Pasak Bumi

Pasak Bumi
Rampasan Danau Leakef


__ADS_3

"Kita mancing... hore... kita mancing,"kata Suyira.


"Boleh, mancing ayah,"kata Tatra memohon.


"Boleh, tapi ibumu ikut menemani kalian,"kata paman Teeran sambil melirik ke arah bibi Ariel. Paman Teeran tau hubungan bibi Ariel kurang baik dengan anaknya.


****


Wajah Tatra terlihat senang.


Proses kelahiran Tatra sangat menyulitkan bagi bibi Ariel.


Timbulnya kerusakan selama proses persalinan dan adanya kepentingan dua kastil dalam memperebutkannya.


Bibi Ariel yang masih menjabat sebagai pimpinan kastil Ariel Nuch saat kelahiran Tatra menyebabkan proses pemindahannnya ke kastil bumi sedikit terhambat.


Hal ini menyebabkan bibi Ariel tidak terlalu dekat dengan Tatra.


Tatra lebih banyak diurus oleh adik iparnya. Tentu saja hal ini membuat bibi Ariel merasa bersalah terhadap Tatra.


Semenjak adik iparnya, diusir dari kastil Bumi maka tanggung jawab mengurus Tatra sepenuhnya diambil bibi Ariel.


Setelah ditentukan pemilik kastil Ariel Nuch, bibi Ariel berusaha memperbaiki hubungannya dengan Tatra.


Kedatangan Suyira, membuat hubungan tegang antara keduanya mulai mencair.


Tatra memandang wajah ibunya dan bibi Ariel menyetujui sambil tersenyum ke arahnya.


****


Mereka berjalan melewati hutan pinus yang lebat kemudian melewati hutan oak.


Mereka berjalan sampai menuju ke padang yang ditumbuhi bunga tulip dengan warna - warna yang berbeda yaitu merah, kuning dan ungu.


Sekumpulan kupu - kupu hinggap di bunga tersebut dan Suyira mulai disibukkan dengan menangkap kupu - kupu.


Tatra memanggil Suyira,"Suyira jangan pergi terlalu jauh."


Namun Suyira tidak menggubrisnya.


Saat bibi Ariel memanggilnya, Suyira akhirnya mengakhiri pengejaran dan menuju ke bibi Ariel.


Tatra masih terlihat kesal dengan Suyira.


"Kakak, marahnya ?"kata Suyira merasa bersalah.


"Kenapa dengan kupu - kupu itu... selalu kau kejar,"kata Tatra marah.


Suyira mulai menangis karena Tatra memarahinya.


Tatra akhirnya membujuknya dan berkata,"Maafkan kakakmu ini.


Kakak berjanji tidak akan memarahimu lagi. Jadi berhentilah menangis."


Danau Leakef


Mereka melanjutkan perjalanan ke tepi danau.


Danau biru yang dalam dan luas.


Danau ini memisahkan dua daratan.


Oleh karena itu, dibangun jembatan dari sulur -sulur pohon cemara.


Air danau berasal dari lautan sehingga ada air terjun di sisi danau.


"Bibi, boleh mandi di bawah air terjun Leakef,"kata Suyira.


Silahkan, tapi hati - hati,"kata bibi Ariel sambil menggunakan kekuatannya untuk mengambil ikan - ikan di dalam danau dan memasukkan ke dalam bokor yang terbuat dari rotan.


Sementara itu, Tatra mengikuti Suyira masuk ke dalam danau.


Saat kaki mereka pertama kali menjejakkan ke danau, air danau terbelah menjadi dua bagian yang kecil hanya kaki mereka saja yang menyentuh tanah yang lembab dan ada lumut hijau di dasar danau.


Kilasan Masa Lalu


Melihat mereka, bibi Ariel teringat saat pertemuannya dengan teman - temannya.


"Lihat langit malam ini terlihat terang, iya khan ?", kata Langit sambil duduk di atas pohon cemara.


"Benarkah ?", kata Treyest sambil bermain ayunan dari sulur - sulur pohon cemara melihat ke atas Langit.


"Iya, terlihat indah,"kata Ariel duduk dibawah pohon cemara sambil menatap ke atas.

__ADS_1


Kemudian tiba - tiba datang suara langkah kaki mendekat ke arah mereka.


"Maaf, terlambat," kata Robben merasa bersalah.


