
Sambil berjalan menuju kubah, Robben bertemu dengan Ariel.
"Apa yang sedang kau lihat di sungai itu ?"kata bibi Ariel
"Diriku yang dulu,"kata bibi Robben
"Kau menyesalinya,"kata bibi Ariel
"Tidak. Tidak sama sekali,"kata bibi Robben
"Ini giliran kita,"kata bibi Ariel
Bibi Ariel masuk ke dalam kubah dan mengobati Suyira.
Saat dia mengolesi dahinya, jari tangan Suyira bergerak. Lambat laun matanya terbuka.
"Putri tidur akhirnya sudah bangun,"kata bibi Ariel tersenyum.
Saat matanya terbuka demikian juga dengan teman- temannya yang tersadar.
Bibi Ariel langsung memeluknya.
"Ini dimana Bi ?"kata Suyira
"Dalam kubah,"kata bibi Ariel
Bibi Ariel menggunakan telapatinya mengatakan jika Suyira sudah sadar. Sementara yang lain melihat ke dalam kastil utama untuk melihat putri dan keponakannya, paman Firye langsung menuju ke tempat Suyira.
****
Suyira dikeluarkan dari kubah masih dipapah. Firye melihatnya langsung mengangkatnya dengan kedua tangannya.
"Ayah..,"kata Suyira
"Anakku. Kau sudah siuman. Ayah akan membawamu ke kastilku,"kata paman Firye
__ADS_1
"Ayah, aku masih mau disini,"kata Suyira
"Tidak. Kau akan ikut dengan ayahmu,"kata paman Firye langsung memanggil penjaganya untuk membawa kereta kuda.
Bibi Ariel dan bibi Robben terkejut.
"Firye apa - apaan ini,"kata bibi Robben
"Aku akan membawanya. Aku berterima kasih karena kau menjaganya selama ini tapi aku adalah ayahnya sekarang,"kata paman Firye
"Aku bukan hanya penjaganya. Aku juga ibu baginya,"kata bibi Robben tersinggung
"Jangan tersinggung Robben. Tapi sekarang adalah giliranku menjaganya,"kata paman Firye langsung menaikkannya ke kereta kuda dan membawanya pergi.
Bibi Ariel memberitahukan hal ini dengan paman Teeran menggunakan telepatinya.
Paman Teeran langsung berlari dan menghentikan kereta kuda tersebut. Paman Firye keluar dari kereta kuda.
"Minggir, Teeran,"kata paman Firye
"Tapi kau bahkan tidak bisa menjaganya,"kata paman Firye
"Firye .. jangan melangkahi batas kesabaranku,"kata paman Teeran
"Aku hanya mau menjaganya. Itu juga tugasku. Minggir kalau kau tidak ingin dilindas,"kata paman Firye langsung naik ke kereta kudanya
Paman Firye terus melaju lurus ke arah paman Teeran. Paman Teeran merasa bahwa kudanya tidak akan berhenti akhirnya menghindar.
Paman Coeli akhirnya bisa menyusul
"Mana Suyira ?"kata paman Coeli
"Firye membawanya ke kastilnya,"kata paman Teeran
"Kenapa kau membiarkannya,"kata paman Coeli kesal
__ADS_1
"Haruskah aku melawannya. Dia saudara kita juga,"kata paman Teeran
"Sial,"kata paman Coeli semakin kesal
****
Mereka berkumpul di salah ruang di kastil Bumi.
"Tak bisakah kau berbicara dengannya ?"kata Teeran
"Sulit. Kau sudah berjanji padanya jika kau tidak bisa menjaga Suyira maka dia akan membawa Suyira,"kata paman Eldard
Paman Teeran dan paman Coeli tidak bisa mengatakan apapun.
"Ada baiknya tunggu keadaannya tenang,"kata paman Flyied
"Baiklah,"kata paman Teeran
"Aku akan membawa Rory ke kastilku,"kata paman Eldard
"Aku juga akan membawa Flay ke kastilku,"kata paman Flyied
"Celli akan kubawa ke kastilku,"kata paman Coeli
"Kurasa memang lebih baik mereka dipisahkan dulu. Kalau melihat tekad mereka, aku tidak yakin mereka akan menyerah begitu mudah,"kata paman Teeran
"Begini aku bukan tidak mau membawa putriku ke kota Bath tapi aku sendiri tidak yakin bisa menjaganya dengan baik sesudah ini,"kata perdana mentri
Tiba - tiba bibi Ariel masuk ke ruangan mereka dan membisikkan sesuatu ke telinga paman Teeran. Ruangan mereka kedap dengan kekuatan apapun sehingga harus berbicara langsung dengan orang yang berada di dalamnya.
"Perdana mentri tenang saja. Kereta kuda sudah disiapkan dan dia akan tinggal dengan pamannya. Firye sudah mengutus adiknya untuk menjemput Rerast,"kata paman Teeran sedikit geram
"Baiklah,"kata perdana mentri
"Kendalikan emosimu, sobat. Ruangan ini memang dibuat untuk kita supaya kita tidak bisa mengeluarkan kekuatan kita bahkan menerima serangan dari luar juga tapi wajahmu sangat jelas"kata paman Edsel
__ADS_1