
Bunyi langkah kaki semakin lama semakin dekat. Pintu kamar mereka digedor.
Celli membuka pintu kamar mereka.
"Sudah waktunya,"kata salah satu penjaga biara yang bertugas di dalam kastil Biara
"Tidak bisakah kami istirahat sebentar lagi,"kata Rory yang masih berusaha membuka matanya
"Tidak. Ini waktunya,"kata penjaga biara
"Kami masih harus menunggu Aretra,"kata Celli
"Tidak perlu. Dia akan menyusul kalian,"kata penjaga biara
"Benarkah ? Bisa kami berbicara langsung dengannya,"kata Rory curiga
"Tidak perlu,"kata penjaga biara
"Sudahlah. Kita ambil air sekarang. Nanti dia menyusul,"kata Celli
Mereka berjalan setapak demi setapak menuju ke mata air terdekat untuk mengambil air. Hal ini dilakukan mereka setiap hari.
"Ini adalah air terakhir yang kalian ambil. Letakkan disitu dan mulailah mencuci seluruh pakaian penghuni biara di lantai 11,"kata penjaga biara itu
Saat mereka sudah sampai di mata air.
"Baju penghuni lantai terang memang terlihat berbeda,"kata Rory sambil menggerakkan tangannya dan memainkan air untuk mencuci pakaian itu.
Tubuhmu mereka rasanya sudah gontai setelah menyelesaikan tugasnya.
Langkah mereka berat saat kembali menuju ke kamar mereka.
Mereka mendengar teriakan Aretra.
Mereka berlari menuju ke sumber suara. Mereka menuju ke sebuah kamar yang tidak mereka lihat selama ini.
Tiba - tiba tubuh mereka terasa sangat lemah sehingga untuk menggedor pintu kamar saja mereka tidak bisa.
****
"Kau sudah siap,"kata penjaga biara
"Iya,"kata Aretra
"Teman - temanmu sudah duluan,"kata penjaga biara
"Benarkah ? Kenapa mereka tidak menungguku,"kata Aretra
"Mengenai hal itu saya tidak tau,"kata penjaga biara
"Jadi, saya harus menyusul mereka,"kata Aretra
"Tidak perlu. Tugasmu cukup nyalakan lilin di setiap selusur lorong lantai sepuluh ini,"kata penjaga biara
"Baiklah,"kata Aretra
Setelah semua tugasnya diselesaikan. Aretra melapor kepada penjaga biara tadi.
"Masih ada satu kamar lagi,"kata penjaga biara
"Yang mana ?"kata Aretra
"Ikuti saya,"kata penjaga biara
"Sepertinya lorong ini tidak pernah kami lewati,"kata Aretra curiga
"Tentu saja. Hanya saya saja yang diberikan kepercayaan untuk ke tempat ini. Sekarang dirimu,"kata penjaga biara
__ADS_1
Mereka terus berjalan menuruni tangga melewati lantai satu. Tempatnya lebih gelap dibandingkan lantai satu yang pertama kali mereka tinggali.
"Tempat tergelap sekalipun butuh cahaya. Masuk ke dalam ruangan ini,"kata penjaga biara membukakan pintu.
Entah kenapa tubuh Aretra terasa lemas dan tenaganya terkuras tetapi Aretra tetap masuk.
Saat menyalakan lilin yang berada di atas sebuah meja dan di sebelah tempat tidur yang sangat keras.
Penjaga biara mendekatinya dari belakang dan Aretra menyadari hal tersebut.
Aretra berbalik ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan ?"kata Aretra panik
Penjaga biara mengeluarkan kayu panjang dan tipis membuat lilin yang dipegang Aretra terlepas.
Aretra tidak dapat melihat sekitarnya.
Tiba - tiba penjaga biara berusaha untuk mencekiknya di atas tempat tidur. Tangan Aretra berusaha menggapai sesuatu. Namun, tidak menemukannya.
Aretra berusaha melawan dan memegang tangan penjaga biara itu dan melepaskan ikatannya di lehernya. Aretra berteriak.
****
Flay, Suyira dan Rerast duduk di taman setelah melakukan pekerjaan rumah tangga Biara.
"Rasanya sangat menyenangkan bisa menikmati cahaya matahari,"kata Flay sambil duduk di atas rumput.
"Iya. Semoga mereka bisa lebih cepat keluar dari lantai sepuluh,"kata Suyira
"Tapi mereka sangat hebat dibandingkan kita dulu. Baru satu tahun sudah bisa ke lantai sepuluh dan sudah mengikuti kita ke kampus,"kata Rerast bangga
"Kak, tolong kak.. Aretra dalam bahaya,"kata Celli memanggil kedua kakaknya menggunakan telepati untuk pertama kali.
"Kau mendengarnya,"kata Flay
"Ada apa ?"kata Rerast
"Tidak ada waktu. Nanti dijelaskan sambil jalan,"kata Flay
Mereka segera turun dari sembilan belas ke lantai empat.
Saat di lantai empat,
"Kak berhati - hatilah sampai ke lantai ini .. lantai dibawah lantai satu.. kekuatan kalian akan diserap dan menghilang,"kata Celli berbicara menggunakan telapati.