"Tidak apa -apa, Robben,"kata Sellen sambil memandang kalung yang ada di leher Camila.


"Ada masalah apa ? " kata Ruuyist sambil membaca pikiran Sellen.


Sellen menjawab dengan pikirannya juga,"Sepertinya hubungan mereka serius."


Ruuyist terkejut tapi tidak mengatakan apapun lagi.


Kemudian suara dari Treyest memecah keheningan,"Bagaimana dengan perbatasan ?"


"Aman untuk saat ini ...,"kata Ariel berpikir keras.


Langit menjawab,"Selalu ada harapan. Selalu."


Sambil tertegun karena perkataan sahabatnya, mereka memandang jauh ke atas langit dan berharap apa yang dikatakannya Langit terwujud.


Paman Arol dan Bibi Ariel


Suara teriakan Suyira memecah lamunan bini Ariel dan langsung berlari menuju ke arah suara yang berasal dari tepi air terjun.


Tatra berusaha untuk memegang kuat batu supaya tidak terjatuh ke bawah air terjun.


Air danau berubah menjadi gulungan ombak yang dahsyat.


Setiap kali Suyira berusaha melawan ombak tersebut, ombak yang lainnya kembali berdatangan.


Tatra berusaha membuat tali dari air dan menambatkan ke pohon yang berada di tepi air terjun dan akhirnya berhasil.


Anehnya, bibi Ariel menyuruhnya jangan melakukan hal itu tetapi terlambat.


Tatra sudah berada di tepi air terjun di seberang mereka.


Tiba - tiba muncul sosok dari belakang Tatra. Sosok tersebut ternyata laki - laki paruh baya memakai jubah warna biru laut.


"Apa kabar, Tatra ?" kata paman tersebut.


Tatra melihat sosok yang tidak dikenalnya berjalan mundur dan awas.


"Apakah ibumu tidak mengatakan apapun ?"kata paman tersebut.


"Tentu saja, baik - baik saja adikku.


Tampaknya anakmu tidak mengenal pamannya sama sekali,"kata paman Arol kecewa.


"Hubungan kami baru mulai membaik baru - baru ini. Jadi belum sempat memberitahukan tentang keluarga kita,"kata bibi Ariel dengan wajah yang menyesal.


"Jelas sekali kalau dia hanya mewarisi kekuatan kita,"kata paman Arol dengan rasa ingin tau yang tinggi.


"Dia masih kecil jadi belum tentu hanya kekuatan kita yang dimilikinya,"kata bibi Ariel.


"Kau tau kalau aku tidak bisa mendapatkan keturunan dan adiknya sudah kau bawa kembali ke kastil bumi,"kata paman Arol.


"Apa maksudmu, kakak ?"kata bibi Ariel mulai cemas.


"Seharusnya kau tau maksudku,"kata paman Arol sambil berusaha mendekati Tatra yang sedang berusaha melawan menggunakan kekuatan air.


Bibi Ariel langsung menyeberangi danau tersebut.


Suyira mengeluarkan bunga dari kantong yang dililitkannya di pinggang dan menyampaikan ke paman Teeran.


Tatra sudah ditangkap oleh paman Arol menggunakan kekuatan air. Tatra melayang - layang di udara diikat menggunakan cambuk air.


"Kakak, lepaskan anakku ?"kata bibi Ariel marah.


"Aku tidak akan melepaskan keturunan kastil Ariel Nuch,"kata paman Arol.


Bibi Ariel menyerang paman Arol menggunakan cambuk air namun paman Arol menghindar.


Paman Arol membuat ombak bergulung gulung ke arah bibi Ariel namun bibi Ariel membuat dinding air untuk menghalanginya.


Paman Arol menarik air dalam tanah dan menjadikannya jarum - jarum yang tajam. Bibi Ariel membuat perisai dari air dan angin menjadi perisai es.


Saat bibi Ariel sibuk dengan jarum - jarum tersebut, paman Arol melarikan diri dengan cara menyebarangi danau.


Saat paman Arol sudah tiba disebarang, Suyira bersembunyi.


Suyira melepaskan ikatan Tatra dengan cara mengangkat satu pohon dan melemparkannya ke arah ikatana Tatra. Tatra terjatuh dan pingsan.


Saat paman Arol melihat hal tersebut, mendekat ke arah Suyira dan menyerang dengan cara melemparkannya dengan ombak.

