
Kilasan masa lalu
"Ayah, berikan aku.. satu kali lagi kesempatan akan kubuktikan jika aku layak untuk menjadi pemimpin kastil ini,"kata Eldester
"Kesempatan ... Kau melewatkannya,"kata pemimpin kastil Elfir.
"Aku melewatkannya,"kata Eldester bingung
"Aku memberikanmu banyak kesempatan,"kata pemimpin kastil Elfir
"Apa maksud ayah ?"kata Eldester
"Aku mengirimmu ke kota Bath tapi apa yang kau lakukan. Emosi dan egomulah yang kau pentingkan,"kata pemimpin kastil Elfir
"Mereka itu tidak layak jika disandingkan dengan kita,"kata Eldester
"Apa katamu ? Kau bahkan tidak menyangkalnya"kata pemimpin kastil Elfir
"Kita adalah mahluk istimewa bukan seperti mereka yang tidak punya kekuatan,"kata Eldester
"Sampai kapanpun kau tidak akan jadi pemimpin kastil ini,"kata pemimpin kastil Elfir
"Terserah ayah. Jika untuk itu aku harus berdampingan dengan mereka, itu tidak akan pernah terjadi," kata Eldester dingin
****
Kemudian masuklah salah satu bawahannnya.
"Bagaimana ?"kata Eldester
Bawahannya hanya menggelengkan kepala kemudian tertunduk
"Tidak ada gunanya,"kata Eldester marah
Tiba - tiba supaya bawahannya merasakan sakit kepala yang hebat.
"Akan tiba saatnya kalian akan merasakan yang lebih dari ini. Aku tidak suka menerima kegagalan lagi,"kata Eldester beranjak pergi ke ruangan yang lebih kecil dari ruangannya tadi
****
"Paman pergi dulu. Baik - baiklah disini. Paman akan sering mengunjungimu,"kata paman Teeran sambil memeluk Suyira
"Iya, paman,"kata Suyira
"Ini untukmu,"kata Tatra menyerahkan sebuah cangkang keong laut
"Ini ?"kata Suyira bingung sambil memegang cangkang itu
"Tiuplah, kalau lagi mendesak,"kata Tatra
"Oke,"kata Suyira langsung memeluknya.
****
Hari baru di kastil Langit
"Kakak, bangunlah,"kata Celli naik ke tempat tidur Suyira.
Suyira akhirnya terbangun dari tidurnya.
"Bibi sudah menyiapkan sarapan,"kata Celli
"Iya, kakak mandi dulu,"kata Suyira menyeret kakinya ke kamar mandi
__ADS_1
"Baiklah, aku menunggu kakak disini,"kata Celli duduk di atas tempat tidurnya.
****
"Ayo ke sini. Bibi menyiapkan makanan kesukaan kalian,"kata bibi Sellen
"Bibi, Luxi kemana ?"kata Suyira
"Lagi latihan. Sebentar lagi datang,"kata bibi Sellen
"Latihan ?"kata Celli bingung
"Iya. Latihanmu akan dimulai besok supaya kau bisa mengendalikan kekuatanmu,"kata bibi Sellen kepada Suyira
"Bibi ... ikut,"kata Celli merengek
"Waktumu belum. Kamu masih kecil. Nanti akan tiba giliranmu,"kata bibi Sellen
Luxi sudah selesai latihan dan masuk ke ruang makan.
"Kakak, ayo makan,"kata Celli
Saat mendekat, Suyira melihat ada luka di jarinya.
"Kak, kenapa jari kakak?"kata Suyira cemas
"Tidak apa - apa. Hanya luka kecil,"kata Luxi sambil tersenyum
Bibi Sellen diam - diam mengamati hal tersebut.
"Ini untukmu. Pakai saat latihan,"kata Luxi memberikan sebuah sarung tangan berwarna putih.
"Kak, untukku mana?"kata Celli
"Kakak akan berikan saat Celli sudah siap latihan,"kata Luxi
****
Keesokan paginya, Suyira sudah dibangunkan pagi - pagi sekali oleh penjaga.
Penjaga mengajaknya masuk ke dalam hutan.
