
Sebelum matahari terbit dari balik pegunungan sudah terlihat riak - riak penghuni dari kastil bumi.
Setiap jalan setapak dibuatkan atapnya dengan bunga - bunga yang menjalar berwarna merah, kuning dan biru yang dilengkapi dengan cahaya yang cantik dari kunang -kunang.
Jalan setapak itu menuju ke tepi pantai.
Pantai itu sudah disulap menjadi tempat pertemuan yang indah.
Ada beragam meja es setinggi dada orang dewasa yang diatasnya ada rangkaian bunga cantik.
Di samping meja, terdapat bokor perapian yang lebih tinggi dari meja terbuat dari tabung es.
Ada satu meja panjang terletak di tengah dan dibuat lebih tinggi dibandingkan meja lainnya.
Hal ini karena meja itu terbuat dari empat lapisan yaitu kayu, es, api dan batu.
Welcome arch terbuat dari akar pohon beringin yang terikat dengan akar pohon beringin lainnya yang dihiasi dengan lampu - lampu kecil.
Paman Teeran memperketat penjagaan di kastil bumi dengan menambah penjaga di setiap pelindung kastil dan bibi Ariel menambahkan perlindungan di laut.
Setelah itu, bibi Ariel menuju ke dapur untuk mempersiapkan makanan yang akan diberikan untuk tamu undangan.
Tamu Tak Diundang
Saat paman Teeran menuju ke kastil utama. Ada tamu yang tidak pernah diduga akan datang.
Pelindung tertinggi biara datang ke kastil mereka tanpa diminta.
Paman Teeran terlihat cemas dengan kedatangan nenek tersebut.
Mengingat bahwa kemampuan nenek tersebut bisa meramalkan masa depan.
Paman Teeran mengajaknya ke ruang pertemuan.
"Apa kabar, nek ?"kata paman Teeran.
"Baik, Teeran."kata nenek dengan nada yang lembut.
Paman Teeran sudah menjadi pribadi yang tidak sabaran mendengarkan sebuah kabar.
Mengingat banyaknya kejadian yang tidak menyenangkan akhir -akhir ini.
Paman Teeran langsung berkata,"Ada sesuatu yang harus kudengar mengenai Suyira. Bukan begitu, nek ?"
"Ada apa denganmu ? Kenapa semua harus tentangnya."kata nenek penuh arti.
"Nenek,"kata paman Teeran dengan nada memohon.
"Baiklah. Maksud kedatanganku ada dua hal pertama ingin memberkati cicitku yang berulang tahun hari ini dan kedua akan ada saatnya dia akan lepas dari pengawasanmu karena suatu kejadian. Tapi kau harus tetap percaya padanya dimanapun dia berada. Yang harus kau lakukan adalah bersiap - siap. " kata nenek.
Paman Teeran hanya terdiam dengan perkataan nenek.
Gaun Pesta dan Boneka Beruang
Saat menjelang sore, satu persatu tamu undangan berdatangan.
Sementara itu, di kamarnya Suyira lagi didandani oleh bibi Ariel.
Suyira menggunakan pakaian yang diberikan oleh paman Coeli.
Gaun yang digunakan oleh ibunya dulu waktu masih kecil.
Ternyata gaun putih yang ringan tersebut sangat pas di badan Suyira.
Tiba - tiba Tatra masuk ke dalam ruangan dan bibi Ariel keluar.
Tatra mendekati Suyira dan memberikan boneka beruang.
Yang dimiliki hampir anak perempuan kastil bumi. Suyira jadi menangis.
Tatra bertanya,"Boneka beruangnya jelek ?"
Suyira hanya menggelengkan kepala.
"Kukira kakak benci denganku."kata Suyira.
Tatra akhirnya mengerti kenapa Suyira berpikir seperti itu.
"Kakak tidak mungkin benci sama Suyira. Kakak hanya lagi sibuk memikirkan membuat boneka ini untuk Suyira,"kata Tatra.
"Benarkah?"kata Suyira.
"Benar."kata Tatra.
Wajah Suyira kembali ceria mendengar perkataan Tatra.
Laut Earthest
Kemudian Tatra mengajak Suyira ke tepi pantai karena bibi Ariel menunggu mereka di situ.
Bibi Ariel berdiri sambil menghadap ke tepi pantai.
"Sebentar lagi,"kata bibi Ariel sambil tersenyum ke arah Tatra.
Tiba - tiba ombak laut meninggi dan bergulung - gulung ke arah mereka namun bibi Ariel dengan mudah menghalangi ombak ke arah mereka dengan cara memecah ombak tersebut.
Ombak datang terus menerus ke arah mereka namun dengan mudah dapat dipecah oleh bibi Ariel.