"Kejadian yang sama saat kita ujian lompat kelas,"kata Rerast
"Bawa alat yang bisa kita temui sambil jalan,"kata Flay
Rerast berlari sangat kencang dan menemukan alat dari besi. Alat dari tungku perapian.
Mereka sampai di lantai satu dan mendengar teriakan adiknya minta tolong.
"Tolonggg ... jangan sakiti dia,"kata Rory berteriak
Celli berusaha menggapai gagang pintu namun dia terjatuh.
Mereka langsung ke lantai dasar.
Celli berusaha lagi dan hampir terjatuh lagi namun ditolong oleh Flay. Celli pingsan di tempat.
"Pegang dia,"kata Flay memandang Celli
"Oke,"kata Rerast merasakan tubuhnya mulai berat.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu Rory ?"kata Suyira
Rory hanya memberikan tanda dengan tangannya kalau dia baik - baik saja sambil tersengal - sengal.
"Akhhhh...,"teriak Aretra saat kayu itu mendarat di bahunya karena Arertra mencoba lari.
Aretra terjatuh dari tempat tidur. Penjaga biara itu berhasil menggapainya dan mencoba mencekiknya.
Suyira mendengar hal itu sangat marah dan langsung membuka paksa pintu dengan alat tungku pembakaran.
Saat pintu terbuka, dilihatnya penjaga biara berusaha mencekik adiknya di lantai.
Suyira menendang penjaga biara itu dan terlempar ke pinggiran tempat tidur.
Suyira langsung membopong adiknya. Saat penjaga biara itu berusaha menghalangi Suyira, Flay memelintir tangannya dan mengikat tangannya ke belakang dengan tali panjang.
Mereka semua menuju ke lantai satu dan Rerast memanggil penjaga biara terdekat yaitu penjaga biara yang bertugas menjaga pintu kastil biara.
Penjaga pintu biara terkejut melihat temannya sudah seperti orang gila yang berteriak tidak jelas minta dilepaskan dan matanya nanar penuh dengan kebencian.
"Dia dipengaruhi oleh orang jahat,"kata penjaga pintu kastil biara sedih
"Jadi, apa yang harus kami lakukan?"kata Suyira
"Bawa adikmu. Kami akan memanggil rekannya yang satu lantai dengannya,"kata penjaga pintu kastil biara
Celli sudah mulai siuman saat Rory menyembuhkannya dengan air penyembuh demikian juga dengan luka - luka Aretra. Namun, Aretra masih kelihatan syok. Rerast memeluknya.
"Tidak. Siapa yang menjamin jika dia tidak dipengaruhi lagi,"kata Suyira bersikeras
"Dia bisa begini..kalian tau sendiri beratnya bertugas dalam kegelapan.. dan seseorang yang seharusnya menjaga kastil ini dari luar tidak menjalankan tanggung jawabnya,"kata penjaga pintu kastil kesal
Penjaga pintu kastil yang satunya menyuruh temannya untuk terus bercerita.
Celli teringat waktu di kastil Langit perkataan bibi Sellen.
"Kak, kakak Luxi yang bertugas menjaga kastil ini,"kata Celli
"Kak Luxi,"kata Suyira terkejut
"Kak, aku harus berkomunikasi dengannya. Tentu saja kalau kakak mengijinkan,"kata Celli
Suyira menganggukkan kepala tanda memberikan persetujuan.
"Biarkan aku yang menyembuhkannya,"kata Flay melihat penjaga kastil itu terus berteriak histeris membuatnya jadi iba
"Silahkan,"kata penjaga pintub
Flay menyentuh dahinya dan memejamkan matanya. Penjaga itu lambat laun berhenti berontak dan berteriak kemudian matanya sudah kembali fokus.
Dia tertunduk lesu.
"Apa yang terjadi ?"kata penjaga biara lantai sepuluh
"Kau kerasukan,"kata penjaga pintu biara
"Aku selalu bangga bahwa aku akan menjadi satu - satunya penjaga biara berhati bersih dan berpikiran jernih. Akhirnya terpengaruh juga,"kata penjaga biara itu penuh sesal
"Tidak ada yang benar - benar luput dari kesalahan. Satu penghuni pun tidak,"kata penjaga pintu
"Berarti hal ini sudah pernah terjadi,"kata Flay terkejut
"Bukan pernah tapi sering. Kami hanya tidak ingin membicarakannya,"kata penjaga biara
"Penjaga yang diutus oleh kastil Langit selalu berakhir naas. Kami sudah sering memakamkan mereka,"kata penjaga pintu
"Tapi bukankah itu sudah berakhir pada saat bibi Sellen melawan pemberontakan,"kata Suyira
__ADS_1
"Dia bukan membuat para penjaga kastil langit saling bertengkar tetapi mengutus penghuni kastil langit untuk menghabisi penjaga kastil langit. Kami tidak tega jika harus memberitahukan dan melihat para penjaga meregang nyawa lagi,"kata penjaga pintu kastil Langit.
"Tapi bukan berarti kita menyerah bukan atas tindakannya. Kita bukan harus berperang tapi kita harus bertahan,"kata Suyira