Mereka terus berjalan melewati pepohonan yang tinggi dan lebat menuju ke sebuah padang yang gersang. Namanya padang rumput Storm.
Rumput dan bunga - bunga berwarna tidak terlihat di padang ini. Semuanya berubah menjadi kecoklatan dan beberapa bagian tanahnya menghitam.
"Bagaimana kondisimu ?"kata penjaga itu
"Baik,"kata Suyira sambil menggosok - gosok matanya masih mengantuk.
"Kita akan latihan kemampuan petirmu disini,"kata penjaga
"Mana kak Luxi ?"kata Suyira
"Luxi latihan di sisi lain dari padang rumput ini,"kata penjaga itu
"Ohhhh... tadinya mau latihan bareng,"kata Suyira
"Latihan kalian berbeda. Lagipula supaya Suyira fokus latihannya,"kata penjaga
"Oke,"kata Suyira tertunduk lesu
"Sekarang panggillah petirmu,"kata penjaga itu
__ADS_1
Suyira hanya bengong dan tidak paham maksud perkataan penjaga itu.
Penjaga itu membaca kebingungan Suyira dari raut wajahnya
"Suyira pernah memanggil petir sebanyak dua kali. Pertama waktu Suyira tau ibu meninggal dan seminggu yang lalu saat kalian diserang,"kata penjaga itu menjelaskan.
"Ahh ituu,"kata Suyira dengan raut wajah yang sedih diingatkan tentang hal yang menyakitkan.
"Suyira juga pernah menggunakan kekuatan petir disekitar tangan pada saat kami ingin menangkapmu,"kata penjaga itu menjelaskan lagi
"Ohh ituu. Iyaa.. hanya saja itu terjadi begitu saja,"kata Suyira merasa malu akibat perbuatannya waktu itu.
"Semua itu tidak terjadi begitu saja. Otaknya Suyira memprosesnya dan memberikan perintah untuk melakukan hal itu,"kata penjaga itu
"Itu artinya aku cukup meminta saja dan petirnya datang,"kata Suyira sambil mengangguk - anggukkan kepala
"Kurang lebih seperti itu,"kata penjaga itu
"Aku minta petir,"kata Suyira berteriak
Paman penjaga itu tersenyum mendengar perkataan Suyira.
"Tidak perlu dikatakan. Cukup di dalam hati dan benar - benar diniatkan. Pejamkan mata dan fokuslah,"kata penjaga itu
Suyira mengikuti yang dikatakan oleh penjaga tersebut.
Lama hanya diam dan tidak terjadi apapun.
Penjaga itu berpikir Suyira belum bisa memusatkan pikirannya.
Tiba - tiba langit berwarna gelap dan munculla gemuruh dari langit.
Petir menyambar ke padang rumput itu dalam jumlah yang banyak dan besar.
Suyira sangat terkejut dan membeku di tempat.
Penjaga langsung bergerak ke arah dan menghindari petir.
Saat sudah di tepi padang, Suyira baru tersadar.
"Paman,bagaimana cara menghentikannya ?"kata Suyira
"Cukup ucapkan dalam hati dan mintalah untuk berhenti. Kau bahkan bisa mengaturnya,"kata penjaga itu.
"Mengaturnya ?"kata Suyira bingung
"Berapa banyak jumlahnya, besarnya, mengarah ke mana. Semuanya bisa kau atur,"kata penjaga itu
"Jadi tinggal kuucapkan saja dalam hati,"kata Suyira
Paman mengganggukkan kepala.
Suyira memejamkan matanya dan berkonsentrasi kemudian secara perlahan petir itu menghilang satu per satu.
Suyira akhirnya tersenyum ke arah paman.
"Baiklah, hari ini cukup sampai di sini dulu. Besok kita akan belajar memfokuskan kekuatan petir di sekitar tubuhmu,"kata paman penjaga
"Oke,"kata Suyira
Mereka kembali ke kastil utama menuju ke ruang makan.
"Kak, bagaimana latihannya ?"kata Celli langsung menghampirinya
__ADS_1
"Kakak suka latihan,"kata Suyira
Luxi terkejut dengan perkataan Suyira dan bibi Sellen memperhatikan hal tersebut.