Sangat jarang melihat tingkah laku laut seperti ini.
Tiba - tiba dari kejauhan terlihat ada kuda laut besar berwarna keemasan ke arah mereka.
Di atas kuda laut tersebut ada dua sosok orang dewasa yang salah satunya menggendong bayi.
Hempasan ombak terjadi karena kedatangan kuda laut tersebut.
Saat kuda laut hampir berada di tepi pantai, bibi Ariel memecah lautan menjadi dua bagian sehingga dua orang tersebut dapat berjalan.
Bibi Ariel langsung menghampiri mereka dan memeluk kedua orang tua tersebut yang tampak sangat tua.
Orangtua itu memberikan bayi yang di dalam gendongannya ke bibi Ariel.
Tatra langsung menghampiri mereka dan memanggil mereka dengan sebutan nenek dan kakek.
Saat Suyira mendekat, bibi Ariel memperkenalkan mereka," Suyira, ini adalah ibu dan ayahku, Suyira bisa memanggilnya kakek dan nenek juga sama seperti Tatra dan ini adalah anakku. Adiknya Tatra."
Suyira mendekat ke arah mereka dan mereka langsung memeluknya.
Mereka juga memberikan ucapan selamat ulang tahun.
Anak Perempuan dan Nenek
Saat mereka ke kastil utama, Suyira bertemu dengan nenek buyutnya, pelindung tertinggi biara.
Nenek mendekat ke arahnya langsung memeluk dan mengucapkan selamat ulang tahun.
Sementara itu, bibi Ariel terlihat salah tingkah melihat sang nenek yang tersenyum penuh arti ke arahnya.
Saat Suyira diajak keluar untuk bermain dengan Tatra sementara nenek dan kakek Tatra sedang beristirahat di kamarnya.
Hanya tinggal nenek dan bibi Ariel diruangan tersebut.
"Sampai kapan kau harus berbohong padanya ?"kata nenek.
" Tentang anak perempuanku," kata bibi Ariel.
__ADS_1
"Bukan itu saja. Tetapi tentang janjimu kepada langit,"kata nenek.
"Nenek tidak bermaksud mengajaknya sekarang khan. Dia masih kecil,"kata bibi Ariel terlihat cemas.
"Apakah menurutmu apa yang terjadi padanya sekarang layak untuk ditanggung anak kecil,"kata nenek.
"Tapi hal ini pasti tidak mendapatkan persetujuan dari siapapun,"kata bibi Ariel.
" Apakah lingkaran waktu perlu persetujuan dari siapapun,"kata sang nenek.
Bibi Ariel tersentak mendengar perkataan dari sang nenek dan menjawab,"Berikan aku waktu.
"Sampai kapan ?"kata sang nenek.
Bibi Ariel hanya terdiam.
Semua tamu mulai berdatangan termasuk paman Coeli, bibi Sellen dan Luxi.
Luxi dan Tatra
Luxi langsung mencari Suyira dan menemukan sedang bermain dengan Tatra di pantai.
Luxi menghampirinya.
Suyira mengajaknya bermain bersama Tatra.
Nenek, Biara dan Suyira
Paman Coeli dan bibi Sellen ke kastil utama dan bertemu dengan nenek.
Paman Coeli menyapanya dan bibi Sellen memeluknya.
Paman Coeli meninggalkan bibi Sellen dengan nenek dan menemui paman Teeran.
Paman Coeli kelihatan tidak senang dengan kedatangan neneknya sendiri.
Paman Coeli bertanya,"Kau mengundangnya ?"
"Tentu saja.. tidak,"kata paman Teeran heran.
"Nenek, biasanya tidak mungkin datang ke acara keluarga seperti ini, kecuali ada yang mau dibawanya... suatu saat nanti,"kata paman Coeli kesal.
"Maksudmu ?"kata paman Teeran tidak memahami perkataan paman Coeli.
"Itu artinya cepat atau lambat Suyira akan dibawa ke kastil biara,"kata paman Coeli.
Paman Teeran terkejut dengan perkataan paman Coeli.
Paman Coeli tidak sabaran, akhirnya menjelaskan.
"Di dalam keluarga kami, nenek tidak selalu datang dalam setiap perayaan yang kami buat termasuk ulang tahun kecuali dia merasa bahwa yang berulang tahun akan menjadi penghuni kastil bumi sementara ataupun tetap,"jawab paman Coeli.
Paman Teeran akhirnya teringat dengan perkataan sang nenek dan berkata,"Bagaimana kalau kita tidak setuju ?"
"Menurut nenek meminta persetujuan untuk membawa seseorang. Tidak pernah,"kata paman Coeli masam.
Paman Teeran berpikir keras dan akhirnya menemui bibi Ariel.
