
"Kenapa mereka harus pergi ?" kata Celli merengek
"Merela harus kembali ke rumahnya,"kata bibi Sellen
"Bukankah ini rumah mereka juga,"kata Celli
"Bukan. Rumah Tatra di kastil Bumi dan rumah Suyira adalah seluruh kastil,"kata bibi Sellen menjelaskan.
"Ayo bu... Mereka sudah menunggu di depan,"kata Luxi setengah berteriak
"Oke. Kami sudah siap,"kata bibi Sellen
Mereka berdua keluar dari kamar, menuruni tangga menuju ke taman.
Di sana sudah berkumpul rombongan paman Teeran, penjaga langit dan paman Coeli.
Sementara itu, Suyira, Tatra dan Luxi berkumpul tidak jauh dari rombongan tadi.
"Tatra, jaga Suyira,"kata Luxi
"Iya,"kata Tatra
"Jangan lemah terhadapnya,"kata Luxi
"Kakak...,"kata Suyira cemberut
"Ini supaya kau tidak terkena masalah lagi,"kata Luxi
"Baiklah,"kata Tatra berjanji
Kemudian Celli menghampiri mereka.
"Kak, kalian harus pergi,"kata Celli sedih
"Iya. Tentu saja. Kami harus pergi. Baik - baiklah disini,"kata Tatra kepada Celli
"Iya, kak,"kata Celli
Tiba - tiba salah satu penjaga mendekati mereka dan membawa sesuatu berupa boks kecil.
Penjaga itu memberikan ke Luxi
"Ini adalah hadiah kami untukmu,"kata Luxi kepada Suyira.
Tatra langsung mengambilnya dan Suyira melihat isi boks tersebut.
Suyira sangat terkejut dan senang
"Terima kasih, kakak. Aku sayang kakak,"kata Suyira langsung memeluknya
****
Di tempat lain,
"Apakah informasi ini benar ?"kata Eldester
"Iya, Tuanku,"kata salah satu pengikut
****
"Berhati - hatilah, Teeran,"kata paman Coeli
"Iya. Tolong jaga kami dari atas,"kata paman Teeran
"Selalu,"kata paman Coeli
****
"Kami akan menemani perjalanan kalian sampai batas terakhir kastil kami,"kata penjaga pelindung kastil Langit
Penjaga kastil Bumi hanya menganggukkan kepala.
****
Mereka bergerak melintasi pelindung kelima menuju ke pelindung keempat.
Mereka melihat pemukiman penghuni kastil Langit.
Setelah melewati pelindung keempat masuk ke pelindung ketiga.
Mereka ditemani penjaga pelindung ketiga yang salah satunya seorang perempuan dari kastil Biara.
"Berhati - hatilah. Ada bahaya yang mengintip di depan kalian,"kata penjaga perempuan tersebut
Semua yang mendengarnya terkejut. Mereka tidak terkejut dengan kemampuannya membaca keadaan yang akan datang.
Mereka hanya terkejut karena ada bahaya yang akan tiba.
"Aku hanya bisa menemani kalian sampai batas ini,"kata penjaga perempuan itu setelah melewati pelindung ketiga.
__ADS_1
Saat mereka menuju ke pelindung kedua. Penjaganya menggunakan jubah yang berbeda. Warna jubahnya hitam.
Di punggung tangannya terdapat tato bergambar benih pohon cemara.
"Kami hanya bisa mengantar kalian sampai disini. Semoga selamat,"kata salah satu penjaga.
Rombongan bergerak menuju keluar dari pelindung pertama kastil Langit.
Paman Teeran memegang tangan Suyira dan salah satu penjaga memegang tangan Tatra. Sambil Tatra memegang boks yang dititipkan Suyira kepadanya. Mereka terus bergerak dan tidak berhenti sama sekali.
"Paman, aku lelah,"kata Suyira
Paman lalu menggendongnya. Lalu memandang ke arah Tatra yang mulai kelelahan juga.
"Serahkan boks itu kepada penjaga,"kata paman Teeran kepada Tatra.
Tatra menurut dan menyerahkannya. Tatra juga didukung oleh paman penjaga.
Semenjak keluar dari pelindung pertama, perjalanan mereka sudah diawasi oleh sosok lain.
Berjalan mengendap - endap seperti seorang pencuri.
"Apakah kalian tidak merasakannya ?"kata salah satu penjaga kepada yang lainnya
"Iya. Seringan apapun gerakannya. Selama kakinya menginjak tanah. Aku merasakannya,"kata salah satu penjaga.
"Rapatkan perlindungan,"kata salah satu penjaga
Ada sulur akar yang bergerak di atas tanah berusaha membelit betis salah satu penjaga. Namun, penjaga itu berhasil memutuskan akar tersebut.
Mereka terus berjalan cepat. Semakin cepat juga sosok itu bergerak.
Suyira yang tadinya tertidur menjadi terbangun karena paman Teeran bergerak cepat sehingga Suyira merasa tidak nyaman digendong.
"Ada apa, paman ?"kata Suyira
Suyira terkejut.
"Apa itu, paman ?"kata Suyira setengah berteriak
Melihat sosok yang menutupi wajahnya dengan topeng mendekat ke arah mereka.
Topeng berwarna hitam yang menyeramkan.
Sosok itu melemparkan banyak jarum kecil ke arah mereka.
Tidak menyerah, mereka membuat ukuran yang lebih besar sebuah panah dalam jumlah yang banyak.
