Pasak Bumi

Pasak Bumi
Anak Laki-Laki Yang Ditinggalkan


__ADS_3

Cuaca dingin di kastil Langit


Matahari yang tak kunjung tiba


Membuat bedanya malam dan siang terasa tipis


Sunyilah yang membedakannya


Dua orang perempuan berjalan dalam gelap


Mengendap - endap seperti maling


Melihat sekeliling seolah - olah takut diikuti


"Apakah ini aman kak ?"kata Celli


"Tenang saja. Mereka tidak tau,"kata Suyira


Mereka sudah memasuki pemukiman penghuni dark forest.


"Kak, tidak ada rumah disini. Hanya hutan,"kata Celli menatap sekelilingnya


"Diam dan tenanglah. Suaramu mengganggunya,"kata Suyira


Celli akhirnya diam


Tiba - tiba ada sulur dari akar pohon yang mengikat pinggang mereka dan mengantar mereka naik ke atas.


Celli merasa takjub melihat pemandangan di depannya.


Ada sebuah pemukiman.


Di mana rumahnya terbuat dari pohon. Jembatan penghubung yang terbuat dari sulur - sulur daun.


Benar - benar terlihat damai.


"Dimana rumahnya ?"kata Suyira melepaskan diri akar pohon


"Katanya ... rumahnya ada di sudut dan di depan pintunya ada hiasan bintang laut,"kata Celli


Mereka berjalan sangat pelan.


Tiba - tiba di depan mereka ada satu orang pria yang tidur di sulur - sulur daun. Tubuhnya terikat dengan sulur - sulur daun tersebut.


Mereka berusaha memutarinya. Namun, pria itu tetap terbangun. Pria itu menghentikan langkah mereka.

__ADS_1


"Berhenti. Apa tujuanmu datang kemari ?"kata pria itu


"Kami ingin mengunjungi anak itu,"jawab Suyira membuka tudung mukanya.


Pria itu terkejut dan langsung memeluknya


"Kau sudah dewasa sekarang,"kata pria itu


"Iya paman,"jawab Suyira


"Kenapa kau harus diam - diam ?"kata paman Tendrilli bingung


"Soalnya paman, aku tidak ingin membangunkan yang lain dan paman Coeli belum tentu mengijinkannya. Ada pesan ibunya yang ingin kusampaikan,"jawab Suyira


"Paman akan mengantarkanmu,"kata paman Tendrilli


"Sudah pasti. Tidak ada satupun yang bisa lewat dari pendengaran paman,"jawab Suyira ceria


Mereka berjalan menuju ke rumah yang dikatakan Celli tadi.


Saat pintu terbuka, anak laki - laki itu sudah duduk diatas tempat tidurnya.


"Kakak.. akhirnya datang juga,"kata anak laki - laki itu


"Bisakah paman memberikan kami ruang. Jika ada apa - apa, paman bisa mendengarnya,"kata Suyira


Paman akhirnya duduk di depan teras rumah anak itu.


Suyira mengeluarkan kertas yang dititipkan ibunya dan anak laki - laki itu menangis kencang.


Sudah hampir satu jam dia menangis. Celli membuatkannya minuman hangat.


"Minumlah ini,"kata Celli


Anak laki - laki itu hanya menganggukkan kepala sambil mengusap ingusnya.


Suyira menulis di secarik kertas


"Ada sesuatu yang ingin kami tanyakan. Kalau boleh, silahkan anggukkan kepala saja,"kata Suyira


Anak itu menganggukkan kepala.


Suyira mulai menulis


"Apakah kau ingat dibawa kemana waktu itu bersama ibumu ?"

__ADS_1


Anak laki - laki itu menuliskan jawabannya di secarik kertas tadi.


"Iya. Hutan lebat, gelap, baunya seperti bau pinus, mereka selalu mengatakan kastil Eldester. Saat kami mendekati tempat itu, ada cahaya terang di balik gunung."


Suyira menulis lagi


"Kenapa ke sana ?"


Anak laki - laki menulis dan terlihat sedih


"Kami ingin bertemu dengan ayah. Katanya ayah masih tertinggal di kastil Darkforest. Dalam perjalanan kami bertemu dengan mereka."


Suyira menulis lagi


"Siapa yang bilang ayahmu masih di sana ?"


Anak laki - laki itu kembali menulis


"Ibu memiliki gelang yang menunjukkan ayah masih hidup. Ibu penasaran dan kami pergi ke sana."


Suyira terkejut mengetahui paman yang pergi bersama ibunya waktu itu masih hidup.


Suyira menuliskan kembali dan mengucapkan terima kasih


"Kami akan mencoba sering - sering mengunjungimu,"kata Celli


"Iya kak,"jawab anak laki - laki itu


Suyira dan Celli pulang ke kastil Langit dan tidak menceritakan kejadian semalam dengan siapapun.


"Apakah itu benar kak ?"kata Celli


"Ikatan yang dibuatkan oleh gelang tidak akan pernah salah,"jawab Suyira


****


"Ada apa denganmu ?"kata paman bertudung hitam


Laki - laki itu menangis dan memegang gelang pemberian istrinya yang sudah putus.


"Ayoo kita harus kembali ke kastil. Tuanku memanggil kita,"kata paman bertudung hitam


Laki - laki itu hanya menundukkan kepala.


Mereka akhirnya pergi dari pencarian mereka dan menuju ke kastil Eldester.

__ADS_1


__ADS_2