
"Bagaimana kondisimu ?"kata paman Coeli
Paman Teeran berusaha menegakkan tubuhnya dan menyandarkan ke dinding di belakangnya.
"Baik,"kata paman Teeran
"Apa yang telah kau lakukan ?"kata paman Coeli
"Aku harus melakukannya,"kata paman Teeran
"Nyawamu hampir saja melayang,"kata paman Coeli
"Aku percaya kalian pasti datang tepat waktu,"kata paman Teeran sambil melihat tangan kanannya.
Paman Coeli terkejut dengan perkataan paman Teeran.
"Penjagamu yang datang duluan,"kata paman Coeli
"Kalau soal kecepatan memang itu kelebihan mereka. Tetapi jika kalian tidak membantu kami maka semuanya akan terlambat,"kata paman Teeran.
"Kondisi penjagamu dan serigala putih sudah mulai membaik, Suyira dan Tatra masih tertidur,"kata paman Coeli
Paman Teeran terlihat lega.
"Kau memiliki anak yang hebat dan berbakat,"kata paman Coeli
"Iya. Aku sendiri tidak menyangka bahwa dia memainkan perannya dengan sangat baik hari ini,"kata paman Teeran bangga.
"Teeran .. ini terakhir ... jangan terulang lagi,"kata paman Coeli
"Baiklah,"kata paman Teeran
"Beristirahatlah,"kata paman Coeli akhirnya meninggalkan ruangan paman Teeran.
****
Paman Coeli masuk ke ruangan lain.
"Bagaimana kondisinya ?"kata paman Coeli
"Baik. Dia tertidur,"kata Bibi Sellen
"Dia belum mampu mengatasi kekuatannya sendiri,"kata paman Coeli
__ADS_1
"Itu adalah tugasmu,"kata bibi Sellen
"Kurasa iya. Petir masih menyambar di daerah itu,"kata paman Coeli
"Teeran pasti memahami hal ini,"kata bibi Sellen
"Itu juga harapanku,"kata paman Coeli.
Paman Coeli akhirnya beranjak dari ruangan Suyira melihat Tatra yang sedang tertidur ditemani oleh Celli.
"Celli, sudah makan ?"kata paman Coeli
Celli menggelengkan kepala.
"Celli pergi makan. Nanti paman yang menemaninya,"kata paman Coeli
"Tidak,"kata Celli bersikeras
"Ahh.. bagaimana kalau makanannya dibawa ke sini,"kata paman Coeli
Celli mengganggukkan kepala sekali lagi. Paman langsung tersenyum melihatnya.
****
"Baik -baik saja,"kata penjaga pelindung kelima
"Baguslah.. Terima kasih,"kata pimpinan penjaga
****
Penjaga pelindung kelima tersenyum ke arahnya. Pimpinan penjaga kastil Bumi duduk di taman belakang-tempat Celli dan Luxi bermain-sambil menatap lurus ke depan.
"Tidak ada yang menyangka kejadian ini,"kata paman Darknist menyela
"Benarkah ?"kata pimpinan penjaga kastil Bumi
"Siapa yang tau seperti apa musuh yang menunggu di depan kita ?"kata paman Darknist
"Hampir seumur hidupku menjalankan tugas ini dan tidak pernah gagal. Dan semua terjadi karena kami bersedia dibantu oleh kastil lain,"kata pimpinan penjaga kastil
"Kakek, mereka bukan tidak mau membantu tetapi tidak bisa,"kata paman Darknist
"Aku tidak menyalahkan mereka. Hanya selama ini kami terlalu tergantung dengan orang lain padahal kami bisa melawan sekaligus melindungi. Mereka sangat mengenal kami,"kata pimpinan penjaga
__ADS_1
"Mereka selalu memperhatikan kita dan tidak sebaliknya,"kata paman Darknist
"Dalam doaku kepadaNya .. berikanlah satu kali kesempatan bagiku memperbaiki semuanya,"kata pimpinan penjaga
"Bukankah kau sekarang memilikinya, kek ?"kata paman Daknist
"Iya. Tidak akan kulewatkan lagi,"kata pimpinan penjaga.
****
Dua hari kemudian.
"Sebaiknya Suyira tinggal di sini dulu,"kata bibi Sellen
"Aku tau kau akan mengatakan hal itu,"kata paman Teeran
"Dia hanya mengeluarkan kekuatan Langit saat terdesak tetapi tidak dapat mengendalikannya,"kata bibi Sellen
"Yaa aku tau. Hal ini sudah kusampaikan juga dengan Ariel,"kata paman Teeran
"Kuharap dia mengerti,"kata bibi Sellen berharap
"Dia mengerti. Asalkan dia aman dan nyaman, sudah cukup bagiku,"kata paman Teeran.
****
"Ayah dimana ?"kata Tatra
"Bersama bibi Sellen di ruang makan,"kata salah satu penjaga kastil Bumi yang bertugas menjaga Tatra.
"Apakah benar Suyira akan tinggal disini ?"kata Tatra
"Sepertinya iya,"kata paman penjaga
"Akulah yang salah mengajaknya keluar,"kata Tatra sedih
"Tapi kau juga yang menyelamatkan banyak orang,"kata paman penjaga menghiburnya.
"Kalau dia disini. Apakah aku dapat menemuinya ?"kata Tatra tambah sedih
"Kau bisa menemuinya dan dia bukan tinggal selamanya. Hanya kalau sudah menguasai kemampuan petirnya,"kata paman penjaga
Tatra kembali tersenyum.
__ADS_1