Anak panah yang terbuat dari kayu dan matanya dari logam
Para penjaga membuat perisai yang lebih besar lagi.
Para penjaga membuat balasan dengan membuat ranting - ranting pohon memanjang dan berusaha melempar mereka.
Mereka berusaha menghindar walaupun ada satu dari mereka yang sudah terlempar.
Mereka membuat panah dari racun hewan dan menembakkan ke arah mereka.
Para penjaga membuat perisai yang lebih besar dan kokoh.
Saat panah menyentuh tanah.
Tanahnya berasap dan rumputnya langsung kering.
"Awas.. panahnya beracun,"kata salah satu penjaga.
Salah satu panahnya mengenai boks yang dipegang penjaga.
Boks tersebut menghasilkan bunyi lengkingan hewan yang sangat menderita.
Suyira melihat hal tersebut dan melepaskan diri dari paman Teeran.
Suyira langsung menuju ke boks dan mengeluarkan serigala putih.
Memeluknya erat dan menangis kuat.
Sosok yang bertopeng yang terlempar tadi melihat hal itu dan mengeluarkan kabut.
Saat paman Teeran ingin mengejar Suyira semua sudah terlambat.
Kabut menutupi pandangannya sehingga tidak dapat melihat apapun.
"Apakah kau masih memegang Tatra ?" teriak paman Teeran
"Dia lepas dari peganganku,"kata penjaga itu penuh sesal.
"Suyira juga lepas dari peganganku,"kata paman Teeran cemas.
"Apakah kalian bisa merasakan kehadiran mereka berdua ?"kata paman Teeran
__ADS_1
Kemudian terdengar teriakan salah satu penjaga.
Penjaga itu merasakan kehadiran Suyira dan Tatra yang berlutut di tanah.
Saat penjaga itu menuju ke arah mereka, penjaga itu melihat ada anak panah yang ditembakkan ke arah mereka.
Penjaga itu menghalangi dan tersungkur di depan Suyira.
Suyira melihat penjaga itu terpuruk dan kejang - kejang di depannya membuatnya berteriak.
Suyira menjadi sangat marah dan mengeluarkan petir dari langit.
Petir dari langit menyentuh kabut membuat kubangan petir di sekitar kabut tersebut.
Semuanya yang didalamnya merasakan sengatannya.
Salah satu sosok yang bertopeng itu terkena sengatan kubangan listrik dan merenggang nyawa.
Paman Teeran dan para penjaga membuat kubah dari tanah yang bercampur dengan tanah liat untuk menghindari petir tersebut.
****
Penjaga pelindung pertama kastil langit bisa melihat petir di atas langit namun tidak bisa bertindak tanpa persetujuan dari penjaga kastil bumi.
"Kenapa mereka tidak menghubungi kita ?"kata penjaga tersebut
"Aku sendiri tidak tau,"kata penjaga lainnya gusar.
****
"Katakan .. kenapa kita berbicara ?"kata salah satu penjaga tidak menyadari situasi yang sedang terjadi.
"Karena komunikasi pikiran kita diputusnya. Kalau tidak kita tadi sudah meminta bantuan,"kata penjaga yang lainnya heran sekaligus kesal melihat temannya.
Kemudian penjaga itu mengeluarkan benda kecil yang terbuat dari logam mulia dan melemparkannya ke atas.
Logam itu berubah menjadi cahaya berwarna biru ke atas.
****
"Akhirnya .... ,"kata penjaga pelindung pertama
"Tunggu dari mana mereka mendapatkan itu,"kata penjaga lainnya
"Apakah itu penting ? Bukankah sudah jelas mereka meminta bantuan kita cuma tidak bisa,"kata penjaga pelindung pertama
Mereka langsung berlari.
****
Paman Coeli menyaksikan dari atas ketika langit bergemuruh.
"Pergilah,"kata Bibi Sellen
Paman Coeli memanggil lima penjaganya untuk mengikutinya.
Salah satu penjaga pelindung kelima menghampiri paman Coeli.
"Aku ikut,"kata penjaga itu
Paman Coeli memgiyakan.
****
"Ayah ... ayah... ayahh,"kata Tatra
"Tatra ... bagaimana kondisimu ?"kata paman Teeran
"Ayah.... tanahnya harus setinggi mana...,"kata Tatra
"Tanah ... apa maksudmu ?"kata paman Teeran
"Iya tanah yang dialiri oleh air kesembuhan harus setinggi mana,"kata Tatra
Paman Teeran akhirnya mengerti.
"Setinggi ujung jari kelingkingmu,"kata paman Teeran
Tatra menuruti kata - kata ayahnya dan membenamkan penjaga itu dalam tanah beserta serigala putih.
Hanya wajahnya saja yang kelihatan. Kemudian menyiram tanahnya dengan air penyembuh.
Tatra melihat kubangan listrik langsung membuat kubah sama seperti penjaga lainnya.
"Suyira .. Suyira .... serigala putih dan penjaga itu sudah baik -baik saja. Coba lihat ...lihatlah,"kata Tatra berusaha membujuk Suyira.
"Ayah.. Suyira tidak mendengarkanku. Dia hanya duduk tidak bergeming..,"kata Tatra nyaris putus asa
"Tidak apa - apa. Teruslah di sampingnya dan jangan putus saja. Tetap bujuk,"kata paman Teeran.
__ADS_1