
Bibi Robben memandang dirinya sendiri di tepi sungai kecil. Tempat dimana bibi Ariel, Tatra dan Suyira memancing ikan. Dia memandang jubah yang digunakannya dan teringat kenangan waktu itu.
"Ingat. Hanya mengambil air saja. Jangan mengambil kehidupan di dalamnya,"kata salah satu penjaga biara.
Pergilah dua orang bertudung putih bersama dengan satu orang bertudung coklat. List di lengan jubah mereka berwarna emas dan di jari tangan ada cincin giok.
Mereka berjalan menyusuri hutan menuju ke atas bukit yang terjal.
"Mataku sakit,"kata wanita yang menggunakan jubah coklat dan cincin giok di jempol tangan kanannya.
Wanita yang menggunakan jubah coklat dan dan cincin giok di jempol tangan kanannya adalah Langit. Langit tidak mau mengikuti jalan neneknya sehingga dia tinggal di kastil Biara di ruangan yang gelap.
"Dari gelap menuju ke tempat terang memang butuh penyesuaian, kak,"kata wanita yang menggunakan jubah putih dan cincin giok di jempol tangan kanannya.
Wanita yang menggunakan jubah putih dan cincin giok di jari telunjuknya adalah Ibunya Celli. Hal ini menunjukkan bahwa Ibunya Celli dan Langit memiliki kekuatan yang sama yaitu Langit.
Mereka terus menaiki bukit yang terjal milik kastil Biara yang bersebelahan dengan bukit kastil Langit.
Mereka sudah sampai ke mata air dan hanya mengambil air tanpa mengambil ikan atau tumbuhan air yang berada di dalam mata air.
Saat mereka sudah selesai dan hendak turun dari bukit sudah menunggu di depan mereka seorang wanita yang umurnya dua kali lipat dari umur mereka.
"Permisi, kami mau lewat bibi,"kata wanita yang menggunakan jubah putih dan cincin giok di jari kelingkingnya sebelah kiri.
Wanita yang menggunakan jubah putih dan cincin giok di jari kelingkingnya adalah bibi Robben. Cincin giok di jari kelingkingnya menunjukkan dia tidak memiliki kekuatan apapun.
"Silahkan untukmu lewat tapi tidak kedua perempuan yang berada di belakangmu,"kata wanita itu yang menggunakan jubah coklat saja.
Hal ini menunjukkan bahwa wanita itu dari kastil Bumi.
"Kenapa seperti itu, Bi?"kata bibi Robben
"Aku ada urusan dengan keturunan Langit terutama keturunan nenek tua itu,"kata wanita itu yang ternyata adalah ibunya Eldester.
Saat bibi Robben berjalan melewati mereka. Tiba - tiba ibunya Eldester menyerang mereka dengan membuat tanah bergetar sehingga batu - batu yang di atas bukit jatuh ke bawah dan hampir mengenai mereka.
"Ada masalah apa, bibi dengan kami ?"kata Langit
"Bukan dengan kalian tapi dengan nenekmu,"kata Ibunya Eldester
"Apa maksud bibi ?"kata Ibunya Celli
"Nenek itu sudah mengeluarkanku dari kastil Biara,"teriak Ibunya Eldester berang
"Jadi bibi adalah wanita yang dikeluarkan itu. Hanya bibi yang pernah dikeluarkan nenek. Bibilah yang tamak. Bibi menginginkan kekuatan yang bisa menyerap kekuatan penghuni lain,"kata Ibunya Celli
"Diam kau. Dia sendiri yang berjanji jika aku sudah sampai di bagian teratas dari kastilnya maka apapun keinginanku akan dipenuhi,"kata Ibunya Eldester tambah berang
Dia menyerang mereka dengan melemparkan banyak batu ke arah mereka. Mereka menghindar dengan memotong batu - batu itu dengan petir sebelum sampai ke arah mereka.
__ADS_1
"Bibi licik. Menaiki setiap tangga bukan untuk melihat terang. Menaiki setiap tangga pun dengan cara mempengaruhi penjaga kastil di setiap lantai,"kata Langit
"Kau.. memfitnahku,"kata Ibunya Eldester
"Tidak. Setiap penjaga yang kau pengaruhi mengatakannya kepadaku,"kata Langit
"Jadi .. kau yang mengadu kepada nenek. Brenggsekk kau akan mati disini,"kata Ibunya Eldester
Dia menggunakan kekuatan kastil Fogyer dan mendekat ke arah Langit dan mencekik lehernya. Rambutnya Langit berwarna putih tampak kelihatan bercahaya di bawah sinar matahari.
"Bibi lepaskan kakakku,"kata Ibunya Celli berusaha melepaskan tangan bibi dengan cara menyetrumnya.
"Brengsekk kau,"kata Ibunya Eldester merintih kesakitan
"Kakak lari,"kata Ibunya Celli memegang tangan Langit.
Ibunya Eldester mengejar mereka. Mereka sudah sampai ke hutan. Ibunya Eldester membelit tubuh mereka dengan ranting pohon.
"Kalian pikir kalian bisa lari,"teriak Ibunya Eldester.
Mereka memotong ranting itu dengan membuat pedang dari listrik. Saat mereka disibukkan dengan ranting pohon - pohon disitu, ibunya Eldester membuat panah dari es yang ditujukan ke arah Langit. Ibunya Celli melihat hal itu dan melindungi Langit dengan tubuhnya. Celli langsung jatuh ke tanah dan mengerang kesakitan.