__ADS_1


Namun bisa ditahan Suyira dengan cara membentuk dinding es.


Suyira berlari mendekat ke arah Tatra namun paman Arol menghentikannya.


Paman Arol memegangnya namun merasakan sengatan listrik yang kuat.


Paman Arol berkata,"Wow, sangat menarik. Inikah anak yang diceritakan itu. Tapi ada cerita jika kita mengharapkan langit sekaligus bumi. Kita malah kehilangan segalanya."


Pama n Arol merasakan kehadiran lima orang yang mendekat ke arahnya.


Paman Arol menekan Suyira ke tanah dengan kekuatan air.


Waktu yang cukup bagi paman Arol untuk membawa Tatra.


Namun, Suyira akhirnya bisa melepaskan diri dari air tersebut dan mengikuti jejak mereka dari belakang sambil menangis.


Paman Teeran datang menemui bibi Ariel yang tulang rusaknya patah akibat perkelahian tadi.


"Ariel, mana Tatra dan Suyira,"kata paman Teeran terlihat khawatir.


"Tatra ditangkap Arol dan Suyira sepertinya mengikuti mereka.


Jika kau datang dari seberang seharusnya kau bertemu dengan Suyira.


Terakhir kusuruh dia bersembunyi.


Maafkan aku,"kata bibi Ariel terlihat geram dan menyesal.


Mereka akhirnya menyeberang danau dan bibi Ariel melihat ada penguapan air di setiap jejak yang ditinggalkan.


"Suyira menangis," kata bibi Ariel terlihat sedih.


"Darimana kau tau?"kata paman Teeran.


"Adanya air yang menguap di atas daun setinggi badan Suyira,"kata bibi Ariel.


Cuaca yang panas di sekitar danau menyebabkan penguapan air.


Namun, hanya keturunan dari kastil Ariel yang dapat melihat proses penguapan tersebut.


"Sebaiknya kau istirahat di kastil. Aku harus segera mengejarnya sebelum meninggalkan perbatasan kastil kita,"kata paman Teeran.


Bibi Ariel ingin mengatakan sesuatu dan akhirnya hanya bisa menggangguk.


Ruuyist, Eldast dan bibi Ariel


"Ruuyist...,"kata bibi Ariel.


"Ada apa, Ariel ?"kata bibi Ruuyist.


"Katamu, anakmu bisa berkomunikasi dengan Suyira,"kata bibi Ariel.


"Iya,"kata bibi Ruuyist.


"Anakku dibawa oleh kakakku ke kastilku dan Suyira mengikutinya dari belakang sambil menangis,"kata bibi Ariel.


"Apa yang harus kulakukan ?"kata bibi Ruuyist .


"Buka komunikasi antara mereka dan suruh Suyira berhenti menangis dan kirim petunjuk arah kepada paman Teeran,"kata bibi Ariel.


"Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu karena komunikasi mereka, akupun tidak bisa memasukinya dan hanya anakku sendiri yang tau apakah dia melaksanakan perintahku,"kata bibi Ruuyist.


"Katakan ini untuk kebaikan Suyira. Mereka harus ditemukan sebelum memasuki pelindung terakhir kastil Ariel Nuch. Ayah dan ibuku berada di sini sedangkan pelindung terakhir.... kata - katanya .. hanya keturunan murni atau keturunan asli dari pemilik atau diakui yang bisa memasukinya.. jika mencoba masuk maka cairan beracun yang keluar,"kata bibi Ariel.


"Baiklah,"kata bibi Ruuyist. Bibi Ruuyist memanggil Eldast.


"Ada apa, ibu ?"kata Eldast


"Ibu, ingin meminta bantuanmu,"kata bibi Ruuyist.


"Bantuan apa ?"kata Eldast.


"Membujuk Suyira ?"kata bibi Ruuyist.


"Kenapa aku harus membujuknya ?" kata Eldast.


"Dia sedang mengikuti Tatra yang diculik oleh pamannya sendiri sambil menangis.


Bujuk dia untuk berhenti menangis dan membuat jejak ke paman Teeran yang mengikutinya dari belakang,"kata bibi Ruuyist.


Eldast berpikir dan akhirnya mengatakan,"Baiklah."


"Kau memang anak ibumu,"kata bibi Ruuyist lega.

__ADS_1


__ADS_2