****
"Bukankah kau dulu tinggal di kastil biara ?" kata paman Teeran.
Bibi Ariel mengiyakan.
"Apakah kau setuju tinggal di sana dan keluargamu juga ?"kata paman Teeran.
"Tentu saja... tidak,"kata bibi Ariel.
Paman Teeran hanya terdiam dan berpikir keras.
Tatra, Luxi dan Eldast
Suyira ingin bermain lebih dekat dengan laut. Namun, Luxi melarang.
"Suyira... sebaiknya kita tidak ke sana,"kata Luxi.
Tatra pun mengiyakan.
"Tapi, aku ingin ke pantai. Ini khan hari ulang tahunku,"kata Suyira.
Luxi dan Tatra saling berpandangan dan akbirnya mengiyakan.
Tiba - tiba Suyira berhenti dan membalikkan badan.
"Ada apa ?"kata Tatra bingung.
"Sepertinya ingin tidak aman,"kata Suyira.
"Benarkan kataku,"kata Luxi.
"Kakak, ayo kita kembali ke kastil,"kata Suyira.
Luxi dan Tatra pun mengikuti Suyira dari belakang.
Sesampainya di taman dekat kastil utama, Luxi melihat nenek sedang berbincang dengan anak laki - laki seumurannya.
Luxi langsung mendekat dan memeluk nenek.
Luxi memperkenalkan sebagai nenek buyutnya.
Suyira pun memeluk dan nenek mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Melihat ada anak laki - laki disamping neneknya, Luxi pun bertanya - tanya.
Hal ini tentu saja disadari nenek.
"Ini adalah anak paman Elder," kata nenek.
"Iya. Ijinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Eldast. Anak satu - satunya ayahku,"kata Eldast.
Tatra pun memperkenalkan diri sebagai anak tertua dari keluarganya.
Luxi pun memperkenalkan diri sebagai anak satu - satu ayahnya juga.
Mereka pun menjabat tangannya.
Saat Suyira memperkenalkan diri dam berkata,"Namaku Suyira."
"Tentu saja aku sudah tau. Apa kabar Suyira ?" kata Eldast langsung mendekat ke arahnya dan mencium punggung tangannya.
"Suara yang waktu itu.. ahh.. suara kakak,"kata Suyira.
"Iya benar,"kata Eldast.
Tatra dan Luxi tidak setuju melihat cara Eldast memperlakukan Suyira yang begitu intens dan dekat.
Nenek pun memperhatikan hal tersebut.
Nenek pun memperhatikan hal tersebut dan berkata,"Orang yang membawa perubahan sudah berkumpul di sini. Sangat menarik."
****
Kemudian bibi Ariel memanggil anak - anak untuk makan.
Sementara anak - anak berhamburan ke dalam rumah.
__ADS_1
Bibi Ariel menghampiri nenek untuk mengajaknya makan bersama.
Perayaan
Saatnya acara inti dimulai, semua tamu sudah berdatangan dan berkumpul di tempat pertemuan.
Paman Fordd datang dengan membuat rangkaian bunga yg indah berbentuk hati di tanah.
Suyira pun memeluk paman Fordd.
"Bisakah kau berdiri di atas tanah ini, sayang,"kata paman Fordd.
Suyira mengikuti apa yang dikatakan paman.
Pada saat Suyira berdiri di tengah - tengah rangkaian tersebut, paman Fordd merapalkan sebuah kalimat.
Suyira merasakan sensasi dingin di tubuhnya walaupun sesaat.
Paman Coeli memberikan kalung permata yang mainannya berbentuk petir.
Kalung itu diberikan kepada keturunan langsung pemilik kastil langit.
Paman Firye mendekatinya dan jongkok supaya bisa sejajar dengan wajahnya Suyira tepatnya matanya.
"Matamu mengingatkanku terhadap orang yang paling kusayangi. Dia mengajarkan banyak hal termasuk bagaimana caranya mengeluarkan amarah tanpa harus menyakiti orang lain,"kata paman Firye.
"Kalau begitu paman boleh melihat mataku terus,"kata Suyira.
Paman Firye memeluknya dan mengeluarkan gelang yang berwarna merah keemasan yang ditempa dalam api dingin selama ratusan tahun yang diberikan kepada keturunan pemilik kastil lighting.
"Dengan begini, kau sudah kuanggap sebagai putriku,"kata paman Firye.
Suyira sangat senang memiliki ayah lagi. Tiba - tiba ada seseorang memasuki pikirannya.
"Jika ada yang mengganggu pikiranmu. Katakan saja,"kata paman Edsel.
"Tentu saja,"kata Suyira.
"Ada seseorang yang ingin memberikan hadiah untukmu,"kata paman Edsel.
