Suyira.


Paman Teeran merasakan jika pelindung pertama sudah memberikan kesetiaan.


Walaupun dia heran namun tidak menanyakan.


Paman Teeran langsung mengajak Suyira dan Tatra pulang.


Saat di kastil, mereka dihukum untuk tidak keluar kastil utama selama dua hari.

__ADS_1


Tatra hanya tertunduk sementara Suyira cemberut. Bibi Ariel tidak membantah keputusan suaminya.


__ADS_2