Langit marah dan menyerangnya dengan petir yang ditembakkan lurus ke arahnya. Namun, Ibunya Eldester berhasil menghindar dengan membuat perisai dari tanah liat.
"Coba saja. Kau akan kuberitahukan seberapa kuatnya aku sekarang. Aku tidak butuh nenek tua itu,"kata Ibunya Eldester membuat akar tanah membelit tubuh Langit. Langit merasakan kesesakan.
Tiba - tiba muncul bibi Robben membawa pedang dan memutuskan ikatan akar pohon itu.
"Kau tidak apa - apa,"kata bibi Robben sambil mengecek tubuh Langit
Tiba - tiba muncul angin ****** beliung ke arah mereka. Mereka berusaha memegang ranting pohon untuk tidak terseret ke dalam angin. Saat tubuh Ibunya Celli mau terseret, ada tali yang dililitkan ditubuhnya dan diikat ke salah satu pohon membuatnya bertahan di posisinya.
"Kau sudah merencanakan semuanya,"kata Ibunya Eldester
"Itulah caraku bertahan selama ini,"kata bibi Robben
Walaupun begitu mereka sudah sangat kelelahan karena bertahan berpegangan pada pohon.
Ibunya Eldester berusaha menyerang mereka dengan membuat cambuk dari es. Cambuk panjang itu terkena ke bahu Langit. Langit memegang cambuk itu dengan tangannya yang terluka. Bibi Robben menyerang dengan menusuk perut Ibunya Eldester dengan pedang. Cambuk itu akhirnya terlepas. Ibunya Eldester berusaha memukul bibi Robben dengan tangan kosong namun gagal.
"Jangan mengajakku berkelahi menggunakan fisik. Tentu saja kau yang kalah,"kata bibi Robben
"Kau,"teriak Ibunya Eldester membalas dengan mengeluarkan api dari tangannya.
"Larii,"teriak Langit
Bibi Robben berlari bersembunyi di balik pohon. Dia sempat merasakan hawa panas dari api tersebut.
Langit sangat marah dan mengeluarkan petir dari langit. Hal ini tentu saja menjadi perhatian bagi penjaga kastil Langit dan penjaga pintu kastil Biara.
Mereka bergerak ke arah sumber petir. Mereka melihat tiga orang penghuni kastil biara yang terluka dan kepayahan. Mereka melihat Ibunya Eldester yang gelap mata dan terus menyerang menyebarkan kabut hitam beracun yang menyebabkan tubuh mereka melemah.
__ADS_1
"Nek, tolong kami. Eltha menyerang kami,"kata penjaga pintu kastil Biara
****
Nenek langsung datang ke arah mereka. Dia memghembuskan udara sehingga kabut itu menghilang.
"Apa kabar nek ?"kata Eltha
"Kau tidak berubah. Sepertinya kau sudah tau rahasianya untuk menyerap kekuatan orang lain,"kata nenek
"Tentu saja. Aku tidak butuh nenek untuk membantuku,"kata Eltha
Nenek melihat kedua cucunya sudah tergelatak di tanah bersama bibi Robben.
"Bawa mereka dan bersihkan racunnya dulu"kata nenek kepada penjaga kastil Langit dan Biara.
"Urusanmu denganku. Tidak ada hubungan dengan mereka,"kata nenek
"Akan sangat menyenangkan bagiku mengambil kekuatanmu langsung dari keturunanmu,"kata Eltha
"Hatimu memang tidak pernah berubah sekalipun,"kata nenek
Nenek mendekatinya langsung dan memegang kepalanya. Nenek menutup matanya. Eltha langsung berteriak kencang, tubuhnya melemah dan lemas.
"Aku mengambil seluruh kekuatan yang kau ambil dan aku juga mengambil kekuatan yang diturunkan padamu. Itu adalah hukumanmu,"kata nenek sambil meninggalkannya
"NENEK.... NENEK.. AKAN MENYESAL,"teriak Eltha sambil menangis.
****
"Bagaimana kondisimu ?"kata nenek
Bibi Robben berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya.
"Tidak perlu. Istirahatlah,"kata nenek
"Bagaimana dengan yang lain ?"kata bibi Robben
"Mereka sudah sadar dan beristihat,"kata nenek
"Robben kau menggunakan senjatamu waktu itu. Nak, itu dilarang,"kata nenek
"Aku tau nek. Aku salah,"kata bibi Robben
"Nak, kau boleh meninggalkan tempat ini,"kata nenek
"Tapi nek, aku tidak punya rumah lagi. Hanya ini rumahku,"kata bibi Robben
"Baiklah. Kau boleh tinggal disini tapi kau akan menghuni ruangan yang sama denga Langit. Apakah kau sanggup ?"kata nenek
"Iya nek,"kata bibi Robben
__ADS_1
"Hatimu baik dan tabah. Aku bukan tidak melihatnya. Ini untukmu. Jubah putih. Hanya putih. Seperti yang kau tau tidak ada satupun orang yang boleh menyakiti pemilik jubah itu kalau dia menginginkan kehidupannya direnggut darinya. Bertahanlah di dalam kegelapan,"kata nenek
Bibi Robben hanya menganggukkan kepala.