Eldast mendatangi Suyira dan membawa gelang kaki yang terbuat dari rambut keperakan.
"Boleh.. saya meletakkan langsung ke kakimu,"kata Eldast.
"Iya,"kata Suyira.
Saat gelang itu diletakkan di kaki Suyira, tiba - tiba gelang itu menghilang seolah menyatu dengan kaki Suyira.
Suyira merasakan sensasi aneh saat gelang tersebut mulai menghilang dan terdengar ada bisikan di telinganya.
Tidak ada satupun yang mendengar kecuali sang nenek. Nenek pun tersenyum ke arah Eldast.
"Ikatan yang dibuat oleh takdir, siapapun tidak ada yang bisa memisahkannya,"kata nenek berbicara dengan paman Elder.
Paman Elder bertanya dengan Eldast mengenai janji yang diucapkan dengan Suyira.
Namun, Eldast tidak mau mengatakannya.
Paman Eldard memberikan kalung juga yang berwarna biru laut dan anehnya kedua kalung tersebut menyatu.
Paman Eldard mengatakan kalung itu akan menunjukkan jalan yang benar bahkan di dalam laut terdalam sekalipun.
Paman Teeran mendekat ke arahnya dan mengucapkan ulang tahun.
Suyira memeluknya dan mengucapkan terima kasih atas pesta yang dibuatnya.
"Tentu saja akan lebih semarak jika kue ulang tahunnya dihidangkan,"kata bibi Ariel.
"Wow kuenya indah sekali,"kata Tatra takjub.
"Tentu saja, ini buatan ibu,"kata bibi Ariel ke Tatra.
" Tentu saja,"kata Suyira kegirangan.
"Namun, sebelum itu paman mau memberikan ini padamu,"kata paman Teeran menunjukkan cincin yang berwarna hijau kecoklatan.
"Ini bagus paman,"kata Suyira.
Cincin ini diberikan kepada keturunan perempuan atau cucu perempuannya.
"Oke sudah saatnya tiup lilin dan ucapkan keinginanmu dalam hati,"kata bibi Ariel.
Apinya menyala tanpa bantuan lilin, warna biru keemasan dan berbentuk seperti hati.
Kue ulang tahun Suyira lumayan tinggi mencapai 1.5 meter terdiri atas empat tingkatan, berwarna coklat di tingkat bawahnya, merah keemasan di tingkat kedua, biru laut di tingkat ketiga dan puncaknya terdiri atas dua warna yaitu putih dan hijau.
Ukiran sisi luarnya berbentuk hati dan ada ceri di setiap sisi luar tingkatannya.
Alas kuenya transparan terbuat dari es yang memiliki rasa manis.
Saat Suyira hendak meniup lilinnya, lilinnya kembali hidup.
Tentu saja hal ini membuat Suyira kesal dan orang di sekitarnya tertawa.
Paman Firye mendekat ke arahnya dan membisikkan sesuatu yang membuat Suyira kembali ceria.
Suyira mengucapkan sesuatu kemudian apinya masuk ke dalam setiap ceri sehingga ceri bersinar terang dan api lainnya berubah menjadi kembang api.
Anak - anak kemudian mendekat ke arah kue ulang tahun yang bersinar itu dan Suyira malah memakan salah satu cerinya. Suyira menawarkan ke kakak - kakaknya dan mereka memakannya.
Suyira menawarkan ceri itu ke anak - anak lainnya. Setiap anak diberikan beragam kue yang manis, es krim dan gula - gula.
"Pesta yang sungguh meriah,"kata bibi Robben berdiri di belakang bibi Ariel.
"Kukira kau tidak datang,"kata bibi Ariel.
"Tentu saja. Aku akan datang. Ini adalah pesta sahabatku,"kata bibi Robben agak tersinggung.
"Jangan tersinggung sahabatku. Tidak ada hal yang dapat kusembunyikan darimu,"kata bibi Ariel.
"Untuk sekarang dan selamanya,"kata bibi Robben.
Bibi Robben mendekati Suyira dan mengucapkan ulang tahun.
Malam bertambah larut.
Satu persatu tamu sudah pulang ke rumahnya masing - masing.
Sementara itu, Suyira dan anak - anak sudah tertidur di ruangannya masing - masing.
*****
Hanya keluarga inti saja yang masih tinggal dan menghabiskan malam di meja makan.
"Ini waktunya,"kata paman Eldard
"Persiapkan semuanya. Jangan sampai musuh menyadari maksud kita,"kata paman Coeli.
"Baiklah,"kata paman Teeran.
"Kapan pertemuannya ?" kata paman Coeli.
"Minggu ketiga,"kata paman Eldard.
"Baiklah. Kutunggu kedatangan kalian di kastilku,"kata paman Eldard.
__ADS_1